Kita hidup dalam labirin rencana, menyusun strategi dari Plan A hingga Z demi mengejar rasa aman. Namun, makin banyak rencana yang kita ikat, makin sering kita merasa tak tenang; cemas akan masa depan, gentar mendengar cemooh orang, hingga sesak ditekan tuntutan pekerjaan. Padahal, sekeren apa pun skenario yang kita tulis, Tuhan selalu punya cara untuk "mengambil alih" pena kita. Terkadang, Dia perlu mematahkan rencana kita agar kita terdampar di pulau kesunyian—tempat di mana kita dipaksa berhenti berlari hanya untuk menemukan siapa diri kita yang sebenarnya.
Lihatlah Chuck Noland dalam film Cast Away. Ia adalah representasi manusia modern yang memuja kesibukan dan menjunjung tinggi waktu di atas segalanya. Namun, saat ia merasa persiapannya sudah matang untuk terbang melintasi samudera, badai besar meruntuhkan segalanya. Pesawat itu jatuh, menyisakan Chuck seorang diri di sebuah pulau terpencil. Di sana, ia dipaksa mempelajari keadaan demi keselamatan hidupnya. Tak ada lagi asisten atau jam digital; yang tersisa hanyalah pohon kelapa dan ikan-ikan kecil yang ia tangkap demi mengganjal lapar. Kecelakaan itu bukan sekadar tragedi, melainkan bentuk intervensi Tuhan untuk membuktikan bahwa sehebat apa pun kendali manusia, tetap ada Zat Maha Kuasa yang memegang kemudi takdir.
Proses

pengasingan paksa yang dialami Chuck ini memiliki resonansi yang kuat dengan sejarah agung umat Islam. Berabad-abad silam, Rasulullah SAW memilih untuk mengasingkan diri dari hiruk-pikuk kaum Quraisy di keheningan Gua Hira. Langkah ini bukanlah sebuah pelarian dari pahitnya kenyataan, melainkan sebuah strategi agung untuk menjemput kejernihan wahyu dan mencari jati diri yang hakiki di hadapan Sang Pencipta.
Konsep menepi ini kembali hangat dibahas dalam program "Escape" di kanal YouTube Raymond Chin bersama Ustaz Felix Siauw. Dalam diskusinya, beliau menekankan bahwa penjara terbesar adalah pikiran kita sendiri yang sering kali dibatasi oleh sistem pendidikan atau lingkungan.
Selama 11 bulan, kita sering kali hanya menjadi 'peserta ujian' yang pasif di sekolah kehidupan; terkurung dalam pilihan ganda yang disodorkan lingkungan dan ekspektasi orang lain. Kita memilih jalan A, B, atau C bukan karena itu keputusan kita, melainkan karena hanya itu pilihan yang tersedia di atas kertas. Maka, Ramadan hadir sebagai 'pulau terpencil' yang sengaja dikirimkan Tuhan.
Di bulan suci ini, kita dipaksa untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia yang menyesakkan. Inilah momen repurpose—saatnya menata ulang serakan rencana hidup yang mungkin selama ini berantakan. Jika Chuck Noland di film Cast Away harus kehilangan segalanya untuk menemukan arti sebuah napas, maka kita diberikan satu bulan khusus untuk melepas belenggu pikiran dan kembali menyusun tujuan hidup yang lebih bermakna di hadapan-Nya.
Namun, menepi juga harus memiliki tujuan yang jelas. Jangan sampai "Escape" kita hanya sekadar ikut-ikutan tren atau malah membuat kita hilang arah seperti fenomena "Nihilis Penguin" yang dibahas Eno Bening. Di mana seekor penguin mengasingkan diri dari kawanannya karena disorientasi, bukan karena perjuangan. Ia berjalan menuju gunung es yang sunyi hanya karena linglung; ia menepi menuju kehancuran, bukan pencerahan. Jangan sampai atas nama self-healing, kita justru hanya lari tanpa kompas, yang akhirnya malah membuat kita karam dalam kesunyian yang sia-sia.
Baca Juga: Ketika Iklan Sirup Jadi Penanda Ramadan Sudah Dekat
Menjelang Ramadan yang kian mengetuk pintu, alangkah indahnya jika kita mulai menanam benih kesadaran dari sekarang. Sebuah benih penguatan diri yang tak hanya tumbuh subur di musim perayaan, tapi mengakar kuat dalam kejujuran. Ramadan seharusnya lebih dari sekadar riuh rendah rencana buka bersama, atau sekadar euforia memburu baju baru demi pengakuan mata manusia.
Inilah saatnya memperbarui iman, sebagaimana Chuck Noland memperbarui harapannya di tengah samudra yang luas. Jadikan satu bulan ke depan sebagai "Gua Hira" pribadi untuk menata ulang rencana yang sempat patah. Pada akhirnya, biarkan Ramadan membantu kita untuk keluar dari penjara pikiran, agar saat hari kemenangan tiba, kita tak lagi berdiri di persimpangan jalan dengan jiwa yang bimbang, melainkan dengan arah hidup yang jauh lebih terang. (*)