Merawat Imajinasi

Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan Selasa 20 Jan 2026, 12:21 WIB
Seseorang sedang asyik membaca. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)

Seseorang sedang asyik membaca. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)

Suasana malam yang begitu dingin dari hari sebelumnya. Ternyata menyimpan kehangatan atas kebersamaan. Saat duduk menemani anak kedua, Aa Akil, yang tengah menyiapkan tugas sekolah. 

Bocah kelas lima ini harus belajar mendongeng dengan media wayang, yang terbuat dari kertas sederhana, bertangkai stik. Tentunya permainan ini sarat imajinasi dan inspirasi. 

Malin Kundang menjadi kisah yang dipilih. Delapan lembar cerita ditempel perlahan pada tubuh wayang, seakan-akan menyatukan potongan nasib seorang anak durhaka kepada Ibunya. 

Sesekali anak ketiga, Kakang ikut nimbrung, bahkan meminta dibuatkan. Ya memang Aa sudah mempersiapkan main sama untuk adik tersayangnya. Cerita dan gambar dipilih sama. Cuma bentuknya sedikit kecil dari Aa, menyesuaikan dengan tangan yang memegang masih mungil. Hore Kakang punya! sambil berlarian ke sana-ke mari.

Hari-hari sebelumnya pemilik nama Faraz ini sudah giat latihan, demi keberanian tampil di depan kelas, di hadapan teman-teman dan Ibu Guru tercinta.

Pada malam itu, saat lakon telah terpasang dan latihan kembali digelar, suara lantang bocah dan desir angin malam yang menerpa pohon pisang berpadu dalam ruang kecil menghangatkan suasana. Sungguh berbunga-bunga saat anak ketiga ikut memainkan, dongeng zaman dahulu yang banyak hikmah itu agar hidup semakin terarah.

Latihan selesai. Wayang-wayangan dirapikan kembali ke tempatnya. Dalam jeda sunyi itu, bocah kelahiran 2 Januari 2015 itu menoleh padaku dan bertanya dengan suara pelan,

“Bah, apakah setiap daerah punya cerita seperti Malin Kundang?”

Kujawab singkat, “Muhun!”

Penyuka anime Jepang ini terdiam sesaat, seribu bahasa, lalu melanjutkan,
“Kalau di Garut, kampung halaman Babah, di Bungbulang ada tidak?”

“Aya. Namina Dalem Boncel,” ujarku. 

Matanya menyala oleh rasa ingin tahu lebih kisahnya.
“Boleh Babah ceritakan?”

Siap. Beginilah kisahnya. Malam yang mulai menyelimuti dinginnya udara, seolah-olah tak menyulutkan rasa ngantuk, justru cenghar. Kebetulan hari itu Sabtu, malam Ahad yang diperbolehkan tidur agak larut malam. Gadang yeuh!

Biasanya, hari-hari sekolah, aktivitas belajar harus berkahir pada pukul 20.00 WIB, karena bangun harus Subuh dan berangkat lebih awal untuk kesekolahan biar tak terjebak macet yang terus mendera Bandung dan sekitarnya. Sejak dari gang kecil, jalan tikus, sampai jalan Nasional, Protokol. Macetos Ampun Gusti

Cover Buku Dalem Boncel karya Sunarsih (Sumber: Pusat Pembinaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2016 | Foto: Istimewa)
Cover Buku Dalem Boncel karya Sunarsih (Sumber: Pusat Pembinaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2016 | Foto: Istimewa)

Boncel dari Desa Bungbulang Berkuasa di Kadipaten Caringin

Dalam buku bacaan anak untuk siswa SD kelas IV, V, dan VI berjudul Dalem Boncel: Cerita Rakyat dari Jawa Barat yang diterbitkan oleh Pusat Pembinaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, cerita ini disusun sebagai bagian dari program Gerakan Literasi Nasional yang dicanangkan untuk membangun bangsa Indonesia yang memiliki kemampuan literasi tinggi. Bangsa yang literat adalah bangsa yang mampu memberdayakan berbagai aspek kehidupannya, baik psikologis, kognitif, ekonomi, maupun politik.

