Antara Janji Meritokrasi atau Realitas Politik Koalisi: Pembentukan Kabinet Merah Putih

Ihsan Ramadan
Ditulis oleh Ihsan Ramadan diterbitkan Selasa 20 Jan 2026, 16:00 WIB
Masa Retreat Kabinet Merah Putih di Magelang. (Sumber: menpan.go.id)

Masa Retreat Kabinet Merah Putih di Magelang. (Sumber: menpan.go.id)

Kepemerintahan Presiden Prabowo tidak bisa disebut sebagai kabinet zaken. Banyak kebijakan yang dikeluarkan oleh Prabowo beserta Kementriannya yang menuai beragam reaksi dari rakyat, baik itu reaksi positif ataupun reaksi negatif. Tapi kenyataannya  berbagai kebijakan tersebut lebih dominan menimbulkan reaksi negatif dan ditandai dengan demonstrasi yang dilakukan oleh berbagai lapisan masyarakat.

Para praktisi dalam setiap bidangnya beranggapan bahwa pemangku kebijakan sering terjebak dalam ‘Malpolicy’ atau kebijakan buruk yang dicetuskan tidak berbasis data sehingga terjadi  ketidakstabilan dalam masyarakat. Hal ini menimbulkan banyak spekulasi yang muncul dari berbagai segmen masyarakat, akankah para pejabat yang bermasalah secara terus-menerus dalam penentuan kebijakan tersebut pantas untuk duduk dalam kabinet yang dibentuk oleh prabowo?

Jikalau kita mengingat kembali, lebih dari 1 tahun yang lalu Ahmad Muzani sebagai Sekretaris Jenderal Partai Gerindra mengungkapkan keinginan Prabowo sebagai presiden terpilih untuk membentuk zaken kabinet pada pemerintahannya. Tafsiran mengenai zaken kabinet ini adalah mereka yang berkeahlian khusus pada bidang kementrian ditempati.

Lanjutnya, dia juga menyebutkan bahwa sekalipun ada seseorang yang diajukan oleh parpol (partai politik) untuk menjadi menteri, mereka tetap harus ahli di bidangnya. Namun, setelah 1 tahun lebih, semenjak dilantik dan pasca diumumkannya orang-orang yang duduk sebagai menteri, kita banyak melihat ketidakselarasan antara keinginan Presiden Prabowo (melalui perantara ucapan Ahmad Muzani) dengan realitas yang ada.

Pernyataan dan keinginan Prabowo tentang kabinet zaken ini tentu saja bukan pernyataan tanpa alasan, kabinet zaken ini merupakan teori yang sangat familiar dalam dunia politik, dimana setiap menteri dalam kabinet ditunjuk berdasarkan keahlian yang ia kuasai. Nah, keinginan prabowo ini secara tidak langsung mencerminkan seorang pemimpin yang sadar untuk melihat kompetensi dalam memilih dan menyeleksi seseorang untuk bisa ditempatkan pada bidangnya dan meningkatkan efisiensi dalam bekerja alih-alih memilih berdasarkan hubungan pribadi ataupun kenalan.

Secara umum kabinet zaken ini bisa juga disamakan dan disebut dengan meritokrasi, bukan karena asal-usulnya akan tetapi kesamaan nilai yang ada terkandung dari kedua teori ini yaitu kompetensi, keterampilan, dan kapasitas teknis diatas rata-rata. Karena seorang calon pemimpin (prabowo sebelum dilantik) yang memiliki kesadaran dalam pentingnya kabinet zaken ini menunjukkan bahwa masih ada harapan untuk menerapkan sistem meritokrasi di Indonesia dan menghilangkan sistem KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme) yang sudah menjadi suatu hal yang lumrah di sistem pemerintahan Indonesia.

Seiring berjalannya waktu, tampak apa yang dilakukan Prabowo hari ini tidak selaras dengan apa yang telah ia sampaikan dahulu mengenai keinginannya untuk menerapkan meritokrasi dalam pemerintah ataupun membentuk kabinet zaken. Semua orang tentu saja heran dan bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi ketika penentuan setiap pemimpin dalam kementerian ini. Namun, banyak orang yang sering melupakan mengenai bagaimana praktik birokrasi yang berkaitan dengan partai politik di Indonesia yang sudah mendarah daging selama bertahun-tahun. Praktik birokrasi yang dimaksud ini mulai semakin terasa sejak era reformasi hingga sekarang.

