Satir, Nyetir, dan Petir

10 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Bandung, kota yang romantis, kreatif, dan tentu saja macetnya (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung, kota yang romantis, kreatif, dan tentu saja macetnya (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

"Perjalanan naik motor ti Buah Batu ka Dayeuhkolot nyieun urang mikir...

Jigana macet di kota Bandung teh nyieun jelemana jadi garalak sia...

Cek weh di Kircon, Pasar Kordon, Katapang, di Kopo, Ranca Manyar, Bojong Soang, Ciganitri...

Heuh, di dinya pengendara motorna emosina geus mentok kabeh, geus di tungtung kabeh...

Kumaha weh jiga Iran jeung Isriwil (Israel). Kari ngadagoan aya nu ngalonyeng (ulah) saeutik weh, langsung weh dirudal harita keneh...

Komodeh di jam balik gawe, nyerep-nyerep (mepet) ka waktu buka puasa. Geus lain senggol bacok deui eta mah, senggol Perang Badar...

Sidik jiwana jiwa Hamzah kabeh, Singa Padang Pasir. Ngan bedana ieu mah Singa Stopan Kircon. Ngahalangan saeutik, ngoet (nyakar)...

Padahal ajaran ti Rasul teh cenah, lamun misalkan aya nu mancing emosi, pok weh sebutkeun 'Saya sedang berpuasa'...

Tapi nya hese mun jelemana baragajul (bengal) kabeh mah. Ku urang diomongan kitu teh, adon dijawab: 'Aing puasa, sia puasa, terus rek naon?

Kieu tah nilai agama teh jadi leungit gara-gara naon? Gara-gara macet." (Instagram @guzman_sige).

Subuh yang dingin itu, saat mata masih setengah terjaga dan pikiran sedang asyik mencari-cari referensi tentang Bandung di bulan Ramadan dengan segala keunikannya.

Tiba-tiba video reels melintas di beranda medsos instagram. Dalam video singkat berdurasi 1 menit 23 detik itu diunggah oleh Guzman Sige, salah satu stand up comedian yang dikenal kerap menggunakan bahasa Sunda dengan gaya satir, komedi yang berusaha menyindir, tetapi tidak terasa menggurui dan sangat dekat dengan kenyataan.

Judulnya sederhana, bahkan terasa seperti keluhan sehari-hari. Perjalanan naik motor dari Buah Batu ke Dayeuhkolot. Namun dari perjalanan yang tampak biasa itu, lahir renungan yang tak biasa.

Benarkah nilai agama hilang gara-gara macet? (Sumber: YouTube Guzman Sige | Foto: Hasil tangkapan layar)
Benarkah nilai agama hilang gara-gara macet? (Sumber: YouTube Guzman Sige | Foto: Hasil tangkapan layar)

Bandung Juaranya Macetos

Betapa tidak, jebolan Stand Up Comedy Academy (SUCA) Season 4 Indosiar ini memulai dengan kalimat yang menggelitik. "Perjalanan naik motor ti Buah Batu ka Dayeuhkolot nyieun urang mikir...." Macet di Kota Bandung, seolah membuat orang-orang menjadi lebih galak.

Dengan merinci satu per satu kawasan yang akrab di telinga warga Bandung. "Cek weh di Kircon, Pasar Kordon, Katapang, di Kopo, Ranca Manyar, Bojong Soang, Ciganitri...

Di titik-titik itu, emosi para pengendara motor seperti sudah berada di ujungnya. "Heuh, di dinya pengendara motorna emosina geus mentok kabeh, geus di tungtung kabeh..."

Memang jika kita sedang berkendara di tengah hiruk pikuk kota, namun jarum speedometer nyaris tak bergerak dari angka 16,3 km/jam.

Itulah realitas harian yang harus dihadapi warga Kota Bandung sepanjang tahun 2025, di mana perjalanan sejauh 10 km rata-rata menghabiskan waktu 32 menit 26 detik.