Cerita Dalem Boncel berasal dari daerah Garut, tepatnya Desa Bungbulang. Kisah ini merupakan saduran dari buku Dongeng-Dongeng Pakidulan Garut yang diterbitkan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Garut. Bernilai sastra, kisah ini mengandung nilai sejarah, khususnya terkait figur bupati yang pernah berkuasa di wilayah Caringin, Banten dari tahun 1840 - 1849.

Dalam catatan sejarah disebutkan pada tahun 1883 terjadi letusan Gunung Krakatau yang menghancurkan Kadipaten Caringin. Luluh lantak, sehingga ibu kota dipindah ke Pandeglang dan berganti nama menjadi Kabupaten Pandeglang.

Dari segi alur, kisah Dalem Boncel memiliki kemiripan dengan cerita Malin Kundang dari Sumatra Barat. Boncel digambarkan sebagai anak yang durhaka kepada orangtuanya. Ketika sang Ibu datang menemuinya, Dalem Boncel menolak mengakui ibunya karena saat itu telah menjadi Bupati. Ibunya hanyalah seorang perempuan tua yang miskin, renta, dan berpakaian compang-camping.

Namun demikian, cerita rakyat ini tidak hanya menampilkan sisi kedurhakaan. Rupanya, di dalamnya  dikisahkan keuletan Dalem Boncel dalam belajar membaca, menulis. Kerajinan dan ketekunannya dalam menuntut ilmu mengantarkannya pada kesuksesan, hingga mencapai kedudukan sebagai pemimpin. Kisah ini menggambarkan bagaimana mimpi seorang rakyat jelata dapat terwujud melalui kerja keras, ketekunan, dan semangat belajar.

Benang merah dari kisah Dalem Boncel diharapkan mampu memberikan inspirasi bagi masyarakat Indonesia pada umumnya, dan khususnya bagi para siswa. Nilai-nilai budaya lokal yang terkandung dalam cerita ini mengajarkan pentingnya menghormati orang tua.

Keuletan Dalem Boncel dalam menggapai cita-citanya dapat memotivasi siswa untuk tidak takut bermimpi dan berusaha meraih cita-cita setinggi mungkin. Dengan demikian, kerajinan belajar dan kreativitas merupakan kunci utama dalam mewujudkan dan meraih masa depan. (Sunarsih, 2016: vi–vii).

Ilustrasi Dalem Boncel karya Sunarsih (Sumber: Pusat Pembinaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2016 | Foto: Istimewa)
Ilustrasi Dalem Boncel karya Sunarsih (Sumber: Pusat Pembinaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2016 | Foto: Istimewa)

Mari kita bandingkan dengan tulisan Ironi Pun Boncel, Ahmad Gibson Al-Bustomi (2012: 73-77) menjelaskan pada masa lalu cerita epik Pun Boncel, bukanlah kisah yang asing di tengah masyarakat. Kisah ini menceritakan seorang anak desa yang meninggalkan kampung halaman dan ibunya, yang kelak menjadi penggembala kuda handal,  hingga akhirnya berhasil mencapai kedudukan sebagai bangsawan.

Namun, setelah meraih kesuksesan, justru mencampakkan dan tidak mengakui ibunya. Sang ibu lantas menghujat anaknya, menyebabkan Pun Boncel jatuh sakit keras.

Sekilas, cerita ini mirip dengan kisah Malin Kundang yang dikutuk menjadi batu. Namun, dalam versi Sunda, sosok ibu digambarkan lebih pemaaf. Pun Boncel tidak dikutuk menjadi batu, melainkan jatuh sakit. Setelah menyadari kesalahannya, lalu memohon maaf kepada ibunya, dan sang Ema pun memaafkannya. Pun Boncel sembuh, dan mereka kembali hidup sebagai keluarga yang bahagia. Akhir cerita yang bersifat happy ending.