Selama bertahun-tahun sejak era reformasi ini politik indonesia semakin berkembang pesat, salah satu produk atau bukti dari pesatnya perkembangan dunia perpolitikan Indonesia ialah banyaknya partai politik yang bermunculan pada akhir-akhir dekade ini. Faktor yang berpengaruh dalam banyaknya partai politik di Indonesia pada saat ini adalah Indonesia sebagai negara yang bersifat pluralistik dan hal ini mencerminkan bahwa indonesia terdiri dari berbagai suku, agama, dan ras yang berbeda dan tentu memiliki pendapat/gagasan masing-masing dari setiap golongan. Untuk menciptakan pemerintah yang memiliki satu kesatuan, maka hendaknya pemerintah menggandeng dan harus bekerja sama dengan mereka. Bentuk kerjasama antara partai inilah yang sering disebut sebagai koalisi partai.

Pada hakikatnya, koalisi tentu bukan berfungsi sebagai alat untuk menggapai kekuasaan saja, akan tetapi  bisa juga menjadi sarana untuk mewujudkan agenda politik dan kebijakan publik yang berorientasi terhadap kepentingan masyarakat. Proses kerjasama (koalisi) ini diatur dalam konstitusi  tentang pencalonan presiden dan wakil presiden, mereka ini diajukan dari sebuah partai  maupun gabungan partai politik yang menjadi peserta pemilu.

Di sisi lain, dalam pasal lainnya dijelaskan bahwa presiden memiliki hak prerogatif yang dimana Presiden terpilih berhak untuk mengangkat dan memberhentikan menteri-menteri. Seiring berkembangnya dunia perpolitikan Indonesia, banyak hal yang bergeser dan menyeleweng dari fungsinya, salah satunya adalah penunjukkan menteri yang dilakukan oleh presiden terpilih. Di masa sekarang ketika calon presiden-wakil presiden ini maju sebagai presiden dan wakil presiden, maka seakan-akan sudah menjadi suatu kewajiban tak tertulis bahwa presiden harus menunjuk dan mengambil orang-orang yang berasal dari partai koalisi untuk dijadikan sebagai menteri ataupun masuk dalam lingkaran kekuasaan.

Pada hakikatnya, hal ini bukanlah suatu hal yang salah, akan tetapi dalam perjalanannya, penunjukkan menteri hanya dari perwakilan yang disodorkan oleh partai-partai koalisi ini menjadi momok yang menimbulkan masalah, hampir sebagian dari menteri-menteri ini tidak ahli dan berpengetahuan dalam bidangnya dan dipaksakan untuk menjadi menteri karena tuntutan ataupun kewajiban  yang tidak tertulis bagi presiden-wakil presiden terpilih terhadap partai yang yang telah mendukungnya (partai koalisi) dan menyebabkan perlambatan efektivitas dalam roda pemerintahan.

Pada saat ini, kita bisa melihat menteri-menteri yang terpilih dan tentunya kita bisa membedakan kinerja dan pengaruh setiap diri mereka dalam kementriannya, apalagi kabinet di masa Prabowo-Gibran ini terlihat kabinet yang “gemuk” dikarenakan pelebaran kementerian, dan menjadikan mereka kabinet yang berkuantitas secara besar semenjak era Orde baru sampai dengan Regormasi dengan jumlah 48 menteri dan 56 wakil menteri.

Baca Juga: Fiskal Menyempit, Demokrasi Terancam: Analisis Manajemen Risiko Pendidikan Politik di Daerah

Pada hakikatnya, bentuk kabinet zaken ini bisa saja terwujud dengan mudah, hal ini dibuktikan dengan terwujudnya kabinet yang dimaksud oleh Presiden Prabowo pada masa kepemimpinan Presiden ke-6, yaitu SBY sampai dengan Presiden ke-7,yakni Jokowi(walaupun mereka tidak mengklaimnya secara langsung). Menurut para ahli, banyaknya jumlah partai politik di Indonesia tidak dapat dianggap sebagai sebuah karakteristik yang selamanya positif, karena dari banyaknya partai ini kita sulit untuk menentukan partai pemenang mayoritas setiap pemilihan, hal itu disebabkan karena suara pilihan rakyat akan menyebar ke berbagai partai dan tidak terfokus pada sebuah partai tertentu.

Walaupun presiden memiliki wewenang yang sama kuat seperti anggota legislatif karena sama-sama dipilih rakyat pada saat pemilu, bukan berarti presiden tidak membutuhkan parlemen. Dalam beberapa kasus, banyak kewenangan ataupun kebijakan presiden yang tetap memerlukan pertimbangan bahkan persetujuan dari parlemen.  Maka dari itu, sedikitnya dukungan dari parlemen menyebabkan tidak tercapainya target tugas ataupun kinerja seorang presiden yang terlantik atau bahkan bisa mengganggu stabilitas pemerintahan yang ada.

