Banyak indikator yang menunjukkan potensi pariwisata Bandung, mulai dari pergerakan wisatawan dalam Mobile Positioning Data, angka tingkat hunian kamar (TPK) hotel dari BPS, hingga berbagai pemberitaan yang menempatkan Bandung sebagai destinasi favorit melalui kanal media.
Setidaknya terdapat enam makna strategis yang dapat dicermati. Pertama, momentum lonjakan wisata perlu diimbangi dengan kapasitas layanan publik. Kedua, stabilitas TPK menandakan daya tahan, sekaligus mengisyaratkan perlunya inovasi. Ketiga, kesenjangan antara hotel berbintang dan non-bintang menunjukkan perlunya kebijakan inklusif. Keempat, keterpaduan data menjadi dasar pengambilan keputusan yang cerdas. Kelima, kebutuhan kemitraan publik–swasta (PPP) semakin penting untuk keberlanjutan program. Dan keenam, Bandung perlu mereposisi diri menjadi creative tourism hub di tingkat nasional.
Keenam makna tersebut adalah alarm sekaligus peluang. Lonjakan wisata membawa dampak ekonomi yang besar bagi sektor kuliner, transportasi, dan ekonomi kreatif. Namun di sisi yang lain, tekanan terhadap layanan publik seperti sampah, lalu lintas, dan ruang terbuka semakin terasa.
Dalam konteks fiskal saat ini, pemerintah dituntut mengatur ulang anggaran promosi, membatasi kegiatan fisik, dan memastikan setiap belanja publik berdampak luas. Di tengah keterbatasan ini, muncul peluang besar untuk menghadirkan cara baru, bagaimana “mengunjungi Bandung” tanpa harus selalu datang secara fisik.
Bayangkan, Bandung yang penuh sejarah dan estetika visual hadir dalam ruang digital global berbentuk tur 360°, augmented reality heritage walk, atau metaverse museum. Pesona lanskap, kuliner, seni, dan suasananya menjadi keunggulan Bandung. Reputasi sebagai city of design dan citra kota yang instagrammable mendukung lahirnya Bandung Smart Tourism City Tour sebagai pelengkap Bandung Tour on The Bus (Bandros) yang hadir secara fisik.
Pariwisata virtual bukan sebagai pengganti wisata fisik, melainkan perluasan pengalaman bagi siapa pun untuk mengenal Bandung lebih dekat, bahkan jauh sebelum mereka datang. Konsep ini menjawab tiga tantangan sekaligus, efisiensi fiskal pemerintah, peningkatan jangkauan promosi, dan pemberdayaan talenta digital lokal.
Setidaknya ada dua konsep awal yang bisa dikembangkan. Pertama, platform virtual yang memandu wisatawan merencanakan perjalanan dari rumah, lengkap dengan rencana rute destinasi, estimasi biaya, hingga pemesanan online. Kedua, ruang virtual untuk bernostalgia dan berbelanja produk Bandung.
Bandung tidak harus mulai dari nol. Pada konsep pertama, praktik baik dapat dipelajari dari AI Tourism 5.0. milik Kementerian Parisiwasata dengan Meticulous Artificial Intelligence of Indonesia (MaiA) yang bisa diakses melalui indonesia.travel. MaiA dengan penampilan wanita yang menawan membantu wisatawan melalui feature Chatbot menemukan inspirasi, menyusun itinerary otomatis, hingga menjelajahi Indonesia dengan lebih mudah.

Sementara itu, konsep kedua dapat meniru pendekatan BP2D Jabar dalam Kompetisi Inovasi Jabar 2025 yang memanfaatkan virtual space untuk memandu pengguna mencari informasi dalam ruang digital yang interaktif. Bayangkan jika pendekatan yang serupa diterapkan di kawasan Braga tempo dulu, Gedung Merdeka, atau sepanjang jalan Asia Afrika dengan alunan musik tradisional akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan.
Baca Juga: Antara Janji Meritokrasi atau Realitas Politik Koalisi: Pembentukan Kabinet Merah Putih
Dalam persfektif kebijakan, pariwisata virtual bukan hanya soal teknologi, tapi transformasi cara kota menerapkan konsep marketing di sektor publik secara efisien dan inklusif. Konsep yang memadukan promosi digital, analitik pangsa wisata, dan pelayanan publik berbasis teknologi.
Inisiatif ini pun sejalan dengan agenda Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) dan dapat terwujud melalui integrasi antara Dinas Pariwisata, Diskominfo, serta pelaku industri kreatif di Bandung Talenta Hub. Kolaborasi ini menghadirkan menghadirkan Bandung ke dunia, tanpa batas ruang.
Ketika efisiensi menjadi keniscayaan, Bandung justru memiliki peluang untuk ke depan. Dengan kebijakan yang cerdas, kolaborasi publik–swasta, inovasi digital, dan marketing sektor publik, pariwisata Bandung memasuki babak baru.
Dari kota yang ramai dikunjungi, menjadi kota yang terus hadir dalam ingatan, baik secara fisik maupun virtual. Karena sesungguhnya, Bandung memang tak pernah sepi, Bandung hanya terus menemukan cara baru untuk bercerita tentang dirinya. (*)