Pagi yang cerah itu, GOR Dome (Aula) Sekolah Dasar Islam (SDI) Al-Amanah Cileunyi Bandung dipenuhi wajah-wajah kecil yang duduk rapi mengenakan busana muslim dan muslimah. Siswa laki-laki tampil dengan atasan putih, bawahan hitam, dan para siswi mengenakan kerudung putih dipadukan gamis hitam.
Uniknya, di kepala mereka terpasang mahkota sederhana, selempang hitam bertuliskan hafidz, sambil tangan mungil menggenggam sertifikat dan mushaf Alquran.
Tepat di bawah panggung khas anak sekolahan bertuliskan Tasyakur Hifdzil Qur’an Juz 26, 27, 28, 29, dan 30, ratusan pasang mata memandang dengan rasa haru dan bahagia yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Kecuali perasaan syukur atas capaian yang membanggakan ini.

Hari Sabtu (16/5/2026) itu, Aa Akil, siswa kelas 5 Ar-Razi (11 tahun), ikut berdiri bersama teman-temannya merayakan perjalanan menghafal ayat-ayat suci. Satu tahapan perjalanan yang tampak sederhana, tetapi sesungguhnya penuh perjuangan dan berdarah-darah.
Pasalnya, mulai dari mengulang hafalan selepas subuh, sepulang sekolah, selesai ngaji, sebelum tidur untuk memperbaiki tajwid yang masih keliru, melawan rasa malas, rela mengurangi waktu bermain, hingga belajar istiqamah di usia yang sejatinya masih lekat dengan dunia permainan.

Jejak Pejuang Hafalan
Alquran sebagai kitab suci umat Islam memiliki tempat istimewa di hati lebih dari 1,9 miliar Muslim di dunia. Bagi banyak umat Islam, menghafal mushaf bukan sekadar capaian akademik keagamaan, melainkan salah satu bentuk ibadah tertinggi. Mereka yang mampu menjaga hafalan itu dikenal sebagai hafiz (huffaz), penjaga kalam Allah yang terus diwariskan lintas generasi.
Dengan 114 surah dan 6.236 ayat, Alquran menjadi satu-satunya kitab suci yang dihafal jutaan manusia dari berbagai usia dan negara. Meski tidak ada angka pasti, diperkirakan puluhan juta Muslim di seluruh dunia telah menghafal Alquran, baik sebagian maupun keseluruhan 30 juz.
Sejumlah negara dikenal memiliki tradisi kuat dalam budaya tahfiz, seperti Pakistan, Mesir, Bangladesh, Arab Saudi, Maroko, hingga Turki. Di negara-negara itu, anak-anak mulai menghafal Alquran sejak usia dini melalui madrasah, sekolah Quran, hingga pendidikan berbasis keluarga dan komunitas.
Melansir Shaikh Saleh Academy, Pakistan disebut memiliki lebih dari satu juta penghafal Alquran dengan ribuan hafiz baru lahir setiap tahunnya. Mesir, Bangladesh, Arab Saudi, dan Maroko dikenal sebagai pusat pendidikan tahfiz yang terus berkembang. (Sindo News, Sabtu, 07 Maret 2026 - 18:06 WIB)
Indonesia menjadi bagian penting dari tradisi besar itu. Banyak sekolah Islam dan rumah tahfiz di berbagai daerah menanamkan budaya menghafal Alquran sejak usia anak-anak hingga remaja.
Berdasarkan data NU Online, jumlah hafiz 30 juz di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 30 ribu orang, ya sekitar 0,01 persen dari total populasi. Meski persentasenya kecil, jumlah ini menjadikan bumi Nusantara sebagai salah satu negara dengan penghafal Alquran terbanyak di dunia.
Data TOFEDU mencatat terdapat lebih dari 1.200 Rumah Tahfidz Center yang aktif mencetak penghafal Alquran baru di berbagai daerah. Kehadiran program televisi seperti Hafiz Indonesia ikut memperkuat budaya literasi dan kecintaan terhadap Alquran di tengah masyarakat.
Rupanya, di balik pesatnya pertumbuhan budaya tahfiz itu, Indonesia masih menghadapi persoalan serius terkait literasi Alquran. Dilansir Republika pada 5 Desember 2024, Menteri Agama RI Prof. KH. Nasaruddin Umar menyampaikan hasil riset IIQ Jakarta yang menunjukkan sekitar 72,25 persen Muslim Indonesia masih buta huruf Alquran.
