Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

Merawat Imajinasi

Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan Selasa 20 Jan 2026, 12:21 WIB
Seseorang sedang asyik membaca. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)

Seseorang sedang asyik membaca. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)

Suasana malam yang begitu dingin dari hari sebelumnya. Ternyata menyimpan kehangatan atas kebersamaan. Saat duduk menemani anak kedua, Aa Akil, yang tengah menyiapkan tugas sekolah. 

Bocah kelas lima ini harus belajar mendongeng dengan media wayang, yang terbuat dari kertas sederhana, bertangkai stik. Tentunya permainan ini sarat imajinasi dan inspirasi. 

Malin Kundang menjadi kisah yang dipilih. Delapan lembar cerita ditempel perlahan pada tubuh wayang, seakan-akan menyatukan potongan nasib seorang anak durhaka kepada Ibunya. 

Sesekali anak ketiga, Kakang ikut nimbrung, bahkan meminta dibuatkan. Ya memang Aa sudah mempersiapkan main sama untuk adik tersayangnya. Cerita dan gambar dipilih sama. Cuma bentuknya sedikit kecil dari Aa, menyesuaikan dengan tangan yang memegang masih mungil. Hore Kakang punya! sambil berlarian ke sana-ke mari.

Hari-hari sebelumnya pemilik nama Faraz ini sudah giat latihan, demi keberanian tampil di depan kelas, di hadapan teman-teman dan Ibu Guru tercinta.

Pada malam itu, saat lakon telah terpasang dan latihan kembali digelar, suara lantang bocah dan desir angin malam yang menerpa pohon pisang berpadu dalam ruang kecil menghangatkan suasana. Sungguh berbunga-bunga saat anak ketiga ikut memainkan, dongeng zaman dahulu yang banyak hikmah itu agar hidup semakin terarah.

Latihan selesai. Wayang-wayangan dirapikan kembali ke tempatnya. Dalam jeda sunyi itu, bocah kelahiran 2 Januari 2015 itu menoleh padaku dan bertanya dengan suara pelan,

“Bah, apakah setiap daerah punya cerita seperti Malin Kundang?”

Kujawab singkat, “Muhun!”

Penyuka anime Jepang ini terdiam sesaat, seribu bahasa, lalu melanjutkan,
“Kalau di Garut, kampung halaman Babah, di Bungbulang ada tidak?”

“Aya. Namina Dalem Boncel,” ujarku. 

Matanya menyala oleh rasa ingin tahu lebih kisahnya.
“Boleh Babah ceritakan?”

Siap. Beginilah kisahnya. Malam yang mulai menyelimuti dinginnya udara, seolah-olah tak menyulutkan rasa ngantuk, justru cenghar. Kebetulan hari itu Sabtu, malam Ahad yang diperbolehkan tidur agak larut malam. Gadang yeuh!

Biasanya, hari-hari sekolah, aktivitas belajar harus berkahir pada pukul 20.00 WIB, karena bangun harus Subuh dan berangkat lebih awal untuk kesekolahan biar tak terjebak macet yang terus mendera Bandung dan sekitarnya. Sejak dari gang kecil, jalan tikus, sampai jalan Nasional, Protokol. Macetos Ampun Gusti

Cover Buku Dalem Boncel karya Sunarsih (Sumber: Pusat Pembinaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2016 | Foto: Istimewa)
Cover Buku Dalem Boncel karya Sunarsih (Sumber: Pusat Pembinaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2016 | Foto: Istimewa)

Boncel dari Desa Bungbulang Berkuasa di Kadipaten Caringin

Dalam buku bacaan anak untuk siswa SD kelas IV, V, dan VI berjudul Dalem Boncel: Cerita Rakyat dari Jawa Barat yang diterbitkan oleh Pusat Pembinaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, cerita ini disusun sebagai bagian dari program Gerakan Literasi Nasional yang dicanangkan untuk membangun bangsa Indonesia yang memiliki kemampuan literasi tinggi. Bangsa yang literat adalah bangsa yang mampu memberdayakan berbagai aspek kehidupannya, baik psikologis, kognitif, ekonomi, maupun politik.

Cerita Dalem Boncel berasal dari daerah Garut, tepatnya Desa Bungbulang. Kisah ini merupakan saduran dari buku Dongeng-Dongeng Pakidulan Garut yang diterbitkan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Garut. Bernilai sastra, kisah ini mengandung nilai sejarah, khususnya terkait figur bupati yang pernah berkuasa di wilayah Caringin, Banten dari tahun 1840 - 1849.

