Saat artikel ini ditulis, tampak bahwa pabila tidak ada hal yang betul-betul ‘konyol’ terjadi, Persib semestinya diambang (hattrick) juara.
Menurut KBBI, ‘konyol’ adalah kata sifat yang berarti tidak sopan, kurang ajar, agak gila, kurang akal, atau tidak berguna/sia-sia. Pada artikel ini, istilah konyol lebih tepat dipadankan dengan pengertian terakhir itu: “tidak beguna/sia-sia”. Istilah ini sering menggambarkan perilaku bodoh, menggelikan, dan tidak masuk akal yang mengundang tawa atau cemoohan. Ada juga istilah lain yang tidak formal untuk konyol yakni blo’on, yang diartikan, itu tadi, melakukan tindakan konyol.
Untuk istilah konyol tersebut, rupanya masih ada cerita tersisa terkait ‘apa itu hari lahir’ Persib.
Seumpama kita berkeliling di jalanan wilayah Priangan – dari Pangandaran sampai Sukabumi, ke Ciamis, Tasikmalaya, Garut, Purwakarta, Cianjur, hingga wilayah Bogor dan Depok, atau terutama Bandung raya, tengoklah kanan-kiri, ke mana saja sembarang menuju: Bandung Barat – Ngamprah, Padalarang, Cimahi, Cililin, Batujajar, Lembang, Subang, hingga Gunung Halu, ke Pangalengan, ke Ciwidey, Ciparay, Bojongsoang, Majalaya, Banjaran, atau Majalengka, Sumedang, Pamulihan, Tanjungsari, Jatinangor, ke Bandung timur - Rancaekek, Cicalengka, dst. hingga masuk Kota Bandung - di sepanjang tepi jalan raya yang mengitarinya, dengan mudah mata kita akan dihadapkan pada berbagai graffiti tembok bertuliskan ‘Persib 1933’, dengan segala variannya. Silakan dicek sendiri, mengapa tidak kita temukan goresan pilox Persib 1919?
Menggelikan bahwa apabila melihat apa yang terjadi sepanjang dua tahun lebih ini, perdebatan semacam apakah Persib lahir 1919 atau 1933 dst. rupanya sudah tidak lagi penting dipersoalkan.
Apakah itu artinya Persib tetap (dianggap) lahir 1933?
Berdasarkan hasil Naskah Akademik (NA) yang ditulis tim dari Jurusan Ilmu Sejarah FIB Unpad, dinyatakan hari lahir Persib berubah dari 14 Maret 1933 menjadi 5 Januari 1919.
Belakangan ada yang memberitahu saya istilah untuk hari lahir Persib: ‘official’ (1919), dan ‘kultural’ (1933). Mengarang bebas apa lagi ini? Untuk omong kosong dan pernyataan entah siapa yang mengada-ada seperti itu, seharusnya abaikan saja.
Pengabaian itu jelas ada alasannya.
Tulisan ini tentu saja tidak akan mengajak berdebat soal argumen adu data sumber untuk penulisan NA dst. (sebagaimana misalnya isi pdf yang pernah dibagikan ke khalayak oleh anggota tim NA pada 4 November 2024 lalu – perbandingan isi skripsi Fajar Salam dan NA terkait hari lahir Persib, terlampir). ‘Ngapain? Soal ini sudah saya tekankan saat rame-rame awal terbitnya NA, dan penjelasan yang saya kemukakan pada banyak kesempatan terutama lewat tulisan di media ini juga, seharusnya semakin meyakinkan semua pihak bahwa yang terjadi adalah ‘pertunjukan seolah-olah ilmiah’ yang makin ke sini makin terasa memalukan. Saya ulangi dan tekankan sekali lagi, sejak awal - yang dipersoalkan bukanlah perdebatan ‘apakah 1919, atau 1933 yang betul?’, tetapi etika penulisan ilmiah, dan cara tim ahli ini menyikapi apa itu ‘barang’ yang disebut ilmiah! Polemik ‘hari lahir’ ini sebenarnya sudah tamat riwayatnya diakibatkan kekonyolan teknis penulisan dan pernyataan verbal penulis ‘naskah akademik Persib 1919’ itu sendiri – yang saya artikan di awal tulisan ini dengan (sekali lagi) istilah ‘konyol’.

