Ayo Netizen

Perang, Arang, dan Haruedang

Oleh: Ibn Ghifarie Jumat 06 Mar 2026, 20:23 WIB
Anak-anak yang tergabung dalam Komunitas Hong sedang asyik bermain kaulinan tradisional, babalonan sarung. (Sumber: AyoBandung | Foto: Danny)

Februari tahun 2026 ini, dunia internasional menyaksikan bagaimana pasukan militer Amerika Serikat dan Israel, melakukan agresi ke Teheran, menyebabkan Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran, meninggal dunia akibat serangan udara, Sabtu (28/2/2026).

Tindakan agresi Amerika Serikat saat ini ke Republik Islam Iran telah menciptakan suasana perang yang tentu akan memberikan berbagai implikasi luas, mengingat perang itu bisa berlangsung cukup lama.

Agresi yang melahirkan perang dan menyerang kedaulatan suatu negara tidak dapat dibenarkan. Namun, nilai-nilai, spirit, semangat (Dasa Sila Bandung) hasil Konferensi Asia Afrika maupun aturan internasional lainnya kini begitu mudah diabaikan dengan membangun alasan dan kekuatan yang dimiliki oleh negara agresor.

Pada akhirnya, agresi ini memaksa kita untuk merenung. Apakah kita benar-benar hidup di era kemajuan, ataukah kita sedang bergerak mundur menuju kebiadaban yang terbungkus teknologi modern? Ketika kekuasaan merasa lebih tinggi dari keadilan, maka kemanusiaan sedang berada di ambang kematian yang paling sunyi. 

Keheningan dunia atas agresi ini menjadi bentuk pengkhianatan terhadap hati nurani kita sendiri sebagai makhluk yang beradab dan menjunjung tinggi harkat manusia. (Pikiran Rakyat, Senin 2 Maret 2026.

Suasana malam yang semakin dingin itu, selesai menemani belajar dan menyiapkan pelajaran untuk ujian esok hari. Saat asyik membaca tajuk Pikiran Rakyat ini, Aa Akil, anak kedua (11 tahun), tiba-tiba bertanya dengan nada polos,

“Bah, Iran sama Amerika sedang perang, kan? Banyak yang meninggal ya?”

Muhun,” jawabku singkat.

Bocah kelas lima itu bertanya lagi, dengan rasa ingin tahu yang lebih dalam, “Kalau dulu, waktu bulan puasa, pernah terjadi peperangan kan?”

Posisi duduku mencoba mendekat dan menjelaskannya secara pelan-pelan,

“Aya…A! Perang Badar, Fathu Makkah.”

Terdiam sejenak, lalu kembali bertanya dengan logika khas anak-anak,

“Kalau ‘war tajik’ itu masuk ke dalam peperangan, tidak?”

Sambil tersenyum dan membelai rambutnya, “Nu eta mah paboro-boro emameun A.”

Namun pertanyaannya belum berhenti. Dengan mata yang masih penuh rasa ingin tahu, terus berkata, “Zaman Babah kecil, ada tidak cerita seperti ‘war tajik’ itu?”

Pertanyaan sederhana itu justru membuatku terdiam sejenak dan pikiran melayang pada suasana Ramadan di pedesaan, tepatnya di Bungbulang Garut Pakidulan tahun 1990-an. Tergambar dengan jelas kecerian saat puasa di lembur dengan segala aktivitas uniknya, mulai dari parebut mix, toa (untuk selawatan, nazoman, pupujian), panakol (kohkol, bedug), paboro-boro hafalan, doa, surat-surat pendek, saling berdesakan, rebutan tanda tangan ajengan, ngalap berkah (tumpeng, nasi kuning) sampai tegangnya aksi perang sarung. 

1.      Rebutan Mix, Toa Masjid

Memang di setiap masjid, musala, surau pedesaan di Tatar Sunda, tradisi melantunkan pupujian, nadoman telah lama menjadi bagian dari denyut kehidupan beragama. Pasalnya, hadir di sela-sela waktu antara azan dan iqamah. Jeda singkat yang diisi dengan lantunan nasihat, doa, dan pujian kepada Allah SWT, kecintaan terhadap Rasul SAW. Pada bulan Ramadan, tradisi ini terasa semakin hidup. Pupujian biasanya terdengar selepas imsak dan setelah salat tarawih, yang menambah semarak suasana ibadah di malam dan dini hari.

