Merawat Imajinasi

8 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Seseorang sedang asyik membaca. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Seseorang sedang asyik membaca. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)

Suasana malam yang begitu dingin dari hari sebelumnya. Ternyata menyimpan kehangatan atas kebersamaan. Saat duduk menemani anak kedua, Aa Akil, yang tengah menyiapkan tugas sekolah. 

Bocah kelas lima ini harus belajar mendongeng dengan media wayang, yang terbuat dari kertas sederhana, bertangkai stik. Tentunya permainan ini sarat imajinasi dan inspirasi. 

Malin Kundang menjadi kisah yang dipilih. Delapan lembar cerita ditempel perlahan pada tubuh wayang, seakan-akan menyatukan potongan nasib seorang anak durhaka kepada Ibunya. 

Sesekali anak ketiga, Kakang ikut nimbrung, bahkan meminta dibuatkan. Ya memang Aa sudah mempersiapkan main sama untuk adik tersayangnya. Cerita dan gambar dipilih sama. Cuma bentuknya sedikit kecil dari Aa, menyesuaikan dengan tangan yang memegang masih mungil. Hore Kakang punya! sambil berlarian ke sana-ke mari.

Hari-hari sebelumnya pemilik nama Faraz ini sudah giat latihan, demi keberanian tampil di depan kelas, di hadapan teman-teman dan Ibu Guru tercinta.

Pada malam itu, saat lakon telah terpasang dan latihan kembali digelar, suara lantang bocah dan desir angin malam yang menerpa pohon pisang berpadu dalam ruang kecil menghangatkan suasana. Sungguh berbunga-bunga saat anak ketiga ikut memainkan, dongeng zaman dahulu yang banyak hikmah itu agar hidup semakin terarah.

Latihan selesai. Wayang-wayangan dirapikan kembali ke tempatnya. Dalam jeda sunyi itu, bocah kelahiran 2 Januari 2015 itu menoleh padaku dan bertanya dengan suara pelan,

“Bah, apakah setiap daerah punya cerita seperti Malin Kundang?”

Kujawab singkat, “Muhun!”

Penyuka anime Jepang ini terdiam sesaat, seribu bahasa, lalu melanjutkan,
“Kalau di Garut, kampung halaman Babah, di Bungbulang ada tidak?”

“Aya. Namina Dalem Boncel,” ujarku. 

Matanya menyala oleh rasa ingin tahu lebih kisahnya.
“Boleh Babah ceritakan?”

Siap. Beginilah kisahnya. Malam yang mulai menyelimuti dinginnya udara, seolah-olah tak menyulutkan rasa ngantuk, justru cenghar. Kebetulan hari itu Sabtu, malam Ahad yang diperbolehkan tidur agak larut malam. Gadang yeuh!

Biasanya, hari-hari sekolah, aktivitas belajar harus berkahir pada pukul 20.00 WIB, karena bangun harus Subuh dan berangkat lebih awal untuk kesekolahan biar tak terjebak macet yang terus mendera Bandung dan sekitarnya. Sejak dari gang kecil, jalan tikus, sampai jalan Nasional, Protokol. Macetos Ampun Gusti

Cover Buku Dalem Boncel karya Sunarsih (Sumber: Pusat Pembinaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2016 | Foto: Istimewa)
Cover Buku Dalem Boncel karya Sunarsih (Sumber: Pusat Pembinaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2016 | Foto: Istimewa)

Boncel dari Desa Bungbulang Berkuasa di Kadipaten Caringin

Dalam buku bacaan anak untuk siswa SD kelas IV, V, dan VI berjudul Dalem Boncel: Cerita Rakyat dari Jawa Barat yang diterbitkan oleh Pusat Pembinaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, cerita ini disusun sebagai bagian dari program Gerakan Literasi Nasional yang dicanangkan untuk membangun bangsa Indonesia yang memiliki kemampuan literasi tinggi. Bangsa yang literat adalah bangsa yang mampu memberdayakan berbagai aspek kehidupannya, baik psikologis, kognitif, ekonomi, maupun politik.

Cerita Dalem Boncel berasal dari daerah Garut, tepatnya Desa Bungbulang. Kisah ini merupakan saduran dari buku Dongeng-Dongeng Pakidulan Garut yang diterbitkan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Garut. Bernilai sastra, kisah ini mengandung nilai sejarah, khususnya terkait figur bupati yang pernah berkuasa di wilayah Caringin, Banten dari tahun 1840 - 1849.

Dalam catatan sejarah disebutkan pada tahun 1883 terjadi letusan Gunung Krakatau yang menghancurkan Kadipaten Caringin. Luluh lantak, sehingga ibu kota dipindah ke Pandeglang dan berganti nama menjadi Kabupaten Pandeglang.