Ditinjau dari alur dan latar suasananya, cerita Pun Boncel diduga lahir pada masa penaklukan (penjajahan) Mataram atas wilayah Priangan. Secara umum, cerita ini memang menyampaikan pesan moral tentang akibat kedurhakaan seorang anak kepada ibunya. Namun, dalam konteks budaya Sunda pada masa itu, tindakan seorang anak yang secara terang-terangan tidak mengakui ibunya merupakan sesuatu yang sulit diterima, sehingga kisah ini dapat dibaca sebagai refleksi sosial dan budaya zamannya.

Gerakan Ayah Bacain Cerita Dong (ABCD) (Sumber: YouTube Topi Amali | Foto: Hasil tangkapan layar)
Gerakan Ayah Bacain Cerita Dong (ABCD) (Sumber: YouTube Topi Amali | Foto: Hasil tangkapan layar)

Tingkatkan Kemampuan, Kekuatan Dongeng Sebelum (Sesudah) Tidur

Mendongeng di era digital kerap dianggap sebagai kebiasaan yang telah ditinggalkan, terutama oleh pasangan muda yang sibuk bekerja. Banyak yang berpikir, mengapa harus mendongeng bila kini tersedia YouTube yang menyediakan segala hal dengan mudah? 

Dengan berbagai konten siap saji, mendongeng sendiri kerap dianggap tidak lagi relevan dan terlalu merepotkan. Hari gini masih ngandelin dongeng, jadul kali! 

Memang, pandangan semacam itu tidak sepenuhnya keliru. Era digital telah menghadirkan banyak kemudahan dalam kehidupan sehari-hari. Meski demikian, kita tidak boleh terlena oleh kemudahan dan serba instan ini. Rasa kemanusiaan dan kedekatan emosional perlu terus dilatih melalui komunikasi langsung.

Bayangkan apa yang akan terjadi bila anak diasuh sepenuhnya oleh YouTube, yang menyediakan segalanya secara instan. Tidakkah muncul kekhawatiran ketika hampir semua kebutuhan hiburan dan pembelajaran anak dipenuhi tanpa interaksi manusia?

Ada banyak aspek kehidupan bermasyarakat yang secara perlahan memudar akibat digitalisasi, salah satunya adalah sentuhan kemanusiaan dalam diri manusia itu sendiri.

Penelitian yang dilakukan oleh Nur Rahmatul Azkiya dan Iswinarti, mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang, berjudul “Pengaruh Mendengarkan Dongeng terhadap Kemampuan Bahasa pada Anak Prasekolah” menunjukkan ihwal mendongeng merupakan salah satu metode efektif untuk meningkatkan kemampuan bahasa anak.

Dalam aktivitas mendongeng, anak memperoleh kosakata baru, belajar mengevaluasi, serta memahami informasi yang diterimanya.

Penelitian ini didukung oleh studi Lamuningtyas (2012) yang membuktikan adanya peningkatan kemampuan bahasa yang signifikan melalui pemberian dongeng. Aspek kemampuan bahasa yang diteliti meliputi kemampuan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat aspek ini merupakan keterampilan penting dalam komunikasi.

Pentingnya kemampuan berbahasa ini tercermin dalam Kurikulum 2013. Pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP), peserta didik diajarkan materi cerita fantasi sebagai bagian dari upaya membentuk sumber daya manusia yang produktif, kreatif, inovatif, dan komunikatif. Peserta didik tidak hanya memahami teks, tetapi diwajibkan memproduksi berbagai jenis teks sesuai dengan Kompetensi Dasar (KD) yang telah ditetapkan.

Salah satu teks yang dipelajari siswa kelas VII SMP adalah teks cerita fantasi. Secara teori, cerita fantasi memiliki unsur intrinsik sebagai pembangun cerita, seperti tema, tokoh, alur, latar, sudut pandang, serta amanat (pesan moral). Melalui pesan moral inilah nilai-nilai kehidupan, perjuangan, kebaikan, dan cinta diajarkan. Pesan ini dapat dipahami melalui watak dan tindakan para tokoh dalam cerita.

