Merawat Imajinasi

8 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Seseorang sedang asyik membaca. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Seseorang sedang asyik membaca. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)

Suasana malam yang begitu dingin dari hari sebelumnya. Ternyata menyimpan kehangatan atas kebersamaan. Saat duduk menemani anak kedua, Aa Akil, yang tengah menyiapkan tugas sekolah. 

Bocah kelas lima ini harus belajar mendongeng dengan media wayang, yang terbuat dari kertas sederhana, bertangkai stik. Tentunya permainan ini sarat imajinasi dan inspirasi. 

Malin Kundang menjadi kisah yang dipilih. Delapan lembar cerita ditempel perlahan pada tubuh wayang, seakan-akan menyatukan potongan nasib seorang anak durhaka kepada Ibunya. 

Sesekali anak ketiga, Kakang ikut nimbrung, bahkan meminta dibuatkan. Ya memang Aa sudah mempersiapkan main sama untuk adik tersayangnya. Cerita dan gambar dipilih sama. Cuma bentuknya sedikit kecil dari Aa, menyesuaikan dengan tangan yang memegang masih mungil. Hore Kakang punya! sambil berlarian ke sana-ke mari.

Hari-hari sebelumnya pemilik nama Faraz ini sudah giat latihan, demi keberanian tampil di depan kelas, di hadapan teman-teman dan Ibu Guru tercinta.

Pada malam itu, saat lakon telah terpasang dan latihan kembali digelar, suara lantang bocah dan desir angin malam yang menerpa pohon pisang berpadu dalam ruang kecil menghangatkan suasana. Sungguh berbunga-bunga saat anak ketiga ikut memainkan, dongeng zaman dahulu yang banyak hikmah itu agar hidup semakin terarah.

Latihan selesai. Wayang-wayangan dirapikan kembali ke tempatnya. Dalam jeda sunyi itu, bocah kelahiran 2 Januari 2015 itu menoleh padaku dan bertanya dengan suara pelan,

“Bah, apakah setiap daerah punya cerita seperti Malin Kundang?”

Kujawab singkat, “Muhun!”

Penyuka anime Jepang ini terdiam sesaat, seribu bahasa, lalu melanjutkan,
“Kalau di Garut, kampung halaman Babah, di Bungbulang ada tidak?”

“Aya. Namina Dalem Boncel,” ujarku. 

Matanya menyala oleh rasa ingin tahu lebih kisahnya.
“Boleh Babah ceritakan?”

Siap. Beginilah kisahnya. Malam yang mulai menyelimuti dinginnya udara, seolah-olah tak menyulutkan rasa ngantuk, justru cenghar. Kebetulan hari itu Sabtu, malam Ahad yang diperbolehkan tidur agak larut malam. Gadang yeuh!

Biasanya, hari-hari sekolah, aktivitas belajar harus berkahir pada pukul 20.00 WIB, karena bangun harus Subuh dan berangkat lebih awal untuk kesekolahan biar tak terjebak macet yang terus mendera Bandung dan sekitarnya. Sejak dari gang kecil, jalan tikus, sampai jalan Nasional, Protokol. Macetos Ampun Gusti

Cover Buku Dalem Boncel karya Sunarsih (Sumber: Pusat Pembinaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2016 | Foto: Istimewa)
Cover Buku Dalem Boncel karya Sunarsih (Sumber: Pusat Pembinaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2016 | Foto: Istimewa)

Boncel dari Desa Bungbulang Berkuasa di Kadipaten Caringin

Dalam buku bacaan anak untuk siswa SD kelas IV, V, dan VI berjudul Dalem Boncel: Cerita Rakyat dari Jawa Barat yang diterbitkan oleh Pusat Pembinaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, cerita ini disusun sebagai bagian dari program Gerakan Literasi Nasional yang dicanangkan untuk membangun bangsa Indonesia yang memiliki kemampuan literasi tinggi. Bangsa yang literat adalah bangsa yang mampu memberdayakan berbagai aspek kehidupannya, baik psikologis, kognitif, ekonomi, maupun politik.

