Antara Romantisme Syawal dan Realita Selat Hormuz

Yudaningsih
Ditulis oleh Yudaningsih diterbitkan Jumat 06 Mar 2026, 11:53 WIB
Selat Hormuz. (Sumber: Wikimedia Commons /Lisensi CC)

Selat Hormuz. (Sumber: Wikimedia Commons /Lisensi CC)

Maret 2026 terasa seperti sebuah simfoni yang tumpang tindih bagi warga Bandung Raya. Di satu sisi, kita sedang membasuh diri dalam kekhusyukan Ramadan dan gegap gempita menjelang lebaran yang selalu dirindukan. Namun di sisi lain, saat aroma opor ayam belum terhidang di meja makan, sebuah guncangan hebat dari jarak ribuan kilometer mulai mengetuk pintu rumah kita.

Bagi warga Bandung mulai dari gang sempit di Tamansari hingga ruko mewah di Kota Baru Parahyangan, tentunya fase ini bukan sekadar perpindahan kalender. Penulis mengamati, hal ini adalah ujian ketangguhan ekonomi di tengah titik temu antara romantisme hari raya dan realitas geopolitik dunia yang membara.

Menjelang lebaran, biasanya kita menyaksikan Pasar Baru dan mall di sepanjang Jalan Riau sesak luar biasa. Hal tersebut dipicu oleh tradisi baju baru dan "angpao" yang turut menjadi bahan bakar mesin ekonomi lokal. UMKM Bandung menikmati peak season yang luar biasa; ada distribusi kekayaan dari perantau yang pulang membawa modal, menyuntikkan napas panjang bagi pedagang kecil pasca-fluktuasi harga bahan pokok di awal tahun.

Penulis miris saat harus jujur pada diri sendiri: euforia itu kini mulai berganti dengan kecemasan. Saat arus balik mereda di Terminal Cicaheum dan Leuwipanjang, Syawal yang biasanya menjadi simbol "Babak Baru" baik bagi pencari kerja maupun pasangan yang baru menikah, kini dibayangi oleh awan mendung dari Timur Tengah.

Sejak Selasa (03/03/2026), perang antara AS-Israel dengan Iran resmi memasuki babak baru yang mengkhawatirkan. Bukan sekadar angka di layar berita. Penutupan Selat Hormuz telah membuat harga minyak mentah Brent melonjak drastis. Beberapa ahli memprediksi, harga sembako juga BBM nonsubsidi akan mulai merangkak naik.

Bagi warga Bandung,hal ini tentunya ancaman nyata bagi "dua paru-paru" ekonomi kita:

  1. Industri Tekstil (TPT): Buruh pabrik di Majalaya dan Cimahi kini beradu nasib dengan kenaikan biaya energi produksi.
  2. Pariwisata: Saat biaya logistik naik dan daya beli nasional tercekik, wisata Lembang dan Ciwidey terancam sepi karena warga lebih memilih "puasa finansial".

Sebagaimana dilansir salahsatu media, ekonom UNPAD, Ferry Hadiyanto, memperingatkan bahwa dampak ini bisa terasa dalam hitungan minggu. Bahkan, muncul kekhawatiran krisis ini bisa lebih pahit dari masa pandemi Covid-19 jika kita tidak waspada.

Di tengah situasi APBN yang sedang "rapuh" karena komitmen belanja jumbo seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Profesor Vedi R. Hadiz mengingatkan bahwa pemerintah akan menghadapi pilihan sulit: menaikkan subsidi atau membiarkan inflasi menyapu daya beli rakyat.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG). (Sumber: setneg.go.id)
Program Makan Bergizi Gratis (MBG). (Sumber: setneg.go.id)

Oleh karena itu, ada tiga alasan mengapa warga Bandung harus menjadi "Menteri Keuangan" bagi keluarganya sendiri mulai hari ini:

  1. Efisiensi Dompet: Jangan terjebak pada belanja tersier pasca-Lebaran. Simpan tunai (cash) Anda untuk kebutuhan pokok yang berpotensi melonjak akibat biaya logistik.
  2. Kemandirian UMKM: Fokuslah membelanjakan uang di ekosistem lokal. Membeli produk tetangga bukan lagi sekadar aksi sosial, tapi strategi bertahan hidup agar roda ekonomi Bandung tetap berputar di tengah tekanan global.
  3. Kritis terhadap Kebijakan: Warga Bandung perlu mendorong pemerintah agar lebih bijak mengelola anggaran. Jangan sampai proyek yang belum mendesak tetap dipaksakan sementara rakyat tercekik inflasi energi.