Secara mengejutkan, Bandung kini menyandang predikat sebagai kota paling macet di Indonesia, melampaui Jakarta yang selama ini identik dengan kesemrawutan lalu lintasnya.

Berdasarkan data TomTom Traffic Index 2025, Bandung bertengger di peringkat ke-16 sebagai kota termacet di dunia, sementara Jakarta berada di posisi ke-24.

Meskipun peringkat Bandung sebenarnya sedikit membaik dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di posisi ke-12, tingkat kemacetannya masih mencapai angka 64,1 persen.

Di sisi lain, Jakarta justru mengalami lonjakan kemacetan yang drastis, naik dari peringkat 90 ke peringkat 24 dunia dengan rata-rata waktu tempuh 26 menit 19 detik untuk jarak 10 km. (Ayo Bandung, Senin, 23 Februari 2026 | 15:16 WIB)

Kota Bandung disebut kota termacet se-Indonesia pada 2024 oleh lembaga riset internasional yang berkantor di Belanda, TomTom. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Kota Bandung disebut kota termacet se-Indonesia pada 2024 oleh lembaga riset internasional yang berkantor di Belanda, TomTom. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Kukulutus, Kolot di Jalan

Nyatanya, kemacetan lalu lintas membuat banyak warga kota besar harus “kolot di jalan”, menghabiskan waktu lama di perjalanan setiap hari. Kondisi ini terjadi di Kota Bandung yang kini tercatat sebagai kota termacet ke-7 di Asia dan ke-12 di dunia, sekaligus menjadi kota termacet di Indonesia. Warga yang beraktivitas di Kota Kembang harus menghadapi kemacetan hampir setiap hari, baik pada hari kerja maupun akhir pekan.

Situasi ini dirasakan langsung oleh banyak warga, salah satunya Kiki (40), yang setiap hari menempuh perjalanan sekitar 45–50 menit dari rumahnya di Sariwangi menuju tempat kerjanya di kawasan Braga. Waktu tempuh yang panjang membuat banyak orang merasa seperti “menua di jalan”. Setelah bekerja seharian, perjalanan pulang yang masih harus melewati kemacetan membuat tubuh semakin lelah sebelum akhirnya sampai di rumah.

Kemacetan yang terjadi secara rutin tidak hanya menimbulkan keluhan, tetapi berdampak pada kesehatan fisik dan mental. Penelitian menunjukkan kondisi traffic stress syndrome dapat dialami oleh satu dari tiga pengendara akibat terjebak macet. Gejalanya dari temuan Teesside Live, meliputi peningkatan detak jantung, sakit kepala, mual, pusing hingga kram perut.

Parahnya, dari tekanan mental akibat kemacetan dapat memicu kecemasan, emosi yang tidak stabil, mudah marah, kelelahan, hingga menurunnya produktivitas kerja. (CNN Indonesia, Kamis, 03 Jul 2025 18:00 WIB)

Satirnya selalu naik satu tingkat lewat kukulutus. "Kumaha weh jiga Iran jeung Isriwil (Israel). Kari ngadagoan aya nu ngalonyeng (ulah) saeutik weh, langsung weh dirudal harita keneh..."

Kemacetan lalu lintas dapat memicu stres psikologis, terutama pada pengemudi. Psikolog Julian Amri Wijaya dari Unpad menjelaskan semakin lama seseorang terjebak macet, (satu hingga dua jam), maka tingkat stres yang dialami akan semakin meningkat.

Kondisi ini membuat pengendara merasa kehilangan kendali (loss of control), sehingga memicu emosi negatif dan tekanan mental. Dibandingkan penumpang, pengemudi umumnya mengalami tingkat stres yang lebih tinggi karena harus terus fokus menghadapi situasi lalu lintas.

Stres akibat kemacetan ini dapat memunculkan perilaku agresif di jalan. Pengendara menjadi lebih mudah marah, frustrasi, dan menunjukkan tindakan agresif seperti membunyikan klakson secara berlebihan, menyalip secara berbahaya, hingga melontarkan umpatan.

