Merawat Imajinasi

Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan Selasa 20 Jan 2026, 12:21 WIB
Seseorang sedang asyik membaca. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)

Seseorang sedang asyik membaca. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)

Suasana malam yang begitu dingin dari hari sebelumnya. Ternyata menyimpan kehangatan atas kebersamaan. Saat duduk menemani anak kedua, Aa Akil, yang tengah menyiapkan tugas sekolah. 

Bocah kelas lima ini harus belajar mendongeng dengan media wayang, yang terbuat dari kertas sederhana, bertangkai stik. Tentunya permainan ini sarat imajinasi dan inspirasi. 

Malin Kundang menjadi kisah yang dipilih. Delapan lembar cerita ditempel perlahan pada tubuh wayang, seakan-akan menyatukan potongan nasib seorang anak durhaka kepada Ibunya. 

Sesekali anak ketiga, Kakang ikut nimbrung, bahkan meminta dibuatkan. Ya memang Aa sudah mempersiapkan main sama untuk adik tersayangnya. Cerita dan gambar dipilih sama. Cuma bentuknya sedikit kecil dari Aa, menyesuaikan dengan tangan yang memegang masih mungil. Hore Kakang punya! sambil berlarian ke sana-ke mari.

Hari-hari sebelumnya pemilik nama Faraz ini sudah giat latihan, demi keberanian tampil di depan kelas, di hadapan teman-teman dan Ibu Guru tercinta.

Pada malam itu, saat lakon telah terpasang dan latihan kembali digelar, suara lantang bocah dan desir angin malam yang menerpa pohon pisang berpadu dalam ruang kecil menghangatkan suasana. Sungguh berbunga-bunga saat anak ketiga ikut memainkan, dongeng zaman dahulu yang banyak hikmah itu agar hidup semakin terarah.

Latihan selesai. Wayang-wayangan dirapikan kembali ke tempatnya. Dalam jeda sunyi itu, bocah kelahiran 2 Januari 2015 itu menoleh padaku dan bertanya dengan suara pelan,

“Bah, apakah setiap daerah punya cerita seperti Malin Kundang?”

Kujawab singkat, “Muhun!”

Penyuka anime Jepang ini terdiam sesaat, seribu bahasa, lalu melanjutkan,
“Kalau di Garut, kampung halaman Babah, di Bungbulang ada tidak?”

“Aya. Namina Dalem Boncel,” ujarku. 

Matanya menyala oleh rasa ingin tahu lebih kisahnya.
“Boleh Babah ceritakan?”

Siap. Beginilah kisahnya. Malam yang mulai menyelimuti dinginnya udara, seolah-olah tak menyulutkan rasa ngantuk, justru cenghar. Kebetulan hari itu Sabtu, malam Ahad yang diperbolehkan tidur agak larut malam. Gadang yeuh!

Biasanya, hari-hari sekolah, aktivitas belajar harus berkahir pada pukul 20.00 WIB, karena bangun harus Subuh dan berangkat lebih awal untuk kesekolahan biar tak terjebak macet yang terus mendera Bandung dan sekitarnya. Sejak dari gang kecil, jalan tikus, sampai jalan Nasional, Protokol. Macetos Ampun Gusti

Cover Buku Dalem Boncel karya Sunarsih (Sumber: Pusat Pembinaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2016 | Foto: Istimewa)
Cover Buku Dalem Boncel karya Sunarsih (Sumber: Pusat Pembinaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2016 | Foto: Istimewa)

Boncel dari Desa Bungbulang Berkuasa di Kadipaten Caringin

Dalam buku bacaan anak untuk siswa SD kelas IV, V, dan VI berjudul Dalem Boncel: Cerita Rakyat dari Jawa Barat yang diterbitkan oleh Pusat Pembinaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, cerita ini disusun sebagai bagian dari program Gerakan Literasi Nasional yang dicanangkan untuk membangun bangsa Indonesia yang memiliki kemampuan literasi tinggi. Bangsa yang literat adalah bangsa yang mampu memberdayakan berbagai aspek kehidupannya, baik psikologis, kognitif, ekonomi, maupun politik.

