Bandung dan Fenomena Kemiskinan pada Momen Ramadhan

5 menit baca
Sulistianingsih
Ditulis oleh Sulistianingsih diterbitkan Minggu 08 Mar 2026, 10:09 WIB
Gerobak saat Ramadhan. (Sumber: Sulis | Foto: Sulis)

Gerobak saat Ramadhan. (Sumber: Sulis | Foto: Sulis)

Fokus utama pemerintah Indonesia, selain makan bergizi gratis dan penyediaan rumah subsidi, yaitu meningkatkan kesejahteraan rakyat. Bentuk nyatanya adalah dengan berupaya menurunkan angka atau persentase kemiskinan. Lalu apakah rakyat sudah bebas dari kemiskinan?

Penduduk miskin adalah mereka yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan (makanan dan non-makanan). Kemiskinan itu sendiri terdiri dari berbagai jenis. Pertama, kemiskinan absolut di mana pendapatan di bawah garis kemiskinan. Kedua, kemiskinan relatif di mana ketimpangan akibat pembangunan tidak merata. Ketiga, kemiskinan kultural di mana disebabkan sikap atau budaya (malas, tidak ada motivasi). Keempat, kemiskinan struktural di mana disebabkan struktur sosial atau kebijakan yang membatasi akses.

Konsep kemiskinan absolut (pendekatan basic needs approach) biasanya digunakan untuk mengukur tingkat kemiskinan di Indonesia. Metode ini menetapkan Garis Kemiskinan (GK) berdasarkan kemampuan pemenuhan kebutuhan dasar makanan (kkal per kapita/hari) dan non-makanan (perumahan, pakaian, pendidikan, kesehatan). Data utamanya bersumber dari survei Badan Pusat Statistik (BPS). Tingkat kemiskinan di Indonesia berdasarkan data terbaru BPS per Maret 2025 adalah 8,47% atau sekitar 23,36 juta orang, menunjukkan penurunan dibandingkan Maret 2024 sebesar 9,03%. Angka ini mencerminkan komitmen pemerintah untuk menekan angka kemiskinan, meskipun terdapat perbedaan perhitungan dengan standar internasional.

Peringkat Kedua Paling Rendahnya Tingkat Kemiskinan

Terbukti bahwa kemiskinan memiliki tren penurunan, bahkan Bandung sebagai kota besar di Jawa Barat sudah mencapai persentase kemiskinan sebesar 3,78% (September 2025). Persentase tersebut tergolong lebih kecil dibandingkan dengan Provinsi Jawa Barat di mana persentase kemiskinannya sebesar 7,02%.

Bandung menempati peringkat kedua dengan persentase kemiskinan terkecil di antara kabupaten/kota yang ada di Jawa Barat. Namun kota Bandung belum mencerminkan wajah sesuai peringkat tersebut. Hal itu dapat dilihat dengan maraknya fenomena kemiskinan di kota Bandung pada bulan Ramadhan ini. Di tepi-tepi jalan kota Bandung diwarnai dengan gerobak para keluarga pencari “nafkah”. Apakah mereka menjual sesuatu? Sepertinya tidak ya.

Lalu apakah kota Bandung akan berulang dengan fenomena seperti ini setiap bulan Ramadhan? Harapannya tentu tidak. Fenomena ini muncul bukan saat ini saja, hal ini sudah terjadi beberapa tahun ke belakang. Tindakan nyata telah dilakukan Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan. Pada Februari lalu, ia sudah mengantisipasi kedatangan para pengemis ini. Setelah diidentifikasi, ternyata sebanyak 57 dari 77 orang warga, berasal dari berbagai daerah bahkan dari luar Jawa.

Sejak Februari, Muhammad Farhan memastikan petugas Satpol PP bersama dinas sosial akan terus melakukan patroli dan menindak Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS). Namun kenyataannya, hingga Maret ini masih banyak PMKS yang berkeliaran di kota Bandung. Lalu kebijakan apa yang harus dilakukan lagi oleh Pemerintah Kota Bandung agar PMKS ini tidak mengganggu ketertiban dan kenyamanan kota Bandung.