Cerita Dalem Boncel berasal dari daerah Garut, tepatnya Desa Bungbulang. Kisah ini merupakan saduran dari buku Dongeng-Dongeng Pakidulan Garut yang diterbitkan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Garut. Bernilai sastra, kisah ini mengandung nilai sejarah, khususnya terkait figur bupati yang pernah berkuasa di wilayah Caringin, Banten dari tahun 1840 - 1849.

Dalam catatan sejarah disebutkan pada tahun 1883 terjadi letusan Gunung Krakatau yang menghancurkan Kadipaten Caringin. Luluh lantak, sehingga ibu kota dipindah ke Pandeglang dan berganti nama menjadi Kabupaten Pandeglang.

Dari segi alur, kisah Dalem Boncel memiliki kemiripan dengan cerita Malin Kundang dari Sumatra Barat. Boncel digambarkan sebagai anak yang durhaka kepada orangtuanya. Ketika sang Ibu datang menemuinya, Dalem Boncel menolak mengakui ibunya karena saat itu telah menjadi Bupati. Ibunya hanyalah seorang perempuan tua yang miskin, renta, dan berpakaian compang-camping.

Namun demikian, cerita rakyat ini tidak hanya menampilkan sisi kedurhakaan. Rupanya, di dalamnya  dikisahkan keuletan Dalem Boncel dalam belajar membaca, menulis. Kerajinan dan ketekunannya dalam menuntut ilmu mengantarkannya pada kesuksesan, hingga mencapai kedudukan sebagai pemimpin. Kisah ini menggambarkan bagaimana mimpi seorang rakyat jelata dapat terwujud melalui kerja keras, ketekunan, dan semangat belajar.

Benang merah dari kisah Dalem Boncel diharapkan mampu memberikan inspirasi bagi masyarakat Indonesia pada umumnya, dan khususnya bagi para siswa. Nilai-nilai budaya lokal yang terkandung dalam cerita ini mengajarkan pentingnya menghormati orang tua.

Keuletan Dalem Boncel dalam menggapai cita-citanya dapat memotivasi siswa untuk tidak takut bermimpi dan berusaha meraih cita-cita setinggi mungkin. Dengan demikian, kerajinan belajar dan kreativitas merupakan kunci utama dalam mewujudkan dan meraih masa depan. (Sunarsih, 2016: vi–vii).

Ilustrasi Dalem Boncel karya Sunarsih (Sumber: Pusat Pembinaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2016 | Foto: Istimewa)
Ilustrasi Dalem Boncel karya Sunarsih (Sumber: Pusat Pembinaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2016 | Foto: Istimewa)

Mari kita bandingkan dengan tulisan Ironi Pun Boncel, Ahmad Gibson Al-Bustomi (2012: 73-77) menjelaskan pada masa lalu cerita epik Pun Boncel, bukanlah kisah yang asing di tengah masyarakat. Kisah ini menceritakan seorang anak desa yang meninggalkan kampung halaman dan ibunya, yang kelak menjadi penggembala kuda handal,  hingga akhirnya berhasil mencapai kedudukan sebagai bangsawan.

Namun, setelah meraih kesuksesan, justru mencampakkan dan tidak mengakui ibunya. Sang ibu lantas menghujat anaknya, menyebabkan Pun Boncel jatuh sakit keras.

Sekilas, cerita ini mirip dengan kisah Malin Kundang yang dikutuk menjadi batu. Namun, dalam versi Sunda, sosok ibu digambarkan lebih pemaaf. Pun Boncel tidak dikutuk menjadi batu, melainkan jatuh sakit. Setelah menyadari kesalahannya, lalu memohon maaf kepada ibunya, dan sang Ema pun memaafkannya. Pun Boncel sembuh, dan mereka kembali hidup sebagai keluarga yang bahagia. Akhir cerita yang bersifat happy ending.

Ditinjau dari alur dan latar suasananya, cerita Pun Boncel diduga lahir pada masa penaklukan (penjajahan) Mataram atas wilayah Priangan. Secara umum, cerita ini memang menyampaikan pesan moral tentang akibat kedurhakaan seorang anak kepada ibunya. Namun, dalam konteks budaya Sunda pada masa itu, tindakan seorang anak yang secara terang-terangan tidak mengakui ibunya merupakan sesuatu yang sulit diterima, sehingga kisah ini dapat dibaca sebagai refleksi sosial dan budaya zamannya.

