Percuma Menahan Lapar Jika 5 Hal Ini Masih Dilakukan: Pelajaran dari Kitab Durratun Nasihin

3 menit baca
Nenah Haryati
Ditulis oleh Nenah Haryati diterbitkan Jumat 06 Mar 2026, 10:16 WIB
Distraksi sosial media (Sumber: Unplash)

Distraksi sosial media (Sumber: Unplash)

Secara syariat, menelan seteguk air memang membatalkan puasa. Namun, di era layar kaca ini, ada yang lebih berbahaya daripada sekadar rasa haus: yakni jemari yang tak bisa berhenti mengetik kebencian. Kita mampu menahan lapar dari subuh hingga maghrib, tapi apakah kita mampu menahan diri untuk tidak 'menguliti' hidup orang lain di kolom komentar?

Fenomena ini makin terasa saat banyak kasus viral yang faktanya diputarbalikkan—korban dianggap pelaku, dan sebaliknya. Bukannya mengawal kasus dengan bijak, justru kita sering kali terjebak dalam arus penghinaan yang tanpa sadar menghanguskan pahala puasa kita. Alangkah ruginya jika perjuangan kita sebulan penuh hanya menyisakan lapar dan haus saja.

Untuk itulah, penting bagi kita menengok kembali mutiara kebijaksanaan dalam kitab klasik Durratun Nasihin karya Syekh Utsman bin Hasan bin Ahmad asy-Syakir al-Khubawi. Beliau memaparkan lima hal yang secara spiritual mampu menghapus pahala puasa. Mari kita kaji kembali dengan bahasa yang lebih relevan untuk kita, para Gen Z yang hidup di balik layar:

1. Al-Kadzibu (The Hoax Hunter)

Semuanya bermula dari lisan, atau dalam konteks hari ini: ketikan. Algoritma media sosial sering kali lebih memihak pada konten sensasional daripada faktual. Di sini ujiannya: jangan sampai lemas menahan lapar, tapi jemari tetap gesit menyebar berita hoax demi terlihat paling "update" atau sekadar mencari validasi. Ingat, kejujuran adalah paspor yang tidak akan pernah kadaluwarsa di hadapan Tuhan.

2. Al-Ghibatu (Spill Aib yang Menghapus Pahala)

Berangkat dari ketidakjujuran, kita sering kali masuk ke lubang yang lebih dalam: asyik menguliti hidup orang lain. Memang, menelan gorengan di siang bolong otomatis membatalkan puasa secara syariat. Namun, menggoreng aib orang lain dalam sosial media justru lebih ngeri—puasanya mungkin tetap sah, tapi pahalanya hangus tak bersisa. Jangan sampai perut kosong, tapi hati penuh dengan kotoran hidup orang lain.

3. An-Namimah (Provokator)

Kebiasaan mengulik aib biasanya berujung pada keinginan untuk menjadi provokator. Menjadi "kompor" di tengah isu panas hanya demi melihat keributan (chaos) adalah red flag besar. Rasulullah SAW sudah memperingatkan dengan tegas bahwa pelaku adu domba tak akan mencium bau surga. Daripada sibuk memprovokasi dengan ketikan "Ayo dong spill pelakunya," lebih baik fokus menjaga kedamaian hati demi kualitas ibadah yang lebih baik.

4. Al-Yaminul Kadzibah (Sumpah Palsu Demi Konten)

Sering kali demi meyakinkan netizen atau sekadar membela ego, seseorang berani membawa nama Tuhan dalam sumpah palsunya. Padahal, sumpah itu keramat, bukan sekadar pelengkap kalimat agar terlihat meyakinkan di medsos. Menggunakan nama Tuhan dalam kebohongan adalah cara tercepat untuk meruntuhkan seluruh bangunan berkah Ramadan yang sedang kita bangun susah payah.

5. An-Nazharu bi Syahwat (Lolos dari Jebakan FYP) 

Semua perilaku di atas biasanya bermula dari apa yang kita lihat. FYP sering kali menyuguhkan konten yang memancing emosi maupun nafsu. Di sinilah puasa mata diuji. Menjaga pandangan bukan lagi soal menundukkan kepala di jalanan saja, tapi soal seberapa cepat jempolmu melakukan scroll-up saat konten yang tidak bermanfaat muncul di layar. Mata yang terjaga akan menjaga lisan; dan lisan yang terjaga akan menyelamatkan pahala.