Waktu sekitar sepuluh menit menjelang salat Subuh dari imsak, azan hingga iqamah sering menjadi momen yang paling dinantikan, terutama oleh barudak. Kadang marbot yang melantunkan pupujian, tidak jarang pula anak-anak yang mengambil giliran. Dari pengeras suara masjid, menyuarakan ajakan untuk salat berjamaah, pengingat agar umat terus beribadah, dorongan untuk meningkatkan kualitas iman dan takwa.

Dalam nadoman yang sederhana itu, tersimpan pula ungkapan kerinduan umat kepada baginda Rasulullah SAW. Menariknya, sebagian besar syair dan nasihat yang dinyanyikan itu telah melekat di ingatan yang sudah dihafal di luar kepala, diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Semua pupujian itu pada hakikatnya menjadi bagian dari syiar Islam yang berusaha menghidupkan suasana Ramadan, membuat masjid terasa lebih hangat dan meriah dengan nuansa keislaman yang khas. Di sanalah terasa betapa bulan suci ini bukan sekadar waktu untuk menahan lapar dan dahaga, tetapi menjadi momentum memperindah kebersamaan dalam ibadah. Bulan yang penuh berkah, rahmat, dan ampunan.

Sungguh di balik kesyahduan itu, terselip cerita kecil yang indah dan mengundang senyum dan gelak tawa. Pernah suatu ketika, saat pupujian Eling-eling Umat dilantunkan, terjadi “rebutan mix” toa masjid. Masalahnya sebenarnya sederhana, nada yang dikeluarkan Ujang dianggap terlalu kecil, sehingga harus diulang.

Tanpa basa-basi, koordinasi dengan Marbot, Mang Apud, Ase, beberapa tangan mungil berebut mengatur mix pengeras suara. Akibatnya, suara yang keluar justru tidak jelas, ngahiung, bergaung tak beraturan. Pengurus masjid tidak marah, malahan tersenyum sambil berkata, “Wios engke dilereskeun!”

Salah satu lapak pedagang kulit dan bedug di Jalan Ir. H. Djuanda, Linggajaya, Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, Kamis, 29 April 2021). (Sumber: Ayotasik.com | Foto: Heru Rukanda)

2.      Mencari Panakol Kohkol dan Bedug

Keberadaan kohkol dan bedug di perkampungan di Tanah Pasundan bukan sekadar alat bunyi biasa. Melainkan keduanya menjadi media komunikasi tradisional yang hidup (tumbuh) sejak lama menyatukan dengan denyut kehidupan masyarakat Muslim perdesaan.

Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Asep S. Muhtadi, pernah menegaskan kohkol dan bedug merupakan sarana komunikasi yang sarat makna. Saat bedug ditabuh dalam tradisi ngadulag, bunyinya tidak sekadar memecah sunyi malam, tapi membawa pesan utuh.

Ngadulag adalah tradisi menabuh bedug secara terus-menerus dengan irama tertentu. Biasanya dilakukan pada bulan Ramadan, selepas salat tarawih, menjelang sahur untuk membangunkan warga yang masih terlelap.

Rupanya, di balik bunyi yang terdengar sederhana itu, sesungguhnya tersimpan etika dan aturan yang ketat. Bedug tidak boleh ditabuh sembarangan. Pasalnya, setiap irama memiliki arti, setiap ketukan memuat pesan. Masyarakat desa memahami bahasa bunyi itu sebagaimana mereka memahami bahasa lisan. Pengetahuan itu terus diwariskan (dijaga, dirawat) secara turun-temurun, dari orang tua kepada anak-anak, dari para leluhur kepada generasi penerusnya, melalui tradisi lisan yang terus hidup dan dipelihara.

Dengan begitu kohkol dan bedug memiliki posisi yang istimewa. Keduanya biasanya berada di masjid, menjadikan tajug, musala bukan hanya pusat ibadah, melainkan puser kehidupan sosial masyarakat. Dalam banyak peristiwa, kohkol dan bedug menjadi simbol keagamaan yang memainkan peran sosial yang sangat strategis.

Bagi warga desa, bunyi kohkol mengandung isyarat tertentu. Jumlah pukulan dan iramanya menjadi kode yang dimengerti bersama, mulai dari menandai waktu salat, memberi kabar kematian, memperingatkan kebakaran, termasuk menyampaikan informasi penting lainnya. Ya semacam sistem komunikasi kolektif yang sederhana, tetapi efektif di pedesaan.