Pengalaman saya berhubungan dengan apa yang disebut ‘Naskah Akademik Hari Lahir Persib’, termasuk dengan orang-orang yang menulis dan mengaku ‘penemu hari lahir Persib yang baru’, mengarahkan saya pada keyakinan termasuk kesimpulan bahwa nyatanya (saya ulang-ulang terus) ‘Persib 1919’ tidak relevan dinyatakan dan dilanjutkan bukan karena perdebatan ilmiah, atau keharusan adu argumen semacam adu data hasil riset penelitian dst. (banyak artikel ditulis mengenai hal itu), tetapi melulu disebabkan sejumlah temuan kekonyolan dalam etika penulisan karya ilmiah, teknis penulisan yang sama sekali tidak ilmiah, atau bahkan kekeliruan-kekeliruan kecil pernyataan verbal tetapi pengaruhnya nyata, besar & fatal terhadap keseluruhan cerita selama nyaris dua tahun ini, yang memperkuat suatu kenyataan bahwa mempertahankan gagasan ‘Persib 1919’ adalah sikap bebal dan dengan begitu - eksistensi Persib 1933 tidaklah terbantahkan!
Semua penjelasan untuk penekanan ‘1933’ itu tidak terbantahkan, sebagaimana akan diuraikan di bawah ini, keseluruhannya berhulu, atau didasarkan (justru) pada uraian, penjelasan, dan perilaku konyol para pembuat NA itu sendiri yang keruan membuat ‘1919’ tidak lagi punya nilai.
Meski begitu, rupanya yang punya kepentingan, tetap ngeyel, tetap keukeuh, mereka merasa tidak ada yang salah dengan semua yang terjadi. Ada apa ini?
Misalnya pada artikel berjudul " Soal Persib 1919 atau 1933, Begini Tanggapan Manajemen Persib ", PRFM News - 18 Maret 2025:
“Bobotoh menginisiasi diskusi perihal hari jadi Persib Bandung dengan mengundang berbagai elemen termasuk tim peneliti dan manajemen PT. PBB (Persib Bandung Bermartabat) pada 16 Maret 2025 di The Park Jabar, Bandung. Dalam acara tersebut, Sporting Director PT. PBB, Adhitia Herawan menyampaikan bahwa permasalahan hari jadi ini tidak perlu menjadikan adanya dualisme. Mengutip pernyataan salah satu narasumber, Adhitia menyebut bahwa kebenaran itu banyak macamnya termasuk kebenaran sains dan kebenaran cinta. “Saya pikir ini bisa berjalan beriringan 1933 dan 1919. Dia mengungkapkan bahwa kalaupun akan tetap diperingati maka nantinya harus disepakati bahwa 14 Maret 1933 merupakan hari apa.” Apa ini?
Untuk itu, saya akan menjelaskannya, mengulang, mensarikan, atau malah mediktekan kronologinya dengan cara yang (mudah-mudahan) lebih sederhana, dan sepertinya tidak (perlu) ilmiah!
Apa yang saya uraikan pada artikel ini - melulu menilai dan mengkritisi pernyataan tim NA, baik itu pernyataan yang ditulis pada NA maupun pernyataan verbal para penulis NA dimaksud.
Saya akan urut ceritanya hingga sampai pada kesimpulan di atas, sebagai berikut:
Pada tahun 2023 lalu, Persib secara resmi mengubah tanggal lahir atau hari jadinya yang awalnya 14 Maret 1933 menjadi 5 Januari 1919. Perubahan itu dikukuhkan setelah pihak Persib Bandung menerima hasil penelitian ilmiah dari Tim Peneliti Hari Jadi Persib yang diketuai Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjajaran (FIB Unpadj), Prof. Kunto Sofianto.
Pertama, terkait Skripsi Fajar Salam, yang saya tuduh ‘disembunyikan’ tim NA. Pabila soal skripsi itu dianggap perkara sepele, saya mau bilang begini: skripsi itu tidak dibuat dan disimpan di Universitas Al Azhar Kairo atau di Universitas Cornell di New York sana. Skripsi itu ada di benua Asia, namun tidak ditulis di India atau Malaysia tetapi di Indonesia. Di Indonesia, skripsi itu tidak dikerjakan di USU Medan, atau di Universitas Hasanuddin di Makassar, tetapi di Jawa Barat, di Jatinangor. Di Jatinangor, skripsi ini tidak dihasilkan di IPDN atau IKOPIN, tetapi di Unpadj. Di Unpadj, skripsi ini tidak dikerjakan di Fakultas Peternakan atau Fakultas Kedokteran Gigi tetapi di Fakultas Ilmu Budaya (FIB). Di FIB Unpadj, skripsi ini tidak disimpan di Jurusan Sastra Sunda atau Sastra Arab tetapi ada di Jurusan Ilmu Sejarah. Lokasi skripsi Fajar Salam disimpan inilah tempat dari mana para penulis ‘Naskah Akademik Persib’ berasal. Dengan begitu apa yang kurang jelas bahwa ‘skripsi’ yang merupakan produk yang dihasilkan Jurusan Sejarah itu ‘disumpumputkeun’!