Tentunya, kebiasaan ini mengandung nilai edukatif, cerita fantasi dapat mengajak pembaca untuk berimajinasi dan memberikan manfaat rekreatif. Terlebih pada masa pandemi, ketika aktivitas di luar rumah sangat terbatas, membaca cerita fantasi dapat menjadi asupan bergizi bagi jiwa yang mulai jenuh, rapuh, dan bosan akibat terlalu lama berdiam di rumah. (Ahmad Thohir Yoga, dkk., 2022: 92–93)

Aa Akil (10 tahun), Kakang (4 tahun) sedang asyik membaca di perpustakaan alakadarnya (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Aa Akil (10 tahun), Kakang (4 tahun) sedang asyik membaca di perpustakaan alakadarnya (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)

Dengan membiasakan mendongeng (membaca) sejak dini, terutama melalui cerita, anak-anak tidak sekadar belajar mengenal hurup, kata, dan kalimat. Dari kisah-kisah itulah imajinasi tumbuh, empati diasah, dan karakter perlahan dibentuk. Mudah-mudahan, ketika nilai-nilai mulia ditanamkan lewat aktivitas mendongeng (membaca), kita sedang menyiapkan fondasi bagi lahirnya bangsa yang besar.

Pasalnya, cerita (dongeng yang terkadang dianggap narasi sederhana), justru memiliki kekuatan luar biasa dalam memengaruhi arah dan masa depan suatu bangsa. Literasi sejatinya bertumbuh dari ruang-ruang paling sederhana di rumah, mulai dari pangkuan ayah, dari dongeng sebelum tidur, dari rasa ingin tahu anak yang tak pernah padam dan terus hidup, berkembang karena sengaja dirawat dengan kasih sayang dan perhatian.

Aktivitas mendongeng (membacakan) cerita bukan semata soal hiburan, melainkan ikhtiar bersama dalam menanamkan benih pengetahuan, menumbuhkan rasa ingin tahu, sekaligus mengikat cinta, melalui kisah dan halaman-halaman buku yang dibuka dan diceritakan bareng-bareng, berulang-ulang, dengan penuh kehangatan dan kebersamaan.

Saat asyik menulis sambil mencari referensi tentang merawat imajinasi dan inspirasi agar hidup tetap waras, tidak was-was, lebih terarah. Sungguh lebih syahdu bila dibarengi dengan lagu lawas "Dongeng" dari grup band Wayang.

Di malam ini aku tak dapat memejamkan mata

Terasa berat bagai diri terikat mimpi oh

Kuingin satu satu cerita mengantarku tidur biar ku terlelap

Mimpikan hal yang indah lelah hati tertutupi

Dongeng sebelum tidur ceritakan yang indah biar ku terlelap

Dongeng sebelum tidur mimpikan diriku mimpikan yang indah

Gelisah ku tak menentu pikiran melayang pikiran melayang

Di benakku hanyalah ada lelah yang terasa

 

Dongengmu sebelum tidur ceritakan yang indah biar ku terlelap

Dongeng sebelum tidur ceritakan yang indah biar ku terlelap

Dongeng sebelum tidur mimpikan diriku mimpikan yang indah

 

Dongeng sebelum tidur ceritakan yang indah biar ku terlelap

Dongeng sebelum tidur mimpikan diriku mimpikan yang indah

 

Aneka banyak cerita ceritakanlah semua hingga ku terlelap

 

Dongeng sebelum tidur mimpikan diriku mimpikan yang indah

Dongeng sebelum tidur ceritakan yang indah biar ku terlelap

Dongeng sebelum tidur mimpikan diriku mimpikan yang indah

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Bandung 06 Mei 2026, 20:20

Mulai Rp10 Ribu, Aksesori Batu Rimba Buktikan Produk Lokal Bisa Tampil Berkelas dan Bernilai Estetika Tinggi

Di tengah geliat keragaman aspek budaya nasional yang dipadu-padankan dengan ranah bisnis, kini pelaku UMKM aksesori turut menjadi sasaran atensi.