Dalam catatan sejarah disebutkan pada tahun 1883 terjadi letusan Gunung Krakatau yang menghancurkan Kadipaten Caringin. Luluh lantak, sehingga ibu kota dipindah ke Pandeglang dan berganti nama menjadi Kabupaten Pandeglang.

Dari segi alur, kisah Dalem Boncel memiliki kemiripan dengan cerita Malin Kundang dari Sumatra Barat. Boncel digambarkan sebagai anak yang durhaka kepada orangtuanya. Ketika sang Ibu datang menemuinya, Dalem Boncel menolak mengakui ibunya karena saat itu telah menjadi Bupati. Ibunya hanyalah seorang perempuan tua yang miskin, renta, dan berpakaian compang-camping.

Namun demikian, cerita rakyat ini tidak hanya menampilkan sisi kedurhakaan. Rupanya, di dalamnya  dikisahkan keuletan Dalem Boncel dalam belajar membaca, menulis. Kerajinan dan ketekunannya dalam menuntut ilmu mengantarkannya pada kesuksesan, hingga mencapai kedudukan sebagai pemimpin. Kisah ini menggambarkan bagaimana mimpi seorang rakyat jelata dapat terwujud melalui kerja keras, ketekunan, dan semangat belajar.

Benang merah dari kisah Dalem Boncel diharapkan mampu memberikan inspirasi bagi masyarakat Indonesia pada umumnya, dan khususnya bagi para siswa. Nilai-nilai budaya lokal yang terkandung dalam cerita ini mengajarkan pentingnya menghormati orang tua.

Keuletan Dalem Boncel dalam menggapai cita-citanya dapat memotivasi siswa untuk tidak takut bermimpi dan berusaha meraih cita-cita setinggi mungkin. Dengan demikian, kerajinan belajar dan kreativitas merupakan kunci utama dalam mewujudkan dan meraih masa depan. (Sunarsih, 2016: vi–vii).

Ilustrasi Dalem Boncel karya Sunarsih (Sumber: Pusat Pembinaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2016 | Foto: Istimewa)
Ilustrasi Dalem Boncel karya Sunarsih (Sumber: Pusat Pembinaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2016 | Foto: Istimewa)

Mari kita bandingkan dengan tulisan Ironi Pun Boncel, Ahmad Gibson Al-Bustomi (2012: 73-77) menjelaskan pada masa lalu cerita epik Pun Boncel, bukanlah kisah yang asing di tengah masyarakat. Kisah ini menceritakan seorang anak desa yang meninggalkan kampung halaman dan ibunya, yang kelak menjadi penggembala kuda handal,  hingga akhirnya berhasil mencapai kedudukan sebagai bangsawan.

Namun, setelah meraih kesuksesan, justru mencampakkan dan tidak mengakui ibunya. Sang ibu lantas menghujat anaknya, menyebabkan Pun Boncel jatuh sakit keras.

Sekilas, cerita ini mirip dengan kisah Malin Kundang yang dikutuk menjadi batu. Namun, dalam versi Sunda, sosok ibu digambarkan lebih pemaaf. Pun Boncel tidak dikutuk menjadi batu, melainkan jatuh sakit. Setelah menyadari kesalahannya, lalu memohon maaf kepada ibunya, dan sang Ema pun memaafkannya. Pun Boncel sembuh, dan mereka kembali hidup sebagai keluarga yang bahagia. Akhir cerita yang bersifat happy ending.

Ditinjau dari alur dan latar suasananya, cerita Pun Boncel diduga lahir pada masa penaklukan (penjajahan) Mataram atas wilayah Priangan. Secara umum, cerita ini memang menyampaikan pesan moral tentang akibat kedurhakaan seorang anak kepada ibunya. Namun, dalam konteks budaya Sunda pada masa itu, tindakan seorang anak yang secara terang-terangan tidak mengakui ibunya merupakan sesuatu yang sulit diterima, sehingga kisah ini dapat dibaca sebagai refleksi sosial dan budaya zamannya.

Gerakan Ayah Bacain Cerita Dong (ABCD) (Sumber: YouTube Topi Amali | Foto: Hasil tangkapan layar)
Gerakan Ayah Bacain Cerita Dong (ABCD) (Sumber: YouTube Topi Amali | Foto: Hasil tangkapan layar)

Tingkatkan Kemampuan, Kekuatan Dongeng Sebelum (Sesudah) Tidur

Mendongeng di era digital kerap dianggap sebagai kebiasaan yang telah ditinggalkan, terutama oleh pasangan muda yang sibuk bekerja. Banyak yang berpikir, mengapa harus mendongeng bila kini tersedia YouTube yang menyediakan segala hal dengan mudah? 