Cerita Dalem Boncel berasal dari daerah Garut, tepatnya Desa Bungbulang. Kisah ini merupakan saduran dari buku Dongeng-Dongeng Pakidulan Garut yang diterbitkan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Garut. Bernilai sastra, kisah ini mengandung nilai sejarah, khususnya terkait figur bupati yang pernah berkuasa di wilayah Caringin, Banten dari tahun 1840 - 1849.

Dalam catatan sejarah disebutkan pada tahun 1883 terjadi letusan Gunung Krakatau yang menghancurkan Kadipaten Caringin. Luluh lantak, sehingga ibu kota dipindah ke Pandeglang dan berganti nama menjadi Kabupaten Pandeglang.

Dari segi alur, kisah Dalem Boncel memiliki kemiripan dengan cerita Malin Kundang dari Sumatra Barat. Boncel digambarkan sebagai anak yang durhaka kepada orangtuanya. Ketika sang Ibu datang menemuinya, Dalem Boncel menolak mengakui ibunya karena saat itu telah menjadi Bupati. Ibunya hanyalah seorang perempuan tua yang miskin, renta, dan berpakaian compang-camping.

Namun demikian, cerita rakyat ini tidak hanya menampilkan sisi kedurhakaan. Rupanya, di dalamnya  dikisahkan keuletan Dalem Boncel dalam belajar membaca, menulis. Kerajinan dan ketekunannya dalam menuntut ilmu mengantarkannya pada kesuksesan, hingga mencapai kedudukan sebagai pemimpin. Kisah ini menggambarkan bagaimana mimpi seorang rakyat jelata dapat terwujud melalui kerja keras, ketekunan, dan semangat belajar.

Benang merah dari kisah Dalem Boncel diharapkan mampu memberikan inspirasi bagi masyarakat Indonesia pada umumnya, dan khususnya bagi para siswa. Nilai-nilai budaya lokal yang terkandung dalam cerita ini mengajarkan pentingnya menghormati orang tua.

Keuletan Dalem Boncel dalam menggapai cita-citanya dapat memotivasi siswa untuk tidak takut bermimpi dan berusaha meraih cita-cita setinggi mungkin. Dengan demikian, kerajinan belajar dan kreativitas merupakan kunci utama dalam mewujudkan dan meraih masa depan. (Sunarsih, 2016: vi–vii).

Ilustrasi Dalem Boncel karya Sunarsih (Sumber: Pusat Pembinaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2016 | Foto: Istimewa)
Ilustrasi Dalem Boncel karya Sunarsih (Sumber: Pusat Pembinaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2016 | Foto: Istimewa)

Mari kita bandingkan dengan tulisan Ironi Pun Boncel, Ahmad Gibson Al-Bustomi (2012: 73-77) menjelaskan pada masa lalu cerita epik Pun Boncel, bukanlah kisah yang asing di tengah masyarakat. Kisah ini menceritakan seorang anak desa yang meninggalkan kampung halaman dan ibunya, yang kelak menjadi penggembala kuda handal,  hingga akhirnya berhasil mencapai kedudukan sebagai bangsawan.

Namun, setelah meraih kesuksesan, justru mencampakkan dan tidak mengakui ibunya. Sang ibu lantas menghujat anaknya, menyebabkan Pun Boncel jatuh sakit keras.

Sekilas, cerita ini mirip dengan kisah Malin Kundang yang dikutuk menjadi batu. Namun, dalam versi Sunda, sosok ibu digambarkan lebih pemaaf. Pun Boncel tidak dikutuk menjadi batu, melainkan jatuh sakit. Setelah menyadari kesalahannya, lalu memohon maaf kepada ibunya, dan sang Ema pun memaafkannya. Pun Boncel sembuh, dan mereka kembali hidup sebagai keluarga yang bahagia. Akhir cerita yang bersifat happy ending.

