Menengok Lagi Tragedi Sumatra 2025, Memahami Penyebab dan Dampaknya

Asep Setiawan
Ditulis oleh Asep Setiawan diterbitkan Kamis 15 Jan 2026, 16:52 WIB
Kondisi banjir di Kab Dharmasraya, Sumatera Barat, Minggu (2/3). (Sumber: BPBD Kabupaten Dharmasraya)

Kondisi banjir di Kab Dharmasraya, Sumatera Barat, Minggu (2/3). (Sumber: BPBD Kabupaten Dharmasraya)

Masyarakat Indonesia kembali berduka. Serangkaian banjir bandang dan tanah longsor yang melanda tiga provinsi di Sumatra Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pada akhir November 2025, telah menorehkan catatan kelam sebagai salah satu bencana hidrometeorologi terparah dalam sejarah modern negeri ini.

Hingga hari ini, Sabtu, 7 Desember 2025, data korban terus bertambah. Total korban jiwa telah mencapai 940 orang meninggal dan 276 lainnya masih dinyatakan hilang. Jumlah pengungsi melampaui 835 ribu jiwa, sementara ribuan rumah, jembatan, sekolah, dan fasilitas publik lain luluh lantak diterjang air bah dan material longsor.

Bencana yang dipicu oleh hujan ekstrem ini tidak hanya memutus akses transportasi dan komunikasi di banyak daerah, tetapi juga menyisakan trauma mendalam serta kerugian ekonomi yang diperkirakan mencapai Rp 68,6 triliun.

Kronologi dan Titik Episentrum Bencana

Bencana mulai melanda sejak 25 November 2025, dengan puncaknya terjadi pada 28-30 November. Curah hujan dengan intensitas sangat tinggi, melebihi 300 mm per hari, mengguyur wilayah Bukit Barisan. Air yang tidak lagi bisa diserap tanah kemudian meluncur deras dari hulu ke hilir, mengubah aliran sungai menjadi banjir bandang yang menghancurkan segala yang dilintasinya.

Di Aceh, kabupaten terdampak terparah adalah Aceh Utara dengan 112 korban jiwa. Lebih dari 50% gampong (desa) di provinsi ini terendam atau terdampak langsung. Sebanyak 359 orang dinyatakan tewas dan 174 lainnya hilang di provinsi ujung barat Indonesia ini.

Di Sumatra Utara, Kabupaten Tapanuli Tengah menjadi episentrum dengan 103 tewas dan 100 hilang. Daerah ini sempat terisolasi total selama berhari-hari, sehingga evakuasi dan distribusi bantuan hanya bisa dilakukan melalui jalur udara dan laut. Korban tewas di Sumut secara total mencapai 329 jiwa.

Di Sumatra Barat, Kabupaten Agam menanggung beban terberat dengan 171 korban tewas akibat banjir bandang yang menyapu pemukiman. Longsor besar di gerbang masuk Kota Padang Panjang juga menewaskan setidaknya 30 orang. Total korban tewas di Sumbar sebanyak 226 orang.

Akar Masalah

Sisa banjir di Sumatra Barat pada awal Desember 2025. (Sumber: pkp.go.id)
Sisa banjir di Sumatra Barat pada awal Desember 2025. (Sumber: pkp.go.id)

Para ahli menyatakan bencana ini adalah hasil dari pertemuan mematikan antara fenomena cuaca ekstrem dan kerusakan lingkungan yang sudah berlangsung puluhan tahun.

1. Siklon Tropis "Senyar" yang Aneh

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan pakar dari Institut Teknologi Bandung (ITB) mengidentifikasi penyebab langsung hujan ekstrem adalah terbentuknya Siklon Tropis Senyar di dekat ekuator, tepatnya di sekitar Selat Malaka. Kejadian siklon di bawah garis lintang 5 derajat ini merupakan fenomena yang sangat tidak biasa.

"Siklon ini bertindak seperti pompa raksasa yang menyedot uap air dari laut dan memuntahkannya dalam bentuk hujan lebat di daratan Sumatra," jelas seorang peneliti iklim dari ITB, seperti dikutip dari analisis resmi kampus. Interaksi siklon dengan topografi Bukit Barisan kemudian memekatkan awan hujan di wilayah tersebut.

2. Dosa Ekologis: Hilangnya Hutan Penahan Air

Namun, para pakar sepakat, hujan ekstrem hanyalah pemicu, sementara akar penyebab bencananya adalah kerusakan hutan di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS). Dr. Hatma Suryatmojo, pakar hidrologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), menjelaskan bahwa hutan alam berfungsi sebagai "spons raksasa" yang menahan, meresapkan, dan mengatur aliran air.