Dengan berbagai konten siap saji, mendongeng sendiri kerap dianggap tidak lagi relevan dan terlalu merepotkan. Hari gini masih ngandelin dongeng, jadul kali! 

Memang, pandangan semacam itu tidak sepenuhnya keliru. Era digital telah menghadirkan banyak kemudahan dalam kehidupan sehari-hari. Meski demikian, kita tidak boleh terlena oleh kemudahan dan serba instan ini. Rasa kemanusiaan dan kedekatan emosional perlu terus dilatih melalui komunikasi langsung.

Bayangkan apa yang akan terjadi bila anak diasuh sepenuhnya oleh YouTube, yang menyediakan segalanya secara instan. Tidakkah muncul kekhawatiran ketika hampir semua kebutuhan hiburan dan pembelajaran anak dipenuhi tanpa interaksi manusia?

Ada banyak aspek kehidupan bermasyarakat yang secara perlahan memudar akibat digitalisasi, salah satunya adalah sentuhan kemanusiaan dalam diri manusia itu sendiri.

Penelitian yang dilakukan oleh Nur Rahmatul Azkiya dan Iswinarti, mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang, berjudul “Pengaruh Mendengarkan Dongeng terhadap Kemampuan Bahasa pada Anak Prasekolah” menunjukkan ihwal mendongeng merupakan salah satu metode efektif untuk meningkatkan kemampuan bahasa anak.

Dalam aktivitas mendongeng, anak memperoleh kosakata baru, belajar mengevaluasi, serta memahami informasi yang diterimanya.

Penelitian ini didukung oleh studi Lamuningtyas (2012) yang membuktikan adanya peningkatan kemampuan bahasa yang signifikan melalui pemberian dongeng. Aspek kemampuan bahasa yang diteliti meliputi kemampuan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat aspek ini merupakan keterampilan penting dalam komunikasi.

Pentingnya kemampuan berbahasa ini tercermin dalam Kurikulum 2013. Pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP), peserta didik diajarkan materi cerita fantasi sebagai bagian dari upaya membentuk sumber daya manusia yang produktif, kreatif, inovatif, dan komunikatif. Peserta didik tidak hanya memahami teks, tetapi diwajibkan memproduksi berbagai jenis teks sesuai dengan Kompetensi Dasar (KD) yang telah ditetapkan.

Salah satu teks yang dipelajari siswa kelas VII SMP adalah teks cerita fantasi. Secara teori, cerita fantasi memiliki unsur intrinsik sebagai pembangun cerita, seperti tema, tokoh, alur, latar, sudut pandang, serta amanat (pesan moral). Melalui pesan moral inilah nilai-nilai kehidupan, perjuangan, kebaikan, dan cinta diajarkan. Pesan ini dapat dipahami melalui watak dan tindakan para tokoh dalam cerita.

Tentunya, kebiasaan ini mengandung nilai edukatif, cerita fantasi dapat mengajak pembaca untuk berimajinasi dan memberikan manfaat rekreatif. Terlebih pada masa pandemi, ketika aktivitas di luar rumah sangat terbatas, membaca cerita fantasi dapat menjadi asupan bergizi bagi jiwa yang mulai jenuh, rapuh, dan bosan akibat terlalu lama berdiam di rumah. (Ahmad Thohir Yoga, dkk., 2022: 92–93)

Aa Akil (10 tahun), Kakang (4 tahun) sedang asyik membaca di perpustakaan alakadarnya (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Aa Akil (10 tahun), Kakang (4 tahun) sedang asyik membaca di perpustakaan alakadarnya (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)

Dengan membiasakan mendongeng (membaca) sejak dini, terutama melalui cerita, anak-anak tidak sekadar belajar mengenal hurup, kata, dan kalimat. Dari kisah-kisah itulah imajinasi tumbuh, empati diasah, dan karakter perlahan dibentuk. Mudah-mudahan, ketika nilai-nilai mulia ditanamkan lewat aktivitas mendongeng (membaca), kita sedang menyiapkan fondasi bagi lahirnya bangsa yang besar.