Baca Juga: Kemarahan Digital Perang Iran dan Keuntungannya bagi Platform Media Sosial

Bandung selalu punya cara untuk tetap cantik di tengah badai. Namun, keindahan itu butuh topangan ekonomi yang stabil. Ramadan telah melatih kedisplinan kita, dan kini Syawal menuntut ketangguhan kita.

Kemenangan sejati tahun ini bukanlah seberapa mewah perayaan lebaran kita, melainkan seberapa mampu kita menjaga api dapur tetap menyala di tengah gejolak global yang tak menentu. Mari kita jadikan Maret 2026 sebagai titik balik kemandirian ekonomi. Tahan dulu keinginan membeli gadget atau kendaraan baru; mari pastikan piring nasi kita tetap terisi dengan penuh perhitungan.

Sebab, apa yang terjadi di Selat Hormuz hari ini, akan menentukan seberapa kuat kita berdiri di tanah Parahyangan esok hari. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Yudaningsih
Tentang Yudaningsih
Yudaningsih, akademisi Tel-U & aktivis keterbukaan informasi, Tenaga Ahli KI Jabar, eks Komisioner KPU Bandung & KI Jabar, kini S3 SAA UIN SGD.

Berita Terkait

News Update

Bandung 18 Apr 2026, 15:10

Manis Legit Jenang Mbak Nana, Primadona Baru di Tengah Hiruk Pikuk Pasar Cihapit

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan.

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 18 Apr 2026, 14:30

Melawan Arus Digital: Denyut Musik Analog di Bandung dan Makassar

Di tengah dominasi digital, kaset dan vinyl tetap hidup sebagai simbol identitas, koneksi emosional, dan ruang nostalgia antargenerasi.

Koleksi kaset lama di DU 68 Musik. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Beranda 18 Apr 2026, 11:47

Uang Menjadi Simbol: Membaca Realitas Sosial Lewat Lukisan “Uang Kecil”

Lukisan "Uang Kecil" karya Vania Kamila Zahra merefleksikan ketimpangan sosial dan perjuangan hidup melalui detail uang lusuh, mengajak penonton bersyukur di tengah kerasnya realitas ekonomi.

Vania Kamila Zahra dan lukisannya yang berjudul “Uang Kecil”. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 20:52

Tantangan Kartini Masa Kini : Bangkitkan Kesadaran Konsumen dan Geluti Ekonomi Kreatif

Kartini 4.0 memiliki tugas sejarah memperbaiki mutu, volume produksi dan kemasan pangan tradisional sehingga mampu bersaing di pasar.

Ilustrasi RA.Kartini dalam sebuah film (Sumber: Legacy Pictures)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 19:51

Pamer atau Bertahan? Logika Sosial di Balik Tren Flexing di Media Sosial

Flexing bukan sekadar pamer kekayaan, tetapi bagian dari logika media sosial yang menuntut setiap orang untuk terus terlihat dan diakui.

Ilustrasi swafoto untuk media sosial. (Sumber: Pexels/Sara mazin)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 18:03

Kisah Kaum Urban 'Wong Kalang' di Jantung Parijs van Java

Mungkin untuk sebagian orang kisah “Wong Kalang” ini masih terdengar samar.

Anak turun keluarga wong kalang yang menetap di barat Braga sejak 1880. (Foto: Dokumentasi keluarga Apandi)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 17:25

Di Balik Roda yang Bergerak: Bandung, Angkot, dan Cara Kita Membaca Kota

Hari Angkutan Nasional menjadi momen bersejarah sekaligus cara untuk mengenal Kota Bandung, tidak hanya dari keindahannya, tetapi juga dari kehidupan yang bergerak di dalamnya.

Angkot di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Wisata & Kuliner 17 Apr 2026, 16:44

Panduan Wisata Situ Bagendit Garut: Tiket, Rute, dan Wahana

Situ Bagendit menawarkan tiket murah, akses mudah, wahana air, dan panorama empat gunung, cocok untuk wisata keluarga di Garut.

Situ Bagendit, Garut. (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 12:51

Perempuan yang Menulis dalam Bahasa Penjajahnya, Sisi Lain Kartini yang Tak Pernah Diajarkan di Sekolah

Di balik peringatan Hari Kartini, ada sisi gelap yang terlupakan, perjuangan seorang perempuan yang bahkan harus menulis dalam bahasanya sendiri.

