Pengunjung melihat Nu Art tidak hanya sebagai galeri seni, tetapi juga sebagai destinasi wisata dan rekreasi keluarga, dengan fasilitas tambahan seperti area terbuka, restoran, dan aktivitas komplementer lain. Kawasan Setra Duta, Kota Bandung, Selasa (04/11/2025), di balik pepohonan itu berdiri Nu Art Sculpture Park, ruang seni yang tidak hanya menampilkan karya-karya monumental, tetapi juga menghadirkan harmoni antara manusia, alam, dan budaya.
Fahmi, perwakilan pengelola Nu Art Sculpture Park, menjelaskan bahwa tempat ini didirikan oleh seniman patung terkenal asal Bali, Nyoman Nuarta, dengan tujuan awal sebagai etalase karya pribadi. “Seiring waktu, visinya berkembang. Nyoman ingin menjadikan Nu Art sebagi ruang seni terbuka yang bisa diakses masyarakat dan menjadi bagian dari kehidupan budaya di Indonesia,” ujarnya.
Awalnya, Nu Art berdiri pada tahun 2000 dengan nama Nu Art Sculpture Garden dan bersifat private, hanya dikunjungi kolega serta tamu khusus. Namun, sejak tahun 2016, kawasan ini resmi dibuka untuk publik dengan tiket masuk yang terjangkau. Kini, Nu Art memiliki berbagai fasilitas seperti galeri dua lantai, Galeri Merah, dan ruang audiovisual, serta area terbuka hijau yang luas.
Fahmi menuturkan bahwa latar belakang berdirinya Nu Art berawal dari mimpi Nyoman sejak kuliah di ITB untuk membangun taman patung sendiri. “Beliau ingin menciptakan ruang di mana seni, manusia, dan alam bisa sering saling berinteraksi secara seimbang,” ujarnya. Area yang dulu berupa hutan kini telah disulap menjadi lahan seluas empat hektar, mencerminkan konsep berkelanjutan dan keseimbangan ekologis yang diasung sejak awal.
Selain menikmati keindahan karya seni, pengunjung juga terpesona oleh suasana alami dan asri yang menjadi ciri khas Nu Art. Banyak pengunjung datang bukan hanya karena seninya, tapi juga untuk menikmati lingkungan yang hijau dan menenangkan.

Untuk menyatukan konsep wisata dan seni, Nu Art menghadirkan berbagai program interaktif. Beberapa di antaranya adalah Family Art Month dan Love Letters from Bali yang menghadirkan workshop, pertunjukan tari, dan kuliner khas. Program NuCinema menjadi wadah apresiasi film pendek dan documenter hasil kolaborasi dengan lembaga budaya internasional seperti IFI, Goethe-Institut, dan Japan Foundation.
Tidak hanya di bidang seni, Nu Art juga aktif dalam kegiatan sosial. salah satunya program donor darah yang telah rutin digelar selama hampir sepuluh tahun bekerja sama dengan PMI. Kegiatan ini terbuka untuk umum dan mejadikan salah satu bentuk kepedulian kami terhadap masyarakat. Selain itu, pameran karya seniman lokal di Galeri Merah juga diadakan secara berkala untuk mendukung seniman muda.
Baca Juga: Rusak dan Tidak Terawat dari Tahun ke Tahun
Tanggapan Masyarakat terhadap Nu Art sangat positif. Banyak pengunjung merasa kagum setelah mengetahui bahwa pencipta patung Garuda Wisnu (GWK) ternyata menetapkan dan berkarya di Bandung. Beberapa karya di Nu Art bahkan sempat viral di media social, salah satunya patung Dewi Zoling yang menarik banyak pengunjung muda.
Menutup perbincangan, Fahmi menyampaikan harapan agar Nu Art semakin dikenal sebagi raung seni yang terbuka untuk semua kalangan. “Kami ingin Nu Art tidak hanya jadi tempat melihat karya, tapi juga tempat berdialog dan belajar bersama,” tutupnya. (*)