Dari segi alur, kisah Dalem Boncel memiliki kemiripan dengan cerita Malin Kundang dari Sumatra Barat. Boncel digambarkan sebagai anak yang durhaka kepada orangtuanya. Ketika sang Ibu datang menemuinya, Dalem Boncel menolak mengakui ibunya karena saat itu telah menjadi Bupati. Ibunya hanyalah seorang perempuan tua yang miskin, renta, dan berpakaian compang-camping.

Namun demikian, cerita rakyat ini tidak hanya menampilkan sisi kedurhakaan. Rupanya, di dalamnya  dikisahkan keuletan Dalem Boncel dalam belajar membaca, menulis. Kerajinan dan ketekunannya dalam menuntut ilmu mengantarkannya pada kesuksesan, hingga mencapai kedudukan sebagai pemimpin. Kisah ini menggambarkan bagaimana mimpi seorang rakyat jelata dapat terwujud melalui kerja keras, ketekunan, dan semangat belajar.

Benang merah dari kisah Dalem Boncel diharapkan mampu memberikan inspirasi bagi masyarakat Indonesia pada umumnya, dan khususnya bagi para siswa. Nilai-nilai budaya lokal yang terkandung dalam cerita ini mengajarkan pentingnya menghormati orang tua.

Keuletan Dalem Boncel dalam menggapai cita-citanya dapat memotivasi siswa untuk tidak takut bermimpi dan berusaha meraih cita-cita setinggi mungkin. Dengan demikian, kerajinan belajar dan kreativitas merupakan kunci utama dalam mewujudkan dan meraih masa depan. (Sunarsih, 2016: vi–vii).

Ilustrasi Dalem Boncel karya Sunarsih (Sumber: Pusat Pembinaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2016 | Foto: Istimewa)
Ilustrasi Dalem Boncel karya Sunarsih (Sumber: Pusat Pembinaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2016 | Foto: Istimewa)

Mari kita bandingkan dengan tulisan Ironi Pun Boncel, Ahmad Gibson Al-Bustomi (2012: 73-77) menjelaskan pada masa lalu cerita epik Pun Boncel, bukanlah kisah yang asing di tengah masyarakat. Kisah ini menceritakan seorang anak desa yang meninggalkan kampung halaman dan ibunya, yang kelak menjadi penggembala kuda handal,  hingga akhirnya berhasil mencapai kedudukan sebagai bangsawan.

Namun, setelah meraih kesuksesan, justru mencampakkan dan tidak mengakui ibunya. Sang ibu lantas menghujat anaknya, menyebabkan Pun Boncel jatuh sakit keras.

Sekilas, cerita ini mirip dengan kisah Malin Kundang yang dikutuk menjadi batu. Namun, dalam versi Sunda, sosok ibu digambarkan lebih pemaaf. Pun Boncel tidak dikutuk menjadi batu, melainkan jatuh sakit. Setelah menyadari kesalahannya, lalu memohon maaf kepada ibunya, dan sang Ema pun memaafkannya. Pun Boncel sembuh, dan mereka kembali hidup sebagai keluarga yang bahagia. Akhir cerita yang bersifat happy ending.

Ditinjau dari alur dan latar suasananya, cerita Pun Boncel diduga lahir pada masa penaklukan (penjajahan) Mataram atas wilayah Priangan. Secara umum, cerita ini memang menyampaikan pesan moral tentang akibat kedurhakaan seorang anak kepada ibunya. Namun, dalam konteks budaya Sunda pada masa itu, tindakan seorang anak yang secara terang-terangan tidak mengakui ibunya merupakan sesuatu yang sulit diterima, sehingga kisah ini dapat dibaca sebagai refleksi sosial dan budaya zamannya.

Gerakan Ayah Bacain Cerita Dong (ABCD) (Sumber: YouTube Topi Amali | Foto: Hasil tangkapan layar)
Gerakan Ayah Bacain Cerita Dong (ABCD) (Sumber: YouTube Topi Amali | Foto: Hasil tangkapan layar)

Tingkatkan Kemampuan, Kekuatan Dongeng Sebelum (Sesudah) Tidur

Mendongeng di era digital kerap dianggap sebagai kebiasaan yang telah ditinggalkan, terutama oleh pasangan muda yang sibuk bekerja. Banyak yang berpikir, mengapa harus mendongeng bila kini tersedia YouTube yang menyediakan segala hal dengan mudah? 