"Dalam kondisi hutan baik, dari 100% air hujan, hanya 10-20% yang menjadi aliran permukaan langsung ke sungai. Selebihnya ditahan kanopi, diserap tanah, atau menguap. Ketika hutan hilang, proporsi air yang langsung meluncur ke sungar bisa mencapai 70-80%," papar Hatma.

Fakta di lapangan mengonfirmasi analisis ini. Data menunjukkan deforestasi yang masif:

  • Sumatra Utara hanya menyisakan 29% tutupan hutan (sekitar 2,1 juta hektare). Ekosistem kritis seperti Batang Toru terfragmentasi oleh perkebunan dan pertambangan.
  • Aceh telah kehilangan lebih dari 700.000 hektare hutan dalam kurun 1990–2020.
  • Sumatra Barat kehilangan sekitar 740 ribu hektare tutupan pohon dalam periode 2001–2024.
  • Alih fungsi lahan ini membuat tanah kehilangan kemampuannya menyerap air. Saat hujan lebat datang, air langsung meluncur deras, menggerus tanah, memicu longsor, dan akhirnya menjadi banjir bandang yang penuh dengan kayu gelondongan dan material sedimen.

Dampak yang Terasa di Semua Lini

Dampak bencana ini luar biasa luas dan akan terasa dalam jangka panjang:

  • Korban Jiwa dan Trauma Psikologis: Selain angka tewas dan hilang yang tinggi, ribuan keluarga kehilangan tempat tinggal dan sanak saudara. Trauma kolektif ini membutuhkan penanganan serius.
  • Kerusakan Infrastruktur Parah: Lebih dari 405 jembatan hancur, termasuk jembatan-jembatan vital penghubung antarkabupaten. Sebanyak 199 fasilitas kesehatan dan 420 rumah ibadah rusak. Kerusakan ini memperparah isolasi dan menghambat proses pemulihan.
  • Pendidikan Terhenti: Minimal 697 sekolah dan madrasah rusak, mengganggu pembelajaran puluhan ribu siswa. Banyak sekolah yang dijadikan tempat pengungsian.
  • Krisis Ekonomi Lokal: Lahan pertanian dan perkebunan yang menjadi sumber nafkah masyarakat hancur. Jalan poros dan akses ke pasar terputus, melumpuhkan perekonomian di tingkat akar rumput.
  • Respons Pemerintah dan Debat "Status Bencana Nasional"

Pemerintah melalui BNPB, TNI, dan Polri telah mengerahkan sumber daya besar untuk tanggap darurat. Puluhan helikopter dan pesawat angkut berat dikerahkan untuk menjangkau daerah terisolasi, mengevakuasi korban, dan mendistribusikan logistik.

Namun, sebuah keputusan politik menuai perdebatan publik: Pemerintah memilih untuk tidak menetapkan status "Bencana Nasional" untuk tragedi ini. Alasannya, skala penanganan yang dilakukan sudah setara dengan penanganan bencana nasional, sehingga penetapan status dinilai tidak lagi diperlukan.

Keputusan ini dikritik sejumlah kalangan, termasuk keluarga korban dan aktivis. Mereka berargumen bahwa status bencana nasional penting untuk memobilisasi perhatian, solidaritas, dan dana yang lebih besar dari seluruh Indonesia, serta menyiratkan keseriusan negara dalam menangani duka warganya.

Baca Juga: Bandung UTAMA, Antara Janji dan Realita

Tragedi Sumatera 2025 adalah alarm keras yang tidak boleh diabaikan. Bencana ini memperlihatkan dengan jelas bahwa:

Perubahan iklim adalah nyata dan memunculkan fenomena cuaca ekstrem yang semakin tidak terduga, seperti siklon di dekat ekuator.

Kerusakan lingkungan memiliki konsekuensi langsung dan mematikan. Eksploitasi hutan dan DAS untuk kepentingan ekonomi jangka pendek akhirnya dibayar mahal dengan nyawa dan kehancuran infrastruktur.

Sistem peringatan dini dan mitigasi berbasis ekosistem harus menjadi prioritas utama. Membangun ketangguhan tidak cukup hanya dengan tanggap darurat, tetapi harus dengan mencegah bencana terjadi melalui konservasi.

Para ahli menyerukan tindakan segera: moratorium dan restorasi hutan di kawasan hulu DAS, penataan ruang yang ketat berbasis peta risiko bencana, serta penguatan sistem peringatan dini yang terintegrasi dari hulu ke hilir.