Baca Juga: Ngabuburit di Tengah Pembatasan: Cerita Pengunjung dan Pedagang di Alun-Alun Bandung

Walhasil, puasa bukan sekadar ajang memindahkan jam makan, tapi merupakan momen penting untuk upgrade kualitas diri secara menyeluruh. Bukannya terjerat dalam toksisitas layar, tren One Day One Juz kini kembali diramaikan. Banyak orang berlomba-lomba siapa yang paling cepat khatam sebagai bentuk 'pengasingan diri' dari hiruk-pikuk duniawi.

Sebenarnya, kelima perkara di atas bukan hanya berlaku saat Ramadan saja; itu adalah prinsip moral yang harus dijaga sepanjang masa agar kita tetap menjadi generasi yang beretika. Karena pada akhirnya, apa gunanya menahan lapar seharian jika kita kalah dalam menjaga martabat dan kesucian hati sendiri? (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Nenah Haryati
Tentang Nenah Haryati
Mahasiswa yang hobi mengamati sisi lain kehidupan sehari-hari, terutama yang dialami Generasi Z.

Berita Terkait

News Update

Bandung 15 Jun 2026, 21:16

Kolaborasi Bekali Kopi Bersama Petani Lembang Dorong Peningkatan Ekonomi dan Regenerasi Sektor Kopi

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting.

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 18:19

UMKM 'Jangan Cuma Dagang' untuk Berkembang, Belajar dari Perjalanan Bisnis Kebab Factory

Bagi Widya, Rumah BUMN Bandung bukan sekadar tempat pelatihan.

Widya Ratna Puspita, pemilik KebabFactory.id, di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 17:27

Perjalanan Sate Maranggi sebagai Kuliner Khas Kabupaten Purwakarta

Lebih dari sekadar nilai gastronomi, Sate Maranggi mengandung nilai-nilai sosial sebagai pemersatu masyarakat Purwakarta.

Sate Maranggi khas Purwakarta (Sumber: Dokumentasi milik pribadi)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 16:44

Panduan Wisata Kuliner Empal Gentong Cirebon, Jejak Sejarah Kota Pelabuhan dalam Semangkuk Kuah

Kenali sejarah empal gentong Cirebon, perbedaannya dengan empal asem, rekomendasi warung legendaris, serta tips menikmati hidangan khas ini.

Empal gentong, kuliner khas Cirebon. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 16:40

Punya Varian Produk Tak Biasa, Kebab Factory Bisa Ekspor ke Malaysia dan Singapura berkat 'Ide Anak'

Perjalanan Kebab Factory, UMKM Kota Bandung yang terkenal dengan produk uniknya.

Kebab ice cream mellowberry, salah satu varian produk Kebab Faktory di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 15:54

Wayang Wong: Kesenian Unik yang Mengganti Peran Boneka Menggunakan Manusia

Tentang wayang wong, salah satu kesenian tradisional Jawa yang menggabungkan tari, musik, dan drama.

Wayang Wong Ramayana. (Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 13:17

Hijrah, Ubah, dan Arah

Hijrah digital bukanlah tentang meninggalkan teknologi, melainkan menjadikan teknologi sebagai jalan untuk mendekat pada nilai-nilai kebaikan.

Diskusi Film "Hijrah Digital" Ajak Mahasiswa Refleksi Literasi Digital dan Peran AI dalam Keberagamaan (Sumber: instagram @moeslimah_produktif)
Beranda 15 Jun 2026, 13:02

Jejak Ksatria di Gang Maksudi: Menjaga Amanah, Menghidupkan Nadi Ekonomi Negeri

Kisah Hasan, seorang kurir JNE di Bandung yang sempat dibegal saat berteduh karena hujan, namun kini sudah kembali bekerja berkat bantuan dari tempatnya bekerja.

Kepala Cabang Utama JNE Bandung Iyus Rustandi menyerahkan bantuan sepeda motor baru kepada Hasan sebagai bentuk nyata komitmen dan kepedulian perusahaan terhadap keselamatan karyawannya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Arif Budianto)
Linimasa 15 Jun 2026, 12:58

Ketika Selisih Harga BBM Terasa Sampai Akhir Bulan

Kenaikan harga BBM non-subsidi membuat banyak pengendara memilih antre demi mendapatkan Pertalite.

