Riuh ramai skena musik kota Bandung selalu memberikan angin segar bagi penikmatnya di tanah air. Suara musik punk yang menggema di Jalan Purnawarman No. 64 Kota Bandung pada Jumat (24/10/2025), menarik perhatian muda-mudi kota kembang untuk menyaksikannya.
Dongker, Band punk asal Bandung yang lahir pada tahun 2019 sukses menggabungkan musik punk, stage present artistik, dan lirik berisi isu sosial menjadi satu. Keunikan dari band ini adalah lirik progresif yang berani dan selalu menggunakan topeng Balaclava sebagai statement artistik juga branding dari band mereka.
Delpi Suhariyanto, vokalis sekaligus gitaris dari Band Dongker menyatakan bahwa mereka terbentuk dari lingkaran pertemanan di Institut Teknologi Bandung, lebih tepatnya bertemu di FSRD ITB. “Dongker itu singkatan dari Bodong Kekar, yang mencetuskan pertama kali adalah Juzari ketua angkatan FSRD 2015,” tambahnya ketika menjelaskan nama Dongker.
Dongker menyuguhkan musik punk dengan melodi dan ritme dinamis, vokal yang mentah dan lirik yang menggebu, musik mereka mudah diterima di telinga muda-mudi Bandung.
“Kami terinspirasi dari band punk 70’s seperti Ramones dan The Undertones, namun seiring berjalannya waktu, Dongker meleburkan berbagai referensi sehingga membentuk warna sendiri,” ujarnya.
Dongker beranggotakan Delpi Suhariyanto di gitar dan vokal, Arno Zarror di Gitar dan Vokal, Dzikrie Arethusa di drum. Sejak awal terbentuk Dongker menganggap musik merupakan salah satu bentuk medium atas kritik sosial dan refleksi diri.
Dongker menyajikan lirik berisi kesadaran akan isu sosial yang lekat dengan kehidupan di kota Bandung. “Anak-anak Dongker sadar kalau isu yang bersifat personal maka disebabkan juga oleh hal-hal yang struktural, maka kami tuangkan pada lirik,” tambahnya.
Seperti lagu andalan mereka, “Tuhan Di Reruntuhan Kota” yang secara implisit mengisahkan tentang kasus penggusuran pemukiman warga dan mafia tanah di kota Bandung. Lalu, Lagu berjudul “Luka di Pelupuk Mata” yang menyoroti isu toxic abusive relationship, hampir semua lagu terinspirasi dari isu sosial disekitar mereka.
Dongker baru saja merilis album “ I Don’t Know and I Dongker” kolaborasi epik bersama Jason Ranti yang mengeksplor warna musik baru bagi Dongker. Album baru mereka kini lebih menyorot bagaimana penggiat seni khususnya seni rupa berhadapan dengan kegelisahan dan romantisme kota Bandung.
Lagu andalan album tersebut ialah “Salah Display” menceritakan kegiatan sebagai penggiat seni, lalu yang sedang hits yaitu “Disarankan di Bandung” mengisahkan romantisme di kehidupan kampus. Lagu “Disarankan di Bandung” saat ini sedang menduduki chart musik urutan ketiga di kategori “Lagi Viral” pada platform musik Spotify.
Delpi mengaku sangat senang mendapati lagu mereka diterima dengan baik oleh pendengar, dengan jarak durasi antara perilisan album dan waktu trending yang tidak jauh yaitu dua bulan. Agustus 2025 kemarin lebih tepatnya Dongker berhasil merilis album tersebut yang berisi 9 track hasil kolaborasi mereka dengan Jason Ranti.
Dapat diakui Dongker merupakan band bergenre punk yang membawakan lirik progresif dan melek isu sosial, namun dikemas dengan sentuhan artistik yang menyenangkan. Karya mereka membawakan udara segar baru di skena musik Bandung bahkan Indonesia, juga menyebarkan kesadaran kolektif agar masyarakat lebih melek terhadap isu sosial. (*)