Pengemis di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Pengemis di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Asal Muasal PMKS

Sebanyak 74,03% Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) ini berasal dari luar daerah Bandung, begitu menggiurkannya Bandung bagi PMKS. Fenomena kemiskinan ini ternyata bukan hanya berdasarkan basis data BPS. Tapi berasal dari situasi PMKS yang berusaha mencari rezeki lewat momentum Ramadhan ini. Dilihat dari momentumnya, tentunya PMKS itu merupakan penduduk miskin. Namun belum dapat dipastikan apakah kemiskinan yang melekat pada PMKS itu kemiskinan absolut, di mana pendapatannya di bawah garis kemiskinan, ataukah PMKS itu masuk dalam kemiskinan kultural, di mana disebabkan sikap atau budaya (malas, tidak ada motivasi). Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memperkuat jenis kemiskinan yang melekat pada PMKS ini. Namun fenomena ini menggambarkan budaya bahwa PMKS mengharapkan profit dengan menjual kondisinya.

Pemerintah Kota Bandung memiliki beberapa kebijakan untuk mengatasi meningkatnya jumlah PMKS pada bulan Ramadhan, seperti pengemis, gelandangan, dan pengamen yang beraktivitas di jalanan. Kebijakan telah diimplementasikan berupa operasi penertiban oleh Dinas Sosial bersama Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) melalui patroli rutin di berbagai titik keramaian kota. Dalam operasi tersebut, PMKS yang terjaring akan diamankan dan didata oleh petugas. Setelah itu mereka dibawa ke tempat penampungan sementara untuk mendapatkan pembinaan sosial dan pendampingan agar tidak kembali ke jalan.

Peraturan Daerah Terkait PMKS

Selain itu, pemerintah juga melakukan pemulangan bagi PMKS yang berasal dari luar kota Bandung ke daerah asalnya setelah melalui proses pendataan dan pembinaan. Kebijakan ini bertujuan untuk mengurangi jumlah PMKS musiman yang datang ke kota Bandung saat bulan Ramadhan. Penanganan PMKS juga didasarkan pada peraturan daerah tentang ketertiban umum yang melarang aktivitas mengemis dan gelandangan di ruang publik. Penanganan PMKS didasarkan pada Peraturan Daerah (Perda) Ketertiban Umum yaitu Perda Kota Bandung No. 9 Tahun 2019 yang mengatur larangan mengemis dan bergelandangan. Aturan ini bertujuan menjaga ketertiban umum dan sering kali didukung hukum nasional yaitu Pasal 504 dan 505 KUHP.

Di samping penertiban, pemerintah juga menjalankan program pemberdayaan sosial seperti pelatihan keterampilan, rehabilitasi sosial, serta pemberian bantuan sosial agar para PMKS dapat memiliki pekerjaan dan meningkatkan taraf kesejahteraan hidupnya. Dengan adanya kebijakan tersebut, diharapkan ketertiban kota tetap terjaga dan kesejahteraan masyarakat dapat meningkat.

Baca Juga: Perang, Arang, dan Haruedang

Evaluasi Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2019

Meninjau kebijakan Perda No. 9 Tahun 2019 tersebut, artinya peraturan tersebut sudah berumur kurang lebih tujuh tahun. Dengan usia kebijakan yang sudah lama tersebut, sudah selayaknya ada evaluasi terhadap implementasi kebijakan tersebut. Harapannya agar ke depan tidak ada lagi pengemis dan gelandangan, terutama yang bersifat musiman pada saat bulan Ramadhan.

Terutama menyoroti pada Pasal 16 Perda No. 9 Tahun 2019, setiap orang dilarang untuk melakukan kegiatan sebagai pengamen, pengemis, gelandangan, pedagang asongan, dan/atau pembersih kendaraan di jalan dan fasilitas umum (poin a). Bahkan pada poin b, dilarang mengoordinir orang untuk menjadi pengamen, pengemis, pedagang asongan, dan/atau pembersih kendaraan. Kebijakan yang sudah ada tersebut, jika diimplementasikan dengan baik tentunya sangat berpengaruh terhadap pencapaian tujuan Perda tersebut. Sehingga Perda tersebut mampu memberikan dasar hukum dan pedoman dalam penyelenggaraan ketertiban, ketenteraman dan perlindungan masyarakat di Daerah Kota secara berkeadilan, berkepastian hukum, dan bermanfaat bagi masyarakat.

