Saatnya Pembenahan Serius dari Pemkot untuk Cibiru

Ariya Andhika
Ditulis oleh Ariya Andhika diterbitkan Senin 19 Jan 2026, 14:56 WIB
Suasana  kemacetan sore hari di sekitar Bundaran Cibiru. (Sumber: Ariya Andhika | Foto: Ariya Andhika)

Suasana kemacetan sore hari di sekitar Bundaran Cibiru. (Sumber: Ariya Andhika | Foto: Ariya Andhika)

Bundaran Cibiru,  dari arah Ujungberung, Cileunyi, dan Soekarno-Hatta selalu menjadi saksi atas kemacetan Kota Bandung yang mencapai titik yang mengkhawatirkan. Persoalan besar ini menjadi indikator nyata bahwa tata kelola kota sedang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Warga kian merasakan penurunan kenyamanan dan kualitas hidup akibat kondisi yang semakin semrawut.

Kemacetan terjadi hampir di seluruh ruas utama kota, terutama pada jam sibuk pergerakan dan mobilitas masyarakat yang seharusnya lancar menjadi terganggu akibat kemacetan yang terus menerus terjadi. Hal ini menunjukan bahwa secara keseluruhan pemerintah setempat belum terlalu efektif dalam mengurus mobilitas masyarakat sehari hari. 

Cibiru menjadi salah satu titik dari 30 titik kemacetan yang terjadi setiap harinya di Kota Bandung terutama pada jam berangkat dan pulang kerja, kawasan ini berubah menjadi antrean panjang kendaraan. Persimpangan yang semrawut akibat banyaknya parkir liar dan volume kendaraan yang terus meningkat membuat wilayah tersebut menjadi langganan kemacetan. 

Jika ditelusuri lebih dalam kemacetan bukanlah masalah yang bisa berdiri sendiri artinya ada faktor yang membuat kemacetan ini timbul dan membuat keresahan,salah satunya adalah tidak adanya aturan yang jelas hingga ketegasan dalam menindak. Sebenarnya dari dulu banyak sekali solusi yang telah di tawarkan oleh pemerintah seperti peningkatan transportasi publik,ganjil genap,sampai pembangunan jalan layang.

Namun  upaya rekayasa lalu lintas yang dilakukan pemerintah di beberapa lokasi itu tidak cukup efektif untuk setidaknya mengurangi masalah kemacetan di wilayah tersebut. Solusi penanganan seperti pengalihan  arus yang tidak efektif ini hanya memindahkan kepadatan dari satu titik ke titik lainnya, bukan mengurangi beban kendaraan yang melintas. 

Di tengah kemacetan yang memburuk, ketersediaan sarana  transportasi publik yang memadai   masih belum bisa menjadi solusi utama dalam mengatasi kemacetan. Hal ini menjadi pekerjaan rumah besar untuk pemerintah, banyak warga yang memilih untuk menggunakan kendaraan pribadi karena lebih nyaman,hemat dan juga mudah di jangkau.

Ketergantungan pada kendaraan pribadi seperti ini tanpa di sadari meningkatkan volume kendaraan di jalanan sehingga jalan yang kapasitasnya terbatas tidak mampu menampung lonjakan arus kendaraan. Perilaku semacam ini yang mengakibatkan kemacetan sangat sulit untuk dihindari seakan akan menjadi rutinitas di setiap perjalanan.

Kemacetan yang berkepanjangan ini tentu akan mempunyai dampak serius dan bisa menjadi bom waktu bagi masyarakat, Selain polusi udara dan masalah kesehatan kemacetan juga mengganggu mobilitas masyarakat,memicu stress,bahkan bisa menimbulkan kerugian ekonomi. Situasi ini seperti di biarkan saja menjadi rutinitas harian seolah ketika kita berpergian dan menemui kemacetan di jalan adalah hal normal padahal masalah sekecil ini bisa melahirkan masalah yang lebih kompleks.

Suasana  kemacetan pagi hari di sekitar Bundaran Cibiru (Sumber: Ariya Andhika | Foto: Ariya Andhika)
Suasana kemacetan pagi hari di sekitar Bundaran Cibiru (Sumber: Ariya Andhika | Foto: Ariya Andhika)

Jika kondisi seperti ini terus diabaikan oleh masyarakat maupun pemerintah, bukan hanya kualitas hidup yang akan menurun, tetapi pesona Bandung sebagai tempat tinggal yang nyaman dan pusat ekonomi kreatif sudah akan terlupakan. Hal ini sangat di sayangkan karena bandung dulu adalah kota yang diidam idamkan oleh para perantau karena pesonanya dan tata kotanya yang rapih. 

Pemerintah kota setempat terutama Wali Kota Bandung M. farhan  tentu menjadi pihak pertama yang di pertanyakan atas keterjadian hal tersebut,karena kebijakannya belum mampu mengatasi permasalahan yang sudah lama terjadi di kalangan masyarakat. Banyak sekali kritik pedas yang mengarah langsung kepada beliau karena di anggap lalai dalam menuntaskan permasalahan yang terjadi.

