Bagi mereka yang tumbuh besar dengan koran Kompas di atas meja makan, nama "Nyonya Rumah" adalah sebuah legenda yang melekat dalam ingatan. Ia bukan sekadar pengisi kolom resep mingguan, melainkan sosok "ibu" yang membimbing tangan jutaan perempuan Indonesia meracik bumbu di dapur. Namun, tahukah Anda siapa sosok di balik nama pena legendaris tersebut?
Ia adalah Julie Sutarjana. Lahir pada tahun 1922 di Lasem—kota pesisir yang dijuluki "Tiongkok Kecil"—Julie tumbuh di tengah aroma malam dan lilin dari bengkel batik milik orang tuanya, Purnomo Wignyopranoto dan Imas Tjandra.
Kepekaan indrawinya telah terasah sejak usia 10 tahun, saat ia terpaku melihat adonan carabikang warna-warni mekar di atas tungku. Inilah awal mula perjalanan seorang perempuan tangguh yang kelak dijuluki "Gastronom Tiga Zaman"—seorang legenda yang pengabdian kulinernya melampaui hiruk-pikuk politik dari era Orde Lama hingga Reformasi.
Di Balik Nama "Nyonya Rumah"
Ada paradoks menarik dalam sejarah kuliner kita. Salah satu nama paling terkenal di Indonesia justru lahir karena sang pemilik nama enggan menjadi pesohor. Saat Julie mulai membukukan resep-resepnya melalui penerbit KengPo/Kinta di era 1950-an, ia bersikeras menggunakan nama samaran.
Pilihannya jatuh pada istilah "Nyonya Rumah" yang merupakan terjemahan langsung dari kata bahasa Belanda, huisvrouw. Di masa transisi budaya pasca-kemerdekaan tersebut, nama ini memberikan kesan hangat sekaligus otoritatif.
Julie ingin karyanya yang berbicara, bukan sosok pribadinya. Namun, kerendahhatian ini justru membuatnya menjadi sosok universal. Dengan tetap anonim di balik nama pena, Julie berhasil menjadi "milik bersama", sebuah identitas kolektif bagi setiap perempuan yang berdaulat di dapur mereka sendiri.
Perjalanan Julie menjadi penulis resep profesional dimulai pada tahun 1951 bukan karena ambisi, melainkan karena rasa gemas. Sebagai pembaca setia tabloid Star Weekly, ia seringkali kecewa saat mempraktikkan resep-resep yang dimuat karena instruksinya tidak jelas dan hasilnya sering gagal.
Didorong oleh suaminya, Satia Sutardjana, Julie memberanikan diri mengirimkan proof exemplar (resep percobaan) ke redaksi Star Weekly. Resepnya meledak. Ia langsung mendapatkan honorarium sebesar Rp 75,00.
Untuk memberikan gambaran betapa dihargainya keahlian Julie saat itu: upah memberi les privat seminggu sekali selama satu bulan penuh hanya dihargai Rp 15,00. Artinya, satu kiriman resep Julie setara dengan lima kali lipat pendapatan bulanan seorang pengajar privat. Hal ini menjadi bukti awal bahwa ketelitian dan kejujurannya dalam menulis resep memiliki nilai yang tak ternilai harganya.
Ketangguhan di Balik Sepeda Onthel
Di balik kemapanannya di masa tua, Julie pernah melewati "masa sulit" perjuangan ekonomi di Bandung. Bersama suaminya, ia pernah tinggal di sebuah paviliun sederhana berdinding bilik bambu. Demi menyambung hidup, Julie mengajar di sekolah rakyat dan membuat kue untuk dijual setelah jam sekolah usai.
Karena tak punya peralatan memadai, ia menumpang memanggang adonan di sebuah toko roti lokal. Dengan penuh harapan, ia mengemas kue spritsjes (semprit) buatannya. Dengan dibonceng sepeda onthel oleh suaminya, ia berkeliling menawarkan kue tersebut dari toko ke toko. Alih-alih pesanan, ia justru menerima cemoohan; pemilik toko mencela kuenya tidak enak dan meramal tidak akan laku.