Saking kuatnya kedekatan masyarakat dengan bedug, hingga kehadirannya hampir tak tergantikan oleh teknologi modern. Seorang modin (muazin) merasa belum pantas mengumandangkan azan sebelum lebih dulu memukul kohkol, bedug, meskipun waktu salat telah tiba. Bedug menjadi penanda sakral yang membuka ruang bagi panggilan ibadah. (Julia Millie dan Dede Syarif (editor), 2015:117-123).

Saat bulan Ramadan, bedug semakin sering ditabuh. Irama-irama khas yang teratur membentuk semacam musik tradisional yang akrab di telinga warga kampung. Suaranya tidak hanya mengajak orang beribadah, tetapi berusaha menghadirkan suasana kebersamaan yang hangat.

Memang selalu ada kenangan kecil yang hidup dalam ingatan tempo dulu. Suasana yang dingin dan ngaririncik hujan waktu itu, selesai salat tarawih, anak-anak tidak langsung pulang ke rumahnya masing-masing, malah tiba-tiba sibuk mencari panakol, alat pemukul kohkol dan bedug yang biasanya tergantung di tempatnya.

Malam itu entah siapa yang memindahkannya. A Ipan, anak Ua, dengan sedikit keberanian, mendekati marbot masjid, Mang Ase.

“Panakolna aya, Mang?” tanyanya.

Setelah dicari-cari, akhirnya panakol ditemukan. A Ipan berlari sambil berseru riang gembira, “Ieu panakolna!”

Belum sempat disepakati siapa yang memainkan, anak-anak sudah berkumpul, hingga berebut memukul kentongan, menabuh bedug dengan penuh semangat tanpa henti.

“Hayu urang ngadulag ayeuna mah!”

Riuh suara bedug malam itu bukan sekadar bunyi. Justru menghadirkan kegembiraan yang polos, kebersamaan yang lahir dari tradisi, dan kenangan masa kecil yang tak lekang oleh waktu.

Ya di setiap pukulan kohkol, ketukan bedug, tersimpan jejak tradisi, gema spiritualitas, dan kisah tentang masyarakat yang belajar mendengar bukan hanya dari suara, melainkan makna yang bergetar di baliknya.

Asyiknya berburu tanda tangan setelah salat tarawih (Sumber: Instagram@muslimvox | Foto: Hasil tangkapan layar)

3.      Berburu Tanda Tangan Ajengan

Ada suasana ketika Ramadan tidak hanya dipenuhi oleh lantunan doa, bacaan Alquran, pupujian, nazoman, tetapi diisi oleh kegembiraan kecil anak-anak di serambi masjid. Salah satunya tradisi berburu tanda tangan imam (ajengan) setelah salat tarawih dan witir. Bagi banyak anak, kegiatan ini bukan sekadar tugas sekolah biasa, melainkan pengalaman sosial yang hangat. Perjumpaan sederhana antara murid dengan guru di masjid.

Bada salat tarawih, anak-anak biasanya bergegas mendekati imam, ajengan. Di tangannya  tergenggam selembar kertas dan pulpen. Dengan wajah penuh harap, menyodorkan kertas (buku ramadannya) untuk ditandatangani. Di dalam kertas itu tercatat hari dan tanggal pelaksanaan tarawih, nama imam, penceramah, hingga tema ceramah yang disampaikan malam itu.

Tradisi ini pernah hidup di berbagai tempat. Untuk di Aceh Tengah, misalnya, anak-anak terlihat melakukan kebiasaan itu di sejumlah masjid dan mushala, termasuk di Masjid Agung Ruhama Takengon. Mengantre dengan tertib, menunggu giliran mendapatkan tanda tangan. Kertas yang dikumpulkan menjadi bukti telah menghadiri salat tarawih dan menyimak ceramah Ramadan.

