Ada kenangan yang melekat dalam ingatan kolektif umat Islam, di mana sebingkai tasbih sering kali hadir dengan citra yang mendalam. Untaian-untaian kayu cendana yang mengeluarkan semerbak aroma, butiran yang makin halus oleh usapan tulus jari-jemari, dan bunyi "klik-klik" tenang yang setia menemani lantunan zikir. Ia bukan sekadar alat hitung belaka, melainkan menjelma bagaikan pengalaman sensorik dan spiritual yang sangat menyentuh. Namun, akhir-akhir ini, lahir "wajah baru" dari ritual yang tetap sama.
Sebuah perangkat kecil di genggaman, dengan layar kecil yang memancarkan cahaya dan tombol yang ditekan-tekan, menampilkan angka 33, 33, dan 34 – hitungan otomatis untuk dengungan tahmid, takbir, dan tahlil dibalik bibir yang bergerak perlahan. Inilah tasbih digital, sebuah perubahan sederhana yang merefleksikan pergeseran besar dan halus dalam praktik keberagamaan di tengah laju perkembangan teknologi yang tak terbendung.
Evolusi dari tasbih kayu ke digital bukanlah sekadar pertukaran bentuk materi dan cara penggunaannya saja. Ia bak cermin dari transformasi struktur kehidupan masyarakat modern. Mobilitas yang tinggi, kesibukan yang terfragmentasi, dan gaya hidup yang selalu terjaring membentuk tekanan baru: semua hal harus praktis, portabel, dan mudah diintegrasikan ke dalam hiruk-pikuk kesibukan yang padat. Wajah baru ini memberikan jawaban atas tuntutan ini dengan tepat. Ia bisa berbentuk perangkat mandiri, fitur dalam smartwatch, atau aplikasi di layar gawai.
Eksistensinya memungkinkan zikir yang dahulu sering disandingkang dengan ketenangan dan ruang khusus yang disediakan untuk berdifusi ke sela-sela kesibukan yang entah terasa tidak bisa dihindari saat ini – saat berkendara di gang-gang jalan perkotaan, menunggu antrean di warung makan, atau di jeda-jeda pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan. Hingga ibadah terasa lebih cair, lebih personal, dan lebih mudah dipertahankan kontinuitasnya dalam alur hidup yang serba cepat.
Namun, transisi ini tidak akan berjalan tanpa pertanyaan yang tak henti menghantui. Bagaimana dengan aspek kekhusyukan yang telah terbentuk dari pengalaman taktil memutar butir demi butir tasbih satu per satu? Apakah efisiensi digital mengikis kedalaman dan keheningan batin yang menjadi inti zikir yang selama ini kita pertahankan? Di sinilah muncul dialog yang penulis merasa tertarik, antara tradisi dan modernitas, antara bentuk dan makna. Penerimaan tasbih digital tidak serta-merta menunjukkan penerimaan yang naif atau penolakan yang keras. Yang terjadi adalah sebuah negosiasi budaya yang berjalan dinamis dan reflektif.

Di satu kutub, nilai-nilai modern seperti efisiensi, akurasi, dan kepraktisan sangat penting dan patut kita hargai. Sebagaimana kalkulasi otomatis mencegah kelalaian atau kesalahan penghitungan yang kita targetkan, sementara portabilitasnya memungkinkan ibadah dapat dilakukan di mana saja. Di kutub lain, ada kesadaran yang kuat bahwa esensi zikir terletak pada kehadiran hati (hudur al-qalb) dan penyandaran diri kepada Allah, bukan pada fisik alat yang digunakannya.
Teknologi, dalam hal ini, dipandang sebagai sarana yang netral – sebagaimana kalau kita ibaratkan pada pena untuk menulis atau mikrofon untuk berkhotbah di atas mimbar. Benda yang kita bicara ini tidak memiliki nilai intrinsic, melainkan nilainya ditentukan oleh bagaimana niat dan kesadaran penggunanya. Dengan demikian, perubahan ke tasbih digital tidak dipandang sebagai penggantian makna, melainkan sebagai adaptasi medium saja. Yang berubah hanya cara panggunaannya, bukan tujuaan pelaksanaannya, dan juga bukan isi yang dilantunkannya.
Kalau kita lebih jauh melihtnya dari sudut pandang sosiologis, tasbih digital merupakan sebuah artefak budaya yang menarik dan unik. Ia mampu merepresentasikan titik temu antara struktur kehidupan modern yang mobile dan serba cepat, dengan kultur keagamaan yang lentur dan kontekstual, serta proses adaptasi yang dibawa oleh inovasi teknologi. Ia memeberi pemahaman bagi kita bahwa agama bukanlah sistem yang mengkristal, tetapi tradisi hidup yang terus berdialog dengan perkembangan zamannya.
Tasbih digital menjadi bukti nyata bahwa umat Islam tidak sekadar menjadi objek pasif dalam beragama dan perubahan teknologi, tetapi aktif menyeleksi, mengadaptasi, dan menanamkan makna baru dalam kerangka spiritual.
Lebih dalam lagi, transformasi ini juga menadi factor perubahan proses ritual itu sendiri. Zikir yang kita kenal dahulu menekankan kekhusukan penuh dengan gerakan manual yang repetitif, kini bisa kita laksanakan dengan beban kognitif yang lebih ringan. Pikiran dibebaskan dari tugas menghitung, hingga lebih bisa berkonsentrasi pada esensi bacaan dan penghayatan. Ritual menjadi lebih mudah diakses, terutama bagi generasi kita yang sudah mulai tak terpisahkan dengan teknologi, dibalik tetap mempertahankan intinya, mengingat Allah. Dalam beberapa hal, justru kemudahan ini dapat mendunkung konsistensi (istiqamah) yang ruh dalam beribadah.
Baca Juga: Hayu Opsih
Hingga pada akhirnya, fenomena tasbih digital adalah salah satu contoh dari ijtihad kultural, sebuah usaha guna menemukan inovasi baru yang tetap setia pada inti ajaran. Ia menjelma sebagai simbol dari resilensi spiritual di era modern. Di mana kemampuan untuk tetap teguh dalam nilai-nilai yang tetap harus ditegakkan, sambil secara kreatif mengadaptasi ekspresinya.
Bagi generasi muslim saat ini, sebingkai tasbih bundar mungkin tidak lagi harus selalu beraromakan kayu cendana atau berbunyi gemericik yang mendampingi ketenangannya. Namun, motivasi untuk tetap istiqamah berzikir – mengingat Allah dalam setiap kondisi – senantiasa tetap dilestarika. Ia kini juga bersemayam di dalam gawai kecil, dengan ketukan jari di layar sentuh, dalam notifikasi yang berdenting pengingat yang halus.
Tasbih digital mengajarkan satu pelajaran penting bagi kita. Dalam menjawab perubahan zaman, yang paling hakiki bukanlah mempertahankan bentuk lahiriah secara kaku, melainkan menjaga kesinambungan makna. Ia menjadi alaram pengingat bahwa teknologi, ketika disikapi dengan kesadaran dan niatan tulus, dapat menjadi jembatan, bukan sebagai penghalang, menuju kedekatan dengan Yang Maha Kuasa. Di genggaman tangan yang sibuk, di saku celana, atau di sekotak ponsel, zikir tetap bergema dalam kesunyiannya. Ia telah menemukan wajahnya yang baru, untuk zaman yang baru, tanpa kehilangan wajah aslinya yang abadi. (*)