Gerakan Ayah Bacain Cerita Dong (ABCD) (Sumber: YouTube Topi Amali | Foto: Hasil tangkapan layar)
Gerakan Ayah Bacain Cerita Dong (ABCD) (Sumber: YouTube Topi Amali | Foto: Hasil tangkapan layar)

Tingkatkan Kemampuan, Kekuatan Dongeng Sebelum (Sesudah) Tidur

Mendongeng di era digital kerap dianggap sebagai kebiasaan yang telah ditinggalkan, terutama oleh pasangan muda yang sibuk bekerja. Banyak yang berpikir, mengapa harus mendongeng bila kini tersedia YouTube yang menyediakan segala hal dengan mudah? 

Dengan berbagai konten siap saji, mendongeng sendiri kerap dianggap tidak lagi relevan dan terlalu merepotkan. Hari gini masih ngandelin dongeng, jadul kali! 

Memang, pandangan semacam itu tidak sepenuhnya keliru. Era digital telah menghadirkan banyak kemudahan dalam kehidupan sehari-hari. Meski demikian, kita tidak boleh terlena oleh kemudahan dan serba instan ini. Rasa kemanusiaan dan kedekatan emosional perlu terus dilatih melalui komunikasi langsung.

Bayangkan apa yang akan terjadi bila anak diasuh sepenuhnya oleh YouTube, yang menyediakan segalanya secara instan. Tidakkah muncul kekhawatiran ketika hampir semua kebutuhan hiburan dan pembelajaran anak dipenuhi tanpa interaksi manusia?

Ada banyak aspek kehidupan bermasyarakat yang secara perlahan memudar akibat digitalisasi, salah satunya adalah sentuhan kemanusiaan dalam diri manusia itu sendiri.

Penelitian yang dilakukan oleh Nur Rahmatul Azkiya dan Iswinarti, mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang, berjudul “Pengaruh Mendengarkan Dongeng terhadap Kemampuan Bahasa pada Anak Prasekolah” menunjukkan ihwal mendongeng merupakan salah satu metode efektif untuk meningkatkan kemampuan bahasa anak.

Dalam aktivitas mendongeng, anak memperoleh kosakata baru, belajar mengevaluasi, serta memahami informasi yang diterimanya.

Penelitian ini didukung oleh studi Lamuningtyas (2012) yang membuktikan adanya peningkatan kemampuan bahasa yang signifikan melalui pemberian dongeng. Aspek kemampuan bahasa yang diteliti meliputi kemampuan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat aspek ini merupakan keterampilan penting dalam komunikasi.

Pentingnya kemampuan berbahasa ini tercermin dalam Kurikulum 2013. Pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP), peserta didik diajarkan materi cerita fantasi sebagai bagian dari upaya membentuk sumber daya manusia yang produktif, kreatif, inovatif, dan komunikatif. Peserta didik tidak hanya memahami teks, tetapi diwajibkan memproduksi berbagai jenis teks sesuai dengan Kompetensi Dasar (KD) yang telah ditetapkan.

Salah satu teks yang dipelajari siswa kelas VII SMP adalah teks cerita fantasi. Secara teori, cerita fantasi memiliki unsur intrinsik sebagai pembangun cerita, seperti tema, tokoh, alur, latar, sudut pandang, serta amanat (pesan moral). Melalui pesan moral inilah nilai-nilai kehidupan, perjuangan, kebaikan, dan cinta diajarkan. Pesan ini dapat dipahami melalui watak dan tindakan para tokoh dalam cerita.