Pengendara rela mengantre lebih panjang di SPBU setelah kenaikan harga BBM Pertamax. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 11:45

Itinerary Wisata Yogyakarta 1–2 Hari, Destinasi, Kuliner, dan Budget Lengkap

Jelajahi Yogyakarta berdasarkan pembagian kawasan wisata agar perjalanan lebih nyaman. Cocok untuk liburan singkat satu hingga dua hari.

Tugu Jogja, ikon Yogyakarta. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 11:28

Dulu Pakai Ritual, Kini Pakai Kimia: Perubahan Praktik Bertani di Desa Pamoyanan

Perjalanan pertanian Desa Pamoyanan merekam pergeseran dari sistem kepercayaan Sunda Buhun menuju metode pertanian modern yang dianggap lebih efektif dan rasional.

Foto Hamparan sawah di Desa Pamoyanan, Cianjur Selatan, pada 21 Maret 2026. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nadhil Ayudiya Az Zahra)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 09:59

Potensi Ulat Sutra Solusi Masalah Bahan Baku Industri Tekstil

Mengatasi krisis bahan baku industri tekstil dengan ulat sutra.

Industri rakyat berbasis benang sutra binaan Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Karaha di Desa Cipondok Kecamatan Sukaresik Kabupaten Tasikmalaya. (Foto: Humas PGE)
Beranda 15 Jun 2026, 09:46

Jejak Persib di Kota Bandung, Jalan-jalan Bobotoh Menyusuri Memori yang Nyaris Dilupakan

Bobotoh menyusuri jejak sejarah Persib di berbagai sudut Kota Bandung, mengungkap kisah, tempat, dan memori yang nyaris terlupakan oleh waktu.

Peserta Bobotoh Story Walk menyusuri jalanan Bandung sambil mendengarkan kisah-kisah yang membentuk sejarah Persib. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Linimasa 15 Jun 2026, 08:43

Layangan Adu, Hobi yang Tidak Lekang oleh Usia

Layangan adu tetap digemari lintas usia dan menjadi ruang silaturahmi para pehobinya.

Layangan adu, hobi yang tak mengenal usia. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 08:40

Sinergi Batalyon Pangan dengan Petani Mengatasi Deflasi Komoditas Pertanian

Eksistensi Yonif TP sebaiknya turut menyelesaikan masalah hilir komoditas pertanian hingga ke pasar induk atau pasar tradisional serta pasar modern.

Bimtek Ketahanan Pangan dan Peningkatan Kemampuan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP). (Foto: dok Puspen TNI)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 19:00

Di Era Digital Kita Hidup dalam Situasi Alone Together

Di era digital, kita telah terjebak dengan hubungan teknologi dalam berkoneksi dengan sesama.

Ilustrasi teknologi digital di sekitar generasi muda saat ini. (Sumber: Pexels/Ron Lach)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 15:00

AI Art: Pencuri Masa Depan para Seniman

Jika AI mampu menghasilkan gambar secara massal, apa yang akan terjadi pada keberadaan dan masa depan para seniman masa kini?

Ilustrasi seni hasil AI. (Sumber: Pexels | Foto: Google DeepMind)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 12:51

1 Dolar Mencapai Rp 17.865 Rupiah: Apakah Kita Berada dalam Keadaan Baik-Baik Saja?

Pada 27 Mei 2026, nilai rupiah terhadap 1 dolar mencapai Rp 17.865.

Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)
Wisata & Kuliner 14 Jun 2026, 11:46

Kopi Joss Jogja, Tradisi Kuliner Unik yang Bertahan Lebih dari 60 Tahun

Kenali kopi joss khas Yogyakarta, kopi dengan bara arang panas yang kini ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Simak sejarah dan keunikannya.

Kopi Joss, salah satu kuliner khas Jogja.
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 11:12

Bagaimana Merek Lokal Membangun Branding dalam Multi-Platform

Aroma kopi menjadi identitas utama yang digunakan Implora Cosmetics untuk membangun branding Caffe Matte Lip Cream secara konsisten di berbagai platform komunikasi.

Penulis sedang menelaah kajian tentang merek lokal di Bandung.