Itu yang saya maksud pada artikel “Mencurigai Naskah Akademik Hari Lahir Persib, Menengok Skripsi Fajar Salam”, yang dirilis media BB pada 3 Januari 2024.
Saya ulang apa yang saya katakan pada artikel tersebut: “Apakah skripsi (yang notabene dihasilkan Unpadj) itu tidak bisa dipercaya? Apakah hasil penelitian yang namanya skripsi dianggap tidak ilmiah? Pabila skripsi ini bukan karya ilmiah seperti yang Prof. Kunto Sofianto, PhD suatu ketika katakan kepada saya, lalu produk yang dihasilkan jurusan ini apa? Atau asal beda saja? Atau ada maksud lain?”
Saya katakan juga pada artikel itu: “Karena perilaku tidak beretika ini, harus dikatakan bahwa NA ini telah kehilangan nilai akademisnya. Pantaskah cara penulisan seperti ini dijadikan rujukan?”

Malahan belakangan saya menemukan, rupanya ada skripsi (tersembunyi) lain terkait periode awal Persib yang dihasilkan jurusan tersebut, dan menariknya penulisan skripsi ini justru dibimbing langsung oleh Prof. Kunto Sofianto PhD. Apa gunanya dibimbing segala kalau memang bukan sejenis karya ilmiah?
Perhatikan judul, dan (terutama) judul bab dan sub bab IV pada skripsi yang ditulis Anugrah Rahmatulloh (Angkatan 2016), dan lulus 2020 di bawah ini:
Segregasi dan Diskriminasi Masyarakat Belanda–Bumiputera, dalam Sepakbola di Bandung 1900–1942.
Bab IV Sepakbola dan Pergerakan Nasional Masyarakat Bandung (1926 – 1942)
- 4.1 Awal Perlawanan Segregasi dalam Sepak Bola Secara Terstruktur (1926-1930)
- 4.2 Persib Bandung dan Cita-cita Masyarakat Bumiputera Melawan Segregasi (1930-1935)
Silakan pembaca tulisan ini menyimpulkan sendiri, kira-kira cerita di atas itu apaan?
Apakah masalah NA sekedar urusan ‘menyembunyikan’ skripsi? Rupanya masalahnya ‘bejibun!’
Catatan kedua, dan juga amat penting yang saya tulis pada artikel itu - sesat logika. Dikatakan bahwa “'Tim ahli' ngotot membuat penekanan bahwa Persib adalah pendiri PSSI, maka umur Persib "harus" lebih tua dari PSSI. Untuk itulah dilakukan penelitian hari jadi Persib yang baru oleh 'tim ahli' dari Unpadj.”
Masak urusan argumen begini masih harus diulang-ulang, karena jelas sekali maksud pernyataan saya pada NA ini, dan pabila (pura-pura) tidak dimengerti, itu sih (lagi-lagi) betul-betul konyol.
Begini, saya ulangi - argumen yang digunakan bahwa Persib salah satu pendiri PSSI adalah (perhatikan, saya tidak sedang berasumsi, ini semata sebagaimana dikutip dari NA) berasal dari kata sambutan K. Komarawinata (Ketua Persib di masa itu) dalam ulang tahun Persib ke-30 pada 1963 dan tulisan R. Ibrahim Iskandar (Ketum Persib 1951-1957) (NA, halaman 64) yang menyebut bahwa Persib (diklaim) adalah pendiri PSSI.
Kali ini saya tanya sekali lagi kepada Prof. Kunto Sofianto PhD: “apakah sambutan K. Komarawinata dan tulisan R. Ibrahim di atas sumber primer?”
Sudah saya tekankan bahwa pernyataan tim NA mengenai persoalan ini juga ngawur. Penjelasan Persib pendiri PSSI berasal dari sebuah pidato 30an tahun kemudian. Prof. Kunto Sofianto sendiri selalu menekankan pada dua kesempatan di depan bobotoh bahwa mereka akan selalu menggunakan sumber -sumber primer atau sezaman untuk menjelaskan argumennya. Kita, pembaca NA tidak menemukan apa yang dimaksud sumber primer atau sezaman pada pernyataan itu. Jadi ini apa?
