West Java Festival, Konser Musik atau Acara Budaya?

3 menit baca
Demas Reyhan Adritama
Ditulis oleh Demas Reyhan Adritama diterbitkan
West Java Festival 2025 (Foto: Demas Reyhan Adritama)
West Java Festival 2025 (Foto: Demas Reyhan Adritama)

West Java Festival (WJF) 2025 kembali digelar dan disambut antusias oleh wargi Jawa Barat. Namun, ada yang berbeda tahun ini. Jika sebelumnya WJF identik dengan pesta perayaan hari jadi Jawa Barat yang meriah dengan konser musik, tahun ini fokusnya sedikit bergeser.

Lantas, apakah WJF 2025 masih sekadar panggung hura-hura, atau kini menjadi etalase budaya Jabar yang sesungguhnya?

Panitia West Java Festival 2025, Rama, menjelaskan bahwa WJF kali ini memiliki misi yang lebih mendalam, yakni promosi pariwisata dan kebudayaan.

"Kalau dua tahun sebelumnya itu memang West Java Festival untuk merayakan hari jadi Jawa Barat, tahun ini berbeda karena sekarang agenda ulang tahunnya udah terselenggara sebelumnya di acara Kirab Budaya. Jadi West Java Festival ini lebih fokusnya kepada promosi pariwisata, dan kebudayaan Jawa Barat," ujar Rama saat diwawancarai.

Istimewanya lagi, WJF 2025 berhasil menembus kurasi ketat Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

"Tahun ini, Alhamdulillahnya, kita itu lolos dalam Karisma Event Nusantara (KEN). Dia tuh bisa dibilang meranking event-event terbaik yang ada di Indonesia. Tahun ini Jawa Barat itu perwakilannya ada West Java Festival, Asia Africa Festival, satu lagi yang di Sukabumi, Hari Nelayan," jelas Rama.

Filosofi Sunda 'Gapura Panca Waluya'

Alih-alih jor-joran menjual nama artis ibu kota, WJF 2025 justru mengusung tema filosofi Sunda "Gapura Panca Waluya". Menurut Rama, ini adalah visi yang ingin diimplementasikan Gubernur untuk menggambarkan hidup yang sempurna ala orang Sunda.

"Panca Waluya sendiri terdiri dari lima hal penting. Cageur (kesehatan mental/fisik), bageur (ahlak/sikap), bener (integritas/jujur), pinter (pengetahuan), singer (kreativitas/inovasi)," paparnya.

Kelima filosofi ini tidak hanya jadi pajangan, tapi benar-benar diterjemahkan dalam rangkaian acara. Untuk 'Cageur', ada wellness tourism seperti Poundfit, pijat refleksi, hingga jamu modern.

Untuk 'Bageur', fokusnya pada kepedulian lingkungan. "Misalkan kita ada workshop pengolahan sampah yang dikawal sama Plastavfall, terus ada ecoprint, seni membatik dengan daun-daun lokal," kata Rama.

Di area 'Bener', WJF bekerja sama dengan berbagai dinas untuk membuka pelayanan publik. Wargi yang hadir bisa mengurus paspor, KTP, bayar pajak, hingga konsultasi kesehatan mental di akhir pekan.

Sementara 'Pinter' diisi dengan talkshow edukatif dari Mokajabar (Mojang Jajaka Jawa Barat), seperti mengolah ulat maggot, membuat skincare dari daun pohpohan, hingga tips menjadi content creator.

Saat Tradisi Bertemu Modernitas

Lalu, di mana letak konsernya? Nah, kemeriahan musik dan artis ibu kota seperti Kunto Aji, The Changcuters, dan King Nassar masuk dalam pilar 'Singer' (kreativitas).

Namun, 'Singer' tidak melulu soal musik modern. Di sinilah WJF 2025 unjuk gigi.

"Singernya itu lebih diimplementasikan dalam bentuk atraksi budaya seni tari dari dua puluh tujuh kabupaten kota," tegas Rama.

Salah satu yang paling ditonjolkan adalah Tari Berokan dari Indramayu. "Tari Berokan ini salah satu tarian yang hampir punah dari Indramayu dan pengen kita lestarikan di sini," tambahnya.

Tak hanya itu, WJF 2025 juga memboyong langsung tradisi Seren Taun dari Kasepuhan Sinar Resmi, Sukabumi, sebagai bagian dari opening ceremony.

"Kita ingin nunjukin nih ke ibaratnya orang kota, ini loh tradisi-tradisi yang jadi ciri khas Jawa Barat. Anak Gen Z mana tau Seren Taun, tapi supaya bikin mereka tau, kita datangin kesini dengan acara yang familiar, konser musik," ujar Rama.

Pesan untuk Wargi Jabar: Motekar Tanpa Lupa Akar

Teras Motekar WJF 2025 (Foto: Demas Reyhan Adritama)
Teras Motekar WJF 2025 (Foto: Demas Reyhan Adritama)

Rama mengakui bahwa WJF sebelumnya memang masih terpaku pada guest star. Namun, mulai tahun ini, budaya Jabar akan dibuat lebih kental.

"Sebetulnya sih memang kita pengennya tuh bukan guest star yang jadi jualan kita. Guest star mungkin hanya gulanya lah. Kita tuh pengen nonjolin temanya, pesannya," katanya.

Rama berharap wargi Jabar tidak hanya menikmati visual, tapi juga meresapi makna di balik kemeriahan WJF 2025.

"Kalian bolehlah sekreatif mungkin, semodern mungkin, sekeren mungkin, tapi jangan sampai lupa tempat kalian berasal. Itu sih poin pesannya. Istilahnya motekar (kreatif), tapi tetep jangan lupa roots (akar) kamu," pungkasnya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)