Tentunya, kebiasaan ini mengandung nilai edukatif, cerita fantasi dapat mengajak pembaca untuk berimajinasi dan memberikan manfaat rekreatif. Terlebih pada masa pandemi, ketika aktivitas di luar rumah sangat terbatas, membaca cerita fantasi dapat menjadi asupan bergizi bagi jiwa yang mulai jenuh, rapuh, dan bosan akibat terlalu lama berdiam di rumah. (Ahmad Thohir Yoga, dkk., 2022: 92–93)

Aa Akil (10 tahun), Kakang (4 tahun) sedang asyik membaca di perpustakaan alakadarnya (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Aa Akil (10 tahun), Kakang (4 tahun) sedang asyik membaca di perpustakaan alakadarnya (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)

Dengan membiasakan mendongeng (membaca) sejak dini, terutama melalui cerita, anak-anak tidak sekadar belajar mengenal hurup, kata, dan kalimat. Dari kisah-kisah itulah imajinasi tumbuh, empati diasah, dan karakter perlahan dibentuk. Mudah-mudahan, ketika nilai-nilai mulia ditanamkan lewat aktivitas mendongeng (membaca), kita sedang menyiapkan fondasi bagi lahirnya bangsa yang besar.

Pasalnya, cerita (dongeng yang terkadang dianggap narasi sederhana), justru memiliki kekuatan luar biasa dalam memengaruhi arah dan masa depan suatu bangsa. Literasi sejatinya bertumbuh dari ruang-ruang paling sederhana di rumah, mulai dari pangkuan ayah, dari dongeng sebelum tidur, dari rasa ingin tahu anak yang tak pernah padam dan terus hidup, berkembang karena sengaja dirawat dengan kasih sayang dan perhatian.

Aktivitas mendongeng (membacakan) cerita bukan semata soal hiburan, melainkan ikhtiar bersama dalam menanamkan benih pengetahuan, menumbuhkan rasa ingin tahu, sekaligus mengikat cinta, melalui kisah dan halaman-halaman buku yang dibuka dan diceritakan bareng-bareng, berulang-ulang, dengan penuh kehangatan dan kebersamaan.

Saat asyik menulis sambil mencari referensi tentang merawat imajinasi dan inspirasi agar hidup tetap waras, tidak was-was, lebih terarah. Sungguh lebih syahdu bila dibarengi dengan lagu lawas "Dongeng" dari grup band Wayang.

Di malam ini aku tak dapat memejamkan mata

Terasa berat bagai diri terikat mimpi oh

Kuingin satu satu cerita mengantarku tidur biar ku terlelap

Mimpikan hal yang indah lelah hati tertutupi

Dongeng sebelum tidur ceritakan yang indah biar ku terlelap

Dongeng sebelum tidur mimpikan diriku mimpikan yang indah

Gelisah ku tak menentu pikiran melayang pikiran melayang

Di benakku hanyalah ada lelah yang terasa

 

Dongengmu sebelum tidur ceritakan yang indah biar ku terlelap

Dongeng sebelum tidur ceritakan yang indah biar ku terlelap

Dongeng sebelum tidur mimpikan diriku mimpikan yang indah

 

Dongeng sebelum tidur ceritakan yang indah biar ku terlelap

Dongeng sebelum tidur mimpikan diriku mimpikan yang indah

 

Aneka banyak cerita ceritakanlah semua hingga ku terlelap

 

Dongeng sebelum tidur mimpikan diriku mimpikan yang indah

Dongeng sebelum tidur ceritakan yang indah biar ku terlelap

Dongeng sebelum tidur mimpikan diriku mimpikan yang indah

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Sep 2026, 21:13

Rekam Jejak Euro Management Indonesia Siapkan SDM Indonesia Go Global

Program Academic Writing diarahkan untuk memperkuat kemampuan pegawai dalam menyusun tulisan akademik secara sistematis dan sesuai dengan standar internasional.

Keberangkatan siswa Euro Management Indonesia kuliah di  Jerman (Foto: Humas Euro Manajemen Indonesia)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 19:25

Art Zine SMPN 1 Kasokandel

Setiap karya harus diapresiasi karena kita percaya bahwa setiap anak memiliki kodratnya yang unik

 (Foto: Penulis)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 13:27

Sekolah, Gerbang Perlindungan Anak di Ruang Digital

Perlindungan anak di ruang digital tidak cukup berhenti pada literasi digital. Sekolah harus memiliki kapasitas dan mekanisme nyata untuk mendeteksi, merespons, dan merujuk.

Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 11:00

Siapa yang ‘Membunuh’ Radio Bandung?

Angkasa Bandung makin tiiseun. Perlahan, satu demi satu, stasiun radio mulai pamit dari udara Bandung.