Semua pertanyaan di atas tidak pernah dijawab oleh tim NA ini meskipun mereka punya hak jawab karena soal ini sudah menjadi konsumsi publik.
Lalu, setahun berselang, saya merilis artikel lagi, bertajuk “Bab IV Naskah Akademik Hari Lahir Persib, Imut Sih, Tapi Ini Apaan?” pada 25 Januari 2025.
Bahwa ada masalah pada Bab IV NA itu, sudah saya kasih sedikit clue pada artikel pertama di atas. Sebagaimana kritik yang tampak sepele soal skripsi Fajar Salam dan ‘perihal sumber primer’ di atas – soal menyangkut Bab IV ini pun tampak dianggap hal remeh temeh, menyepelekan logika, dan teknis penulisan karya ilmiah. Itu sebab saya tulis secara khusus. Dan sebagaimana biasa, tidak pernah ada tanggapan bersifat akademis terkait semua itu.

‘Ujug-ujug mengarang hari lahir Persib’
Pada artikel itu saya tulis begini:
“Bahwa penentuan hari lahir Persib bernuansa “pesanan” tercermin pada Bab IV NA. Jelas sekali pada halaman 75-76 NA, para “sejarawan akademis” itu membuat simpulan, rekomendasi Hari Jadi Persib menjadi tiga alternatif sebagai berikut: Pertama, 5 Januari 1919 yakni penyelenggaraan vergadering BIVB (Bandoeng Inlandsch Voetball Bond); Kedua, 19 Mei 1923 yakni tanggal pertandingan resmi pertama Bond Bandoeng dalam Stedenwestrijden atau pertandingan antarkota; Ketiga, 22 Oktober 1928 yakni tanggal pembentukan perserikatan sepak bola dengan menggunakan identitas keindonesiaan BIVB (Bandoeng Indonesische Voetball Bond).
Keruan, coba simak pernyataan ini, di halaman 85 (ujug-ujug saja) Tim Ahli NA malah sudah menulis begini: “Sejarah hari lahir Persib pada 5 Januari 1919 akan menjadi bukti betapa kuatnya pengaruh sosial…blab la bla.”. Sekali lagi, apa ini? Saya ulangi, halaman 75-76 mereka mengusulkan/membuat rekomendasi, lalu tanpa argumen atau penjelasan apa pun pada halaman 85 “hari lahir” sudah ditetapkan!”
Silakan pembaca tulisan ini menilai sendiri, apakah Tim Ahli NA ini lupa, alpa, keliru menulis atau disengaja?
Berikutnya - pada bagian Landasan Filosofis & Sosiologis, Tim Ahli NA membuat tekanan dengan mengutip Jung, Durkheim, Berger, Tafjel, atau Weber. Siapa mereka, mengapa dan bagaimana mereka dicantumkan dan dikutip sudah saya uraikan panjang lebar pada artikel dimaksud.
Saya kutipkan kembali diantaranya: “Dari cara pengutipan saja, saya merasakan keraguan, apakah betul Tim Ahli NA ini membaca karya-karya tokoh di atas? Persoalan ini mengemuka apabila kita cermati – dari mana saja kutipan-kutipan yang mereka ambil, yakni cuma kutipan semena-mena dari artikel tema apa pun, ditulis siapa pun asalkan memuat kutipan terkait itu tadi: ‘simbolisme, identitas, persaingan antargrup, dan interaksi sosial’ pada jurnal-jurnal terafiliasi (kajian) agama Sinta 3 atau 4.”
Semena-mena? Seperti salah satunya contoh lucu terkait referensi yang dipakai (entah apa ini): Izzati, J.F., & Ratyaningrum F. (2021). "Lukisan Make Up Idealism Karya Joko Pramono: Analisis Simbol Visual Menurut Teori Kepribadian Carl Gustav Jung", dalam Sakala Jurnal Seni Rupa Murni (vol.3, Issue 1).”
Kutipan-kutipan itu bila disambungkan dengan narasi keseluruhan Bab IV akan tampak seperti semacam tempelan. Cuma kerangka dasar, pola, atau cetakan yang sama, dan digunakan untuk membuat dokumen atau desain baru tanpa harus mulai dari nol.