Ditinjau dari alur dan latar suasananya, cerita Pun Boncel diduga lahir pada masa penaklukan (penjajahan) Mataram atas wilayah Priangan. Secara umum, cerita ini memang menyampaikan pesan moral tentang akibat kedurhakaan seorang anak kepada ibunya. Namun, dalam konteks budaya Sunda pada masa itu, tindakan seorang anak yang secara terang-terangan tidak mengakui ibunya merupakan sesuatu yang sulit diterima, sehingga kisah ini dapat dibaca sebagai refleksi sosial dan budaya zamannya.

Gerakan Ayah Bacain Cerita Dong (ABCD) (Sumber: YouTube Topi Amali | Foto: Hasil tangkapan layar)
Gerakan Ayah Bacain Cerita Dong (ABCD) (Sumber: YouTube Topi Amali | Foto: Hasil tangkapan layar)

Tingkatkan Kemampuan, Kekuatan Dongeng Sebelum (Sesudah) Tidur

Mendongeng di era digital kerap dianggap sebagai kebiasaan yang telah ditinggalkan, terutama oleh pasangan muda yang sibuk bekerja. Banyak yang berpikir, mengapa harus mendongeng bila kini tersedia YouTube yang menyediakan segala hal dengan mudah? 

Dengan berbagai konten siap saji, mendongeng sendiri kerap dianggap tidak lagi relevan dan terlalu merepotkan. Hari gini masih ngandelin dongeng, jadul kali! 

Memang, pandangan semacam itu tidak sepenuhnya keliru. Era digital telah menghadirkan banyak kemudahan dalam kehidupan sehari-hari. Meski demikian, kita tidak boleh terlena oleh kemudahan dan serba instan ini. Rasa kemanusiaan dan kedekatan emosional perlu terus dilatih melalui komunikasi langsung.

Bayangkan apa yang akan terjadi bila anak diasuh sepenuhnya oleh YouTube, yang menyediakan segalanya secara instan. Tidakkah muncul kekhawatiran ketika hampir semua kebutuhan hiburan dan pembelajaran anak dipenuhi tanpa interaksi manusia?

Ada banyak aspek kehidupan bermasyarakat yang secara perlahan memudar akibat digitalisasi, salah satunya adalah sentuhan kemanusiaan dalam diri manusia itu sendiri.

Penelitian yang dilakukan oleh Nur Rahmatul Azkiya dan Iswinarti, mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang, berjudul “Pengaruh Mendengarkan Dongeng terhadap Kemampuan Bahasa pada Anak Prasekolah” menunjukkan ihwal mendongeng merupakan salah satu metode efektif untuk meningkatkan kemampuan bahasa anak.

Dalam aktivitas mendongeng, anak memperoleh kosakata baru, belajar mengevaluasi, serta memahami informasi yang diterimanya.

Penelitian ini didukung oleh studi Lamuningtyas (2012) yang membuktikan adanya peningkatan kemampuan bahasa yang signifikan melalui pemberian dongeng. Aspek kemampuan bahasa yang diteliti meliputi kemampuan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat aspek ini merupakan keterampilan penting dalam komunikasi.

Pentingnya kemampuan berbahasa ini tercermin dalam Kurikulum 2013. Pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP), peserta didik diajarkan materi cerita fantasi sebagai bagian dari upaya membentuk sumber daya manusia yang produktif, kreatif, inovatif, dan komunikatif. Peserta didik tidak hanya memahami teks, tetapi diwajibkan memproduksi berbagai jenis teks sesuai dengan Kompetensi Dasar (KD) yang telah ditetapkan.

Salah satu teks yang dipelajari siswa kelas VII SMP adalah teks cerita fantasi. Secara teori, cerita fantasi memiliki unsur intrinsik sebagai pembangun cerita, seperti tema, tokoh, alur, latar, sudut pandang, serta amanat (pesan moral). Melalui pesan moral inilah nilai-nilai kehidupan, perjuangan, kebaikan, dan cinta diajarkan. Pesan ini dapat dipahami melalui watak dan tindakan para tokoh dalam cerita.