Ya, lebih dari 170 juta Muslim Indonesia belum mampu membaca Alquran dengan baik. Parahnya, sekitar 65 persen umat Islam dinilai belum fasih membaca Alquran, mulai dari belum mengenal huruf hijaiyah, kurang hafal surah pendek, hingga belum sesuai kaidah tajwid.
Ironisnya, angka buta huruf Alquran justru cukup tinggi di wilayah perkotaan seperti Jakarta, Surabaya, hingga Bandung. Kondisi ini dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari keterbatasan guru ngaji, metode pembelajaran yang kurang efektif, sampai minimnya akses terhadap mushaf Alquran.
Kini, berbagai pihak terus mendorong gerakan pemberantasan buta huruf Alquran melalui program wakaf mushaf, penguatan rumah tahfiz, hingga inovasi metode pembelajaran seperti QOLAAM dan The Magic yang dirancang lebih sistematis dan menyenangkan bagi anak-anak.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) menggagas program DALA (Dana Abadi Literasi Alquran) sebagai bentuk wakaf produktif untuk memperluas akses pembelajaran Alquran di masyarakat. (www.jabar.kemenag.go.id).

Siapkan Generasi Qurani
Dalam laporannya, Ketua Panitia Lilih Laelani menjelaskan sebanyak 103 peserta mengikuti Tasyakur Hifdzil Qur’an tahun ini, terdiri dari 35 peserta laki-laki dan 68 peserta perempuan dengan rincian capaian hafalan juz 26 (laki-laki 3), juz 27 (perempuan 1), juz 28 (perempuan 1), juz 29 (laki-laki 3, perempuan 1), dan juz 30 (laki-laki 29, perempuan 65).
Kegiatan ini bukan sekadar penganugerahan, melainkan ruang motivasi bagi anak-anak agar mencintai Alquran tanpa keterpaksaan. Sekolah terus meningkatkan kompetensi guru agar pembelajaran Quran semakin berkualitas dan menyenangkan.
Strategi sekolah dalam membentuk generasi rabbani dilakukan melalui penguatan hafalan sejak dini, termasuk kebijakan bagi siswa kelas 4 yang tidak mengikuti kegiatan ekstrakurikuler selain fokus pada hafalan Alquran juz 30.
Untuk para siswa agar terus belajar, menjaga hafalan, memperbanyak murojaah, serta mengamalkan nilai-nilai Alquran dalam kehidupan sehari-hari.
Perwakilan Yayasan Al-Amanah, Aam Nurhakim menyampaikan pentingnya meningkatkan kualitas pembelajaran Al-Qur’an melalui penguatan kurikulum Qur’ani yang mampu melahirkan generasi penghafal Al-Qur’an berkarakter.
Kehadiran Koordinator Pembelajaran Alquran menjadi ikhtiar bersama mewujudkan generasi Qurani dan memberikan apresiasi kepada para orang tua yang telah membersamai perjuangan anak-anak dalam menghafal Alquran dengan penuh kesabaran dan ketekunan.
Ingat, proses menghafal bukan hanya tentang kemampuan mengingat ayat, melainkan perjuangan untuk meraih cinta dan ridha Allah SWT melalui kesungguhan belajar Alquran.
Suasana tasyakur itu terasa hangat ketika para guru mengingatkan pentingnya meluruskan niat dalam belajar Alquran. Menghafal tidak boleh menjadi beban, justru perjalanan yang dijalani dengan hati lapang, bahagia, dan penuh rasa syukur.
“Belajar Qur’an harus dinikmati prosesnya. Jalani dengan bahagia dan tenang karena semuanya bertujuan mendapatkan cinta dan ridha Allah SWT,” pesannya.
Para siswa diingatkan agar menjadikan Alquran sebagai cahaya dalam menjalani kehidupan dan tidak terjebak pada rasa takabur (sombong) atas hafalan yang dimiliki.
Kepala SD Islam Al-Amanah, Nunung Kurniasih menjelaskan Tasyakur Hifdzil Qur’an merupakan acara pelepasan sekaligus bentuk apresiasi bagi para hafidz dan hafidzah di lingkungan sekolah tercinta.
Menurutnya, kegiatan itu menjadi puncak perayaan dari program unggulan sekolah dalam membina generasi Qurani yang tidak hanya kuat hafalan, tetapi dibarengi dengan memiliki akhlak dan karakter Islami.