Mengapa begitu? Rupanya ada istilah yang umum diketahui untuk pemahaman di atas saat ini – template!
Template yang saya maksud adalah seperti ini: “Uraian pada Bab IV itu bisa kita ubah subyeknya dengan nama apa pun, selain Persib tentu saja. Gampang sekali, acak saja: Anda bisa mengganti kata Persib dengan nama-nama kelompok masyarakat bersifat kedaerahan (Sunda), sanggar tari, paduan suara, klub basket, komunitas sepeda, sekolah, geng motor, kelompok skaters, perusahaan semacam BUMD, perguruan silat, universitas, pesantren, yayasan, bahkan nama ormas kedaerahan. Atau klub sepak bolanya diubah, bukan Persib. Kita juga dengan mudah tinggal mengganti Bandung dan Jawa Baratnya. Dengan begitu, apa yang membuat Persib punya nilai tertentu secara filosofis dan sosiologis? Semua penjelasan di Bab IV tadi itu tidak ada yang khas mencerminkan kekhasan Persib sebagai suatu klub sepak bola dengan entitas yang unik, beda dengan yang lain, atau tiada duanya.”
Berikutnya - ada keraguan saya yang sungguh terhadap pemahaman mereka mengenai apa itu sepakbola (tercermin dengan jelas pada Bab IV), lebih khusus lagi mengenai filosofi dan sosiologi sepakbola dengan melihat cara penulisan Bab IV semacam itu. Apalagi setelahnya ada ambisi besar menulis historiografi Persib 1000 halaman!
Apabila tadi di atas saya uraikan keganjilan cara pengutipan dan pemahaman yang namanya landasan filosofis dan sosiologis, ditambah itu tadi, mereka juga asal mengutip dari jurnal-jurnal agama, rupanya ada hal lain yang menarik. Tidak ada petunjuk sedikit pun pada Bab IV itu yang menunjukkan tanda-tanda tim ahli NA ini membaca buku atau ulasan mengenai sepakbola (untuk penjelasan panjang lebar mengenai isu itu, silakan membaca artikel dimaksud). Kita, pembaca NA tidak ditunjukkan oleh para ‘sejarawan akademis’ ini bahwa mereka punya pemahaman & wawasan (yang tidak perlu) mendalam mengenai sepakbola untuk menulis Bab IV. Saya menilai penulisan landasan filosofis dan sosiologis yang asal buat dan asal jadi semacam ini semacam sikap menggampangkan dan meremehkan – ‘ah cuma urusan klub bola!’

Mengapa Harus ke Irian?
Peristiwa berikutnya juga menarik untuk dicermati. Pada 8 Maret 2025 Prof. Kunto Sofianto, PhD. dan DR. Miftahul Falah hadir pada Diskusi Terbuka Reclaim the Club Menguak Hari Lahir Persib di Northernwall.
Contoh berikut ini juga konyol & penting dicatat. Prof. Kunto Sofianto, PhD pada forum itu mengaku fans, bobotoh berat Persib sejak 1980-an. Ada ocehan menarik di situ tetapi (lagi lagi) mencurigakan dan fatal, dikatakan: “Saya juga cinta Persib. Tahun 1982 saya tidak bisa (ikut nonton) ke Irian, sewaktu Jajang Nurjaman (cs) menang lawan Irian Jaya (?)”.
Soal ini penting dikomentari, karena kisah heroik Persib di tahun 1980an tertanam kuat pada ingatan masa remaja saya. Saya menangkap alam pikir beliau karena kecurigaan tadi. Patut diduga Prof. Kunto Sofianto, PhD tidak mengerti (dunia) sepakbola, lebih khusus lagi sepakbola tanah air, yang tampak cukup jelas dari pernyataan pendek itu saja. Begini - Persib terdegradasi dari Divisi I (ketika itu masih) Perserikatan pada tahun 1979, dan kembali lagi ke Divisi Utama baru di tahun 1983. Kompetisi Perserikatan juga tidak dilakukan dengan setengah kompetisi. Itu sebab Persib tentu saja tidak bermain di Irian (Papua) (apalagi) tahun 1982 (karena masih berada di Divisi II), dan kalaupun bertarung, ‘perserikatan’ itu dibagi wilayah Barat dan Timur, dan barulah Persib bertanding melawan lima kompetitor lainnya di babak enam besar di GBK Jakarta. Bukan Irian lawannya tentu saja. Tahun 1986, saat Persib juara Perserikatan, yang dihadapi adalah Perseman Manokwari!