Oleh sebab itu, pada masa pemerintahan Presiden Prabowo ini, dia merangkul banyak partai yang bertujuan untuk menjaga stabilitas pemerintah sekarang dan keselarasan kewenangan antara dua elemen yaitu, eksekutif dan legislatif. Dan inilah yang dimaksud oleh penulis sebagai realitas politik, di mana idealisme Presiden Prabowo mengenai kabinet zaken yang ingin ia bentuk, nyatanya dapat ditutupi dengan realitas politik yang menuntutnya untuk menjaga stabilitas pemerintahan dengan menggandeng banyak partai politik lalu menjadikan kader dari partai sebagai menteri bentuk dari balas budi akan dukungan parlemen partai politik tersebut. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ihsan Ramadan
Tentang Ihsan Ramadan
a student at an university in Bandung

Berita Terkait

News Update

Bandung 06 Mei 2026, 20:20

Mulai Rp10 Ribu, Aksesori Batu Rimba Buktikan Produk Lokal Bisa Tampil Berkelas dan Bernilai Estetika Tinggi

Di tengah geliat keragaman aspek budaya nasional yang dipadu-padankan dengan ranah bisnis, kini pelaku UMKM aksesori turut menjadi sasaran atensi.

Batu Rimba asal Kalimantan, produk ini menampilkan gelang jenis batu alam hingga mutiara Lombok. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 18:29

Separuh Kehidupan untuk Kemacetan di Kota Bandung

Bagi pengguna fasilitas transportasi umum, kemacetan adalah pergumulan yang melelahkan tapi harus dilewati setiap hari.

Kemacetan Cibaduyut Saat Ramadhan 2026. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 17:21

Bandung Kini, Mereka yang Bertahan di Antara Deru Zaman

Di tengah impitan kondisi sosial yang terasa begitu tajam, warga Bandung harus bisa tetap bertahan hidup dengan cara pengorbanan dan kesabaran. Yang akhirnya akan menemukan solusi terbaik.

Penari membawakan tarian tradisional di Taman Braga dan depan Gedung YPK, Jalan Naripan, Kota Bandung, Rabu 29 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 06 Mei 2026, 16:38

Panduan Wisata ke Little Venice Kota Bunga, Wisata Kanal ala Italia di Kaki Gunung Gede

Destinasi tematik di Kota Bunga ini menghadirkan kanal buatan, bangunan Eropa, dan wahana keluarga dengan latar pegunungan.

Little Venice Kota Bunga Puncak.
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 14:59

Menuju Pelestarian Cagar Budaya Kota Bandung yang Progresif dan Berkeadilan: Kebijakan Insentif Pajak Bumi dan Bangunan

Strategi pelestarian cagar budaya yang progresif dan berkelanjutan untuk menciptakan simbiosis mutualisme antara pelestarian Cagar Budaya dan kepastian hak ekonomi pemilik Cagar Budaya.

Pengendara melintas di Jalan Asia-Afrika, Kota Bandung, Selasa 21 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 06 Mei 2026, 13:51

Panjat Dinding, Prestasi dan Profesi yang Langka

Prestasi panjat dinding Indonesia didominasi nomor speed, sementara kekurangan route setter jadi kendala perkembangan atlet.

Panjat dinding. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 06 Mei 2026, 11:25

5 Tempat Kuliner dan Restoran Pilihan dengan View Ikonik di Ciwidey Bandung

Panduan tempat makan di Ciwidey dengan view paling menarik. Dari warung sederhana hingga restoran unik di tepi danau.

Warung Kabut, Ciwidey.
Ayo Biz 06 Mei 2026, 11:23

Kita Butuh Isinya, Bukan Wadahnya

Jaga Bumi Ecomart mengajak belanja tanpa kemasan sekali pakai lewat konsep *refill* dan *reuse*. Pesannya sederhana: yang dibutuhkan adalah isi, bukan wadah, demi mengurangi sampah.

Beragam produk hasil recycle di Jaga Bumi Ecomart, menunjukkan limbah dapat diolah menjadi barang bernilai guna. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 09:45

Tujuan Kawula Muda Nonton Film di Tahun 1980-an

Kawula muda Kota Bandung sangat beruntung karena kota tempat mereka beraktifitas di sekolah punya seribu buat menghilangkan kepenatan sebagai pelajar di tahun 1980-an.