Batu Rimba asal Kalimantan, produk ini menampilkan gelang jenis batu alam hingga mutiara Lombok. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 18:29

Separuh Kehidupan untuk Kemacetan di Kota Bandung

Bagi pengguna fasilitas transportasi umum, kemacetan adalah pergumulan yang melelahkan tapi harus dilewati setiap hari.

Kemacetan Cibaduyut Saat Ramadhan 2026. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 17:21

Bandung Kini, Mereka yang Bertahan di Antara Deru Zaman

Di tengah impitan kondisi sosial yang terasa begitu tajam, warga Bandung harus bisa tetap bertahan hidup dengan cara pengorbanan dan kesabaran. Yang akhirnya akan menemukan solusi terbaik.

Penari membawakan tarian tradisional di Taman Braga dan depan Gedung YPK, Jalan Naripan, Kota Bandung, Rabu 29 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 06 Mei 2026, 16:38

Panduan Wisata ke Little Venice Kota Bunga, Wisata Kanal ala Italia di Kaki Gunung Gede

Destinasi tematik di Kota Bunga ini menghadirkan kanal buatan, bangunan Eropa, dan wahana keluarga dengan latar pegunungan.

Little Venice Kota Bunga Puncak.
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 14:59

Menuju Pelestarian Cagar Budaya Kota Bandung yang Progresif dan Berkeadilan: Kebijakan Insentif Pajak Bumi dan Bangunan

Strategi pelestarian cagar budaya yang progresif dan berkelanjutan untuk menciptakan simbiosis mutualisme antara pelestarian Cagar Budaya dan kepastian hak ekonomi pemilik Cagar Budaya.

Pengendara melintas di Jalan Asia-Afrika, Kota Bandung, Selasa 21 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 06 Mei 2026, 13:51

Panjat Dinding, Prestasi dan Profesi yang Langka

Prestasi panjat dinding Indonesia didominasi nomor speed, sementara kekurangan route setter jadi kendala perkembangan atlet.

Panjat dinding. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 06 Mei 2026, 11:25

5 Tempat Kuliner dan Restoran Pilihan dengan View Ikonik di Ciwidey Bandung

Panduan tempat makan di Ciwidey dengan view paling menarik. Dari warung sederhana hingga restoran unik di tepi danau.

Warung Kabut, Ciwidey.
Ayo Biz 06 Mei 2026, 11:23

Kita Butuh Isinya, Bukan Wadahnya

Jaga Bumi Ecomart mengajak belanja tanpa kemasan sekali pakai lewat konsep *refill* dan *reuse*. Pesannya sederhana: yang dibutuhkan adalah isi, bukan wadah, demi mengurangi sampah.

Beragam produk hasil recycle di Jaga Bumi Ecomart, menunjukkan limbah dapat diolah menjadi barang bernilai guna. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 09:45

Tujuan Kawula Muda Nonton Film di Tahun 1980-an

Kawula muda Kota Bandung sangat beruntung karena kota tempat mereka beraktifitas di sekolah punya seribu buat menghilangkan kepenatan sebagai pelajar di tahun 1980-an.

Bioskop Majestic, Kota Bandung. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Chainwit)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 07:39

Dari Loyalitas ke Konsumsi, Ketika Bobotoh dan Merchandise Jadi Satu Cerita

Dukungan klub kini bukan hanya emosi, tapi juga konsumsi. Artikel ini mengulas perubahan loyalitas Bobotoh dalam merchandise Persib x Weekend Offender.

Loyalitas Bobotoh dalam merchandise Persib x Weekend Offender. (Sumber: TikTok @terracedistric)
Wisata & Kuliner 05 Mei 2026, 20:28

Panduan Wisata Taman Safari Bogor, Tiket, Wahana, dan Safari Journey

Panduan lengkap Taman Safari Bogor mencakup harga tiket, Safari Journey, wahana, pertunjukan satwa, serta tips berkunjung agar pengalaman lebih maksimal.