Bagi sekolah, aktivitas ini menjadi cara sederhana untuk menumbuhkan kedisiplinan ibadah. Namun bagi anak-anak, maknanya jauh lebih luas. Pasalnya, ada rasa bangga ketika pulang dengan kertas yang penuh tanda tangan imam dan penceramah. Ada pula kegembiraan sebab bisa berinteraksi langsung dengan tokoh yang dihormati, dituakan di masjid. (RRI 26 Mar 2025 10:54 WIB)

Untuk di kampung halamanku, yang terkenal dengan laut, pantai Puncak Guha, Leuwi Jurig. Aktivitas berburu tanda tangan sering berlangsung di Masjid Darussalam, Kaum Masjid Agung, dan Masjid Mujahidin. Tradisi itu menjadi bagian dari dinamika Ramadan anak-anak kampung.

Ada cerita kecil yang hingga kini masih mengundang tawa. Anak-anak Darussalam, Bardal (barudak Darussalam) pernah membuat kesepakatan unik untuk memotivasi diri dalam belajar dan beribadah. Jika ada teman yang tidak mendapatkan tanda tangan dikarenakan tidak mengikuti tarawih, datang terlambat, maka akan “dihukum” dengan corengan arang di wajahnya.

Malam itu, anak yang dikenal dengan sebutan Udi Camerong datang terlambat. Alasanya tidak mendapat tanda tangan, wajahnya penuh dicoret arang oleh teman-temannya. Kejadian itu ternyata diketahui oleh ajengan. Rupanya, tidak dimarahi, ajengan, marbot malahan tersenyum dan memberikan dukungan. Bagi orang tua, semangat anak-anak untuk hadir di masjid jauh lebih penting dan patut dirawat, daripada melarang permaian arang. Masjid tidak hanya menjadi ruang ibadah, justru menjadi ruang tumbuh bagi kenangan masa kanak-kanak yang indah.

Menariknya, di tengah gempuran teknologi digital, tradisi semacam ini ternyata tidak sepenuhnya hilang. Dalam video yang beredar di media sosial, terlihat mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengantre meminta stempel, tanda tangan dari imam setelah salat tarawih.

Suasana itu tampak seperti “fansign” dadakan. Para mahasiswa bergantian menghampiri ustaz untuk meminta pengesahan di buku masing-masing sebagai bukti pemenuhan tugas salah satu mata kuliah. Dalam unggahan akun TikTok @alfatizl, momen luar biasa itu disertai caption ringan, “Mahasiswa YU EM ES juga ada fansign loh cik.”

Tentunya, video itu menarik perhatian publik dan ditonton ratusan ribu kali. Banyak warganet merasa terkejut, karena mengira tradisi seperti ini hanya dilakukan oleh anak-anak sekolah dasar dulu. Sebagian lainnya justru menanggapi dengan humor, melihat para mahasiswa yang sudah dewasa, bahkan ada yang berambut gondrong masih mengantre meminta tanda tangan imam tarawih.

Namun di balik kelucuannya, ada pesan sosial yang menarik. Aktivitas ini memperlihatkan kedekatan antara jamaah dan imam. Ada suasana hangat yang lahir dari interaksi sederhana setelah ibadah. (instagram@muslimvox dan www.sekitarbandung.com)

Tanda tangan imam, ajengan sebenarnya bukan sekadar coretan tinta di atas kertas, melainkan simbol kedekatan, penghargaan, dan kenangan tentang Ramadan yang dijalani bersama.

Ilustrasi Tumpeng, Masakan Khas Indonesia yang Memiliki Banyak Filosofi. (Sumber: Unsplash | Foto: Inna Safa)

4.      Numpeng, Ngala Barokah

Khatam Alquran pada bulan Ramadan tidak hanya menjadi peristiwa spiritual, justru kerap dirayakan sebagai momen syukuran bersama. Salah satu caranya dengan (tradisi) menyajikan nasi kuning berbentuk tumpeng, (numpeng), nasi besar. Tumpeng ini melambangkan rasa syukur, kemakmuran, dan kebahagiaan atas selesainya pembacaan 30 juz Alquran.

Di Kota Batam, Kepulauan Riau, masyarakat Melayu melestarikan tradisi khatam Alquran dengan prosesi memotong nasi besar. Kendati namanya nasi besar bukan berarti sangu yang berukuran raksasa, melainkan hidangan yang disajikan dalam acara-acara kebesaran. Tradisi ini telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda dari Batam.

