Kegiatan “Ngabuburit “ adalah menghabiskan waktu menunggu berbuka puasa. Biasanya dilakukan sambil berjalan sore atau sekedar melakukan aktifitas yang membuat waktu terasa cepat berlalu, hingga tak terasa kumandang adzan Magrib telah terdengar.
Namun, di tahun ini cuaca setiap menjelang waktu “Ngabuburit“ didominasi oleh awan mendung, hujan dan angin yang kencang, sehingga untuk keluar rumah melakukan aktivitas “Ngabuburit” sepertinya harus saya urungkan.
Namun saya memiliki cara lain yang menyenangkan dalam menunggu waktu bedug tiba, salah satunya dengan membaca beberapa koleksi buku, terutama buku–buku sejarah Bandung karya sang kuncen Bandung bapak Haryoto Kunto. Salah satu buku yang sesuai dengan keadaan puasa saat ini adalah buku beliau yang berjudul “Ramadhan di Priangan” yang diterbitkan PT. Granesia pada tahun 2007 (cetakan kedua).
Banyak sekali hal menarik dalam buku ini yang akan membawa kita ke dimensi Bandung masa lalu saat bulan puasa tiba. Dan saya akan coba menceritakan beberapa bagian favorit saya dalam buku ini.
Pada halaman 21 diceritakan bahwa sampai tahun 1920 di kota Bandung ini masih sunyi sepi, belum ramai dengan hinar – binar kota padat seperti sekarang ini, bahkan tahun 1920 Bandung belum pantas disebut Parijs van Java, alias kota yang bermandikan cahaya, penuh pesona dan jantung kota yang terus berdenyut terus – menerus selama 24 jam.
Bandung pada saat itu hanya ramai di pagi hari saja, lewat Ashar atau sekitar pukul 4 sore, orang–orang sudah banyak yang bergegas pulang ke rumah mereka masing–masing. Kala itu, menurut banyak para sepuh Sunda disebut “Jaman di imah betah ku rupa–rupa larangan, jeung bisi pamali“ (jaman betah di rumah nan penuh segala larangan, berbagai “pamali” dan kecemasan yang mungkin saja terjadi).
Salah satu contohnya adalah terjatuh akibat naik pepohonan, tertusuk duri akibat bermain di kebun, jangan main dekat sumur nanti tenggelam, dan masih banyak kecemasan lainnya yang terkadang dibungkus oleh “pamali”.
Oleh karena itu bisa dibayangkan betapa bosannya orang Bandung pada masa itu untuk menghabiskan waktu selama berpuasa. Namun, anak–anak Bandung pada saat itu sesekali ingin kabur bersama teman, sedikit jauh dari rumah dan kawasan kampungnya.
Bila menjelang petang, anak – anak belum pulang, kaum ibu selalu cemas, jangan–jangan si Ujang atau si Nyai hilang digondol kalong. Kalong yang dimaksud pada saat itu adalah sebangsa makhluk halus yang suka menculik anak–anak dengan tipuannya dalam menyerupai ibu, ayah atau saudara si anak.
Pada tahun 1920-an kawasan jalan Otista sekarang masih merupakan kawasan yang seram temaram penuh dengan pohon–pohon besar yang membuat bulu kuduk warga yang melintasinya merinding. Kebanyakan mereka takut akan begal yang suka bersembunyi di pepohonan tua itu. Sedangkan di ujung jalan Braga yang kala itu masih terkenal dengan sebutan Karrenweg atau jalan pedati, pada lokasi sekitar Bank Indonesia sekarang, ditumbuhi banyak pohon karet munding yang besar dan akar–akarnya yang menjuntai, dan jalan Braga utara itu pada masa tahun 1920-an disebut jalan Culik.
Pada saat itu juga di sepanjang jalan Asia Afrika, Banceuy, Pasar Baru dan Braga, pada kanan dan kiri jalannya masih di tumbuhi pohon Asam, Kenari, Beringin, Huni, Tanjung, Angsanan nan teduh, rindang dan agak menyeramkan. Sehingga pada dekade tahun 1920-an jarang sekali ditemukan warga melakukan aktivitas “ Ngabuburit “ seperti kita sekarang, dan sudah menjadi aktivitas yang sangat umum dilakukan di bulan puasa.
Bandung baheula itu dipenuhi kuburan, seperti yang terdapat di belakang Masjid Agung, Sitimunigar, Gang Asmi, Kalipah Apo, Ancol, Banceuy, Kebon Kawung, Cicendo, Kebon Jahe (Gor Pajajaran, sekarang), dan yang paling jarang diinformasikan bahwa di lahan sebelum timur Balai Kota Bandung, dahulunya adalah sebuah kuburan lama warga kota ini. Sehingga yang paling sering didapati di saat bulan puasa terutama saat menjelang puasa dan menjelang Lebaran adalah para warga berbondong–bondong untuk membersihkan para makam tua tersebut dan mendoakannya.
Baca Juga: Puasa Ramadan: Modal Spiritual Membangun Integritas
Selain itu aktivitas yang dahulu banyak ditemui di Bandung menjelang puasa adalah mandi beramai- ramai di sungai untuk membersihkan diri karena esok hari akan menghadapi hari pertama puasa. Warga berbondong–bondong ke arah sungai terdekat terutama Cikapundung yang saat itu airnya masih jernih untuk “ bebersih diri” menyambut bulan puasa.
Tradisi yang sejak dahulu telah populer dan sekarang masih dijalankan adalah tradisi “ munggah”, yaitu makan – makan bersama – sama dengan handai taulan dalam rangka menyambut bulan puasa. Dahulu di kota Bandung tradisi itu dilakukan sambil menggelar tikar di kawasan terbuka seperti alun–alun. Tradisi munggah identik dengan botram yang ternyata lahir karena pada saat masa kolonial para warga pribumi melihat banyak warga Eropa yang piknik di lapangan terbuka dan menyajikan makanan yang umumnya berupa butter dan ham, sehingga terdengar di telinga para pribumi yang melintas adalah “ botram”.
Bandung tempo dulu yang sepi, jauh dari hinar binar seperti sekarang telah banyak bertransformasi, bahkan sangat jauh berbeda. Dengan “ Ngabuburit” sambil membaca kisah masa lalu kita jadi dapat melihat hal dengan sudut pandang yang berbeda, dan juga mengisi pengetahuan kita tentang kota Bandung tercinta ini, dan tak terasa adzan pun berkumandang, “Ngabuburit” saya di tahun ini sungguh sangat menyenangkan. (*)