Dengan kemacetan yang berlangsung lama dapat menyebabkan kelelahan mental, yang berdampak pada menurunnya konsentrasi, refleks, dan kemampuan mengantisipasi bahaya saat berkendara. Kondisi ini meningkatkan risiko kecelakaan karena pengendara tidak lagi memiliki respons yang optimal terhadap situasi di jalan.

Menurunnya suasana hati dan kesehatan mental secara umum. Mood negatif seperti kesal, jengkel, dan tidak nyaman sering muncul ketika seseorang menghadapi kemacetan berkepanjangan. Perasaan buruk ini dapat terbawa ke lingkungan sosial, seperti di rumah atau tempat kerja, sehingga memicu konflik dengan keluarga maupun rekan kerja. (detikJabar Rabu, 18 Jun 2025 11:30 WIB)

Aktivitas apik ngabuburit di Masjid Raya Al Jabbar. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Aktivitas apik ngabuburit di Masjid Raya Al Jabbar. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Hakikat Puasa, Pengendalian Diri

Termasuk saat bulan ramadan tiba, segala bentuk kemacetan tidak hanya berdampak pada mobilitas, justru berpengaruh pada kesehatan mental, emosi, dan kualitas hubungan sosial seseorang.

Pegiat podcaster (Belagu Podcast) menggambarkan kondisi ini dengan kata-kata sarkas, "Komodeh di jam balik gawe, nyerep-nyerep (mepet) ka waktu buka puasa. Geus lain senggol bacok deui eta mah, senggol Perang Badar..."

Dengan melontarkan kalimat yang membuat penonton tertawa terbahak-bahak sekaligus berpikir. "Sidik jiwana jiwa Hamzah kabeh, Singa Padang Pasir. Ngan bedana ieu mah Singa Stopan Kircon. Ngahalangan saeutik, ngoet (nyakar)..."

Padahal, dalam ajaran Rasulullah, ketika seseorang dipancing emosi saat berpuasa, dianjurkan “Saya sedang berpuasa.” Kalimat itu seharusnya menjadi pengingat diri, bukan sekadar pemberitahuan kepada orang lain.

Dalam buku Hikmah Puasa yang Terlupa dijelaskan puasa tak hanya melatih kita bersabar menahan rasa marah semata. Tetapi juga, semua hal yang berkaitan dengan emosi. Seperti, kesedihan berlebihan atas sebuah ujian, kegalauan hanya karena masalah sepele, merengek dan mengeluh atas apapun yang menimpa.

Intinya, puasa mengajarkan seseorang untuk harus bersabar atas apapun yang menimpa.

Menahan marah, meredamnya, hanyalah titik awal. Jika seseorang sudah mampu mengatasi sikap mudah marahnya, berkat bantuan puasa, tentu ia sadar bahwa marah hanyalah reaksi atas hal-hal yang tak menyenangkan.

Bersedih dan mengeluh pun merupakan reaksi dari hal serupa. Bedanya, ketika seseorang bersedih atau mengeluh, ia tengah dihadapkan pada masalah yang seakan-akan berat. Sesuatu yang tak bisa dilawan dan terlalu tinggi.

Bukankah Allah senantiasa memberi ujian sesuai kemampuan umat-Nya? Bayangkan diri kita layaknya anak kecil yang tengah berlatih puasa. Pada usia 7 tahun, wajar bila merasa berpuasa sehari penuh menjadi hal yang demikian berat. Namun, apakah pada usia 15 tahun, ketika usia bertambah, kita masih berhak berkata demikian? (Firdaus Aden, 2020:98)

"Padahal ajaran ti Rasul teh cenah, lamun misalkan aya nu mancing emosi, pok weh sebutkeun 'Saya sedang berpuasa'...

Tapi nya hese mun jelemana baragajul (bengal) kabeh mah. Ku urang diomongan kitu teh, adon dijawab: 'Aing puasa, sia puasa, terus rek naon?"