Nasi besar diletakkan di atas pahar, dulang berkaki yang menjadi wadah kehormatan. Sanguna dibentuk menyerupai bukit, dihiasi rangkaian bunga di puncaknya. Di sekeliling pulut kuning ditancapkan bunga telur bertangkai dalam jumlah ganjil, biasanya maksimal 25 butir telur rebus yang melambangkan jumlah nabi dan rasul. Dalam tradisi ini, khatam Alquran ditutup dengan pemotongan nasi besar sebagai simbol syukur atas upaya menjaga warisan budaya masyarakat Melayu. (Antara  8 April 2022 21:00 WIB)

Untuk di daerah Pakidulan yang terkenal sebagai pusat penghasil batu akik legendaris, Pancawarna dan Hijau Garut (Ijo Ohen), tradisi serupa hadir dalam bentuk numpeng nasi kuning. Biasanya digelar pada malam Nuzulul Quran, (malam ke-17 Ramadan), sebagai ungkapan rasa syukur atas turunnya Alquran. Kadang pula berlangsung pada malam lilikuran, setelah khataman Alquran selesai, ngadeures, setelah salat tarawih, (setelah) salat subuh.

Syukuran itu sederhana. Selametan di masjid dipimpin langsung ajengan, sambil khataman Alquran. Untuk yang dilaksanakan di rumah tumpeng dibagikan kepada sanak saudara, handai tolan, dan sebagian dikirimkan kepada ajengan. Dalam kesederhanaannya, tradisi ini menyimpan kehangatan kebersamaan. Cara masyarakat menghidupkan nilai berbagi di bulan yang penuh berkah.

Bagi anak-anak, malam Nuzulul Qur’an, malam lilikuran menjadi waktu yang ditunggu-tunggu. Bukan hanya karena suasananya meriah, tetapi hidangannya yang istimewa. Nasi kuning lengkap dengan ikan, ayam, (bakakak hayam). Ada kegembiraan kecil yang tumbuh di antara gelak tawa dan aroma masakan.

Biasanya ajengan akan diberi satu nampan besar (nyiruan) oleh warga, jamaah masjid, tapi pun guru  hanya mengambil beberapa suap saja. Sisanya menjadi rebutan anak-anak, orang tua, dan para pemuda. Barudak berebut dengan riang, bukan semata-mata karena lapar, melainkan ingin ngalap berkah, mengambil keberkahan dari hidangan yang telah didoakan.

Ingat, dalam tradisi khatam Alquran sendiri terdapat banyak keutamaan. Mengkhatamkan Alquran termasuk amalan yang dicintai Allah. Orang yang menghadiri majelis khataman diibaratkan ikut dalam pembagian ghanimah. Mendapatkan doa dan salawat dari para malaikat, berusaha meneladani sunah Rasulullah SAW.

Stop Perang Sarung: Saatnya Berubah dan Ciptakan Kedamaian! (Sumber: Instagram @humaspoldajabar)

5.      Perang (Babalonan) Sarung

Maraknya aksi perang sarung menjadi tanda krisis tempat bermain anak dan kegelisahan di tengah masyarakat benar-benar terjadi. Padahal, dahulu aktivitas yang dilakukan anak-anak, remaja sekadar untuk mengisi waktu selepas salat tarawih, kini berubah arah. Dari permainan ringan yang disertai tawa, menjelma menjadi aktivitas berbahaya yang memicu tawuran, hingga kematian.

Sarung yang dahulu hanya menjadi alat permainan sederhana mengalami perubahan fungsi. Jika sebelumnya sarung hanya dipelintir lalu dipukulkan secara ringan, sekarang dalam beberapa kasus sarung diisi batu, benda keras (gir) sebelum dililitkan di tangan. Permainan yang awalnya bersifat spontan dan menghibur, perlahan kehilangan ruhnya.

Malam Ramadan di sudut Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, seharusnya menghadirkan suasana yang teduh. Anak-anak berjalan menuju masjid untuk tarawih, remaja menenteng Alquran, orang tua menunggu waktu sahur dengan obrolan ringan di beranda rumah.

Berubah pemandangan lain ikut hadir. Sekelompok remaja terlihat berlarian di jalanan dengan sarung yang dililitkan di tangan. Aktivitas yang semula diniatkan sekadar seru-seruan, permainan berubah menjadi benturan, tawuran antarkelompok.

Perang sarung menjadi sorotan pada Ramadan 1447 Hijriah. Pemerintah Kota Mataram secara terbuka mengimbau para orang tua agar lebih intensif mengawasi anak-anaknya, terutama pada malam hari selepas tarawih hingga menjelang sahur.

