Setiap menjelang Lebaran, jutaan masyarakat Indonesia melakukan perjalanan mudik secara serentak. Pada musim mudik 2026, jumlah pergerakan masyarakat diperkirakan mencapai 147,55 juta orang berdasarkan data Kementerian Perhubungan selama 17 hari pemantauan (13-29 maret 2026). Jalan tol dan arteri dipadati kendaraan pribadi, mencerminkan meningkatnya kesejahteraan sekaligus perubahan preferensi mobilitas.
Namun, di balik euforia tersebut, terdapat fenomena yang jarang dibahas secara serius: lonjakan pengemudi baru yang turun langsung ke jalan dalam kondisi lalu lintas paling kompleks sepanjang tahun.
Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia menunjukkan tren peningkatan penjualan mobil pada Februari 2026 mencapai 81.159 unit atau naik 22,1 persen dibandingkan Januari 2026. "Pemicu peningkatan penjualan kendaraan bermotor ini utamanya didorong oleh kebutuhan mobil masyarakat Indonesia yang ingin mudik lebaran", kata-kata Menteri Perdagangan dalam konferensi pers di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (1/4/2026).
Namun, bertambahnya kendaraan tidak selalu diiringi dengan kesiapan pengemudi. Banyak di antaranya yang baru pertama kali melakukan perjalanan jarak jauh atau berkendara di jalan tol. Dalam konteks ini, pengalaman mengemudi menjadi faktor penting yang sering luput dari perhatian.
Secara agregat, data nasional tidak selalu menunjukkan korelasi langsung antara jumlah kendaraan dan angka kecelakaan. Bahkan, Wakil Menteri Perhubungan menyebut angka kecelakaan selama mudik 2026 turun 6,31 persen dibanding tahun sebelumnya, seiring dengan peningkatan pengawasan dan rekayasa lalu lintas.
Namun demikian, penurunan ini tidak serta-merta menghilangkan risiko. Data agregat sering kali menyembunyikan dinamika yang lebih kompleks di lapangan, terutama yang berkaitan dengan karakteristik pengemudi.
Dalam perspektif keselamatan transportasi, risiko kecelakaan ditentukan oleh interaksi antara manusia, kendaraan, dan lingkungan jalan. Di antara ketiganya, faktor manusia menjadi yang paling dominan. Berdasarkan data Global Status Report on Road Safety yang dirilis WHO, faktor manusia seperti kelalaian, kelelahan, dan kesalahan pengambilan keputusan memang menjadi pemicu utama, menyumbang lebih dari 90 persen kecelakaan lalu lintas.

Temuan ini sejalan dengan berbagai studi internasional. Penelitian dalam jurnal Accident Analysis & Prevention menunjukkan bahwa pengemudi dengan pengalaman terbatas memiliki risiko kecelakaan lebih tinggi, terutama dalam kondisi lalu lintas yang kompleks (Jannusch et al., 2020).
Kondisi ini menjadi semakin krusial saat mudik Lebaran. Volume lalu lintas meningkat drastis, komposisi kendaraan sangat beragam, dan banyak pengemudi melakukan perjalanan di luar kebiasaan harian mereka. Bagi pengemudi dengan pengalaman terbatas, situasi ini dapat meningkatkan beban kognitif dan memperbesar kemungkinan kesalahan.
Dalam sistem lalu lintas yang padat, kesalahan kecil dapat berdampak besar. Keterlambatan mengambil keputusan, jarak aman yang tidak terjaga, atau perpindahan lajur yang tidak tepat dapat memicu kecelakaan beruntun.
Fenomena di lapangan menunjukkan indikasi tersebut. Kendaraan yang berhenti di bahu jalan karena kelelahan, manuver mendadak, hingga kebingungan menghadapi rekayasa lalu lintas seperti contraflow menjadi gambaran nyata adanya kesenjangan antara kepemilikan kendaraan dan kesiapan mengemudi.

Dengan demikian, persoalan utamanya bukan sekadar bertambahnya jumlah mobil, melainkan bertambahnya jumlah pengemudi dengan tingkat kesiapan yang beragam dalam sistem lalu lintas berisiko tinggi.
Sayangnya, pendekatan keselamatan selama ini masih cenderung berfokus pada aspek yang terlihat, seperti kondisi kendaraan atau pelanggaran kasat mata. Sementara itu, kesiapan pengemudi—terutama yang baru—belum menjadi perhatian utama dalam strategi keselamatan.
Ke depan, diperlukan pendekatan yang lebih komprehensif. Edukasi keselamatan perlu lebih terarah kepada pengemudi baru, khususnya menjelang periode mudik. Materi edukasi tidak cukup bersifat umum, tetapi harus mencakup tantangan spesifik seperti berkendara di jalan tol, menjaga kondisi fisik selama perjalanan panjang, serta memahami rekayasa lalu lintas.
Baca Juga: Bandung di Mata Pendatang: Antara Bayangan dan Kenyataan (Tema Ayo Netizen April 2026)
Selain itu, pemanfaatan teknologi informasi lalu lintas perlu dioptimalkan untuk membantu pengemudi mengambil keputusan secara real-time. Penguatan manajemen rest area juga penting untuk mengurangi praktik berhenti di bahu jalan akibat kelelahan.
Mudik Lebaran adalah tradisi yang mencerminkan dinamika sosial dan ekonomi masyarakat Indonesia. Namun, di tengah meningkatnya kepemilikan kendaraan pribadi, perhatian terhadap kesiapan pengemudi menjadi semakin penting.
Pada akhirnya, keselamatan di jalan raya bukan hanya ditentukan oleh berapa banyak kendaraan yang melintas, tetapi oleh siapa yang berada di balik kemudi. Tanpa kesiapan yang memadai, lonjakan pengemudi baru saat mudik Lebaran berpotensi menjadi risiko laten yang selama ini luput dari perhatian. (*)