Dengan berbagai konten siap saji, mendongeng sendiri kerap dianggap tidak lagi relevan dan terlalu merepotkan. Hari gini masih ngandelin dongeng, jadul kali! 

Memang, pandangan semacam itu tidak sepenuhnya keliru. Era digital telah menghadirkan banyak kemudahan dalam kehidupan sehari-hari. Meski demikian, kita tidak boleh terlena oleh kemudahan dan serba instan ini. Rasa kemanusiaan dan kedekatan emosional perlu terus dilatih melalui komunikasi langsung.

Bayangkan apa yang akan terjadi bila anak diasuh sepenuhnya oleh YouTube, yang menyediakan segalanya secara instan. Tidakkah muncul kekhawatiran ketika hampir semua kebutuhan hiburan dan pembelajaran anak dipenuhi tanpa interaksi manusia?

Ada banyak aspek kehidupan bermasyarakat yang secara perlahan memudar akibat digitalisasi, salah satunya adalah sentuhan kemanusiaan dalam diri manusia itu sendiri.

Penelitian yang dilakukan oleh Nur Rahmatul Azkiya dan Iswinarti, mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang, berjudul “Pengaruh Mendengarkan Dongeng terhadap Kemampuan Bahasa pada Anak Prasekolah” menunjukkan ihwal mendongeng merupakan salah satu metode efektif untuk meningkatkan kemampuan bahasa anak.

Dalam aktivitas mendongeng, anak memperoleh kosakata baru, belajar mengevaluasi, serta memahami informasi yang diterimanya.

Penelitian ini didukung oleh studi Lamuningtyas (2012) yang membuktikan adanya peningkatan kemampuan bahasa yang signifikan melalui pemberian dongeng. Aspek kemampuan bahasa yang diteliti meliputi kemampuan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat aspek ini merupakan keterampilan penting dalam komunikasi.

Pentingnya kemampuan berbahasa ini tercermin dalam Kurikulum 2013. Pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP), peserta didik diajarkan materi cerita fantasi sebagai bagian dari upaya membentuk sumber daya manusia yang produktif, kreatif, inovatif, dan komunikatif. Peserta didik tidak hanya memahami teks, tetapi diwajibkan memproduksi berbagai jenis teks sesuai dengan Kompetensi Dasar (KD) yang telah ditetapkan.

Salah satu teks yang dipelajari siswa kelas VII SMP adalah teks cerita fantasi. Secara teori, cerita fantasi memiliki unsur intrinsik sebagai pembangun cerita, seperti tema, tokoh, alur, latar, sudut pandang, serta amanat (pesan moral). Melalui pesan moral inilah nilai-nilai kehidupan, perjuangan, kebaikan, dan cinta diajarkan. Pesan ini dapat dipahami melalui watak dan tindakan para tokoh dalam cerita.

Tentunya, kebiasaan ini mengandung nilai edukatif, cerita fantasi dapat mengajak pembaca untuk berimajinasi dan memberikan manfaat rekreatif. Terlebih pada masa pandemi, ketika aktivitas di luar rumah sangat terbatas, membaca cerita fantasi dapat menjadi asupan bergizi bagi jiwa yang mulai jenuh, rapuh, dan bosan akibat terlalu lama berdiam di rumah. (Ahmad Thohir Yoga, dkk., 2022: 92–93)

Aa Akil (10 tahun), Kakang (4 tahun) sedang asyik membaca di perpustakaan alakadarnya (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Aa Akil (10 tahun), Kakang (4 tahun) sedang asyik membaca di perpustakaan alakadarnya (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)

Dengan membiasakan mendongeng (membaca) sejak dini, terutama melalui cerita, anak-anak tidak sekadar belajar mengenal hurup, kata, dan kalimat. Dari kisah-kisah itulah imajinasi tumbuh, empati diasah, dan karakter perlahan dibentuk. Mudah-mudahan, ketika nilai-nilai mulia ditanamkan lewat aktivitas mendongeng (membaca), kita sedang menyiapkan fondasi bagi lahirnya bangsa yang besar.

Pasalnya, cerita (dongeng yang terkadang dianggap narasi sederhana), justru memiliki kekuatan luar biasa dalam memengaruhi arah dan masa depan suatu bangsa. Literasi sejatinya bertumbuh dari ruang-ruang paling sederhana di rumah, mulai dari pangkuan ayah, dari dongeng sebelum tidur, dari rasa ingin tahu anak yang tak pernah padam dan terus hidup, berkembang karena sengaja dirawat dengan kasih sayang dan perhatian.