Pasalnya, cerita (dongeng yang terkadang dianggap narasi sederhana), justru memiliki kekuatan luar biasa dalam memengaruhi arah dan masa depan suatu bangsa. Literasi sejatinya bertumbuh dari ruang-ruang paling sederhana di rumah, mulai dari pangkuan ayah, dari dongeng sebelum tidur, dari rasa ingin tahu anak yang tak pernah padam dan terus hidup, berkembang karena sengaja dirawat dengan kasih sayang dan perhatian.

Aktivitas mendongeng (membacakan) cerita bukan semata soal hiburan, melainkan ikhtiar bersama dalam menanamkan benih pengetahuan, menumbuhkan rasa ingin tahu, sekaligus mengikat cinta, melalui kisah dan halaman-halaman buku yang dibuka dan diceritakan bareng-bareng, berulang-ulang, dengan penuh kehangatan dan kebersamaan.

Saat asyik menulis sambil mencari referensi tentang merawat imajinasi dan inspirasi agar hidup tetap waras, tidak was-was, lebih terarah. Sungguh lebih syahdu bila dibarengi dengan lagu lawas "Dongeng" dari grup band Wayang.

Di malam ini aku tak dapat memejamkan mata

Terasa berat bagai diri terikat mimpi oh

Kuingin satu satu cerita mengantarku tidur biar ku terlelap

Mimpikan hal yang indah lelah hati tertutupi

Dongeng sebelum tidur ceritakan yang indah biar ku terlelap

Dongeng sebelum tidur mimpikan diriku mimpikan yang indah

Gelisah ku tak menentu pikiran melayang pikiran melayang

Di benakku hanyalah ada lelah yang terasa

 

Dongengmu sebelum tidur ceritakan yang indah biar ku terlelap

Dongeng sebelum tidur ceritakan yang indah biar ku terlelap

Dongeng sebelum tidur mimpikan diriku mimpikan yang indah

 

Dongeng sebelum tidur ceritakan yang indah biar ku terlelap

Dongeng sebelum tidur mimpikan diriku mimpikan yang indah

 

Aneka banyak cerita ceritakanlah semua hingga ku terlelap

 

Dongeng sebelum tidur mimpikan diriku mimpikan yang indah

Dongeng sebelum tidur ceritakan yang indah biar ku terlelap

Dongeng sebelum tidur mimpikan diriku mimpikan yang indah

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 21 Mar 2026, 20:26

Islam Kita dan Islam Mereka: Sebuah Ilusi Pascakolonial

Menjadi muslim di Indonesia adalah bagian dari perjalanan sejarah yang panjang dan sarat kontradiksi.

Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 18:20

Idulfitri 1447 H

Hikmah Ramadan itu menjaga dan merawat silaturahmi. Puncaknya hadir saat Idulfitri, momentum kemenangan sejati dalam menundukkan hawa nafsu, termasuk nafsu (angkara murka) untuk merasa paling benar.

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 21 Mar 2026, 06:30

Hikayat Lebaran Seabad Lalu di Bandung, Open House Bupati untuk Pribumi dan Eropa

Laporan majalah kolonial tahun 1926 menunjukkan bagaimana masyarakat Bandung merayakan Idulfitri dengan berbagai tradisi unik.

Lebaran di kediaman Bupati Bandung 1926. (Sumber: Majalah Indie)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 19:10

Yang Gak Mudik, Yuk Wisata Bandung Dilirik

Warga Bandung yang gak mudik, yuk ramaikan wisata di Bandung! Manfaatnya menggerakkan perekonomian lokal di Bandung.

Sarae Hills destinasi wisata yang tidak hanya indah, tapi juga Instagrammable. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 17:24

Idulfitri, Syawal dan Lebaran: Jalan Pulang dan Lima Tahap Pemaafan

Idulfitri, syawal dan lebaran bukan sebatas perayaan, tetapi sejuta lapisan makna yang mengantarkan manusia pada kesadaran dan peningkatan diri.

Ilustrasi suasana Idulfitri, Syawal dan Lebaran. (Sumber: Ozgar Jan dari Pixabay)
Beranda 20 Mar 2026, 16:54

Tradisi Potong Rambut Lebaran di Kota Bandung: Antrean Panjang di Barbershop dan Lapak DPR yang Makin Sepi

Tradisi potong rambut menjelang Lebaran di Kota Bandung menunjukkan kontras yang mencolok. Barbershop dipadati pelanggan, sementara lapak cukur DPR kian sepi.

