Ayo Netizen

'Kasidah Cinta ‘Ammar Al-Iman': Kisah Keimanan, Kesetiaan, dan Keberanian ‘Ammar Al-Iman

Oleh: Dudung Ridwan Minggu 08 Mar 2026, 13:51 WIB
Drama musikal religi Sunda berjudul “Kasidah Cinta ‘Ammar Al-Iman” karya dan sutradara Rosyid E. Abb. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

TEATER Senapati Bandung kembali menggelar drama musikal reliji Sunda berjudul “Kasidah Cinta ‘Ammar Al- Iman” karya sutradara Rosyid E. Abby—penulis yang konsisten mengangkat sejarah Islam dengan pendekatan dramaturgi realisme, penguatan vokal, artikulasi, serta kedalaman psikologi tokoh—dan asisten sutradara Dadan Darto Ramdani. Pergelaran ini berlangsung di Teater Tertutup, Taman Budaya Jawa Barat, Jl. Bukit Dago Selatan No. 53A, Bandung, Sabtu, 7 Maret 2026, pk. 13.00 WIB, serta di Amphitheater UPI Jl. Dr. Setiabudi No.229, Isola, Kec. Sukasari, Bandung, Rabu, 11 Maret 2026, pk. 15.00 WIB.

Didukung tak kurang dari 55 pemain, konsep drama ini memadukan seni drama, nyanyian (seni musik), dan seni tari (gerak/koreo), dengan media dialognya menggunakan bahasa Sunda. Pentas ini merupakan rangkaian pentas episodial Drama Sunda Religi “Kasidah Cinta”, yang dipergelarkan setiap tahun di bulan Ramadan (sejak 2006) oleh kelompok Teater Senapati Bandung. 

Kasidah Cinta Jilid I berjudul “Kasidah Cinta Jalma-jalma nu Iman” (2006), lalu disusul dengan Kasidah Cinta jilid selanjutnya, yakni: “Kasidah Cinta Sang Muadzin” (2007 & 2019); “Kasidah Cinta Sang Singa Allah” (2008 & 2017); “Kasidah Cinta Sang Sahabat” (2009); “Kasidah Cinta Sang Abid” (2010); “Kasidah Cinta di Palagan Karbala” (2011); “Kasidah Cinta Al-Kubra” (2012, 2018, 2023); dan “Kasidah Cinta Al-Faruq” (2014, 2025); “Kasidah Cinta Shahabiyah” (Hindun binti ‘Utbah) (2016, 2024), “Kasidah Cinta Hamzah Asadullah” (2017); dan “Kasidah Cinta ‘Ammar Al-Iman” (2026).

Pentas Ramadan Teater Senapati kali ini dibuka dengan pembacaan puisi Kyai Matdon. Sementara pementasannya akan diperkuat para aktor senior, seperti Rinrin Candraresmi, Dado Tisna, Dian Hendrayana, Apip Catrixs, Eka Candra W, Harya Prabu, Heksa Ramdono, Ata Drumime, Superjonesia, Rasyid Vanadi, Dadan Darto Ramdani, dll, di samping para aktor dari komunitas teater SMA Pasundan 3 Bandung, Barak Teater, Teater Lima Wajah, dan Teater Kaler.

“Ammar al-Iman” adalah gelar yang diberikan Nabi Muhammad Saw kepada Ammar bin Yassir, yang berarti ‘Ammar yang penuh iman’. Ammar bin Yassir lahir di Makkah dari keluarga sederhana keturunan Yaman. Ayahnya, Yassir bin Amir, dan ibunya, Sumayyah binti Khayyat, termasuk kalangan mustadh‘afin (orang lemah) di tengah kerasnya masyarakat Quraisy. Saat Islam pertama kali diserukan oleh Nabi Muhammad, Ammar termasuk tujuh orang pertama yang memeluk Islam, menjadikannya pelopor dalam sejarah dakwah Islam.

Namun keimanannya segera diuji. Bersama kedua orang tuanya, Ammar menghadapi siksaan kejam kaum Quraisy. Mereka dibaringkan di padang pasir yang membara, disiksa agar meninggalkan Islam. Di hadapan matanya, ibunya Sumayyah gugur sebagai syahidah pertama dalam Islam, ditikam oleh Abu Jahal. Ayahnya pun wafat karena siksaan berat. Ammar sendiri sempat dipaksa mengucapkan kata kufur untuk menyelamatkan nyawanya — sesuatu yang kemudian diampuni oleh Allah dan Nabi, karena hatinya tetap beriman.

Drama musikal religi Sunda berjudul “Kasidah Cinta ‘Ammar Al-Iman” karya dan sutradara Rosyid E. Abb. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Setelah peristiwa hijrah, Ammar bergabung dengan kaum Muslimin di Madinah. Ia turut berjuang dalam Perang Badar, Uhud, Khandaq, dan seluruh peperangan besar bersama Rasulullah. Nabi Muhammad sangat menghormatinya dan pernah bersabda: “Ammar dipenuhi iman dari ujung rambut sampai ujung kaki.” Dan dalam hadis lain, Nabi bersabda: “Celakalah kelompok yang membunuh Ammar, karena ia akan dibunuh oleh kelompok yang zalim.”

Setelah wafatnya Rasulullah, Ammar tetap teguh dalam perjuangan Islam. Ia menjadi sahabat setia Khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Di masa Khalifah Utsman bin Affan, ia menjadi salah satu sahabat yang lantang menyeru pada keadilan dan kebenaran, meski sering berselisih dengan para penguasa yang cenderung keras.

Baca Juga: Satir, Nyetir, dan Petir

Puncak kehidupannya terjadi pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib, ketika terjadi Perang Shiffin antara pasukan Ali dan Muawiyah. Ammar, yang sudah sangat tua namun tetap gagah, berperang di pihak Ali —membela khalifah sah yang dipilih umat. Dalam pertempuran itu, Ammar gugur sebagai syahid setelah tubuhnya ditikam oleh pasukan lawan.

Wafatnya Ammar mengguncang banyak pihak, karena sabda Nabi terbukti: ia dibunuh oleh “kelompok yang zalim”. Jenazahnya dimuliakan, dan namanya dikenang sebagai simbol iman, kesetiaan, dan keberanian tanpa kompromi terhadap kebenaran.

“Kasidah Cinta Ammar al-Iman” adalah gambaran dan bukti cinta Ammar bin Yassir kepada Tuhannya, Allah Azza wa Jalla, beserta rasul-Nya, Muhammad Saw. (*)

Reporter Dudung Ridwan
Editor Aris Abdulsalam