Baca Juga: Evaluasi Efektivitas Implementasi Kebijakan Sapoe Sarebu di Jawa Barat

Roda kepemimpinan Kota Bandung seperti tengah hilang arah dikarenakan pemerintah kota seperti labil dalam mengambil setiap putusan kebijakan dan tidak adanya konsistensi dalam penegakan aturan. Seperti dishub atau petugas kepolisian yang kadang ada dan kadang menghilang ketika kemacetan terjadi kerap mereka sering dijuluki polisi cepe.

Julukan tersebut menjadi sinyal bahwa kesabaran masyarakat menipis mereka ingin bandung yang lebih inovatif  juga produktif. Dalam artian mempunyai arah kebijakan yang jelas, Bukan hanya sekedar wacana yang berubah ubah. 

Oleh sebab itu pemerintahan Kota Bandung perlu bergerak cepat dan tegas untuk memperbaiki situasi ini.  Pembenahan menyeluruh hingga penegakan aturan yang tegas sangat dibutuhkan untuk mengembalikan Bandung menjadi kota yang nyaman dan tertata bagi warganya. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ariya Andhika
Tentang Ariya Andhika
Mahasiswa telkom university

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 15 Feb 2026, 18:35 WIB

Ramadan dan Energi Spiritual bagi Integritas ASN

Ramadan sebagai energi spiritual untuk memperkuat integritas ASN melalui kejujuran, pengendalian diri, dan empati demi pelayanan publik yang mampu.
Ilustrasi ASN. (Sumber: indonesia.go.id)
Bandung 15 Feb 2026, 17:21 WIB

Menjemput Hari Raya di Kota Kembang: Cerita dari Kerumunan Berburu ‘Baju Bedug’

Ada satu pemandangan yang mencuri perhatian di pertengahan Februari ini, yakni kerumunan muslimah yang menyemut demi tradisi berburu "baju bedug" lebih awal.
Gelaran Lozy Big Warehouse Sale Vol. 7 Bandung yang berlangsung pada 14 hingga 16 Februari 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Bandung 15 Feb 2026, 15:33 WIB

Kisah Kembang Tahu Pak Maman Bertahan sejak 1996 di Tengah Zaman yang Terus Berubah

Maman Rahman, seorang pedagang jajanan kembang tahu yang sudah berjualan sejak tahun 1996. Hampir genap 30 tahun lamanya usaha kuliner tradisional itu dirinya jalani.
Maman Rahman, seorang pedagang jajanan kembang tahu yang sudah berjualan sejak tahun 1996. Hampir genap 30 tahun lamanya usaha kuliner tradisional itu dirinya jalani. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 15:22 WIB

Dari Ngabeubeurang sampai Lilikuran Ramadan di Tatar Sunda

Berikut lima istilah Sunda yang hampir selalu terdengar menjelang, selama, hingga akhir Ramadan.
Berikut lima istilah Sunda yang hampir selalu terdengar menjelang, selama, hingga akhir Ramadan. (Sumber: Ilusrtasi dibuat dengan ChatGPT)
Bandung 15 Feb 2026, 14:45 WIB

Melenggang dari 1989, Begini Cara Nasi Goreng Zebbotz Bertahan hingga Tiga Dekade

Bukan anak kemarin sore merupakan istilah yang tepat untuk menggambarkan kelanggengan usaha nasi goreng Zebbotz.
Bukan anak kemarin sore merupakan istilah yang tepat untuk menggambarkan kelanggengan usaha nasi goreng Zebbotz. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 15 Feb 2026, 14:27 WIB

Sentra Keramik Kiaracondong Tinggal Bersisa Satu Tungku

Dari sekitar 30 pengrajin yang dahulu memenuhi kawasan ini, kini hanya tersisa satu tungku yang masih aktif menghasilkan panas untuk membakar.
Deretan keramik Haji Oma yang siap untuk dijual. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 11:40 WIB

Viaduct: Landmark Kota Bandung dan Kisah Cinta Soekarno

Di sekitar daerah tersebut pun ada Jalan yang cukup pendek yang dinamakan Jalan Viaduct. yang menghubungkan Viaduct ke Jalan Braga. 
Viaduct menghubungkan Jalan Suniaraja dengan Jalan Braga. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 15 Feb 2026, 08:49 WIB

Haji Oma: Napas Terakhir Keramik Kiaracondong

Satu per satu rekan dan kerabat Dikdik menyerah. Pabrik-pabrik ditutup, tungku-tungku dipadamkan. Kini, dari sekitar 30 pengrajin yang pernah berjaya, hanya satu yang masih bertahan.
Dikdik Gumilar meneruskan usaha ayahnya sebagai pembuat keramik yang terkenal dengan sebutan Keramik Haji Oma. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 07:26 WIB

