Antara Janji Meritokrasi atau Realitas Politik Koalisi: Pembentukan Kabinet Merah Putih

5 menit baca
Ihsan Ramadan
Ditulis oleh Ihsan Ramadan diterbitkan
Masa Retreat Kabinet Merah Putih di Magelang. (Sumber: menpan.go.id)
Masa Retreat Kabinet Merah Putih di Magelang. (Sumber: menpan.go.id)

Kepemerintahan Presiden Prabowo tidak bisa disebut sebagai kabinet zaken. Banyak kebijakan yang dikeluarkan oleh Prabowo beserta Kementriannya yang menuai beragam reaksi dari rakyat, baik itu reaksi positif ataupun reaksi negatif. Tapi kenyataannya  berbagai kebijakan tersebut lebih dominan menimbulkan reaksi negatif dan ditandai dengan demonstrasi yang dilakukan oleh berbagai lapisan masyarakat.

Para praktisi dalam setiap bidangnya beranggapan bahwa pemangku kebijakan sering terjebak dalam ‘Malpolicy’ atau kebijakan buruk yang dicetuskan tidak berbasis data sehingga terjadi  ketidakstabilan dalam masyarakat. Hal ini menimbulkan banyak spekulasi yang muncul dari berbagai segmen masyarakat, akankah para pejabat yang bermasalah secara terus-menerus dalam penentuan kebijakan tersebut pantas untuk duduk dalam kabinet yang dibentuk oleh prabowo?

Jikalau kita mengingat kembali, lebih dari 1 tahun yang lalu Ahmad Muzani sebagai Sekretaris Jenderal Partai Gerindra mengungkapkan keinginan Prabowo sebagai presiden terpilih untuk membentuk zaken kabinet pada pemerintahannya. Tafsiran mengenai zaken kabinet ini adalah mereka yang berkeahlian khusus pada bidang kementrian ditempati.

Lanjutnya, dia juga menyebutkan bahwa sekalipun ada seseorang yang diajukan oleh parpol (partai politik) untuk menjadi menteri, mereka tetap harus ahli di bidangnya. Namun, setelah 1 tahun lebih, semenjak dilantik dan pasca diumumkannya orang-orang yang duduk sebagai menteri, kita banyak melihat ketidakselarasan antara keinginan Presiden Prabowo (melalui perantara ucapan Ahmad Muzani) dengan realitas yang ada.

Pernyataan dan keinginan Prabowo tentang kabinet zaken ini tentu saja bukan pernyataan tanpa alasan, kabinet zaken ini merupakan teori yang sangat familiar dalam dunia politik, dimana setiap menteri dalam kabinet ditunjuk berdasarkan keahlian yang ia kuasai. Nah, keinginan prabowo ini secara tidak langsung mencerminkan seorang pemimpin yang sadar untuk melihat kompetensi dalam memilih dan menyeleksi seseorang untuk bisa ditempatkan pada bidangnya dan meningkatkan efisiensi dalam bekerja alih-alih memilih berdasarkan hubungan pribadi ataupun kenalan.

Secara umum kabinet zaken ini bisa juga disamakan dan disebut dengan meritokrasi, bukan karena asal-usulnya akan tetapi kesamaan nilai yang ada terkandung dari kedua teori ini yaitu kompetensi, keterampilan, dan kapasitas teknis diatas rata-rata. Karena seorang calon pemimpin (prabowo sebelum dilantik) yang memiliki kesadaran dalam pentingnya kabinet zaken ini menunjukkan bahwa masih ada harapan untuk menerapkan sistem meritokrasi di Indonesia dan menghilangkan sistem KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme) yang sudah menjadi suatu hal yang lumrah di sistem pemerintahan Indonesia.

Seiring berjalannya waktu, tampak apa yang dilakukan Prabowo hari ini tidak selaras dengan apa yang telah ia sampaikan dahulu mengenai keinginannya untuk menerapkan meritokrasi dalam pemerintah ataupun membentuk kabinet zaken. Semua orang tentu saja heran dan bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi ketika penentuan setiap pemimpin dalam kementerian ini. Namun, banyak orang yang sering melupakan mengenai bagaimana praktik birokrasi yang berkaitan dengan partai politik di Indonesia yang sudah mendarah daging selama bertahun-tahun. Praktik birokrasi yang dimaksud ini mulai semakin terasa sejak era reformasi hingga sekarang.

