AYOBANDUNG.ID -- Di tanah Sunda, Ramadan bukan sekadar bulan ibadah. Periode ini hadir sebagai perubahan ritme, baik ritme waktu, ritme suara, dan ritme sosial, yang bahkan terekam dalam kosakata sehari-hari. Bahasa Sunda menyimpan jejak pengalaman kolektif itu melalui kata-kata berawalan “nga-”: ngabuburit, nyubuh, ngabeubeurang, ngadulag. Setiap istilah bukan hanya penanda aktivitas, melainkan arsip budaya yang hidup.
Ambil contoh ngabuburit. Di kota seperti Bandung, kata ini menjelma fenomena sosial. Menjelang magrib, orang-orang bergerak ke ruang publik: alun-alun, taman kota, trotoar yang dipenuhi pedagang takjil. Aktivitas “menunggu” berubah menjadi peristiwa kolektif. Anak muda berjalan santai, keluarga duduk beralas tikar, pedagang meracik kolak dan es buah. Dalam satu-dua jam sebelum azan, terjadi perputaran ekonomi musiman yang signifikan. Ramadan menciptakan pasar temporer yang fleksibel, cair, dan berbasis kebutuhan emosional sekaligus spiritual.
Namun Ramadan tidak hanya tentang senja. Ada juga nyubuh, istilah yang merujuk pada aktivitas selepas sahur dan salat Subuh. Di kampung-kampung, suasana pagi Ramadan terasa berbeda: lebih hening, tetapi juga lebih intim. Sebagian warga memilih tetap terjaga, berbincang ringan di teras masjid atau rumah. Anak-anak yang biasanya sulit bangun pagi justru tampak antusias. Dalam ruang ini, waktu seakan melambat. Subuh menjadi titik temu antara kesadaran spiritual dan solidaritas sosial.
Siang hari menghadirkan istilah lain: ngabeubeurang. Secara literal berarti “menjalani waktu siang”, tetapi dalam konteks Ramadan, istilah ini memuat makna ketahanan. Bekerja, belajar, atau berdagang sambil menahan lapar dan dahaga menjadi pengalaman kolektif. Ritme produktivitas sering kali menyesuaikan: tempo sedikit lebih landai, percakapan lebih hemat energi. Di sini, puasa bukan hanya ritual privat, melainkan kontrak sosial yang disepakati bersama. Semua orang memahami kondisi satu sama lain.
Ketika malam tiba, lanskap suara berubah. Tradisi ngadulag (menabuh bedug untuk membangunkan sahur) masih bisa ditemui di sejumlah kampung Priangan. Anak-anak dan remaja berkeliling dengan tabuhan sederhana, kadang diselingi tawa dan gurauan. Bedug menjadi penanda waktu sekaligus simbol kebersamaan. Meski pengeras suara dan alarm ponsel semakin dominan, bunyi dulag tetap memiliki daya emosional yang khas: mengikat memori kolektif lintas generasi.
Selepas tarawih, masjid bertransformasi menjadi ruang pendidikan dan interaksi melalui tadarusan. Remaja duduk melingkar, membaca Al-Qur’an bergiliran hingga larut malam. Di sela bacaan, ada canda, ada koreksi tajwid, ada teh hangat yang dibagi rata. Ramadan menghidupkan kembali fungsi masjid sebagai pusat pembelajaran informal.
Memasuki sepuluh malam terakhir, suasana mencapai puncaknya pada malam nujuh likur (malam ke-27 Ramadan). Di beberapa perkampungan, warga menyalakan lampu minyak atau obor sebagai simbol menyambut kemungkinan turunnya Lailatul Qadar. Cahaya-cahaya kecil itu membentuk lanskap puitik di antara gelapnya malam. Tradisi ini sederhana, tetapi sarat makna: harapan akan keberkahan dan ampunan.
Ada pula praktik nganteuran, mengantar makanan berbuka kepada tetangga. Piring dan rantang berpindah tangan, sering kali tanpa perhitungan setara. Hari ini mengirim kolak, besok menerima gorengan atau lauk sederhana. Pola distribusi ini memperlihatkan ekonomi berbasis kepercayaan. Nilainya tidak selalu diukur dalam rupiah, melainkan dalam rasa saling memiliki.

Sebagai contoh, berikut ini delapan istilah Sunda selama Bulan Puasa:
1. Ngabuburit
Aktivitas menunggu waktu magrib menjelang berbuka. Di kota seperti Bandung, praktik ini berkembang menjadi fenomena ruang publik: alun-alun, taman kota, hingga kawasan kuliner dadakan.
Secara ekonomi, ini menciptakan pasar musiman untuk pedagang takjil, UMKM minuman manis, hingga parkir dadakan.
2. Nyubuh
Istilah untuk aktivitas selepas sahur dan salat Subuh, sering diisi dengan pengajian atau tetap terjaga hingga pagi. Di beberapa kampung, ini menjadi momen interaksi sosial antarwarga sebelum aktivitas kerja dimulai.
3. Ngabeubeurang
Secara literal berarti “beraktivitas di siang hari.” Dalam konteks Ramadan, ini merujuk pada bagaimana orang menjalani rutinitas sambil berpuasa—dengan ritme kerja yang kadang lebih lambat dan suasana yang lebih tenang.
4. Ngadulag
Membangunkan sahur dengan menabuh bedug keliling kampung. Biasanya dilakukan anak-anak dan remaja. Tradisi ini khas berlangsung selama Ramadan saja.
5. Tarawih Keliling
Salat tarawih berpindah-pindah dari satu musala ke musala lain dalam satu kampung. Selain ibadah, ini memperkuat solidaritas lokal.
6. Tadarusan
Membaca Al-Qur’an bersama selepas tarawih hingga larut malam. Masjid berubah menjadi ruang pendidikan dan ruang sosial.
7. Malam Nujuh Likur
Tradisi malam ke-27 Ramadan, dengan menyalakan lampu atau obor sebagai simbol menyambut Lailatul Qadar. Biasanya dilakukan di perkampungan Sunda.
8. Nganteuran (Berbagi Hidangan Buka)
Mengantar makanan berbuka ke tetangga. Praktik distribusi pangan berbasis solidaritas ini muncul hampir eksklusif selama Ramadan.
Baca Juga: Ketika Lema Arab Menjadi Milik Indonesia: Perjalanan Kosakata Ramadan
Menariknya, hampir semua istilah itu berawalan “nga-”, bentuk morfologis yang menandai tindakan. Awalan itu mengubah konsep menjadi aksi, waktu menjadi pengalaman, dan individu menjadi bagian dari kolektif.
Modernisasi tentu membawa perubahan. Di pusat kota, ngabuburit bisa beralih menjadi agenda komersial; ngadulag tergantikan notifikasi digital; tadarusan bersaing dengan gawai. Namun esensinya tetap bertahan: Ramadan sebagai momentum memperlambat diri dan memperkuat relasi.
Dari subuh hingga malam, dari bunyi bedug hingga cahaya obor, Ramadan menata ulang kehidupan sehari-hari. Dan dalam setiap kata berawalan “nga-”, tersimpan cerita tentang bagaimana masyarakat merawat tradisi, menegosiasikan perubahan, dan menjaga kebersamaan di tengah arus zaman. (*)