Sebelum mengikuti tasyakur, para siswa terlebih dahulu menjalani munaqosah (ujian hafalan) sebagai bagian dari proses pembinaan dan evaluasi kemampuan hafalan Alquran.
Dalam proses pembelajaran Quran, sekolah menerapkan pembiasaan hafalan terstruktur melalui program One Day One Ayat, bimbingan langsung dari ustaz dan ustazah.
Perwakilan orang tua siswa, Sabania Ratna menyampaikan rasa terima kasih atas arahan dan bimbingan para asatid (guru) yang selama ini mendampingi anak-anak dalam belajar Alquran.
Pendidikan Qurani yang diberikan sekolah diharapkan mampu melahirkan generasi rabbani yang menjadikan Alquran sebagai pedoman hidup, cara berpikir, dan landasan bertindak dalam kehidupan sehari-hari.
Generasi Qurani bukan hanya memahami ilmu agama, tetapi memiliki akhlakul karimah dan kesadaran ilahiyah, sehingga setiap langkah hidupnya berorientasi pada pengabdian kepada Allah SWT.
Dalam susunan kebahagiaan itu, rasanya tak afdal bila momen bersejarah tahunan sekolah tidak diabadikan. Para siswa berfoto bersama didampingi ibu dan bapak guru, Kepala Seksi Pendidikan Agama Islam (PAI) Bandung. Para orang tua ikut mengabadikan yang sejak awal membersamai perjalanan hafalan.
Usai sesi foto bersama, para anak didik berdiri rapi lalu menyanyikan dengan lantang Mars Muroja’ah Indonesia. Suara kecil menggema memenuhi Aula, menghadirkan suasana haru yang menggetarkan hati dan jiwa.

Menjadi para penghafal qur'an
tak semudah membalikkan tangan
penuh perjuangan
butuh pengorbanan
ketekunan juga kesabaran.....
Surat demi surat di bacakan
ayat demi ayat di hafalkan
tidak pernah bosan untuk melafadzkan
30 juz pun di khatamkan...
[melodi]
Surat demi surat di bacakan
ayat demi ayat di hafalkan
tidak pernah bosan untuk melafadzkan
30 juz pun di khatamkan...
Muroja'ah setiap hari
tanamkanlah didalam diri..
muroja'ah setiap hari
demi untuk membangun negeri..
ketika sendiri
duduk atau berdiri
muraja'ah tak pernah berhenti
ketika sendiri
duduk atau berdiri
mari muraja'ah sampai mati...
[melodi]
Muroja'ah setiap hari
ikhlaskanlah di dalam hati...
muroja'ah setiap hari
tuk mengapai ridho illahi...
ramai atau sepi
siang malam hari
muroja'ah tak pernah berhenti...
ramai atau sepi
siang malam hari
mari muroja'ah sampai mati,,,
sampai malaikat menjemput nanti....
Untaian lagu itu bukan sekadar nyanyian seremonial, melainkan pengingat soal menjaga hafalan jauh lebih berat daripada memulainya. Tentunya menjadi penghafal Alquran bukan hanya tentang kuat mengingat ayat, tetapi kemampuan menjaga istiqamah dalam muroja’ah sepanjang hidup.
Selesai bernyanyi, para siswa kembali duduk ke tempat masing-masing. Sebelumnya mereka terlebih dahulu sungkem kepada orang tua sambil menyerahkan sertifikat dan mahkota hafiz sebagai simbol rasa hormat, cinta, dan ucapan terima kasih atas segala doa, dorongan, motivasi, serta dukungan penuh dari keluarga tercinta.
Pada momen itulah suasana haru bercampur bahagia tak lagi mampu dibendung. Orang tua dan anak-anak sama-sama menahan air mata. Tangis pecah perlahan di sudut-sudut, pojok Dome.
Di tengah-tengah pelukan hangat itu, Aa Akil berkali-kali berkata lirih, “Bah, Bu maaf Aa yah, nilainya makbul,” ucapnya sambil memeluk erat.
Kujawab singkat, "Wios Aa!"
Dalam pembelajaran proses yang utama bukan hasilnya. Ingat, yang keren itu bukan sekadar hasil akhir, melainkan keberanian untuk melangkah, berjuang, dan bertahan dalam proses panjangnya. Berani maju lebih awal dibanding teman sekelasnya saja sudah menjadi tanda kerja keras dan semangat seorang pejuang penghafal Alquran.
