Ayo Netizen

Seberapa Besar Dampak Buruk Krisis Etika Bermedia untuk Perilaku Kekerasan?

Oleh: Eva Alawiah Kamis 15 Jan 2026, 13:30 WIB
Ilustrasi pelaku kekerasan. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)

Ledakan yang dirakit seorang siswa SMA di Jakarta sebagai balasan atas perundungan bertahun-tahun, insiden pemukulan di Serpong, dan ancaman murid terhadap guru di Banten semua ini bukanlah insiden terpisah. Ini adalah bukti nyata bahwa kita sedang menyaksikan kegagalan moral kolektif. Kita gagal melindungi generasi muda dari kekerasan baru yang tumbuh subur di ruang digital.

Ruang maya, yang katanya membawa kemajuan, kini justru menjadi tempat pembuangan emosi negatif. Perundungan tidak lagi menunggu jam pulang sekolah, ia bergerak dari satu gawai ke gawai lain, hadir dalam komentar pedas, video yang disebarluaskan untuk bahan tertawaan, dan pesan pribadi yang menghancurkan.

Ketika kita terbiasa melihat rekaman kekerasan dan penghinaan dibagikan sebagai hiburan, batas moral perlahan memudar. Anak-anak kita tumbuh dengan keyakinan berbahaya bahwa menghina dan mempermalukan orang lain adalah hal yang lumrah, bahkan menjadi tren.

Media digital telah menjadi arena tanpa aturan di mana rasa malu seseorang dieksploitasi dan dijadikan tontonan. Kita membiarkan anak-anak kita terpapar caci maki berulang yang merusak rasa percaya diri mereka, melemahkan kendali emosi, dan merampas kemampuan mereka membangun hubungan sosial yang sehat. Bukankah kita tahu bahwa anak-anak yang tidak mendapatkan dukungan emosional di rumah akan lebih mudah terseret pada perilaku agresif di dunia maya?

Negara sudah memiliki UU ITE dan UU Perlindungan Anak yang melarang penghinaan dan kekerasan psikis. Namun, penegakan hukum selalu datang terlambat, jauh lebih lambat daripada laju penyebaran konten yang melukai. Dampak emosional sudah terlanjur menghancurkan jiwa anak bahkan sebelum laporan sempat dibuat. Apakah kita hanya bisa mengandalkan hukum yang berjalan lambat di era informasi yang bergerak secepat cahaya?

Perundungan digital bukanlah semata kesalahan pengguna internet. Ini adalah cermin dari kerentanan sosial yang lebih dalam. Keluarga yang kehilangan kehangatan, sekolah yang hanya sibuk mengejar nilai ketimbang membangun karakter, dan masyarakat yang terbiasa mengolok-olok kekeliruan orang lain. Anak-anak kita tidak lagi mendapatkan teladan emosional yang memadai. Mereka memilih menyelesaikan konflik dengan menyerang, karena berdialog dianggap lebih sulit.

Ruang digital kemudian memperkuat segala kelemahan ini. Ketika seorang anak tumbuh tanpa empati, media sosial memberinya megafon. Ia dapat menyerang tanpa melihat wajah lawan bicara, tanpa menyaksikan luka yang ia sebabkan. Teknologi tidak netral. Ia memantulkan apa yang kita tanamkan. Jika kita menanam keburukan, teknologi akan memperbesarnya. Generasi muda kita saat ini tampaknya lebih banyak melihat sisi buruk.

Krisis moral ini bukan bagian dari proses tumbuh. Kita sedang menyaksikan retaknya fondasi karakter. Jika kita terus abai, kekerasan yang tumbuh di ruang digital akan merembes dan menghancurkan ruang kelas, keluarga, dan tempat kerja. Pada akhirnya, yang akan kehilangan pijakan bukan hanya anak-anak kita, tetapi bangsa ini.

Baca Juga: Infinite Scrolling dan Hilangnya Fokus

Mengatasi persoalan ini membutuhkan langkah radikal. Sekolah harus menjadikan etika bermedia sebagai bagian nyata dari kegiatan belajar. Kita harus mengajak anak berdialog tentang konsekuensi kata-kata dan melatih cara merespons konflik tanpa menyerang. Rumah harus kembali menjadi pusat pembentukan karakter. Kehadiran emosional orang tua adalah benteng pertama. Orang tua wajib mendampingi anak saat mereka belajar menggunakan ruang digital dengan bijak, bukan hanya saat mereka belajar membaca.

Platform digital dan negara tidak boleh lagi menjadi penonton pasif. Mereka memiliki kekuatan dan tanggung jawab untuk menurunkan konten kekerasan lebih cepat dan memastikan pendidikan karakter menjadi pilar utama kurikulum nasional.

Pada akhirnya, tantangan etika bermedia adalah tantangan membangun kembali empati. Generasi muda harus kembali merasakan bahwa di balik setiap akun yang mereka serang, ada manusia yang dapat terluka. Ketika adab menjadi kebiasaan, bukan sekadar pengetahuan, barulah teknologi menjadi alat untuk membangun, bukan merusak. Maukah kita terus menjadi penonton kekerasan yang tumbuh di depan mata, atau berani mengambil tindakan untuk menyelamatkan masa depan bangsa? Pilihan ada di tangan kita. (*)

Reporter Eva Alawiah
Editor Aris Abdulsalam