Namun, semangat Julie tidak layu. Ia mencoba bangkit dengan membuat ananas koekjes (kue nanas), camilan favoritnya sejak masa sekolah. Kue inilah yang menjadi penyelamat, diterima oleh pasar, dan perlahan mengubah nasib keluarganya. Fase pahit ini menjadi fondasi karakter Julie bahwa sebuah resep tidak hanya butuh takaran yang pas, tapi juga mental yang tangguh.
Menulis Resep Melintasi Tiga Era Politik
Gelar "Gastronom Tiga Zaman" bukanlah sekadar pujian kosong, melainkan bentuk penghormatan atas dedikasi Julie Sutarjana yang secara resmi diakui oleh MURI pada tahun 2009 sebagai Penulis dan Pencipta Resep Masakan dan Kue Tertua.
Konsistensinya yang luar biasa tergambar jelas melalui kiprahnya yang melintasi berbagai dekade, dimulai dari mengasuh rubrik "Rahasia Dapur" di mingguan Star Weekly (1951–1961), berlanjut ke rubrik "Seni Dapur" di mingguan Jaya (1961–1971), hingga akhirnya menjadi penulis tetap resep masakan di koran Kompas selama setengah abad penuh (1971–2021), sebuah potret loyalitas yang nyaris mustahil ditiru di era modern.
Totalitasnya melahirkan 50 judul buku dalam kurun waktu 50 tahun. Namun, kontribusinya tak hanya di atas kertas. Pada tahun 1999, ia mendirikan Kedai Nyonya Rumah di Jalan Naripan, Bandung. Luar biasanya, hingga usia 97 tahun, Julie masih aktif turun ke dapur kedainya setidaknya tiga kali seminggu untuk memastikan setiap hidangan—mulai dari Lontong Komplit hingga Java Steak—tetap terjaga kualitasnya.
Dua tahun sebelum wafat pada usia 99 tahun pada tahun 2021, Julie merilis karya pamungkas berjudul 68 Tahun Berkarya, Hidangan Legendaris Gastronom 3 Zaman. Buku setebal 359 halaman ini boleh dikata merupakan "album emas" yang merangkum 250 resep pilihan dari buku-buku legendarisnya seperti Pandai Masak 1 & 2 serta Belajar Memasak.
Berbeda dengan buku masak teknis lainnya, karya ini ditulis secara autobiografis, seolah ia ingin mengajak pembaca duduk di dapurnya dan mendengarkan cerita hidupnya. Dalam pengantarnya, Julie menuliskan pesan yang sangat menyentuh:
"Saya merasa, mungkin inilah buku saya yang terakhir… dan tak seperti buku-buku saya lainnya, buku ini bukanlah sekedar resep, melainkan dilengkapi dengan cerita tentang perjalanan hidup yang penuh asam garam perjuangan…"

Buku ini bukan sekadar panduan dapur, melainkan wasiat tentang bagaimana seni kuliner bisa menjadi cara untuk bertahan hidup dan mencintai keluarga.
Julie Sutarjana alias "Nyonya Rumah" adalah bukti bahwa dedikasi yang dilakukan dengan cinta akan melampaui usia biologis pelakunya. Dari pesisir Lasem hingga menjadi maestro kuliner di Bandung, ia mengajarkan kita bahwa masakan yang lezat bermula dari kejujuran dalam takaran dan ketabahan dalam menghadapi ujian.
Meski sang Gastronom telah berpulang, warisannya tetap hidup setiap kali seseorang menyalakan kompor dan membuka catatan resepnya. Aroma mentega dari kue spritsjes dan kehangatan masakan Indonesia yang ia tuliskan tetap menjadi jembatan yang menghubungkan memori lintas generasi. (*)