KISAH Ramadan sebulan penuh secara tak sadar sebenarnya sudah terangkum dengan bagus dan begitu indah pada lirik lagu Gigi, Lebaran Sebentar Lagi.
Lagu Lebaran Sebentar Lagi merupakan salah satu lagu remake dari band Gigi yang sebelumnya dinyanyikan pertama kali oleh Bimbo.
Cerita Ramadan dari tahun ke tahun adalah kisah yang diulang-ulang oleh pelaku dan tempat yang berbeda. Kisah-kisah baru—seperti puasa di era medsos—muncul, tetapi tetap tidak mengganggu “batang tubuh” dari kisah dalam lagu Lebaran Sebentar Lagi.
Mari kita simak liriknya di minggu-minggu pertama Ramadan.
Lebaran sebentar lagi
Berpuasa dengan gembira
Menahan lapar, menahan nafsu
Melatih diri sedari kecil
Membaca Quran, shalat Tarawih
Melatih iman sedari kecil
Siapa yang tidak senang dan gembira dengan kedatangan “Tamu Agung” Ramadan? Kedatangan Ramadan disambut dengan berbagai tanda—salah satunya dengan Iklan sirup dan sarung di televisi. Lalu, pemerintah melakukan sidang Isbat. Ada perbedaan kapan mulai Ramadan tidak menjadi masalah.
Di kampung-kampung suara lodong mulai menggema. Di kota-kota orang-orang “malu-malu” menyalakan petasan. Lalu, azan Magrib menjadi peristiwa yang ditunggu-tunggu.
Saat berbuka puasa—dengan apa pun—terasa selalu nikmat. Di malam hari, anak-anak masjid berkeliling kampung memukul kentongan membangunkan warga untuk makan sahur. Berlanjut dengan shalat subuh berjamaah di masjid.
Esoknya ngabeubeurang. Setelah Asar, jalan-jajan takzil sambil ngabuburit. Tadarus Al-Quran. Mendengarkan kultum. Shalat Tarawih bersama-sama.
Lebaran sebentar lagi
Sesudah saling bermaafan
Dengan penuh keikhlasan
Ya Tuhan, mohon keridhoan
Sepenuh kasih dan sayang
Di minggu-minggu pertengahan Ramadan mulai terasa Lebaran sebentar lagi. Dulu, di saat-saat seperti ini mulai saling berkirim kartu lebaran. Orang-orang saling memaafkan lewat kartu. Petugas pos sibuk mengantarkan kartu. Kini, media saling memaafkan itu tergantikan dengan media sosial: Wa, FB, Instagram, tiktok.

Di masjid shaf jamaah shalat Tarawih mulai berkurang. Acara buka Puasa Bersama diadakan di mana-mana oleh berbagai komunitas. Menjelang waktu berbuka, jalanan macet—orang-orang ingin cepat berbuka. Restoran, kafe, dan rumah makan marema.
Lebaran sebentar lagi
Tak ada miskin, tak ada kaya
Semua sama di depan Tuhan
Yang berbeda cuma amalnya
Semua ingin Lailatul Qadar
Semoga kita mendapatkannya
Minggu-minggu terakhir Ramadan, pusat-pusat perbelanjaan mulai diserbu. Tapi, kini, aktivitas itu mulai berkurang. Gantinya para pengantar paket mulai menyerbu ke berbagai pelosok. Tok … tok … paket!
Kita perlu kebutuhan Lebaran tinggal ketik di hape. Dalam beberapa hari, pesanan kita diantar tukang paket. Barang apa pun, dari baju koko, hingga kue Lebaran.
Di sepuluh hari terakhir—terutama di malam ganjil—tampak ada aktivitas memburu malam Seribu Bulan, Lailatul Qadar. Orang-orang beriktikaf dan bertadarus Alquran di masjid. Juga ada aktivitas menampung dan menyalurkan zakat fitrah. Malam Lebaran, suara takbir menggema di setiap masjid.
Baca Juga: Siwok Cante, Konsep Puasa dalam Masyarakat Sunda Pra-Islam
Esoknya Lebaran pun tiba. Di lapangan shalat Idul Fitri. Saling bermaafan.
Lebaran sebentar lagi
Tak ada miskin, tak ada kaya.
Semua sama di depan Tuhan.
Yang berbeda cuma amalnya.
(Lebaran sebentar lagi) lebaran sebentar lagi. (*)