Puasa 2026 di Bandung: Imlek & Cap Go Meh, Rabu Abu & Masa Pra Paskah, Nyepi & Lebaran

Tahun 2026 menjadi tahun yang unik secara religius, spiritual, dan kultural di Indonesia, termasuk di Bandung.
Pasar Cihapit. (Foto: Ayobandung.com/Kavin Faza)
Beranda 14 Feb 2026, 19:20 WIB

Bandung Review Membaca Risiko Cekungan, Gempa, dan Masa Depan Kota

Program ini awalnya digagas di Pustaka Selasar. Namun karena jumlah peserta kerap melebihi kapasitas, diskusi dipindahkan ke ruang yang lebih besar.
Geografiwan kawakan T Bachtiar di Bandung Review #006. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Bandung 14 Feb 2026, 13:19 WIB

Alasan Mengapa Bandung Menjadi Kunci Strategis Bagi Pertumbuhan Industri Purifikasi di Indonesia

Bandung bukan hanya sebagai pasar, melainkan sebagai barometer pertumbuhan industri home appliances berbasis teknologi kesehatan di Jawa Barat.
Bandung bukan hanya sebagai pasar, melainkan sebagai barometer pertumbuhan industri home appliances berbasis teknologi kesehatan di Jawa Barat. (Sumber: Coway)
Beranda 14 Feb 2026, 12:36 WIB

Cekungan Bandung: Catatan tentang Kota Kreatif yang Berdiri di Tengah Ancaman Geologis dan Minimnya Mitigasi

Namun di bawah beton dan aspal, tersimpan endapan lumpur puluhan ribu tahun yang menjadi fondasi kehidupan sekaligus potensi risiko.
Titi Bachtiar, anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 14 Feb 2026, 06:43 WIB

Di Sekitar PLTU, Warga Menanggung Risiko di Balik Pasokan Listrik

Selama batu bara masih menjadi tulang punggung sistem energi nasional, risiko paparan polusi terhadap warga di sekitar PLTU akan terus ada.
Peneliti Trend Asia, Bayu Maulana, menjelaskan bahwa Toxic 20 memetakan PLTU dengan tingkat pencemaran tertinggi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 21:23 WIB

Sebelum Kamu ‘Ngabuburit’, Kenalan Dulu dengan Bahasa Lokal yang Penuh Tradisi

Kata-kata itu bukan sekadar penanda waktu, melainkan penanda kebersamaan.
Masjid Raya Bandung. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 18:32 WIB

Asyik Numpeng

Dari sebakul nasi kuning itulah, Ramadan dimulai, hadir menyapa kaum muslimin.
Ilustrasi Tumpeng, Masakan Khas Indonesia yang Memiliki Banyak Filosofi. (Sumber: Unsplash | Foto: Inna Safa)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 15:55 WIB

Laladon, Endapan Ingatan dari Gempa 1699

Nama geografis Laladon, bertalian erat dengan kejadian gempa bumi besar yang mengambrolkan dinding utara Gunung Salak.
Desa Laladon di Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor. (Sumber: Citra Satelit Google maps)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 14:03 WIB

Munggahan dan 4 Kata yang Menandai Datangnya Ramadan di Indonesia

Selain munggahan, ada empat kata lainnya yang sering dipakai untuk menyambut bulan Ramadan.
Buah kurma. (Sumber: Unsplash | Foto: Rauf Alvi)
Beranda 13 Feb 2026, 11:09 WIB

Di Balik Toxic 20: Gugatan, Transparansi Data, dan Desakan Transisi Energi yang Lebih Adil

Dampak PLTU tidak hanya dirasakan langsung oleh warga sekitar, tetapi juga secara tidak langsung oleh wilayah lain, termasuk Kota Bandung.
Amplifikasi Isu dan Diskusi Publik Toxic 20 Jawa Barat di Gedung Indonesia Menggugat, 10 Februari 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 13 Feb 2026, 10:02 WIB

Dampak PLTU: Cerita Warga tentang Laut yang Menyempit, Sawah yang Melemah, dan Hutan yang Perlahan Terbuka

Kisah mereka datang dari wilayah berbeda, tetapi memiliki benang merah yang sama: perubahan lingkungan dan rasa cemas yang terus tumbuh.
Ilustrasi PLTU, bagi warga sekitar, cerobong itu adalah penanda perubahan yang tidak mereka minta. (Sumber: Unsplash | Foto: Marek Piwnicki)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 09:39 WIB

Betapa Pentingnya Belajar Menulis Copywriting

Sejak dulu, menulis membantu manusia mengabadikan ide dan mendorong kemajuan ilmu.
Rizki Sanjaya sedang memaparkan materi kepada para peserta Workshop Seni Menulis Copywriting. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Yogi Esa Sukma Nugraha)