Wisata Taman Safari Indonesia di kawasan Puncak, Bogor. (Sumber: Taman Safari Indonesia)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 18:05

Mobilitas Tinggi, Perlindungan Rendah: Catatan Hari Buruh dari Sektor Transportasi Darat

Mobilitas transportasi darat meningkat, tetapi perlindungan pengemudi tertinggal. Hari Buruh menyoroti risiko tinggi, jam kerja panjang, dan lemahnya pengawasan di sektor logistik dan bus.

Ilustrasi sejumlah pengemudi truk logistik dan bus sedang memperingati hari buruh 1 Mei. (Sumber: Google Gemini, 2026)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 17:22

Meng(hardik)nas, Peringatan, dan Kesadaran

Kemajuan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidikannya. Ikhtiar memperbaiki pendidikan dimulai dari ruang kelas, tempat manusia tidak hanya diajarkan pengetahuan, sebagai manusia seutuhnya.

Sejumlah siswa berjualan aneka produk makanan saat acara Market Day di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (5/12/2023) (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 16:28

Lembangku Sayang, Lembangku Malang (Prolog)

Keheningan dan kesederhanaan Lembang mampu menjadi dirinya sendiri, mampu menorehkan kesan yang tiada duanya.

Kartu pos yang bergambarkan gunung Tangkuban Parahu pada masa kolonial Belanda. Lokasi tepat dari gambar ini adalah kawasan jalan Setiabudi atas/Terminal Ledeng, dan foto diambil dari loteng Villa Isola). (Sumber: wereledculturn.nl)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 13:37

10 Netizen Terpilih April 2026: Bandung di Mata Pendatang, antara Bayangan dan Kenyataan

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Penari membawakan tarian tradisional di Taman Braga dan depan Gedung YPK, Jalan Naripan, Kota Bandung, Rabu 29 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Mei 2026, 13:14

Tamasya ke Pulau Biawak, Wisata Pulau Konservasi di Laut Jawa

Wisata Pulau Biawak Indramayu mencakup akses dari Karangsong, mercusuar Belanda, habitat biawak liar, kondisi terumbu karang, serta tips kunjungan ke pulau.

Pulau Biawak, Indramayu. (Sumber: Pemprov Jabar)
Beranda 05 Mei 2026, 10:46

Mal BTM yang Tergerus Perubahan Cara Orang Berbelanja

Mal BTM di Bandung perlahan sepi seiring perubahan cara orang berbelanja ke digital, memangkas peran toko fisik dan menggeser rantai distribusi tradisional.

Suasana mal BTM terasa sunyi, pengunjung tak lagi seramai dulu. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 09:25

Setiap Kata adalah Arsip Sejarah

Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana para public figure dan pejabat yang kembali mengulangi kesalahan yang sama.

Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana para public figure dan pejabat yang kembali mengulangi kesalahan yang sama. (Sumber: Pexels | Foto: BOOM 💥 Photography)
Beranda 05 Mei 2026, 09:15

Nasib Pekerja Informal yang Setiap Hari Dikejar Setoran, Tapi Masa Depan Tak Pernah Ikut Dijamin

Kisah dua saudara yang berjuang di tengah keterbatasan peluang kerja dan ketidakpastian upah sebagai petugas parkir demi menyambung hidup hari demi hari.

Sudah hampir 20 tahun Ade bekerja sebagai petugas parkir untuk menyambung hidup. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 04 Mei 2026, 21:56

Belajar dari Tragedi KA Argo: Sudah Saatnya Ubah Cara Awasi Perlintasan Biar Mobil Mogok Tak Lagi Jadi Maut

Tragedi KA Argo 2026 mendesak PT KAI untuk memodernisasi keamanan perlintasan sebidang guna mencegah mobil mogok akibat gangguan elektromagnetik dan rel yang tidak rata.

(Sumber: Pixels | Foto: Irsyad Rifqi)