Taman Radio mengukuhkan Bandung sebagai Kota Radio. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Herman Simabur)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 08:22

Belajar dari Viralitas Produk: Memotret Pentingnya Pelayanan bagi Konsumen

Terdapat beberapa peristiwa yang mengusik perhatian masyarakat, viralnya antara konsumen dan produk tertentu, maraknya kejadian viral ini mesti jadi perhatian bersama.

Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 20:59

Eksplorasi Bandrek: Simbol Kehangatan dan Diplomasi Rempah Tatar Sunda

Dalam khazanah kuliner Nusantara, bandrek bukan sekadar minuman penghangat raga, melainkan manifestasi filosofis dari nilai kanyaah.

Bandrek, minuman penghangat tubuh khas Tatar Sunda yang cocok diseruput di tengah sejuknya dataran tinggi Priangan. (Sumber: IG: daoendjati.smg)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 17:52

Hari Aksara Internasional dan Darurat Membaca Indonesia

Hari Aksara Internasional seyogianya bukan hanya sekadar slogan tentang huruf tapi juga manusia.

Ilustrasi huruf. (Sumber: Pexels/Brett Jordan)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 13:11

Jangan Bangun Teras Cihampelas untuk Instagram

Yang perlu dibangun pemerintah di Cihampelas bukan latar belakang foto, melainkan alasan-alasan bagi orang-orang untuk datang, tinggal, dan kembali.

Teras Cihampelas (Sumber: ayobandung.com | Foto: Dok. Pemkot Bandung via ayobandung.com)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 11:25

Abu Vulkanik, Polusi Udara dan Potensi Bandung sebagai Produsen Full Face Respirator

Perlu mitigasi agar tidak terjebak dalam situasi buruk terkait kesehatan mata dan organ

Ilustrasi APD antidebu sekaligus masker dalam satu kesatuan sistem yang disebut Full Face Respirator. (Sumber: dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 10:55

Abu Vulkanik, Masker, dan MBG

Bila masker mengajarkan kewaspadaan. Sekolah belajar arti pentingnya adaptasi. MBG menegaskan pemenuhan gizi anak harus tetap berjalan dan abu vulkanik mengingatkan kita segala kebijakan yang baik

Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 17:11

200 Ikon Bandung #2: GMR FM, Keep Rock Until the End

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002.

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 15:58

10 Penulis Ayonetizen Terbaik Agustus 2026, Beropini di Bulan Kemerdekaan

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Agustus 2026, dengan total hadiah tetap dipertahankan sebesar Rp1,5 juta.

Pegiat panjat tebing berkostum spiderman mengibarkan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Hawu, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 14:41

Jelajah Rasa Masa Kolonial: Menu-menu Rijsttafel Populer di Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda.

Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 12:56

Ketika Kebebasan Sipil Terasa Kian Sempit

Pertanyaan yang cukup menyakitkan, kenapa semakin banyak aturan yang mengekang kebebasan sipil? Apa yang terjadi ketika kebebasan pers juga dibungkam karena dianggap membahayakan kedudukan pemerintah.

Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 11:28

Sekolah Bukan Pabrik Kepatuhan

Sekolah tidak cukup menjadi tempat belajar untuk mematuhi aturan. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar mengapa sebuah aturan diperlukan.

Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 07:47

Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988! Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen.

Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 18:33

Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

Diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 15:23

Lava Lembar Batutemplek Cisanggarung, Bukan dari Letusan Efusif Gunung Sunda

Lava lembar Batutemplek Cisanggarung diduga merupakan jejak letusan efusif gunungapi purba yang mengalir mengikuti bentang alam Bandung utara dan membentuk lapisan batuan berlembar.

Batutemplek Cisanggarung merupakan lava yang melembar. (Sumber: Herlina)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 12:50

Harmoni Rempah dari Rumah Tua: Dokumentasi Rasa dan Kedermawanan Meja Makan Keluarga Arab-Bogor

Kuliner Arab-Bogor menjadi warisan budaya yang menjaga memori keluarga melalui rempah, teknik memasak tradisional, dan adaptasi bahan lokal.

Buku berjudul "30 Resep Masakan Arab Rumahan" karya Balqies Batarfie yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2014. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)