R.A. Kartini. (Sumber: Istimewa)
Beranda 17 Apr 2026, 11:45

Lapak Cilok dan Buku: Cara Raja Menantang Stigma di Jalan Dago

Lapak cilok di Dago jadi ruang baca gratis yang digagas Raja. Ia menantang stigma bahwa membaca hanya milik kalangan tertentu, lewat buku yang dibuka untuk siapa saja.

Berjualan cilok menjadi sumber penghasilan utama Raja, di sela kegiatannya mengelola lapak baca sederhana di pinggir jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 11:16

Membangun LRT Bandung Raya, Revolusi Angkutan Kota yang Esensial

Sistem LRT memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan moda yang lain.

Ilustrasi urgensi sistem angkutan LRT untuk kawasan Bandung Raya (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Linimasa 17 Apr 2026, 10:44

Para Peramal Piala Dunia, dari Paul Si Gurita hingga Prediksi AI

Fenomena ramalan Piala Dunia berkembang dari Paul si gurita hingga kecerdasan buatan yang kini memprediksi hasil turnamen global 2026.

Paul Si Gurita, peraamal Piala Dunia 2010. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 09:42

Ciseeng, Endapan Laut Purba yang Dikukus Panas Bumi

Endapan travertin Cisѐѐng yang membukit, merupakan endapan dari masa lalu kini, yang sudah berlangsung jutaan tahun.

Gundukan endapan travertin, semula bentuknya menyerupai sѐѐng, menyerupai dandang, dan di dalamnya terdapat air panas yang terus membual. Inilah yang menjadi inspirasi para karuhun untuk menamai kawasan ini Cisѐѐng. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 08:50

Mitigasi El Nino Godzilla untuk Ketenagakerjaan

Para pekerja sangat rentan terkena dampak kabut asap , temperatur ekstrim serta debu beterbangan yang bisa membahayakan jiwanya.

Kekeringan akibat perubahan iklim El Nino di  di Kabupaten Bandung Barat (KBB). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 20:13

Komunitas Lite Rock Society Wadah Ekspresi Musisi Rock Bandung dari Radio K-Lite FM

Radio K-Lite FM melalui program musik Lite Rock, kini memberikan kesempatan kepada band-band rock di seputaran Kota Bandung.

Host Lite Rock bersama Band Rain of Doom dan penggiat rock Ghowo Van Bares dalam sesi talk show di K-Lite FM Bandung. (Foto: Band Rain of Doom)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 18:26

Bandung Setelah Asia-Afrika: Apa yang Tersisa?

Kota yang menyimpan jejak Konferensi Asia-Afrika 1955 sekaligus menghadapi jarak antara simbol solidaritas masa lalu dan realitas tantangan masa kini.

eringatan 70 Tahun Konferensi Asia Afrika. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 17:52

Mengapa Jalur Sepeda di Kota Bandung Gagal Jadi Solusi Transportasi?

Jalur sepeda di Kota Bandung masih menghadapi konflik ruang dan lemahnya implementasi kebijakan, sehingga belum mampu menjadi alternatif transportasi harian yang andal dan selamat.

Pengecatan ulang garis jalur khusus sepeda di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Rabu 10 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 16 Apr 2026, 16:23

DU 68, Lapak Jalanan yang Tumbuh Jadi Ruang Berkumpul Pecinta Musik Analog

DU 68 berawal dari lapak kaset sederhana di jalanan Bandung, lalu tumbuh menjadi ruang berkumpul bagi pecinta musik analog yang bertahan di tengah dominasi era digital.

Di sudut Dipatiukur, DU 68 Musik menjadi tempat singgah para pencinta musik analog. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 16:19

Reinventing Bandung Kota Diplomasi, Nyalakan Lagi Solidaritas Asia Afrika!

Bentuk solidaritas bangsa Asia Afrika yang relevan dan aktual perlu dirumuskan kembali. Karena eksploitasi dan penjajahan sejatinya masih ada.

Ilustrasi diorama Konferensi Asia Afrika di Museum KAA Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Wisata & Kuliner 16 Apr 2026, 15:25

7 Kegiatan, Wisata, dan Kuliner yang Paling Cocok Dinikmati Saat Cuaca Dingin

Rekomendasi 7 kegiatan seru saat cuaca dingin, mulai dari kuliner hangat, ngopi santai, hingga staycation nyaman.

Ilustrasi ngopi di kafe saat cuaca dingin. (Sumber: Freepik)