Selama bertahun-tahun sejak era reformasi ini politik indonesia semakin berkembang pesat, salah satu produk atau bukti dari pesatnya perkembangan dunia perpolitikan Indonesia ialah banyaknya partai politik yang bermunculan pada akhir-akhir dekade ini. Faktor yang berpengaruh dalam banyaknya partai politik di Indonesia pada saat ini adalah Indonesia sebagai negara yang bersifat pluralistik dan hal ini mencerminkan bahwa indonesia terdiri dari berbagai suku, agama, dan ras yang berbeda dan tentu memiliki pendapat/gagasan masing-masing dari setiap golongan. Untuk menciptakan pemerintah yang memiliki satu kesatuan, maka hendaknya pemerintah menggandeng dan harus bekerja sama dengan mereka. Bentuk kerjasama antara partai inilah yang sering disebut sebagai koalisi partai.

Pada hakikatnya, koalisi tentu bukan berfungsi sebagai alat untuk menggapai kekuasaan saja, akan tetapi  bisa juga menjadi sarana untuk mewujudkan agenda politik dan kebijakan publik yang berorientasi terhadap kepentingan masyarakat. Proses kerjasama (koalisi) ini diatur dalam konstitusi  tentang pencalonan presiden dan wakil presiden, mereka ini diajukan dari sebuah partai  maupun gabungan partai politik yang menjadi peserta pemilu.

Di sisi lain, dalam pasal lainnya dijelaskan bahwa presiden memiliki hak prerogatif yang dimana Presiden terpilih berhak untuk mengangkat dan memberhentikan menteri-menteri. Seiring berkembangnya dunia perpolitikan Indonesia, banyak hal yang bergeser dan menyeleweng dari fungsinya, salah satunya adalah penunjukkan menteri yang dilakukan oleh presiden terpilih. Di masa sekarang ketika calon presiden-wakil presiden ini maju sebagai presiden dan wakil presiden, maka seakan-akan sudah menjadi suatu kewajiban tak tertulis bahwa presiden harus menunjuk dan mengambil orang-orang yang berasal dari partai koalisi untuk dijadikan sebagai menteri ataupun masuk dalam lingkaran kekuasaan.

Pada hakikatnya, hal ini bukanlah suatu hal yang salah, akan tetapi dalam perjalanannya, penunjukkan menteri hanya dari perwakilan yang disodorkan oleh partai-partai koalisi ini menjadi momok yang menimbulkan masalah, hampir sebagian dari menteri-menteri ini tidak ahli dan berpengetahuan dalam bidangnya dan dipaksakan untuk menjadi menteri karena tuntutan ataupun kewajiban  yang tidak tertulis bagi presiden-wakil presiden terpilih terhadap partai yang yang telah mendukungnya (partai koalisi) dan menyebabkan perlambatan efektivitas dalam roda pemerintahan.

Pada saat ini, kita bisa melihat menteri-menteri yang terpilih dan tentunya kita bisa membedakan kinerja dan pengaruh setiap diri mereka dalam kementriannya, apalagi kabinet di masa Prabowo-Gibran ini terlihat kabinet yang “gemuk” dikarenakan pelebaran kementerian, dan menjadikan mereka kabinet yang berkuantitas secara besar semenjak era Orde baru sampai dengan Regormasi dengan jumlah 48 menteri dan 56 wakil menteri.

Baca Juga: Fiskal Menyempit, Demokrasi Terancam: Analisis Manajemen Risiko Pendidikan Politik di Daerah

Pada hakikatnya, bentuk kabinet zaken ini bisa saja terwujud dengan mudah, hal ini dibuktikan dengan terwujudnya kabinet yang dimaksud oleh Presiden Prabowo pada masa kepemimpinan Presiden ke-6, yaitu SBY sampai dengan Presiden ke-7,yakni Jokowi(walaupun mereka tidak mengklaimnya secara langsung). Menurut para ahli, banyaknya jumlah partai politik di Indonesia tidak dapat dianggap sebagai sebuah karakteristik yang selamanya positif, karena dari banyaknya partai ini kita sulit untuk menentukan partai pemenang mayoritas setiap pemilihan, hal itu disebabkan karena suara pilihan rakyat akan menyebar ke berbagai partai dan tidak terfokus pada sebuah partai tertentu.