Nasib ratusan korban yang masih hilang dan perjuangan ratusan ribu pengungsi untuk bangkit kembali menjadi pengingat bagi seluruh bangsa: alam bisa murka ketika keseimbangannya terus diganggu. Masa depan Indonesia yang aman dari bencana bergantung pada komitmen kita memulihkan dan menjaga hutan sebagai benteng alami yang paling kokoh. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Asep Setiawan
Tentang Asep Setiawan
jurnalis muda yang aktif menulis isu sosial-keagamaan, terlibat dalam liputan mendalam, analisis media, dan produksi konten berbasis riset, juga aktivis sosial.

Berita Terkait

News Update

Ayo Biz 17 Jan 2026, 16:36 WIB

SNLIK 2026 dan Jalan Panjang Literasi Keuangan Masyarakat Jawa Barat

Banyak masyarakat belum memahami pentingnya perencanaan keuangan, tabungan darurat, atau pemanfaatan produk keuangan formal. Literasi keuangan jadi kebutuhan mendesak, bukan sekadar jargon kebijakan.
Ilustrasi. Banyak masyarakat belum memahami pentingnya perencanaan keuangan, tabungan darurat, atau pemanfaatan produk keuangan formal. Literasi keuangan jadi kebutuhan mendesak, bukan sekadar jargon kebijakan. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 16 Jan 2026, 20:43 WIB

Ketika AI Menjadi Guru, Etika Jadi Korban Pertama Mahasiswa

Pentingnya pendidikan karakter untuk menghadapi ancaman etis AI pada kemandirian berpikir, integritas akademik, dan keamanan data mahasiswa di perguruan tinggi.
Illustrasi tantangan berpikir kritis dengan AI (Sumber: Pexels | Foto: Tara Winstead)
Ayo Biz 16 Jan 2026, 17:29 WIB

Dessert Tradisi dalam Format Modern, Potret Tren Kuliner 2026

Industri kuliner Indonesia tengah mengalami transformasi besar yang dipicu oleh perubahan perilaku konsumen, terutama generasi muda.
Ilustrasi dessert lokal yang dikemas modern kini bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari gaya hidup. (Sumber: Freepik)
Ayo Biz 16 Jan 2026, 16:20 WIB

Tadabbur Alam di Gunung Puntang: Pesantren Menyemai Kesadaran Kebersihan dan Cinta Lingkungan

Para santri diajak menyelami makna kebersihan lingkungan, pengelolaan sampah, hingga praktik penyembelihan hewan kurban dengan cara yang benar.
Para santri diajak menyelami makna kebersihan lingkungan, pengelolaan sampah, hingga praktik penyembelihan hewan kurban dengan cara yang benar. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 16 Jan 2026, 15:30 WIB

Ketika Terminal Peti Kemas Bandung Ditelan Sepi

Pemkot Bandung bersama PT KAI perlu segera bekerja sama untuk membangkitkan TPKB menjadi sistem logistik yang tangguh.
Kondis TPKB yang tidak ada aktivitas bongkar muat. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Jelajah 16 Jan 2026, 13:41 WIB

Jalan Dago Tempo Dulu, Belum Padat Tapi Rawan Kecelakaan

Koran Belanda mencatat Jalan Dago sebagai lokasi kecelakaan berulang sejak 1920 an di tengah pesona Bandung utara.
Orang Eropa berjalan di Jalan Dago tahun 1920-an. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 16 Jan 2026, 10:43 WIB

Tren 'Peutik Panen' Tani Kota Bandung Ti Buruan, dari Beton Jadi Cuan!

Buruan SAE terdengar seperti program serius pemerintah, tapi kalau kamu lihat langsung, suasananya malah kayak gabungan antara kebun, taman bermain, dan terapi stres alami.
Warga saat memeriksa tanaman hydroponik di Buruan Sae Kelurahan Cigondewah Kidul, Kota Bandung (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jan 2026, 09:58 WIB

Meong Congkok Ditemukan Warga Masuk ke Halaman Rumah

Warga setempat biasa menyebutnya Meong Congkok; dan ditemukan masuk halaman rumah.
Warga setempat biasa menyebutnya Meong Congkok; dan ditemukan masuk halaman rumah. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Jelajah 16 Jan 2026, 09:50 WIB

Sejarah UPI, Jejak Panjang Kampus Guru di Bandung

Sejarah UPI Bandung berawal dari PTPG 1954, tumbuh lewat IKIP, hingga menjadi universitas serba bisa berbasis pendidikan.
Villa Isola di UPI Bandung (dahulu IKIP Bandung). (Sumber: Wikimedia Commons)
Beranda 16 Jan 2026, 06:27 WIB