Aktivitas mendongeng (membacakan) cerita bukan semata soal hiburan, melainkan ikhtiar bersama dalam menanamkan benih pengetahuan, menumbuhkan rasa ingin tahu, sekaligus mengikat cinta, melalui kisah dan halaman-halaman buku yang dibuka dan diceritakan bareng-bareng, berulang-ulang, dengan penuh kehangatan dan kebersamaan.

Saat asyik menulis sambil mencari referensi tentang merawat imajinasi dan inspirasi agar hidup tetap waras, tidak was-was, lebih terarah. Sungguh lebih syahdu bila dibarengi dengan lagu lawas "Dongeng" dari grup band Wayang.

Di malam ini aku tak dapat memejamkan mata

Terasa berat bagai diri terikat mimpi oh

Kuingin satu satu cerita mengantarku tidur biar ku terlelap

Mimpikan hal yang indah lelah hati tertutupi

Dongeng sebelum tidur ceritakan yang indah biar ku terlelap

Dongeng sebelum tidur mimpikan diriku mimpikan yang indah

Gelisah ku tak menentu pikiran melayang pikiran melayang

Di benakku hanyalah ada lelah yang terasa

 

Dongengmu sebelum tidur ceritakan yang indah biar ku terlelap

Dongeng sebelum tidur ceritakan yang indah biar ku terlelap

Dongeng sebelum tidur mimpikan diriku mimpikan yang indah

 

Dongeng sebelum tidur ceritakan yang indah biar ku terlelap

Dongeng sebelum tidur mimpikan diriku mimpikan yang indah

 

Aneka banyak cerita ceritakanlah semua hingga ku terlelap

 

Dongeng sebelum tidur mimpikan diriku mimpikan yang indah

Dongeng sebelum tidur ceritakan yang indah biar ku terlelap

Dongeng sebelum tidur mimpikan diriku mimpikan yang indah

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Sep 2026, 18:33

Jika Ada Lagi Taman Nasional atau Taman Hutan Raya Baru di Jawa Barat

Menelusuri peluang hadirnya taman nasional atau taman hutan raya (tahura) baru sebagai benteng keanekaragaman hayati, pelindung ekosistem (flora dan fauna) serta oasis hijau masa depan Bumi Pasundan.

Bagas Aji Prakoso saat menjajal Tahura Djuanda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 16:50

Ketika Idealisme Pengabdian Gen-Z Membentur Tembok Kaku Birokrasi

Artikel opini ini membahas paradoks antara idealisme pengabdian ASN Generasi Z dan budaya birokrasi yang masih dianggap kaku.

Tumpukan Berkas. (Sumber: Chat GPT | Foto: AI Chat GPT)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 15:05

Jalur FM: Ketika Suara dari Udara Menjadi Lebih Jernih

Sebelum gelombang FM semakin ramai di Bandung, perubahan serupa lebih dahulu terasa di Jakarta.

Studio Radio OZ Bandung di Jl. Setrasari II No. 14, Bandung. Radio OZ menjadi salah satu stasiun radio di Bandung yang termasuk awal bermigrasi dari jalur AM ke FM. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 14:42

216 Tahun Kota Bandung: Merawat Warisan dan Membangun Masa Depan Gastronomi Berkelanjutan

Lebih dari sekadar destinasi tempat orang mencari tempat makan yang estetis atau makanan lezat, Bandung pada hakikatnya adalah laboratorium budaya.

Kudapan tradisional khas Kota Kembang yang sangat populer antara lain cireng, cilok, seblak, dan telur gulung. (Sumber: Shutterstock | Foto: Hanifah Kurniati)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 12:21

Momentum Mahasiswa Meraih Prestasi

Mahasiswa sering menyalahkan diri dan keadaannya dalam situasi yang sulit. Menurut mahasiswa, bahwa keberadaannya belum tentu berprestasi. 

Sejumlah mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat, 1 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional (May Day). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 22 Sep 2026, 10:40

Media Lokal Cari Model Bisnis Baru di Local Media Summit 2026

Media lokal tidak lagi hanya dituntut menjadi penerbit berita, tetapi juga dapat berkembang menjadi agensi lokal, pengelola komunitas.

Local Media Summit (LMS) akan kembali hadir di pada 22-23 Oktober 2026 di Hotel Manhattan Jakarta.
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:15

Jika Benzema Datang, Persib Sebenarnya Membeli Apa?

Status bebas transfer Benzema saat ini membuat sebuah pintu terbuka untuk Persib.

Karim Benzema (Sumber: ayobandung.com | Foto: Wikimedia Commons (Lisensi CC) via ayobandung.com)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:00

Urap: Jejak Mahakarya Kuliner Tertua dan Filosofi Kehidupan dalam Sepiring Sayuran Nusantara

Dalam khazanah gastronomi Indonesia, urap bukan sekadar komposisi sayuran dan kelapa parut.