Walaupun presiden memiliki wewenang yang sama kuat seperti anggota legislatif karena sama-sama dipilih rakyat pada saat pemilu, bukan berarti presiden tidak membutuhkan parlemen. Dalam beberapa kasus, banyak kewenangan ataupun kebijakan presiden yang tetap memerlukan pertimbangan bahkan persetujuan dari parlemen.  Maka dari itu, sedikitnya dukungan dari parlemen menyebabkan tidak tercapainya target tugas ataupun kinerja seorang presiden yang terlantik atau bahkan bisa mengganggu stabilitas pemerintahan yang ada.

Oleh sebab itu, pada masa pemerintahan Presiden Prabowo ini, dia merangkul banyak partai yang bertujuan untuk menjaga stabilitas pemerintah sekarang dan keselarasan kewenangan antara dua elemen yaitu, eksekutif dan legislatif. Dan inilah yang dimaksud oleh penulis sebagai realitas politik, di mana idealisme Presiden Prabowo mengenai kabinet zaken yang ingin ia bentuk, nyatanya dapat ditutupi dengan realitas politik yang menuntutnya untuk menjaga stabilitas pemerintahan dengan menggandeng banyak partai politik lalu menjadikan kader dari partai sebagai menteri bentuk dari balas budi akan dukungan parlemen partai politik tersebut. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ihsan Ramadan
Tentang Ihsan Ramadan
a student at an university in Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Sep 2026, 18:33

Jika Ada Lagi Taman Nasional atau Taman Hutan Raya Baru di Jawa Barat

Menelusuri peluang hadirnya taman nasional atau taman hutan raya (tahura) baru sebagai benteng keanekaragaman hayati, pelindung ekosistem (flora dan fauna) serta oasis hijau masa depan Bumi Pasundan.

Bagas Aji Prakoso saat menjajal Tahura Djuanda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 16:50

Ketika Idealisme Pengabdian Gen-Z Membentur Tembok Kaku Birokrasi

Artikel opini ini membahas paradoks antara idealisme pengabdian ASN Generasi Z dan budaya birokrasi yang masih dianggap kaku.

Tumpukan Berkas. (Sumber: Chat GPT | Foto: AI Chat GPT)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 15:05

Jalur FM: Ketika Suara dari Udara Menjadi Lebih Jernih

Sebelum gelombang FM semakin ramai di Bandung, perubahan serupa lebih dahulu terasa di Jakarta.

Studio Radio OZ Bandung di Jl. Setrasari II No. 14, Bandung. Radio OZ menjadi salah satu stasiun radio di Bandung yang termasuk awal bermigrasi dari jalur AM ke FM. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 14:42

216 Tahun Kota Bandung: Merawat Warisan dan Membangun Masa Depan Gastronomi Berkelanjutan

Lebih dari sekadar destinasi tempat orang mencari tempat makan yang estetis atau makanan lezat, Bandung pada hakikatnya adalah laboratorium budaya.

Kudapan tradisional khas Kota Kembang yang sangat populer antara lain cireng, cilok, seblak, dan telur gulung. (Sumber: Shutterstock | Foto: Hanifah Kurniati)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 12:21

Momentum Mahasiswa Meraih Prestasi

Mahasiswa sering menyalahkan diri dan keadaannya dalam situasi yang sulit. Menurut mahasiswa, bahwa keberadaannya belum tentu berprestasi. 

Sejumlah mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat, 1 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional (May Day). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 22 Sep 2026, 10:40

Media Lokal Cari Model Bisnis Baru di Local Media Summit 2026

Media lokal tidak lagi hanya dituntut menjadi penerbit berita, tetapi juga dapat berkembang menjadi agensi lokal, pengelola komunitas.

Local Media Summit (LMS) akan kembali hadir di pada 22-23 Oktober 2026 di Hotel Manhattan Jakarta.
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:15

Jika Benzema Datang, Persib Sebenarnya Membeli Apa?

Status bebas transfer Benzema saat ini membuat sebuah pintu terbuka untuk Persib.

Karim Benzema (Sumber: ayobandung.com | Foto: Wikimedia Commons (Lisensi CC) via ayobandung.com)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:00

Urap: Jejak Mahakarya Kuliner Tertua dan Filosofi Kehidupan dalam Sepiring Sayuran Nusantara

Dalam khazanah gastronomi Indonesia, urap bukan sekadar komposisi sayuran dan kelapa parut.