Kegagalan seseorang mengendalikan rasa laparnya, akan berlanjut pada kegagalannya menahan amarah. Sebaliknya, keberhasilannya bersabar atas derita lapar, semestinya berlanjut pada keberhasilannya mengelola sifat-sifat buruk dalam diri manusia selama berada di dunia.

Seringkali yang muncul dalam benak orang berpuasa adalah, betapa nikmatnya menjalani ibadah tanpa halangan apapun. Kita menahan lapar dan haus, menanti waktu Maghrib, lantas berbuka. Tapi, seringkali pula yang terjadi sebaliknya. Mungkin, pada saat berpuasa Ramadhan, kita tidak akan menemui cobaan yang datang dari orang lain. Mereka akan menghormati kita, menjaga emosi, karena sama-sama berpuasa. Kalaupun ada hal yang tak mengenakkan, bisa ditahan.

Namun, ketika kita berpuasa pada hari-hari biasa, tantangan semakin berat. Kita berhadapan dengan sekian orang yang tidak mengetahui kita tengah berpuasa atau tidak. Bersua dengan orang-orang yang mungkin lupa tak mengendalikan diri, bertemu dengan banyak orang yang tak segan menampilkan 'sisi jahat' untuk memperoleh keuntungan pribadi. Justru di sinilah sebenarnya esensi puasa kita diuji. Justru inilah yang disebut "benar-benar ujian berpuasa". Tak lagi ada embel-embel 'menghormati orang puasa'.

Dan dengan keadaan tersebut, kita harus tetap bersabar. Karena, memang demikianlah ibadah yang seharusnya: semakin banyak halangan, semakin berat keadaan, semestinya semakin besar kebaikan diri yang dituai.

Selama Ramadan, mungkin kesabaran kita tak benar-benar diuji. ketika masuk bulan biasa dan puasa sunnah dikerjakan, pengelolaan amarah kita pun harus tetap maksimal. Bisa apa kita ketika ada orang yang rela memfitnah kita demi mendapatkan nilai lebih di mata bos? Bisa apa kita ketika harus bersabar, sementara orang lain bebas berbuat apa saja? Marahkah pada diri sendiri? Menyesalkah karena berpuasa? Atau justru marah pada orang lain karena tak menghargai kita?

Abu Hurairah ra pernah meminta nasihat, kemudian Rasulullah Saw bersabda, "Jangan engkau marah." Ucapan beliau tersebut diulangi berkali-kali, untuk menegaskan bahwa kemarahan memang harus diredam adanya.

Ya, mengapa harus marah? Apa manfaatnya bagi kita? Mentang-mentang kita berpuasa, lantas boleh meminta orang lain 'mengasihani diri kita'? Tidak. Untuk apa memamerkan diri tengah berpuasa, meminta semua orang memahami keadaan kita?

Puasa adalah wujud kecintaan seseorang terhadap Allah. Sehingga, mengeluh dan melakukan pembenaran diri untuk dimaklumi ‘karena sedang puasa' menjadi hal yang tidak pada tempatnya.

Ibarat seorang lelaki yang tengah berjuang demi cintanya kepada kekasih. Cemoohan dan makian dari pihak yang tak menyukai hubungan mereka, semestinya tak membuatnya mengeluh dan meratap. Ia mesti tegar. Yang dilakukan hanyalah pembuktian cintanya pada pujaan hati. Entah hancur atau entah bagaimana, fokusnya hanya pada sang kekasih, bukan pada pihak- pihak lain; yang tak terlibat dalam hubungan mereka. Jika ia mengeluh, kadar cintanya patut dipertanyakan!

Jika kita berpuasa, dan orang-orang sekitar seolah sedang 'menguji' agar kita marah, kita tidak perlu terpancing.

Mentang-mentang berpuasa, kita tidak perlu merasa berhak diistimewakan. Karena, ketika rasa itu timbul, nilai dari puasa yang sedang kita tempuh akan hilang. Mengapa? Karena nilainya berubah menjadi ‘ingin diistimewakan oleh makhluk' dan bukan 'karena Allah'.

