Hari Bumi tahun ini mengetengahkan tema "Our Power, Our Planet" (Kekuatan Kita, Planet Kita). Tema tersebut sangat relevan dengan kondisi Geopark Ciletuh yang membutuhkan peran masyarakat lebih jauh untuk terlibat aktif dalam perlindungan lingkungan ekowisata tersebut. Mengunjungi geopark tersebut kita akan lebih mengenal struktur lapisan bumi dan fenomena geologi yang terlihat sangat eksotik. ada batuan unik dan air terjun yang menawan, menjadikan Geopark ini sebagai destinasi idaman bagi para pecinta petualangan dan alam.
Dengan pemandangan hamparan Samudra Hindia yang memukau dan keberagaman ekosistem, Geopark ini telah menjadi destinasi favorit para pencinta alam. Selain itu, Tak heran, keelokan Geopark Ciletuh akhirnya mendapat pengakuan dari UNESCO.
Masa depan geopark Ciletuh Sukabumi, Jawa Barat adalah mempertahankan keberlanjutan status UNESCO Global Geopark (UGG) melalui revalidasi, konservasi ketat serta pengembangan ekowisata berbasis pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal. Pengembangan infrastruktur perlu terus didorong untuk meningkatkan nilai investasi dan pariwisata berwawasan lingkungan.
Ada sederet masalah krusial, antara lain masalah sampah, terutama berupa tumpukan sampah rumah tangga dan plastik. Kondisi sampah cukup parah dan telah mencemari jalur akses seperti Jalan Raya Bagbagan, hingga menimbulkan bau menyengat.
Pilar Industri Pariwisata
Bersyukur Geopark Ciletuh bisa mendapatkan Green Card dari UNESCO. Itu merupakan predikat tertinggi dalam revalidasi empat tahunan oleh UNESCO. Tahapan revalidasi telah dilaksanakan pada 30 Juni sampai 4 Juli 2025 lalu oleh dua perwakilan UNESCO yaitu Bojan Rezun (Slovenia) dan Zhang Cheng Gong (Tiongkok).
Selain Geopark Ciletuh-Palabuhanratu, ada dua geopark lain di Indonesia yang mendapatkan status Green Card dari UNESCO. Keduanya adalah Geopark Rinjani dan Geopark Kaldera Toba.
The International Ecotourism Society menyatakan bahwa ekowisata merupakan pilar industri kepariwisataan yang memerlukan keseriusan dalam membenahi variabel daya saing.
Perlu langkah yang tepat untuk memperkenalkan lebih dalam lagi berbagai kecantikan ekowisata Indonesia kepada dunia. Definisi ekowisata pada mulanya diperkenalkan oleh The Ecotourism Society, yakni perjalanan ke areal yang masih alami dan untuk menjaga lingkungan serta menopang kesejahteraan masyarakat lokal.
Ekowisata merupakan bentuk wisata yang dikelola dengan pendekatan konservasi yang disertai peningkatan kesejahteraan atau pendapatan masyarakat sekitar Daerah Tujuan Ekowisata (DTE). Konservasi merupakan upaya menjaga kelangsungan pemanfaatan sumber daya alam untuk kini dan masa mendatang. Pendekatan lainnya adalah Ekowisata harus dapat menjamin kelestarian lingkungan. Dalam arti menjaga tetap berlangsungnya proses ekologis yang tetap mendukung sistem kehidupan; melindungi keanekaragaman hayati; serta menjamin kelestarian dan pemanfaatan spesies dan ekosistemnya.
Geopark Ciletuh adalah objek yang lengkap untuk kategori ekowisata atau wisata alam, mulai dari garis pantai yang meliuk terpadu batu dan karang, beberapa air terjun, patahan lapis Bumi, hingga puncak bukit Darma yang memiliki sudut pandang yang sangat eksotik. Selain itu ombak lautan yang perkasa, tebing curam, dan pemandangan lainnya bisa pengunjung nikmati.
Pengunjung juga akan disuguhi pemandangan sawah yang amat memesona hingga membelai sukma jika melintasi sepanjang perjalanan ke puncak Darma. Amat beragam dan setiap sudut mata memandang terlihat eksotis sebagai gatra destinasi ekowisata. Pemandangan malam yang amat menakjubkan ribuan lampion menghiasi langit pantai Palangpang Geopark Ciletuh di Desa Ciwaru, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Wisatawan sangat terpesona melihat ribuan lampion terbang menghiasi langit.
Geopark atau taman bumi Ciletuh, Pelabuhan Ratu resmi ditetapkan sebagai salah satu Unesco Global Geopark pada 17 April 2018, dalam sidang Executive Board UNESCO ke 204, Programme and External Relations Commissions di Paris, Prancis. Proses penetapan hanya berjarak 3 tahun setelah menjadi kawasan geopark nasional dan prosesnya termasuk yang paling cepat di Indonesia. Kawasan Geopark Ciletuh ditetapkan menjadi kawasan Geopark Nasional sejak 2015 dengan luas area 45.820 ha mencakup 15 desa dan 2 kecamatan. Dalam perkembangannya, kawasan Geopark Ciletuh meluas hingga mencapai wilayah Cisolok dan Palabuhanratu dengan peningkatan luas area menjadi 126.100 ha dan mencakup 74 Desa di 8 Kecamatan.
Secara aspek geologi, Ciletuh merupakan satu-satunya wilayah yang memiliki singkapan batuan tertua di Jawa Barat, berupa batuan langka ofiolit, metamorf dan batuan melange. Batuan ini merupakan produk hasil tumbukan antar lempeng benua Eurasia dengan Samudra Hindia (Indo-Australian) sekitar 60 juta tahun yang lalu. Kawasan Ciletuh juga memiliki batuan lanskap berbentuk setengah lingkaran menyerupai tapal kuda terbuka. Batuan tebing ini membentang dengan diameter bentangan sekitar 15 kilometer. Bentangan ini banyak disebut sebagai amphitheater (teater alam) terbuka dengan banyak air terjun yang jatuh di sela tebing.

Dari segi keanekaragaman hayati, Ciletuh memiliki ragam kawasan konservasi alam, mulai dari nature reserve, wildlife reserve, forest conservation, taman nasional dan kawasan konservasi penyu hijau. Kawasan Ciletuh juga memiliki berbagai budidaya tambak, perkebunan, pertanian dan hutan produksi. Sedangkan dari segi budaya, Ciletuh menyimpan kearifan lokal masyarakat Sunda yang masih terjaga hingga kini. Mulai dari tinggalan mitos dan folklor, hingga berbagai tinggalan situs Megalitikum, tinggalan kolonial, serta Kampung Budaya Kasepuhan yang masih memegang kuat tradisi Sunda.
Pesona luar biasa Ciletuh Geopark membutuhkan mitigasi risiko kebencanaan. Karena bentang alam yang menakjubkan itu juga mengandung potensi kebencanaan, seperti longsor, kecelakaan transportasi hingga gempa bumi. Dibutuhkan manajemen risiko bencana untuk sektor pariwisata yang andal. Manajemen risiko ini memerlukan peta tematik kebencanaan sebagai informasi kebencanaan spasial. Peta tematik kebencanaan ini juga merupakan informasi yang sangat dibutuhkan dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan pariwisata.
Ciletuh merupakan ekowisata berbasis masyarakat yakni usaha ekowisata yang menitikberatkan peran aktif komunitas. Ekowisata berbasis masyarakat dapat menciptakan kesempatan kerja lewat jasa pemandu, penyedia transportasi, homestay, menjual kerajinan, dan sebagainya. (*)