Yana Mulyana dengan ruang ala kadarnya tetap bertahan di bawah rindang pohon Jalan Malabar, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 15:48

Memupuk Persaudaraan, Merawat Harmoni

Nyepi mengajarkan kita sikap memperkuat persaudaraan, persatuan, semangat toleransi, perdamaian untuk meraih kehidupan rukun, harmoni, bahagia dan sejahtera dapat terus terjaga di tengah perbedaan.

Ilustrasi perayaan Nyepi di Bali (Sumber: Freepik)
Linimasa 20 Mar 2026, 01:03

Kemacetan dan Sumber Rezeki Pedagang Oleh-oleh Nagreg

Kondisi lalu lintas di Nagreg sangat memengaruhi penjualan oleh-oleh. Saat ramai lancar pembeli meningkat, namun kemacetan justru membuat pemudik enggan berhenti.

Lalu lintas Nagreg saat mudik lebaran 2026. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 20 Mar 2026, 00:53

Beda Hari Lebaran di Indonesia, Bikin Orang Eropa Kebingungan

Jelang akhir Ramadan, satu pertanyaan hampir selalu muncul di Indonesia: Lebaran jatuh hari apa? Akar sejarahnya panjang. Sudah ada sejak zaman dulu.

Suasana pasca salat id Bandung 1926 (Sumber: Majalah Indie)
Beranda 19 Mar 2026, 21:21

Menitip Rindu pada Takbir: Cerita Perantau yang Menghadapi Lebaran dalam Sepi

Pemerintah menetapkan Idulfitri 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026. Di balik momen kemenangan itu, tersimpan kisah warga perantauan yang menjalani malam takbiran tanpa pulang kampung dan menahan rindu.

Mutiara Indah Lestari tetap tegar merayakan Lebaran di perantauan, menyimpan rindu untuk keluarganya di Padang (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 20:00

Idulfitri sebagai Komunikasi Hati

Tulisan ini membahas Idul Fitri sebagai momen memulihkan komunikasi hati di tengah kebisingan digital, menekankan pentingnya ketulusan, kehadiran, dan relasi yang lebih manusiawi.

Ribuan umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1446 H di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 31 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 19 Mar 2026, 19:46

Jersey Lokal Bandung RZQ Actv Buktikan Taring, Sukses Curi Perhatian di Tengah Hiruk-Pikuk Jelang Idul Fitri

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya.

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 19:09

Dijajah Tanpa Penjajah: Ketika Kemerdekaan Kehilangan Makna

Kemerdekaan fisik belum menjamin kemerdekaan berpikir.

ilustrasi buku sebagai sumber ilmu. (Sumber; Pixabay)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 18:59

Mudik dan Kelanjutan Ramadan: Menguji Ketakwaan di Jalan Kehidupan

Mudik Lebaran selalu menghadirkan suasana yang hangat dan penuh makna.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 13:12

Petani Menua dan Anak Muda Menjauh: Siapa yang Akan Menjaga Ketahanan Pangan Indonesia?

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, namun mengalami krisis regenerasi petani. Mampukah program Petani Milenial menjadi solusi bagi masa depan pangan Indonesia?

Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Linimasa 19 Mar 2026, 12:49

Harap Cemas Pedagang Oleh-oleh Nagreg di Tengah Rencana Pembangunan Tol Cigatas

Pedagang oleh-oleh di Nagreg mulai kehilangan pembeli sejak hadirnya jalan tol. Rencana Tol Getaci memicu kekhawatiran baru soal masa depan usaha mereka.

Penjual oleh-oleh di Nagreg. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 19 Mar 2026, 12:49

Sejarah Kue Kering Lebaran, Sajian Idulfitri yang Berakar dari Dapur Belanda

Tradisi menyajikan kue kering saat lebaran memiliki jejak sejarah kolonial. Resep kue kecil dari Eropa yang disebut koekje berkembang di Hindia Belanda dan berubah menjadi nastar hingga kastengel.

Ilustrasi kue kering lebaran.
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 10:59

Kakaretaan, Yuk!

Di atas rel, kita belajar soal hidup, seperti kereta, akan terus berjalan.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 20:29

Kisah Kue-Kue Kering Hari Raya

Tahukah kalian, bahwa kue alias “cookies” itu berasal dari bahasa Belanda yaitu “koekje”.

Sebuah mural karya harijadi sumodidjojo yang berjudul "kehidupan batavia". (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 17:21

Menata Arah Pendidikan Tinggi Keagamaan di Era Serba Cepat

Pepen Supendi, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)