Pada dasarnya, perang sarung bukanlah tradisi kekerasan. Pasalnya, di banyak daerah di bumi Nusantara, permainan ini dahulu hanya menjadi hiburan anak-anak menjelang sahur. Sarung dipelintir lalu dipukulkan secara pelan, diiringi tawa, canda dan menjadi bagian dari kegembiraan menyambut bulan puasa.

Dalam beberapa kasus, perang sarung menjadi pintu masuk bagi tawuran antarkelompok remaja. Aparat di Kabupaten Dompu mencatat bentrokan yang tidak lagi sekadar pukulan sarung, benturan, bentrokan disertai lemparan batu dan penggunaan anak panah. Situasi ini menunjukkan yang terjadi bukan lagi permainan tradisional, melainkan kekerasan yang dibungkus atas nama permainan, perang sarung.

Memang di kota-kota besar, perang sarung bukanlah fenomena tunggal dan menjadi bagian dari spektrum kenakalan remaja yang kerap muncul pada jam-jam rawan di malam hari.

Data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren kekerasan yang melibatkan anak masih cukup tinggi, baik sebagai korban maupun pelaku. Dalam konteks lokal, perang sarung menjadi salah satu bentuk konkret dari potensi kekerasan yang perlu dicegah sejak dini.

Perang sarung adalah cermin yang memantulkan wajah generasi muda sedang mencari arah dan wajah orang dewasa terkadang lengah dalam menjaga ruang tumbuh, aman anak-anak. (Liputan6, 6 Maret 2026 dan Antara, 27 Februari 2026).

Untuk di wilayah Kandangwesi yang kasohor dengan cerita Dalem Boncel, saat bosan dengan permainan alung sarung, lempar bola sarung, babalonan sarung, ninja-ninjaan dari sarung, tibalah saatnya permainan yang paling ditunggu, perang sarung.

Tempat yang paling seru untuk melangsungkan “pertempuran” kecil ini bukanlah di serambi Masjid Darussalam, melainkan sedikit bergeser ke Pasar Lama, sekitar sepuluh meter dari masjid. Letaknya mudah dikenali yang terpaut satu rumah di sisi kiri jalan, rumah (Ceu Dewi) dan dua rumah di sisi kanan menuju pasar, rumah Pa Haji Ruslan dan Pa Haji Iing.

Dulu, lapangan di Pasar Lama itu begitu luas. Bekas Pasar Bungbulang sebelum dipindahkan ke Sukamanis, ke tempat yang dikenal sebagai Warung Gantung yang sering disebut Pasar Baru. Proses pemindahan pasar dari lokasi lama ke lokasi baru terjadi pada awal tahun 1990-an. Kenangan itu masih melekat, kira-kira pada masa kenaikan kelas tiga ke kelas empat sekolah dasar, sekitar tahun ajaran 1993/1994.

Kini, Pasar Lama telah berubah wajah. Tanah yang dahulu menjadi lapangan bermain itu (milik Pa Haji Ruslan) sebagian telah berdiri kokoh rumah, menjadi lapangan voli, terdapat bangunan Taman Kanak-kanak. Ruang yang dulu dipenuhi tawa anak-anak sekarang menjelma menjadi ruang kehidupan yang lebih tertata dan nyata.

Tergambar jelas dalam ingatan, tempat itu tetaplah lapangan yang luas, ruang berbagai permainan sederhana lahir dari imajinasi anak-anak Bardal. Sebelum perang sarung dimulai, biasanya anak-anak memainkan permainan lain, seperti ucing sumput, ucing-ucingan, ucing babuk.

Permainan itu berlangsung hampir sepanjang hari selama bulan Ramadan. Setelah salat subuh dan mengaji pagi, bermain sambil ngabeubeurang. Selepas salat asar, permainan dimulai, menemani waktu ngabuburit.  Hatta, setelah berbuka puasa, menjelang salat isya, usai tarawih, hingga mendekati waktu sahur, keceriaan itu terus berlanjut.

Sarung yang digulung lancip, menyerupai pedang kecil, menjadi “senjata” utama. Ada aturan yang tak tertulis untuk selalu dipatuhi, tidak boleh ada benda keras, tajam yang dimasukkan ke ujung sarung. Permainan ini bukanlah ajang melukai, apalagi menyerupai tawuran. Hanyalah cara sederhana anak-anak merawat kegembiraan.