Bioskop Majestic, Kota Bandung. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Chainwit)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 07:39

Dari Loyalitas ke Konsumsi, Ketika Bobotoh dan Merchandise Jadi Satu Cerita

Dukungan klub kini bukan hanya emosi, tapi juga konsumsi. Artikel ini mengulas perubahan loyalitas Bobotoh dalam merchandise Persib x Weekend Offender.

Loyalitas Bobotoh dalam merchandise Persib x Weekend Offender. (Sumber: TikTok @terracedistric)
Wisata & Kuliner 05 Mei 2026, 20:28

Panduan Wisata Taman Safari Bogor, Tiket, Wahana, dan Safari Journey

Panduan lengkap Taman Safari Bogor mencakup harga tiket, Safari Journey, wahana, pertunjukan satwa, serta tips berkunjung agar pengalaman lebih maksimal.

Wisata Taman Safari Indonesia di kawasan Puncak, Bogor. (Sumber: Taman Safari Indonesia)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 18:05

Mobilitas Tinggi, Perlindungan Rendah: Catatan Hari Buruh dari Sektor Transportasi Darat

Mobilitas transportasi darat meningkat, tetapi perlindungan pengemudi tertinggal. Hari Buruh menyoroti risiko tinggi, jam kerja panjang, dan lemahnya pengawasan di sektor logistik dan bus.

Ilustrasi sejumlah pengemudi truk logistik dan bus sedang memperingati hari buruh 1 Mei. (Sumber: Google Gemini, 2026)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 17:22

Meng(hardik)nas, Peringatan, dan Kesadaran

Kemajuan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidikannya. Ikhtiar memperbaiki pendidikan dimulai dari ruang kelas, tempat manusia tidak hanya diajarkan pengetahuan, sebagai manusia seutuhnya.

Sejumlah siswa berjualan aneka produk makanan saat acara Market Day di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (5/12/2023) (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 16:28

Lembangku Sayang, Lembangku Malang (Prolog)

Keheningan dan kesederhanaan Lembang mampu menjadi dirinya sendiri, mampu menorehkan kesan yang tiada duanya.

Kartu pos yang bergambarkan gunung Tangkuban Parahu pada masa kolonial Belanda. Lokasi tepat dari gambar ini adalah kawasan jalan Setiabudi atas/Terminal Ledeng, dan foto diambil dari loteng Villa Isola). (Sumber: wereledculturn.nl)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 13:37

10 Netizen Terpilih April 2026: Bandung di Mata Pendatang, antara Bayangan dan Kenyataan

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Penari membawakan tarian tradisional di Taman Braga dan depan Gedung YPK, Jalan Naripan, Kota Bandung, Rabu 29 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Mei 2026, 13:14

Tamasya ke Pulau Biawak, Wisata Pulau Konservasi di Laut Jawa

Wisata Pulau Biawak Indramayu mencakup akses dari Karangsong, mercusuar Belanda, habitat biawak liar, kondisi terumbu karang, serta tips kunjungan ke pulau.

Pulau Biawak, Indramayu. (Sumber: Pemprov Jabar)
Beranda 05 Mei 2026, 10:46

Mal BTM yang Tergerus Perubahan Cara Orang Berbelanja

Mal BTM di Bandung perlahan sepi seiring perubahan cara orang berbelanja ke digital, memangkas peran toko fisik dan menggeser rantai distribusi tradisional.

Suasana mal BTM terasa sunyi, pengunjung tak lagi seramai dulu. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 09:25

Setiap Kata adalah Arsip Sejarah

Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana para public figure dan pejabat yang kembali mengulangi kesalahan yang sama.

Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana para public figure dan pejabat yang kembali mengulangi kesalahan yang sama. (Sumber: Pexels | Foto: BOOM 💥 Photography)
Beranda 05 Mei 2026, 09:15

Nasib Pekerja Informal yang Setiap Hari Dikejar Setoran, Tapi Masa Depan Tak Pernah Ikut Dijamin

Kisah dua saudara yang berjuang di tengah keterbatasan peluang kerja dan ketidakpastian upah sebagai petugas parkir demi menyambung hidup hari demi hari.

Sudah hampir 20 tahun Ade bekerja sebagai petugas parkir untuk menyambung hidup. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 04 Mei 2026, 21:56

Belajar dari Tragedi KA Argo: Sudah Saatnya Ubah Cara Awasi Perlintasan Biar Mobil Mogok Tak Lagi Jadi Maut

Tragedi KA Argo 2026 mendesak PT KAI untuk memodernisasi keamanan perlintasan sebidang guna mencegah mobil mogok akibat gangguan elektromagnetik dan rel yang tidak rata.

(Sumber: Pixels | Foto: Irsyad Rifqi)