LBH Bandung Beberkan Kejanggalan Administrasi dan Pembuktian Kasus Sukahaji

Mengingat banyaknya kejanggalan administrasi yang ditemukan, LBH Bandung berpendapat bahwa kasus ini seharusnya diselesaikan di ranah agraria, bukan di pengadilan pidana.
Protes warga Sukahaji di atas lahan sengketa. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Jelajah 15 Jan 2026, 19:51 WIB

Bandit Laknat Padalarang Zaman Belanda, Kisah Berdarah di Kampung Terpencil

Dalam gelap Padalarang tahun 1935, sekelompok rampok memanfaatkan sunyi kampung terpencil, mengungkap sisi rapuh keamanan desa di balik tertib administrasi kolonial.
Ilustrasi perampokan di kampung zaman baheula.
Ayo Netizen 15 Jan 2026, 19:41 WIB

Keadaan Lingkungan Bandung Utara dalam Toponimi

Inilah keadaan lingkungan Bandung Utara yang terekam dalam toponimi di kawasan itu.
Potongan peta topografi Lembar Tanjungsari. Cetak ulang dari peta topografi Belanda (1919), oleh Army Map Service (1943). (Sumber: Peta koleksi KITLV Heritage)
Ayo Netizen 15 Jan 2026, 18:21 WIB

Komunikasi Anti Macet 

Secara bertahap, gelar kota paling macet di Indonesia kini berpindah ke Bandung.
Ilustrasi kemacetan. (Sumber: Pexels | Foto: Stan)
Ayo Netizen 15 Jan 2026, 16:52 WIB

Menengok Lagi Tragedi Sumatra 2025, Memahami Penyebab dan Dampaknya

Tragedi banjir bandang Aceh, Sumut, Sumbar akhir 2025 akibat hujan ekstrem Siklon Senyar & kerusakan hutan parah.
Kondisi banjir di Kab Dharmasraya, Sumatera Barat, Minggu (2/3). (Sumber: BPBD Kabupaten Dharmasraya)
Ayo Netizen 15 Jan 2026, 15:34 WIB

Bandung UTAMA, Antara Janji dan Realita

Hampir setahun kepemimpinan Muhammad Farhan menjadi awal penilaian warga Bandung.
Walikota dan Wakil Walikota Bandung, M. Farhan dan Erwin. (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 15 Jan 2026, 15:11 WIB

Usaha Spa Bintang Lima hingga Kaki Lima, Pelayanan Kesehatan Tradisional Sumber Devisa dan Lapangan Kerja

Usaha spa kelas kaki lima tidak jarang kita jumpai di tempat umum.
Ilustrasi usaha spa. (Sumber: Pexels | Foto: Anete Lusina)
Ayo Netizen 15 Jan 2026, 13:30 WIB

Seberapa Besar Dampak Buruk Krisis Etika Bermedia untuk Perilaku Kekerasan?

Ledakan di Jakarta dan maraknya kekerasan remaja menunjukkan krisis etika bermedia.
Ilustrasi pelaku kekerasan. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Ayo Netizen 15 Jan 2026, 11:43 WIB

Jalan Soekarno-Hatta Bandung: Jalan Terpanjang Sepanjang Permasalahannya

Jalan Soekarno-Hatta membentang dari Bundaran Cibeureum hingga Bundaran Cibiru menjadikan jalan ini jalan terpanjang di Kota Bandung.
Lampu Merah Kiaracondong-Soekarno Hatta (Kircon) di Kota Bandung sudah lama ditetapkan sebagai stopan “Lampu Merah Terlama di Indonesia”. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Muslim Yanuar)
Beranda 15 Jan 2026, 11:38 WIB

Di Balik Skatebowl Taman Pandawa, Mimpi Atlet BMX Muda Tumbuh di Tengah Keterbatasan

Bagi Tama, skatebowl Taman Pandawa tetap menjadi titik awal perjalanannya. Di tengah segala keterbatasan, tempat ini masih memberinya ruang untuk berlatih dan bermimpi.
Tama dan ayahnya, Asep Sofyan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 15 Jan 2026, 10:11 WIB

Menghapus Duka Petani Produsen Tetes Tebu Rakyat

Impor etanol mesti ditekan dan pengembangan industri etanol dalam negeri skala besar perlu bersinergi dengan petani tebu di desa.
Ilustrasi petani tebu sedan beraktivitas di kebun. (Sumber: PT Perkebunan Nusantara III)