Mengutip Prof Kunto Sofianto pada bagian lain ucapannya di acara tersebut, beliau mengatakan soal objektivitas penelitian. Saat dikritik oleh Harry G. Budiman, salah satu narasumber, beliau mengatakan sangat mengerti metodologi sejarah, bahkan dikatakan beliau yang mengajarkan. Dikatakan juga bahwa beliau sebelumnya sudah dipercaya membuat banyak hari lahir kota, kabupaten hingga provinsi. Karena hal itu, dan juga sudah kenyang dengan metodologi sejarah, dan (kebetulan katanya) termasuk penguasaan Bahasa Belanda, sebagai alasan ditunjuknya beliau dan Tim NA membuat ‘buku historiografi Persib 1000 halaman” (buku itu ditunjukkan kepada khalayak pada acara tersebut). Dikatakan buku itu sebagai semacam living history, dibuat menggunakan sumber-sumber primer, dikerjakan dengan biaya yang tidak murah, dibantu banyak orang dan tanpa konspirasi.
Tunggu dulu, ada kata pepatah karena nila setitik, rusak susu sebelanga!
Pada bulan Desember 2025 saya menemukan cerita buruk rupa dunia akademis yang menarik bahwa rupanya para sejarawan ‘penemu hari lahir Persib yang baru’ dan penulis buku ‘Sejarah Persib 1000 halaman’ ini pada tahun 2021 menulis artikel jurnal yang isinya ‘boro-boro’ riset sejarah, bahkan tanpa membawa-bawa metode sejarah sama sekali dan (ini yang penting dicermati yakni) bernuansa skandal, dan saya tulis secara detail apa yang terjadi sebagai artikel bertajuk ‘Kisah Sejarawan Menulis Rumus Matematika’ pada Hanyawacana.id, 4 Februari 2026.
Tulisan pada jurnal dimaksud itu yang isinya sama sekali bukan historiografi, melulu berisi rumus matematika, persamaan dan statistik (sama sekali tidak ada ‘metode sejarah’) - hingga artikel ini ditulis masih tercantum pada google scholar masing-masing si empunya – DR. Miftahul Falah dan Prof. Kunto Sofianto PhD.
Terkait uraian panjang lebar di atas, riwayat dibalik ‘konyol’ ‘penulisan NA Hari Lahir Persib 1919 dan penulisan historiografi Persib 1000 halaman ini rupanya seperti tidak berkesudahan.
Masih ada satu cerita lucu & (tentu saja, itu tadi) konyol.
Jauh sebelum itu, pada 25 November 2024 Prof. Kunto Sofianto dan DR. Miftahul Falah berkunjung ke kediaman penulis. Maksud kunjungannya selain bersilaturahmi, juga menjelaskan persoalan ‘hari lahir Persib’, termasuk mengundang penulis menghadiri fgd penyusunan buku historiografi Persib Bandung 1000 halaman oleh tim peneliti dari Unpadj tea (yang kemudian ditunjukkan saat diskusi terbuka).

Beberapa hari kemudian saya dikirim surat undangan menghadiri acara dimaksud lewat w.a oleh DR. Miftahul Falah (surat undangan terlampir). Kop surat itu bercap tahun 2023, dikirim tanggal 12 Desember 2024, dan acara ditulis diadakan tanggal 7 Desember 2024. Ya, undangan ke masa lalu! Besoknya setelah diingatkan, surat undangan (direvisi) dikirim lagi menjadi tanggal 14 Desember 2024, berikut TOR acara dimaksud. Undangan fgd yang betul-betul konyol, karena di pagi tanggal 14 Desember itu saya dikabari kembali lewat w.a: acara batal!.
Pabila detail kecil kisah heroik dan melegenda klub seperti Persib di tahun 1980-an yang merupakan ingatan pahit-manis yang tertancap kuat pada kenangan begitu banyak orang saja begitu ngawur dinyatakan secara verbal (persis itu dikatakan Prof. Kunto Sofianto sembari dengan bangga menunjukkan buku dimaksud di depan khalayak) - dengan salah data yang begitu elementer, plus surat undangan yang cuma satu halaman saja begitu tidak becus dibuat, bagaimana kami yakin orang-orang ini mampu menulis sejarah Persib yang kita cintai, hingga 1000 halaman!
Masih ada yang yakin tahun kelahiran Persib 1919, setelah membaca tulisan ini? (*)