Percuma Menahan Lapar Jika 5 Hal Ini Masih Dilakukan: Pelajaran dari Kitab Durratun Nasihin

3 menit baca
Nenah Haryati
Ditulis oleh Nenah Haryati diterbitkan
Distraksi sosial media (Sumber: Unplash)
Distraksi sosial media (Sumber: Unplash)

Secara syariat, menelan seteguk air memang membatalkan puasa. Namun, di era layar kaca ini, ada yang lebih berbahaya daripada sekadar rasa haus: yakni jemari yang tak bisa berhenti mengetik kebencian. Kita mampu menahan lapar dari subuh hingga maghrib, tapi apakah kita mampu menahan diri untuk tidak 'menguliti' hidup orang lain di kolom komentar?

Fenomena ini makin terasa saat banyak kasus viral yang faktanya diputarbalikkan—korban dianggap pelaku, dan sebaliknya. Bukannya mengawal kasus dengan bijak, justru kita sering kali terjebak dalam arus penghinaan yang tanpa sadar menghanguskan pahala puasa kita. Alangkah ruginya jika perjuangan kita sebulan penuh hanya menyisakan lapar dan haus saja.

Untuk itulah, penting bagi kita menengok kembali mutiara kebijaksanaan dalam kitab klasik Durratun Nasihin karya Syekh Utsman bin Hasan bin Ahmad asy-Syakir al-Khubawi. Beliau memaparkan lima hal yang secara spiritual mampu menghapus pahala puasa. Mari kita kaji kembali dengan bahasa yang lebih relevan untuk kita, para Gen Z yang hidup di balik layar:

1. Al-Kadzibu (The Hoax Hunter)

Semuanya bermula dari lisan, atau dalam konteks hari ini: ketikan. Algoritma media sosial sering kali lebih memihak pada konten sensasional daripada faktual. Di sini ujiannya: jangan sampai lemas menahan lapar, tapi jemari tetap gesit menyebar berita hoax demi terlihat paling "update" atau sekadar mencari validasi. Ingat, kejujuran adalah paspor yang tidak akan pernah kadaluwarsa di hadapan Tuhan.

2. Al-Ghibatu (Spill Aib yang Menghapus Pahala)

Berangkat dari ketidakjujuran, kita sering kali masuk ke lubang yang lebih dalam: asyik menguliti hidup orang lain. Memang, menelan gorengan di siang bolong otomatis membatalkan puasa secara syariat. Namun, menggoreng aib orang lain dalam sosial media justru lebih ngeri—puasanya mungkin tetap sah, tapi pahalanya hangus tak bersisa. Jangan sampai perut kosong, tapi hati penuh dengan kotoran hidup orang lain.

3. An-Namimah (Provokator)

Kebiasaan mengulik aib biasanya berujung pada keinginan untuk menjadi provokator. Menjadi "kompor" di tengah isu panas hanya demi melihat keributan (chaos) adalah red flag besar. Rasulullah SAW sudah memperingatkan dengan tegas bahwa pelaku adu domba tak akan mencium bau surga. Daripada sibuk memprovokasi dengan ketikan "Ayo dong spill pelakunya," lebih baik fokus menjaga kedamaian hati demi kualitas ibadah yang lebih baik.

4. Al-Yaminul Kadzibah (Sumpah Palsu Demi Konten)

Sering kali demi meyakinkan netizen atau sekadar membela ego, seseorang berani membawa nama Tuhan dalam sumpah palsunya. Padahal, sumpah itu keramat, bukan sekadar pelengkap kalimat agar terlihat meyakinkan di medsos. Menggunakan nama Tuhan dalam kebohongan adalah cara tercepat untuk meruntuhkan seluruh bangunan berkah Ramadan yang sedang kita bangun susah payah.

5. An-Nazharu bi Syahwat (Lolos dari Jebakan FYP) 

Semua perilaku di atas biasanya bermula dari apa yang kita lihat. FYP sering kali menyuguhkan konten yang memancing emosi maupun nafsu. Di sinilah puasa mata diuji. Menjaga pandangan bukan lagi soal menundukkan kepala di jalanan saja, tapi soal seberapa cepat jempolmu melakukan scroll-up saat konten yang tidak bermanfaat muncul di layar. Mata yang terjaga akan menjaga lisan; dan lisan yang terjaga akan menyelamatkan pahala.