Tujuannya semata-mata untuk bersenang-senang, menghibur diri, memelihara keceriaan di antara anak-anak dan remaja. Tidak seperti peristiwa hari ini, ketika permainan, konflik kecil bisa berubah menjadi tawuran yang merenggut nyawa. Mengingat itu semua, rasanya serem!.

Saat berlarian saling kejar, mengayunkan sarung yang digulung, tubuh menjadi panas, haus, dan hareudang. Tetapi justru di situlah letak kegembiraannya. Setelah permainan usai, anak-anak biasanya duduk terengah-engah, tertawa bersama, lalu pulang dengan rasa puas ke rumah masing-masing.

Menariknya, untuk permainan babalonan sarung ternyata tidak hanya sekadar hiburan. Dalam buku Bermain dan Permainan (2017) dijelaskan permainan tradisional yang bermanfaat bagi perkembangan anak usia 3–5 tahun. Tentunya memberikan kegembiraan, dapat melatih kemampuan motorik, sosial, dan emosional.

Saat melempar sarung hingga mengembang, anak belajar mengoordinasikan gerakan tangan dan tubuh. Latihan sederhana itu membantu meningkatkan ketangkasan motoric, kepekaan tubuh terhadap ritme gerakan. Permainan ini melatih kekompakan. Babalonan sarung akan terlihat lebih indah bila dimainkan bersama-sama. Ketika sarung dilempar serentak, gerakan yang tercipta menjadi semacam tarian kecil yang penuh irama.

Dengan mengasah permainan ini mampu mengembangkan dua jenis kecerdasan (intrapersonal dan interpersonal). Kecerdasan intrapersonal muncul ketika anak belajar memahami kemampuan dirinya mulai dari mengatur kekuatan lemparan, mengarahkan gerakan, sampai melatih kesabaran agar sarung bisa mengembang sempurna. Kecerdasan interpersonal terbentuk melalui kerja sama dengan teman, memahami ritme kelompok, dan menghargai peran satu sama lain. (Detik Jabar Jumat, 14 Nov 2025 10:00 WIB).

Dari situlah permainan sederhana berubah menjadi pelajaran penting tentang kehidupan. Tanpa disadari, perang sarung, babalonan sarung bukan sekadar permainan masa kecil. Justru menjadi media dan cara anak-anak belajar soal batas, kedisiplinan, kebersamaan, kegembiraan, dan bagaimana bersaing tanpa saling menyakiti, melukai. Kini, lapangan itu sudah berubah jadi beton, bangunan. Namun kenangan tentang tawa, kejar-kejaran, dan ayunan sarung di senja, malam, subuh saat Ramadan tetap terjaga.

Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan momentum untuk meredam “perang” (perang melawan hawa nafsu) yang paling dekat dengan diri manusia. Dalam keseharian, manusia kerap dihadapkan pada situasi yang memantik arang, bara emosi yang mudah menyala menjadi amarah.

Baca Juga: Suasana Bandung Menjelang Lebaran dalam Iklan Koran Tahun 1960-an

Bila tidak dijaga, bara kecil itu bisa berubah menjadi panas yang membakar hati, haruedang, memicu pertengkaran, dan merusak hubungan antar manusia. Puasa hadir sebagai latihan spiritual agar manusia mampu menahan diri, menurunkan suhu emosi, mengubah bara kemarahan menjadi kesabaran dan kejernihan sikap.

Hakikat puasa terletak pada kemampuan mengendalikan diri. Rasulullah SAW mengingatkan ketika seseorang berpuasa lalu diprovokasi, diajak bertengkar, hendaknya  berkata, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.” Pesan dan hikmah Ramadan ini menegaskan puasa menjadi benteng untuk menahan ledakan amarah dan menenangkan gejolak batin, sikap dan perilaku.

Dengan demikian, Ramadan menjadi madrasah pengendalian diri, mengubah perang batin menjadi latihan kesabaran, memadamkan arang kemarahan, dan menurunkan haruedang tensi tinggi emosi agar hati tetap teduh, sejuk dalam menjalani kehidupan sehari-hari. (*)

Reporter Ibn Ghifarie
Editor Aris Abdulsalam