Ayo Netizen

Tantangan Komunikasi Perantau

Oleh: Encep Dulwahab Senin 06 Apr 2026, 18:12 WIB
Pemudik di Terminal Leuwipanjang, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Pasca mudik Lebaran, kota-kota besar didatangi para perantau baru. Para perantau yang sudah lama hidup di kota, ketika kembali ke tanah perantauan membawa calon penghuni kota. Inilah urbanisasi yang setiap tahun terus terjadi. Fenomena ini bukan sesuatu yang baru, setiap selesai mudik lebaran muncul adanya peningkatan jumlah pendatang baru ke kota-kota besar. 

Tidak terbendungnya para pendatang itu karena mereka berharap mendapatkan peningkatan taraf kehidupan yang lebih layak. Karena di desa menyempitnya ruang hidup yang ditandai dengan semakin berkurangnya lahan pertanian. Sementara di kota besar banyak kisah manis dari kesuksesan para perantau. Di kota besar banyak hal yang tidak bisa diberikan di desa, industri yang berkembang, teknologi yang maju, peradaban yang lebih tinggi, sektor jasa yang beragam, akses terhadap infrastruktur, dan gaya hidup yang mewah. 

Namun kota yang didatangi tidak hanya memberi apa yang diimpikan para perantau, kota juga menuntut berbagai hal, terutama adaptasi para perantau agar bisa diterima dengan baik oleh para penduduk kota yang lebih dulu sudah hadir. Dengan membawa budaya dan skill. Setiap pendatang membawa tradisi, impian, dan nilai-nilai dari kampung halamannya masing-masing, dan itu masuk ke dalam budaya kota, melahirkan budaya baru.

Interaksi antarwarga kota, yang sudah menetap dan pendatang dari berbagai latar belakang yang berbeda, akan terjadi saling belajar dan memperkaya budaya. Namun sisi negatifnya risiko terjadi gesekan sosial pun besar, peluang terjadi kesalahpahaman antar warga yang heterogen, bahkan konflik horizontal bisa tidak terelakkan. Gesture tertentu bisa jadi tidak menjadi masalah, namun gesture tersebut adalah fatal untuk wilayah tertentu. Begitu pun istilah-istilah di daerah tertentu dianggap tabu, namun di daerah lain istilah tersebut tidak pantas diucapkan. Hal sepele namun bisa menjadi pemicu konflik. 

Umat Islam setelah melaksanakan shalat Idul Fitri 1447 Hijriah di pelataran Gedung Sate. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Dialog antarbudaya para pendatang dengan warga lokal, dalam rangka meningkatkan pemahaman identitas masing-masing budaya harus dilakukan. Mengingat keberagaman para pendatang dengan warga lokal yang begitu besar, maka potensi konflik pun besar pula. Tidak sedikit konflik terjadi karena kesalahpahaman budaya, kebiasaan, dan kurangnya saling toleran antar para penduduk kota, atau para pendatang dengan para penduduk asli.   

Beruntung para pendatang yang memiliki keterampilan komunikasi dan mind set yang bagus, sehingga bisa diterima dengan baik para penduduk asli. Atau para pendatang bisa beradaptasi dengan menyesuaikan diri terhadap nilai dan budaya tuan rumah sehingga memiliki hubungan sosial yang sehat. Terutama ketika mereka berkomunikasi dengan penduduk setempat di tempat-tempat umum, seperti pasar, gang-gang sempit, tempat tinggal sementara atau kos kosan, atau lingkungan lainnya. Pada waktu interaksi ini, semuanya menjadi media akulturasi dan terbentuklah identitas baru. 

Para pendatang jangan egosentris dan bangga atas asal usulnya, sehingga merendahkan identitas warga lokal. Keyakinan ini bisa menjadi masalah. Bukannya diterima dengan baik, yang ada akan mendapat penolakan dari warga lokal. Young Yun Kim (2001) menjelaskan bahwa keberhasilan para pendatang baru bukan ditentukan oleh kemampuannya mempertahankan identitas asalnya, melainkan keberhasilannya melakukan komunikasi dengan menggunakan bahasa dan budaya tuan rumah. 

Para  pendatang yang mau belajar budaya dan bahasa tempat yang dikunjungi, meskipun terbata-bata menggunakannya, maka warga asli atau warga lokal akan merasa tersanjung. Para pendatang rela stres, kerja keras, dan menunjukkan itikad baik mempelajari bahasa dan budaya tempat perantauannya, ini sebagai ikhtiar untuk meraih kesuksesan dalam merantau.

Hal yang sama juga dikatakan Kim dan Kim (2021), bahwa kalau para perantau aktif terlibat dalam jaringan komunikasi, baik secara daring maupun tatap muka, menunjukkan tingkat adaptasi psikologis dan fungsional yang jauh lebih baik dibanding mereka yang hidup terisolasi. 

Meskipun para pendatang harus memiliki mental yang kuat, skill yang mumpuni, spirit kerja yang bagus, namun akan lebih lengkap membekali diri dengan kemampuan komunikasi antar budaya, yang memahami budaya setempat. Kesadaran menerima dan mempelajari budaya lokal yang didatangi ini, akan membangun dialog antarbudaya sehingga urbanisasi tidak berubah menjadi gelombang yang merusak semua pihak, baik pendatang maupun warga lama yang merasa terusik dengan kehadiran para pendatang. (*)

Reporter Encep Dulwahab
Editor Aris Abdulsalam