Latar belakang Perda disusun karena ada isu-isu permasalahan dalam suatu wilayah, dan tentu saja diperlukan solusi untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Kaitannya dengan fenomena kemiskinan yang terlihat pada bulan Ramadhan di kota Bandung, setidaknya menjadi gambaran bahwa fenomena itu seharusnya tidak ada. Jiwa untuk ingin memberi tidaklah salah, namun jika dikaitkan dengan adanya Perda No. 9 Tahun 2019 ini, alangkah lebih baiknya jika kita memberi dengan cara yang benar dan pada tempat yang tepat. Yuk jadikan momentum Ramadhan ini sebagai upaya untuk saling mengasihi dan saling memberi. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Sulistianingsih
Lembaga Administrasi Negara

Berita Terkait

News Update

Bandung 15 Jun 2026, 21:16

Kolaborasi Bekali Kopi Bersama Petani Lembang Dorong Peningkatan Ekonomi dan Regenerasi Sektor Kopi

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting.

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 18:19

UMKM 'Jangan Cuma Dagang' untuk Berkembang, Belajar dari Perjalanan Bisnis Kebab Factory

Bagi Widya, Rumah BUMN Bandung bukan sekadar tempat pelatihan.

Widya Ratna Puspita, pemilik KebabFactory.id, di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 17:27

Perjalanan Sate Maranggi sebagai Kuliner Khas Kabupaten Purwakarta

Lebih dari sekadar nilai gastronomi, Sate Maranggi mengandung nilai-nilai sosial sebagai pemersatu masyarakat Purwakarta.

Sate Maranggi khas Purwakarta (Sumber: Dokumentasi milik pribadi)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 16:44

Panduan Wisata Kuliner Empal Gentong Cirebon, Jejak Sejarah Kota Pelabuhan dalam Semangkuk Kuah

Kenali sejarah empal gentong Cirebon, perbedaannya dengan empal asem, rekomendasi warung legendaris, serta tips menikmati hidangan khas ini.

Empal gentong, kuliner khas Cirebon. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 16:40

Punya Varian Produk Tak Biasa, Kebab Factory Bisa Ekspor ke Malaysia dan Singapura berkat 'Ide Anak'

Perjalanan Kebab Factory, UMKM Kota Bandung yang terkenal dengan produk uniknya.

Kebab ice cream mellowberry, salah satu varian produk Kebab Faktory di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 15:54

Wayang Wong: Kesenian Unik yang Mengganti Peran Boneka Menggunakan Manusia

Tentang wayang wong, salah satu kesenian tradisional Jawa yang menggabungkan tari, musik, dan drama.

Wayang Wong Ramayana. (Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 13:17

Hijrah, Ubah, dan Arah

Hijrah digital bukanlah tentang meninggalkan teknologi, melainkan menjadikan teknologi sebagai jalan untuk mendekat pada nilai-nilai kebaikan.

Diskusi Film "Hijrah Digital" Ajak Mahasiswa Refleksi Literasi Digital dan Peran AI dalam Keberagamaan (Sumber: instagram @moeslimah_produktif)
Beranda 15 Jun 2026, 13:02

Jejak Ksatria di Gang Maksudi: Menjaga Amanah, Menghidupkan Nadi Ekonomi Negeri

Kisah Hasan, seorang kurir JNE di Bandung yang sempat dibegal saat berteduh karena hujan, namun kini sudah kembali bekerja berkat bantuan dari tempatnya bekerja.

Kepala Cabang Utama JNE Bandung Iyus Rustandi menyerahkan bantuan sepeda motor baru kepada Hasan sebagai bentuk nyata komitmen dan kepedulian perusahaan terhadap keselamatan karyawannya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Arif Budianto)
Linimasa 15 Jun 2026, 12:58

Ketika Selisih Harga BBM Terasa Sampai Akhir Bulan

Kenaikan harga BBM non-subsidi membuat banyak pengendara memilih antre demi mendapatkan Pertalite.