Tentunya, kebiasaan ini mengandung nilai edukatif, cerita fantasi dapat mengajak pembaca untuk berimajinasi dan memberikan manfaat rekreatif. Terlebih pada masa pandemi, ketika aktivitas di luar rumah sangat terbatas, membaca cerita fantasi dapat menjadi asupan bergizi bagi jiwa yang mulai jenuh, rapuh, dan bosan akibat terlalu lama berdiam di rumah. (Ahmad Thohir Yoga, dkk., 2022: 92–93)

Aa Akil (10 tahun), Kakang (4 tahun) sedang asyik membaca di perpustakaan alakadarnya (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Aa Akil (10 tahun), Kakang (4 tahun) sedang asyik membaca di perpustakaan alakadarnya (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)

Dengan membiasakan mendongeng (membaca) sejak dini, terutama melalui cerita, anak-anak tidak sekadar belajar mengenal hurup, kata, dan kalimat. Dari kisah-kisah itulah imajinasi tumbuh, empati diasah, dan karakter perlahan dibentuk. Mudah-mudahan, ketika nilai-nilai mulia ditanamkan lewat aktivitas mendongeng (membaca), kita sedang menyiapkan fondasi bagi lahirnya bangsa yang besar.

Pasalnya, cerita (dongeng yang terkadang dianggap narasi sederhana), justru memiliki kekuatan luar biasa dalam memengaruhi arah dan masa depan suatu bangsa. Literasi sejatinya bertumbuh dari ruang-ruang paling sederhana di rumah, mulai dari pangkuan ayah, dari dongeng sebelum tidur, dari rasa ingin tahu anak yang tak pernah padam dan terus hidup, berkembang karena sengaja dirawat dengan kasih sayang dan perhatian.

Aktivitas mendongeng (membacakan) cerita bukan semata soal hiburan, melainkan ikhtiar bersama dalam menanamkan benih pengetahuan, menumbuhkan rasa ingin tahu, sekaligus mengikat cinta, melalui kisah dan halaman-halaman buku yang dibuka dan diceritakan bareng-bareng, berulang-ulang, dengan penuh kehangatan dan kebersamaan.

Saat asyik menulis sambil mencari referensi tentang merawat imajinasi dan inspirasi agar hidup tetap waras, tidak was-was, lebih terarah. Sungguh lebih syahdu bila dibarengi dengan lagu lawas "Dongeng" dari grup band Wayang.

Di malam ini aku tak dapat memejamkan mata

Terasa berat bagai diri terikat mimpi oh

Kuingin satu satu cerita mengantarku tidur biar ku terlelap

Mimpikan hal yang indah lelah hati tertutupi

Dongeng sebelum tidur ceritakan yang indah biar ku terlelap

Dongeng sebelum tidur mimpikan diriku mimpikan yang indah

Gelisah ku tak menentu pikiran melayang pikiran melayang

Di benakku hanyalah ada lelah yang terasa

 

Dongengmu sebelum tidur ceritakan yang indah biar ku terlelap

Dongeng sebelum tidur ceritakan yang indah biar ku terlelap

Dongeng sebelum tidur mimpikan diriku mimpikan yang indah

 

Dongeng sebelum tidur ceritakan yang indah biar ku terlelap

Dongeng sebelum tidur mimpikan diriku mimpikan yang indah

 

Aneka banyak cerita ceritakanlah semua hingga ku terlelap

 

Dongeng sebelum tidur mimpikan diriku mimpikan yang indah

Dongeng sebelum tidur ceritakan yang indah biar ku terlelap

Dongeng sebelum tidur mimpikan diriku mimpikan yang indah

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 15 Feb 2026, 18:35 WIB

Ramadan dan Energi Spiritual bagi Integritas ASN

Ramadan sebagai energi spiritual untuk memperkuat integritas ASN melalui kejujuran, pengendalian diri, dan empati demi pelayanan publik yang mampu.
Ilustrasi ASN. (Sumber: indonesia.go.id)
Bandung 15 Feb 2026, 17:21 WIB