Predikat makbul sendiri berasal dari bahasa Arab maqbul yang berarti diterima (dikabulkan), dengan makna penilaian cukup. Bila dalam sistem penilaian berbahasa Arab, seperti di Pondok Pesantren, Perguruan Tinggi Islam, maka predikat ini berada di atas rasib (gagal/kurang), tetapi di bawah jayyid (baik) dan mumtaz (sangat baik/istimewa).
Hidup sering kali mengajarkan soal nilai terbaik tidak selalu lahir dari angka paling tinggi. Ada proses panjang, keberanian, air mata, dan ketulusan yang tak pernah benar-benar bisa diukur oleh lembar penilaian mana pun.

Bukan Sekadar Perayaan Biasa
Memang di balik perayaan itu, terselip pelajaran hidup yang jauh lebih penting daripada sekadar angka hafalan (banyaknya juz) yang selesai. Tasyakur sejatinya bukan hanya tentang perayaan, melainkan tentang bagaimana manusia belajar bersyukur tanpa jatuh pada kesombongan (takabur).
Pasalnya, dalam hidup, ilmu dan pencapaian sering kali menjadi ujian yang diam-diam menumbuhkan takabur. Ketika merasa lebih baik dari orang lain karena hafalan, prestasi, jabatan, termasuk pengetahuan yang dimiliki, saat itulah manusia perlahan kehilangan inti dari ilmu itu sendiri.
Padahal Alquran tidak diturunkan untuk melahirkan manusia yang gemar meninggikan diri. Justru hadir untuk melembutkan hati. Semakin dekat seseorang dengan kitab suci, semestinya semakin rendah hati langkahnya.
Syukur membuat manusia sadar ihwal semua kemampuan berasal dari Allah SWT. Anak-anak kecil yang hari ini mampu menghafal ayat demi ayat bukan semata karena kecerdasan semai, tetapi semuanya berkat pertolongan Tuhan, doa orang tua, dan kesabaran guru-guru yang mendampingi.
Sebaliknya, kufur nikmat sering hadir dalam bentuk yang tidak selalu terlihat. Bukan hanya menolak nikmat, lupa menggunakannya untuk kebaikan. Ada orang yang diberi ilmu, tetapi dipakai untuk merendahkan. Termasuk yang diberi kecerdasan hafalan, tetapi hatinya mudah merasa paling suci.
Inilah pentingnya tasyakur yang berusaha mengingatkan setiap pencapaian harus kembali bermuara pada rasa syukur, bukan kebanggaan berlebihan. Kendati anak-anak penghafal Quran yang baru dirayakan belum memahami seluruh makna hidup. Tetapi dari langkah kecil mereka, orang dewasa belajar satu pelajaran penting, manusia tidak diukur dari seberapa tingginya berdiri di hadapan manusia lain, melainkan seberapa mampu menjaga hatinya tetap rendah di hadapan Tuhan.
Di tengah-tengah dunia yang semakin bising oleh pencapaian dan pengakuan (validasi hidup), anak-anak kecil penghafal Alquran itu sedang mengajarkan sesuatu yang sederhana dan mendalam. Hidup bukan semata tentang menjadi yang paling hebat di hadapan manusia, melainkan bagaimana menjaga hati tetap rendah, penuh syukur, dan dekat dengan Tuhan.
Hafalan terbaik bukan hanya yang tersimpan di kepala, justru hadir dan mampu menjalani hidup dengan sikap, akhlak, dan cara bijak dalam memandang kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, makna paling dalam dari tasyakur hafalan Alquran. Bukan sekadar kuat di ingatan, tetapi mampu menjaga manusia agar tidak mudah jatuh pada takabur dan kufur saat hidup sedang berada di puncak kebahagiaan.

Sebagai bentuk syukur sederhana atas capaian itu, usai acara keluarga kecil tercinta tidak langsung pulang ke rumah. Malah memilih malipir sejenak ke Majas untuk makan bersama, menikmati kebersamaan yang hangat sambil menyerahkan bucket dan bingkisan alakadarnya kepada Aa Akil.
Bukan soal mewah (besar) nilainya, melainkan sebagai tanda cinta, perhatian, dan cara kecil merawat semangat menjaga hafalan Al-Qur’an. Dari momen sederhana itu tersimpan harapan agar langkah kecil hari ini menjadi motivasi untuk terus mencintai Al-Qur’an, menjaganya dalam ingatan, dan menghidupkannya dalam keseharian.
Melihat itu, Kakang anak ketiga (4 tahun), berkata "Bah ayo hafalan An Naziat, biar dapat hadiah dan maju ke panggung!"