Pengendara rela mengantre lebih panjang di SPBU setelah kenaikan harga BBM Pertamax. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 11:45

Itinerary Wisata Yogyakarta 1–2 Hari, Destinasi, Kuliner, dan Budget Lengkap

Jelajahi Yogyakarta berdasarkan pembagian kawasan wisata agar perjalanan lebih nyaman. Cocok untuk liburan singkat satu hingga dua hari.

Tugu Jogja, ikon Yogyakarta. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 11:28

Dulu Pakai Ritual, Kini Pakai Kimia: Perubahan Praktik Bertani di Desa Pamoyanan

Perjalanan pertanian Desa Pamoyanan merekam pergeseran dari sistem kepercayaan Sunda Buhun menuju metode pertanian modern yang dianggap lebih efektif dan rasional.

Foto Hamparan sawah di Desa Pamoyanan, Cianjur Selatan, pada 21 Maret 2026. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nadhil Ayudiya Az Zahra)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 09:59

Potensi Ulat Sutra Solusi Masalah Bahan Baku Industri Tekstil

Mengatasi krisis bahan baku industri tekstil dengan ulat sutra.

Industri rakyat berbasis benang sutra binaan Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Karaha di Desa Cipondok Kecamatan Sukaresik Kabupaten Tasikmalaya. (Foto: Humas PGE)
Beranda 15 Jun 2026, 09:46

Jejak Persib di Kota Bandung, Jalan-jalan Bobotoh Menyusuri Memori yang Nyaris Dilupakan

Bobotoh menyusuri jejak sejarah Persib di berbagai sudut Kota Bandung, mengungkap kisah, tempat, dan memori yang nyaris terlupakan oleh waktu.

Peserta Bobotoh Story Walk menyusuri jalanan Bandung sambil mendengarkan kisah-kisah yang membentuk sejarah Persib. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Linimasa 15 Jun 2026, 08:43

Layangan Adu, Hobi yang Tidak Lekang oleh Usia

Layangan adu tetap digemari lintas usia dan menjadi ruang silaturahmi para pehobinya.

Layangan adu, hobi yang tak mengenal usia. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 08:40

Sinergi Batalyon Pangan dengan Petani Mengatasi Deflasi Komoditas Pertanian

Eksistensi Yonif TP sebaiknya turut menyelesaikan masalah hilir komoditas pertanian hingga ke pasar induk atau pasar tradisional serta pasar modern.

Bimtek Ketahanan Pangan dan Peningkatan Kemampuan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP). (Foto: dok Puspen TNI)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 19:00

Di Era Digital Kita Hidup dalam Situasi Alone Together

Di era digital, kita telah terjebak dengan hubungan teknologi dalam berkoneksi dengan sesama.

Ilustrasi teknologi digital di sekitar generasi muda saat ini. (Sumber: Pexels/Ron Lach)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 15:00

AI Art: Pencuri Masa Depan para Seniman

Jika AI mampu menghasilkan gambar secara massal, apa yang akan terjadi pada keberadaan dan masa depan para seniman masa kini?

Ilustrasi seni hasil AI. (Sumber: Pexels | Foto: Google DeepMind)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 12:51

1 Dolar Mencapai Rp 17.865 Rupiah: Apakah Kita Berada dalam Keadaan Baik-Baik Saja?

Pada 27 Mei 2026, nilai rupiah terhadap 1 dolar mencapai Rp 17.865.

Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)
Wisata & Kuliner 14 Jun 2026, 11:46

Kopi Joss Jogja, Tradisi Kuliner Unik yang Bertahan Lebih dari 60 Tahun

Kenali kopi joss khas Yogyakarta, kopi dengan bara arang panas yang kini ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Simak sejarah dan keunikannya.

Kopi Joss, salah satu kuliner khas Jogja.
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 11:12

Bagaimana Merek Lokal Membangun Branding dalam Multi-Platform

Aroma kopi menjadi identitas utama yang digunakan Implora Cosmetics untuk membangun branding Caffe Matte Lip Cream secara konsisten di berbagai platform komunikasi.

Penulis sedang menelaah kajian tentang merek lokal di Bandung.