Baca Juga: Ngabuburit di Tengah Pembatasan: Cerita Pengunjung dan Pedagang di Alun-Alun Bandung

Walhasil, puasa bukan sekadar ajang memindahkan jam makan, tapi merupakan momen penting untuk upgrade kualitas diri secara menyeluruh. Bukannya terjerat dalam toksisitas layar, tren One Day One Juz kini kembali diramaikan. Banyak orang berlomba-lomba siapa yang paling cepat khatam sebagai bentuk 'pengasingan diri' dari hiruk-pikuk duniawi.

Sebenarnya, kelima perkara di atas bukan hanya berlaku saat Ramadan saja; itu adalah prinsip moral yang harus dijaga sepanjang masa agar kita tetap menjadi generasi yang beretika. Karena pada akhirnya, apa gunanya menahan lapar seharian jika kita kalah dalam menjaga martabat dan kesucian hati sendiri? (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:10

Bandung Menuju Kota Digital Aman

Kota yang benar-benar cerdas bukan hanya kota yang mampu mengadopsi teknologi terbaru, melainkan yang mampu melindungi warganya.

Ilustrasi layanan digital. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Biz 01 Nov 2026, 15:21

Lahan Sempit di Kota Bandung Disulap Jadi Kebun Produktif, Hasilnya untuk Warga

Sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae.

Pada Jumat, 30 Oktober 2026, sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 20:39

Stop The Wedding: Tren Perempuan yang Membagikan Cerita Traumatis Pernikahan

Apakah perempuan benar-benar takut menikah karena tidak menemukan urgensinya atau hanya takut karena tren "Stop The Wedding" yang sedang beredar di media sosial

Stop the Wedding sedang menjadi headline di media sosial yang mengangkat pengalaman buruk perempuan dalam pernikahan (Sumber: Ilustrasi Gambar AI)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 19:15

Bandung Akan Terkena Asap Pekat Karhutla

Nafsu-nafsu tidak terkendali untuk menguasai hutan bisa menyebabkan semua wilayah terkena dampak asap pekat kebakaran hutan dan lahan termasuk Kota Bandung

Penanganan karhutla. (Sumber: Kementerian Kehutanan)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 17:11

Merancang Kawasan Hunian untuk Mobilitas Berkelanjutan

Integrasi tata ruang dan transportasi dalam pengembangan kawasan hunian melalui akses berjalan kaki, bersepeda, dan angkutan umum untuk mewujudkan mobilitas yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.

Halte bus yang berfungsi sebagai tempat pemberhentian angkutan umum di kawasan hunian. (Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 16:31

Korupsi di Negeri Bencana

Korupsi di BNPB yang dilakukan oleh oknum, merupakan perbuatan yang biadab.

SDN 1 Babakan Talang di Kampung Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat hancur akibat bencana pergerakan tanah , Senin 4 Maret 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 15:17

Ketika Api Menguji Integritas

Bencana menuntut kita bergerak cepat menyelamatkan kehidupan, tetapi juga menguji integritas dalam menjaga amanah dan menyalurkan bantuan.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Sumber: kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 20:24

Bdg-GoX Dibangun, Kapan Warga Bandung Menikmati Internet Murah?

Akses digital bukan hanya persoalan ketersediaan jaringan, melainkan juga keterjangkauan ekonomi.

Ilustrasi Bandung Kota Digital dengan program  Bdg-Gox (Sumber: Ilustrasi di desain dengan ChatGPT oleh Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 19:47

Cangkoréh Awi Ngarambat

Ada jenis bambu yang merambat, yang dikenal, ada yang menyebutnya awi cangkoréh, ada juga yang menyebutnya awi cangkoré.

Awi ngarambat. (Foto: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 16:33

Persembahan untuk Lembang

Lembang telah jatuh ke tangan para kapitalis, memaksakan berubah wujud, memeras keindahan alamnya, meluluhlantakkan kenangan hijau yang terpatri di benak warganya.

Persembahan saya untuk Lembang, tertuang dalam beberapa karya buku. (Foto: Malia)