Menjemput Hari Raya di Kota Kembang: Cerita dari Kerumunan Berburu ‘Baju Bedug’

Ada satu pemandangan yang mencuri perhatian di pertengahan Februari ini, yakni kerumunan muslimah yang menyemut demi tradisi berburu "baju bedug" lebih awal.
Gelaran Lozy Big Warehouse Sale Vol. 7 Bandung yang berlangsung pada 14 hingga 16 Februari 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Bandung 15 Feb 2026, 15:33 WIB

Kisah Kembang Tahu Pak Maman Bertahan sejak 1996 di Tengah Zaman yang Terus Berubah

Maman Rahman, seorang pedagang jajanan kembang tahu yang sudah berjualan sejak tahun 1996. Hampir genap 30 tahun lamanya usaha kuliner tradisional itu dirinya jalani.
Maman Rahman, seorang pedagang jajanan kembang tahu yang sudah berjualan sejak tahun 1996. Hampir genap 30 tahun lamanya usaha kuliner tradisional itu dirinya jalani. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 15:22 WIB

Dari Ngabeubeurang sampai Lilikuran Ramadan di Tatar Sunda

Berikut lima istilah Sunda yang hampir selalu terdengar menjelang, selama, hingga akhir Ramadan.
Berikut lima istilah Sunda yang hampir selalu terdengar menjelang, selama, hingga akhir Ramadan. (Sumber: Ilusrtasi dibuat dengan ChatGPT)
Bandung 15 Feb 2026, 14:45 WIB

Melenggang dari 1989, Begini Cara Nasi Goreng Zebbotz Bertahan hingga Tiga Dekade

Bukan anak kemarin sore merupakan istilah yang tepat untuk menggambarkan kelanggengan usaha nasi goreng Zebbotz.
Bukan anak kemarin sore merupakan istilah yang tepat untuk menggambarkan kelanggengan usaha nasi goreng Zebbotz. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 15 Feb 2026, 14:27 WIB

Sentra Keramik Kiaracondong Tinggal Bersisa Satu Tungku

Dari sekitar 30 pengrajin yang dahulu memenuhi kawasan ini, kini hanya tersisa satu tungku yang masih aktif menghasilkan panas untuk membakar.
Deretan keramik Haji Oma yang siap untuk dijual. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 11:40 WIB

Viaduct: Landmark Kota Bandung dan Kisah Cinta Soekarno

Di sekitar daerah tersebut pun ada Jalan yang cukup pendek yang dinamakan Jalan Viaduct. yang menghubungkan Viaduct ke Jalan Braga. 
Viaduct menghubungkan Jalan Suniaraja dengan Jalan Braga. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 15 Feb 2026, 08:49 WIB

Haji Oma: Napas Terakhir Keramik Kiaracondong

Satu per satu rekan dan kerabat Dikdik menyerah. Pabrik-pabrik ditutup, tungku-tungku dipadamkan. Kini, dari sekitar 30 pengrajin yang pernah berjaya, hanya satu yang masih bertahan.
Dikdik Gumilar meneruskan usaha ayahnya sebagai pembuat keramik yang terkenal dengan sebutan Keramik Haji Oma. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 07:26 WIB

Puasa 2026 di Bandung: Imlek & Cap Go Meh, Rabu Abu & Masa Pra Paskah, Nyepi & Lebaran

Tahun 2026 menjadi tahun yang unik secara religius, spiritual, dan kultural di Indonesia, termasuk di Bandung.
Pasar Cihapit. (Foto: Ayobandung.com/Kavin Faza)
Beranda 14 Feb 2026, 19:20 WIB

Bandung Review Membaca Risiko Cekungan, Gempa, dan Masa Depan Kota

Program ini awalnya digagas di Pustaka Selasar. Namun karena jumlah peserta kerap melebihi kapasitas, diskusi dipindahkan ke ruang yang lebih besar.
Geografiwan kawakan T Bachtiar di Bandung Review #006. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Bandung 14 Feb 2026, 13:19 WIB