Urap merupakan sajian sayuran tertua di tanah Jawa yang tercatat secara formal dalam literatur sejarah. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:31

Demokrasi yang Berakar: Ketika Politik Bertemu  Budaya dan Kepercayaan

Sebelum seseorang menjatuhkan pilihan politiknya, ada proses komunikasi yang panjang. Sebelum sebuah kekuasaan dianggap sah, ada proses pembentukan makna.

Diah Fatma Sjoraida merupakan Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran. (Sumber: Gemini | Foto: Ilustrasi oleh AI)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:01

Urgensi Kota Bandung: Persolan Sampah dan Kemacetan

Sampah dan kemacetan adalah dua persoalan besar yang dihadapi Bandung. Harus diatasi dengan membangun kesadaran bersama, yang akhirnya demi kenyamanan bagi warga Bandung, sebagai rumah bersama.

Pengendara melintas di dekat tumpukan sampah yang menggunung di TPS Jalan Makam Caringin, Kota Bandung, Kamis, 9 April 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 18:17

Imaji Papua Bersilaturahmi dengan Caraka Sundanologi Bandung

Imaji Papua membawa cerita tentang manusia, budaya, dan kehidupan Tanah Papua ke Bandung melalui film dan dialog lintas komunitas.

Caraka Sundanologi bersilaturahmi dengan komunitas Imaji Papua melalui pemutaran film dokumenter sebagai ruang berbagi cerita, budaya, dan pengalaman tentang Papua. (Sumber: Nonon Rachnaya)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 17:20

Bandung dan Terbentuknya Karyawan 'Flourish'

Ketika Pemkot Bandung berhasil memangkas hambatan birokrasi,sektor industri harus siapkan sistem rekrutmen yang presisi.

Bandung dan urgensi karyawan "Flourish" (Sumber: dokpri dengan kreasi chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 16:22

Tugu Proklamasi Cirebon: Jejak Pembacaan Proklamasi 15 Agustus 1945

Sebuah tugu berwarna putih di perempatan Jalan Siliwangi, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon, itu menjadi saksi bahwa kemerdekaan Indonesia pernah diproklamirkan sebelum 17 Agustus 1945.

Tugu Proklamasi Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Wahyu)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 15:58

Menimbang Dampak Pajak Otomatis di Tengah Melejitnya Lokapasar Kota Bandung

Proses perpajakan digital menuntut UMKM agar merapikan pembukuan mereka

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan (Kanan). (Sumber: Humas Pemkot Bandung)
Ikon 21 Sep 2026, 15:33

Stasiun Cicalengka, dari Stasiun Bersejarah jadi Tinggal Sejarah

Stasiun Cicalengka berusia lebih dari seabad. Bangunan lamanya telah dibongkar, sementara tinggalan sejarahnya masih tersisa.

Stasiun Cicalengka, Bandung, antara tahun 1900-1920-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 13:41

Akar Historis dan Evolusi Gastronomi Sunda: Meneroka Budaya Pangan Tatar Parahyangan

Gastronomi bukan sekadar urusan pemuasan kebutuhan fisiologis manusia melalui asupan nutrisi, melainkan sebuah disiplin ilmu yang membedah korelasi intrinsik antara makanan dan kebudayaan.

Penjual makanan keliling di Jawa Barat sekitar tahun 1910. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 11:21

Bioskop sebagai Ruang Refleksi Diri

Bioskop di era modern tidak sekedar ajang hiburan tapi ruang refleksi yang membuat nyaman.

Ilustrasi bioskop. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 09:09

Ketika Fikom Harus Mengajarkan Cara Berkomunikasi dengan Mesin

Sekarang mulai terbentuk pola baru komunikasi, yakni manusia berbicara kepada mesin, mesin menghasilkan pesan, mesin memilih pesan, lalu manusia menerima dan menafsirkannya.

Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. (Sumber: ayobandung.com | Foto: fikom.unpad.ac.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 17:07

930 Pecatur di Bandung Dapat Wejangan dari Legenda Utut Adianto

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru.

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 16:57

Istilah Bahasa Jawa untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Mengenal istilah lokal Bahasa Jawa untuk menggambarkan kekuatan guncangan gempa bumi, dari Lir hingga Lindhu Kiamat/Jagad Obah. Kaya makna dan kearifan lokal suu bangsa Jawa.

Ilustrasi bangunan yang rusak akibat gempa bumi. (Sumber: Pexels | Foto: Ahmed akacha)