Urap merupakan sajian sayuran tertua di tanah Jawa yang tercatat secara formal dalam literatur sejarah. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:31

Demokrasi yang Berakar: Ketika Politik Bertemu  Budaya dan Kepercayaan

Sebelum seseorang menjatuhkan pilihan politiknya, ada proses komunikasi yang panjang. Sebelum sebuah kekuasaan dianggap sah, ada proses pembentukan makna.

Diah Fatma Sjoraida merupakan Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran. (Sumber: Gemini | Foto: Ilustrasi oleh AI)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:01

Urgensi Kota Bandung: Persolan Sampah dan Kemacetan

Sampah dan kemacetan adalah dua persoalan besar yang dihadapi Bandung. Harus diatasi dengan membangun kesadaran bersama, yang akhirnya demi kenyamanan bagi warga Bandung, sebagai rumah bersama.

Pengendara melintas di dekat tumpukan sampah yang menggunung di TPS Jalan Makam Caringin, Kota Bandung, Kamis, 9 April 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 18:17

Imaji Papua Bersilaturahmi dengan Caraka Sundanologi Bandung

Imaji Papua membawa cerita tentang manusia, budaya, dan kehidupan Tanah Papua ke Bandung melalui film dan dialog lintas komunitas.

Caraka Sundanologi bersilaturahmi dengan komunitas Imaji Papua melalui pemutaran film dokumenter sebagai ruang berbagi cerita, budaya, dan pengalaman tentang Papua. (Sumber: Nonon Rachnaya)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 17:20

Bandung dan Terbentuknya Karyawan 'Flourish'

Ketika Pemkot Bandung berhasil memangkas hambatan birokrasi,sektor industri harus siapkan sistem rekrutmen yang presisi.

Bandung dan urgensi karyawan "Flourish" (Sumber: dokpri dengan kreasi chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 16:22

Tugu Proklamasi Cirebon: Jejak Pembacaan Proklamasi 15 Agustus 1945

Sebuah tugu berwarna putih di perempatan Jalan Siliwangi, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon, itu menjadi saksi bahwa kemerdekaan Indonesia pernah diproklamirkan sebelum 17 Agustus 1945.

Tugu Proklamasi Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Wahyu)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 15:58

Menimbang Dampak Pajak Otomatis di Tengah Melejitnya Lokapasar Kota Bandung

Proses perpajakan digital menuntut UMKM agar merapikan pembukuan mereka

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan (Kanan). (Sumber: Humas Pemkot Bandung)
Ikon 21 Sep 2026, 15:33

Stasiun Cicalengka, dari Stasiun Bersejarah jadi Tinggal Sejarah

Stasiun Cicalengka berusia lebih dari seabad. Bangunan lamanya telah dibongkar, sementara tinggalan sejarahnya masih tersisa.

Stasiun Cicalengka, Bandung, antara tahun 1900-1920-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 13:41

Akar Historis dan Evolusi Gastronomi Sunda: Meneroka Budaya Pangan Tatar Parahyangan

Gastronomi bukan sekadar urusan pemuasan kebutuhan fisiologis manusia melalui asupan nutrisi, melainkan sebuah disiplin ilmu yang membedah korelasi intrinsik antara makanan dan kebudayaan.

Penjual makanan keliling di Jawa Barat sekitar tahun 1910. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 11:21

Bioskop sebagai Ruang Refleksi Diri

Bioskop di era modern tidak sekedar ajang hiburan tapi ruang refleksi yang membuat nyaman.

Ilustrasi bioskop. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 09:09

Ketika Fikom Harus Mengajarkan Cara Berkomunikasi dengan Mesin

Sekarang mulai terbentuk pola baru komunikasi, yakni manusia berbicara kepada mesin, mesin menghasilkan pesan, mesin memilih pesan, lalu manusia menerima dan menafsirkannya.

Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. (Sumber: ayobandung.com | Foto: fikom.unpad.ac.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 17:07

930 Pecatur di Bandung Dapat Wejangan dari Legenda Utut Adianto

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru.

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 16:57

Istilah Bahasa Jawa untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Mengenal istilah lokal Bahasa Jawa untuk menggambarkan kekuatan guncangan gempa bumi, dari Lir hingga Lindhu Kiamat/Jagad Obah. Kaya makna dan kearifan lokal suu bangsa Jawa.

Ilustrasi bangunan yang rusak akibat gempa bumi. (Sumber: Pexels | Foto: Ahmed akacha)