Alasan Mengapa Bandung Menjadi Kunci Strategis Bagi Pertumbuhan Industri Purifikasi di Indonesia

Bandung bukan hanya sebagai pasar, melainkan sebagai barometer pertumbuhan industri home appliances berbasis teknologi kesehatan di Jawa Barat.
Bandung bukan hanya sebagai pasar, melainkan sebagai barometer pertumbuhan industri home appliances berbasis teknologi kesehatan di Jawa Barat. (Sumber: Coway)
Beranda 14 Feb 2026, 12:36 WIB

Cekungan Bandung: Catatan tentang Kota Kreatif yang Berdiri di Tengah Ancaman Geologis dan Minimnya Mitigasi

Namun di bawah beton dan aspal, tersimpan endapan lumpur puluhan ribu tahun yang menjadi fondasi kehidupan sekaligus potensi risiko.
Titi Bachtiar, anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 14 Feb 2026, 06:43 WIB

Di Sekitar PLTU, Warga Menanggung Risiko di Balik Pasokan Listrik

Selama batu bara masih menjadi tulang punggung sistem energi nasional, risiko paparan polusi terhadap warga di sekitar PLTU akan terus ada.
Peneliti Trend Asia, Bayu Maulana, menjelaskan bahwa Toxic 20 memetakan PLTU dengan tingkat pencemaran tertinggi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 21:23 WIB

Sebelum Kamu ‘Ngabuburit’, Kenalan Dulu dengan Bahasa Lokal yang Penuh Tradisi

Kata-kata itu bukan sekadar penanda waktu, melainkan penanda kebersamaan.
Masjid Raya Bandung. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 18:32 WIB

Asyik Numpeng

Dari sebakul nasi kuning itulah, Ramadan dimulai, hadir menyapa kaum muslimin.
Ilustrasi Tumpeng, Masakan Khas Indonesia yang Memiliki Banyak Filosofi. (Sumber: Unsplash | Foto: Inna Safa)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 15:55 WIB

Laladon, Endapan Ingatan dari Gempa 1699

Nama geografis Laladon, bertalian erat dengan kejadian gempa bumi besar yang mengambrolkan dinding utara Gunung Salak.
Desa Laladon di Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor. (Sumber: Citra Satelit Google maps)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 14:03 WIB

Munggahan dan 4 Kata yang Menandai Datangnya Ramadan di Indonesia

Selain munggahan, ada empat kata lainnya yang sering dipakai untuk menyambut bulan Ramadan.
Buah kurma. (Sumber: Unsplash | Foto: Rauf Alvi)
Beranda 13 Feb 2026, 11:09 WIB

Di Balik Toxic 20: Gugatan, Transparansi Data, dan Desakan Transisi Energi yang Lebih Adil

Dampak PLTU tidak hanya dirasakan langsung oleh warga sekitar, tetapi juga secara tidak langsung oleh wilayah lain, termasuk Kota Bandung.
Amplifikasi Isu dan Diskusi Publik Toxic 20 Jawa Barat di Gedung Indonesia Menggugat, 10 Februari 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 13 Feb 2026, 10:02 WIB

Dampak PLTU: Cerita Warga tentang Laut yang Menyempit, Sawah yang Melemah, dan Hutan yang Perlahan Terbuka

Kisah mereka datang dari wilayah berbeda, tetapi memiliki benang merah yang sama: perubahan lingkungan dan rasa cemas yang terus tumbuh.
Ilustrasi PLTU, bagi warga sekitar, cerobong itu adalah penanda perubahan yang tidak mereka minta. (Sumber: Unsplash | Foto: Marek Piwnicki)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 09:39 WIB

Betapa Pentingnya Belajar Menulis Copywriting

Sejak dulu, menulis membantu manusia mengabadikan ide dan mendorong kemajuan ilmu.
Rizki Sanjaya sedang memaparkan materi kepada para peserta Workshop Seni Menulis Copywriting. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Yogi Esa Sukma Nugraha)