Banjir kembali melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera. Setiap musim hujan tiba, bencana ini seolah menjadi peristiwa tahunan yang tak terhindarkan.
Dari Sumatera Barat, Sumatera Selatan, hingga Aceh dan Lampung, ribuan rumah terendam, aktivitas masyarakat lumpuh, dan kerugian material terus bertambah. Kondisi ini menjadi alarm serius bagi pengelolaan lingkungan dan tata ruang di Sumatera.
Banjir di Sumatera tidak hanya disebabkan oleh curah hujan yang tinggi. Faktor utama lainnya adalah kerusakan lingkungan, seperti alih fungsi hutan menjadi lahan perkebunan dan permukiman, serta penambangan ilegal yang merusak daerah aliran sungai (DAS). Hutan yang seharusnya berfungsi sebagai daerah resapan air kini semakin berkurang, sehingga air hujan langsung mengalir ke sungai dan permukiman warga.
Selain itu, pendangkalan sungai akibat sedimentasi dan sampah memperparah kondisi. Sungai yang dangkal tidak mampu menampung debit air yang besar, sehingga air meluap dengan cepat ke pemukiman. Sistem drainase perkotaan yang buruk juga menjadi faktor pendukung terjadinya banjir, khususnya di kawasan padat penduduk.
Dampak Sosial dan Ekonomi
Dampak banjir di Sumatera sangat luas. Ribuan warga terpaksa mengungsi, kehilangan tempat tinggal, serta terhambat aktivitas ekonomi dan pendidikan. Sektor pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat Sumatera juga terdampak serius. Lahan pertanian terendam, gagal panen pun tak terelakkan.
Dari sisi kesehatan, banjir meningkatkan risiko munculnya berbagai penyakit seperti diare, demam berdarah, dan infeksi kulit. Kondisi ini semakin memberatkan masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Pemerintah daerah bersama instansi terkait telah melakukan berbagai upaya, mulai dari normalisasi sungai, pembangunan tanggul, hingga penyaluran bantuan bagi korban banjir. Namun, upaya tersebut belum cukup jika tidak dibarengi dengan kesadaran kolektif masyarakat dan kebijakan lingkungan yang tegas.

Pencegahan banjir harus dilakukan secara berkelanjutan, antara lain dengan menjaga kelestarian hutan, memperbaiki tata ruang wilayah, serta meningkatkan pengelolaan sampah. Edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan juga menjadi kunci agar bencana banjir tidak terus berulang.
Baca Juga: Menengok Lagi Tragedi Sumatra 2025, Memahami Penyebab dan Dampaknya
Banjir di Sumatera bukan sekadar bencana alam, melainkan cerminan dari hubungan manusia dengan lingkungannya. Jika kerusakan alam terus dibiarkan, maka banjir akan semakin sering terjadi dan dampaknya semakin parah.
Diperlukan kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan untuk menjaga alam Sumatera demi masa depan yang lebih aman dan berkelanjutan. (*)