Sesuai hakikat puasa, yang bertujuan untuk menghancurkan keakuan diri, tujuan kita memang membuat diri tak bernilai di mata Allah. Semakin tak berdaya di hadapan-Nya, semakin dekat pula cinta kepada Allah. Seperti halnya seseorang yang jatuh cinta, ia akan mengikuti apapun yang diperintahkan sang kekasih. Tak ada rasa bangga pada perjuangannya.

Karena, hakikat cinta adalah perjuangan tersebut. Jika ia tak berjuang mendapatkan cinta, berarti cintanya palsu. Jika ia tak mau hancur demi kekasih, apalah arti cinta yang diucapkan di bibir. (Firdaus Aden, 2020:95-97)

Dalam konteks ini situlah satir ala Guzman Sige mencapai titik refleksinya. Dengan nada komedi yang ringan menutupnya lewat pertanyaan yang terasa menohok dan membuat kita tertampar. "Kieu tah nilai agama teh jadi leungit gara-gara naon? Gara-gara macet."

Sungguh jawabannya mengejutkan. Semuanya gara-gara macet. Pasalnya, dari kemacetan itulah emosi mudah tersulut, terutama saat orang sedang nyetir, ketika kesabaran diuji oleh klakson, desakan kendaraan, dan situasi jalan yang memancing amarah.

Sejatinya puasa hadir sebagai latihan spiritual agar manusia mampu menahan diri. Ramadan mendidik seseorang menurunkan suhu emosi, mengubah bara kemarahan menjadi kesabaran, dan menjernihkan sikap.

Baca Juga: Bandung dan Fenomena Kemiskinan pada Momen Ramadhan

Hakikat puasa terletak pada kemampuan mengendalikan diri, emosi, amarah. Rasulullah SAW pernah mengingatkan, ketika orang yang berpuasa diprovokasi, diajak bertengkar, hendaknya berkata, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.”

Puasa sebulan penuh ini harus menjadi benteng untuk meredam gejolak batin, sikap, dan perilaku. Walhasil, satir komedi Guzman Sige tentang macet di Bandung pada Ramadan sebenarnya bukan sekadar humor borangan biasa (bodor sorangan, tunggal).

Tentunya menjadi cermin atas kehidupan sehari-hari, ketika orang nyetir, emosi sering menyambar bak petir. Pada titik inilah puasa menjadi madrasah pengendalian diri yang berusaha mengubah kegelisahan di jalan menjadi latihan kesabaran, memadamkan arang kemarahan, dan meredakan petir emosi agar hati tetap teduh saat menjalani kehidupan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Sep 2026, 21:13

Rekam Jejak Euro Management Indonesia Siapkan SDM Indonesia Go Global

Program Academic Writing diarahkan untuk memperkuat kemampuan pegawai dalam menyusun tulisan akademik secara sistematis dan sesuai dengan standar internasional.

Keberangkatan siswa Euro Management Indonesia kuliah di  Jerman (Foto: Humas Euro Manajemen Indonesia)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 19:25

Art Zine SMPN 1 Kasokandel

Setiap karya harus diapresiasi karena kita percaya bahwa setiap anak memiliki kodratnya yang unik

 (Foto: Penulis)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 13:27

Sekolah, Gerbang Perlindungan Anak di Ruang Digital

Perlindungan anak di ruang digital tidak cukup berhenti pada literasi digital. Sekolah harus memiliki kapasitas dan mekanisme nyata untuk mendeteksi, merespons, dan merujuk.

Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 11:00

Siapa yang ‘Membunuh’ Radio Bandung?

Angkasa Bandung makin tiiseun. Perlahan, satu demi satu, stasiun radio mulai pamit dari udara Bandung.

Taman Radio mengukuhkan Bandung sebagai Kota Radio. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Herman Simabur)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 08:22

Belajar dari Viralitas Produk: Memotret Pentingnya Pelayanan bagi Konsumen

Terdapat beberapa peristiwa yang mengusik perhatian masyarakat, viralnya antara konsumen dan produk tertentu, maraknya kejadian viral ini mesti jadi perhatian bersama.

Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 20:59

Eksplorasi Bandrek: Simbol Kehangatan dan Diplomasi Rempah Tatar Sunda

Dalam khazanah kuliner Nusantara, bandrek bukan sekadar minuman penghangat raga, melainkan manifestasi filosofis dari nilai kanyaah.

Bandrek, minuman penghangat tubuh khas Tatar Sunda yang cocok diseruput di tengah sejuknya dataran tinggi Priangan. (Sumber: IG: daoendjati.smg)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 17:52

Hari Aksara Internasional dan Darurat Membaca Indonesia

Hari Aksara Internasional seyogianya bukan hanya sekadar slogan tentang huruf tapi juga manusia.

Ilustrasi huruf. (Sumber: Pexels/Brett Jordan)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 13:11

Jangan Bangun Teras Cihampelas untuk Instagram

Yang perlu dibangun pemerintah di Cihampelas bukan latar belakang foto, melainkan alasan-alasan bagi orang-orang untuk datang, tinggal, dan kembali.

Teras Cihampelas (Sumber: ayobandung.com | Foto: Dok. Pemkot Bandung via ayobandung.com)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 11:25

Abu Vulkanik, Polusi Udara dan Potensi Bandung sebagai Produsen Full Face Respirator

Perlu mitigasi agar tidak terjebak dalam situasi buruk terkait kesehatan mata dan organ

Ilustrasi APD antidebu sekaligus masker dalam satu kesatuan sistem yang disebut Full Face Respirator. (Sumber: dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 10:55

Abu Vulkanik, Masker, dan MBG

Bila masker mengajarkan kewaspadaan. Sekolah belajar arti pentingnya adaptasi. MBG menegaskan pemenuhan gizi anak harus tetap berjalan dan abu vulkanik mengingatkan kita segala kebijakan yang baik

Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 17:11

200 Ikon Bandung #2: GMR FM, Keep Rock Until the End

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002.

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 15:58

10 Penulis Ayonetizen Terbaik Agustus 2026, Beropini di Bulan Kemerdekaan

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Agustus 2026, dengan total hadiah tetap dipertahankan sebesar Rp1,5 juta.

Pegiat panjat tebing berkostum spiderman mengibarkan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Hawu, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 14:41

Jelajah Rasa Masa Kolonial: Menu-menu Rijsttafel Populer di Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda.

Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 12:56

Ketika Kebebasan Sipil Terasa Kian Sempit

Pertanyaan yang cukup menyakitkan, kenapa semakin banyak aturan yang mengekang kebebasan sipil? Apa yang terjadi ketika kebebasan pers juga dibungkam karena dianggap membahayakan kedudukan pemerintah.

Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 11:28

Sekolah Bukan Pabrik Kepatuhan

Sekolah tidak cukup menjadi tempat belajar untuk mematuhi aturan. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar mengapa sebuah aturan diperlukan.

Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 07:47

Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988! Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen.

Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 18:33

Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

Diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 15:23

Lava Lembar Batutemplek Cisanggarung, Bukan dari Letusan Efusif Gunung Sunda

Lava lembar Batutemplek Cisanggarung diduga merupakan jejak letusan efusif gunungapi purba yang mengalir mengikuti bentang alam Bandung utara dan membentuk lapisan batuan berlembar.

Batutemplek Cisanggarung merupakan lava yang melembar. (Sumber: Herlina)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 12:50

Harmoni Rempah dari Rumah Tua: Dokumentasi Rasa dan Kedermawanan Meja Makan Keluarga Arab-Bogor

Kuliner Arab-Bogor menjadi warisan budaya yang menjaga memori keluarga melalui rempah, teknik memasak tradisional, dan adaptasi bahan lokal.

Buku berjudul "30 Resep Masakan Arab Rumahan" karya Balqies Batarfie yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2014. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)