Saat asyik membaca siaran pers bertajuk tema dan logo HUT ke-46 Perpusnas, Cerminkan Semangat Penguatan Literasi untuk Bangsa Bermartabat, pikiran seakan-akan diajak berhenti sejenak dari segala tek tek bengek rutinitas.
Rangkaian kalimat terasa menenangkan, terlebih ketika mengeja tema “46 Tahun Merawat Pustaka, Memartabatkan Bangsa”. Tajuk yang unik dan apik. Pasalnya, bangsa besar selalu lahir dari tradisi membaca, merawat ilmu, dan menjaga ingatan kolektifnya.
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia beserta pengelolaan pengetahuan menjadi fondasi penting dalam membangun sumber daya manusia Indonesia. Literasi bukan sekadar kemampuan membaca huruf, melainkan jalan panjang dalam membentuk masyarakat yang cerdas, bijak, dan bermartabat.
Refleksi itu mendadak terhenti oleh dering telepon (hp) berbunyi, dari seberang, suara istri terdengar ringan dan tegas. “Bah, uih jam baraha?”
“Tabuh 16.30 WIB,” jawabku singkat.
Setengah lima kurang sepuluh menit. Waktu pulang. Dengan merapikan meja kerja, mematikan komputer perlahan, lalu berpamitan kepada kawan-kawan dan satpam yang masih berjaga. “Tipayun nya. Markipul. Assalamualaikum.”

Di tengah perjalanan pulang, entah mengapa tema soal literasi tadi masih terngiang di benak kepala. Mulai dari buku, pustaka, bangsa sampai masa depan. Teradang kita terlalu jauh mencari makna besar (yang berada di luar), padahal sesunguhnya tumbuh dari aktivitas sederhana (kecil yang dimulai dari diri sendiri, keluarga, anak, istri) dengan membuka ruang (perjumpaan autentik) untuk menumbuhkan minat terhadap buku, cerita, hingga merawat imajinasi.
Sesampainya di rumah, pintu dibuka oleh Aa Akil, anak kedua (11 tahun) yang langsung menyambut sambil memeluk dan menanyakan koran kebanggaan Jawa Barat. “Bah bawa Koran kan...! Ieu Aa”
Belum sempat duduk, dari belakang Kakang, anak ketiga (4 tahun), mendekat dengan membawakan kabar. “Kata Mbu, Kakang dibeliin buku cerita?” asyik sambil berlari-lari kecil.
“Muhun,” jawabku singkat sambil mengusap kepalanya.
Istri menimpali sambil tersenyum kecil. “Atos dipeserkeun buku OSN Aa, buku carita Kakang, tinggal bayarna.”
“Siap!”
Tanpa berkata-kata bocah kelas 5 SD ini langsung tancap gas melahap informasi yang ada di Koran, terutama rubrik Tunggu Dulu dan Gelora. Kutinggalkan untuk bersih-bersih. Selesai mandi. Aa Akil memanggil dan bertanya, "Bah kan tanggal 17 Mei Hari Buku Nasional. Katanya berkat Pak Malik Fadjar?"
"Wih Aa teurang geuning!"

Malik Fadjar, Pencetus Hari Buku Nasional
Di tengah-tengah gempuran kecerdasan buatan (AI) dan masifnya arus informasi instan yang memicu krisis daya kritis masyarakat modern, ancaman matinya nalar menjadi tantangan besar bangsa. Pada peringatan Hari Buku Nasional 17 Mei 2026, ingatan publik patut dikembalikan pada sosok pencetus peringatan itu, mendiang Abdul Malik Fadjar.
Tokoh Muhammadiyah yang pernah menjabat sebagai rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Menteri Pendidikan Nasional itu bukan sekadar birokrat, melainkan visioner yang mendedikasikan hidupnya bagi penguatan literasi bangsa.
Direktur Rumah Baca Cerdas (RBC) A. Malik Fadjar Institute UMM Faizin menjelaskan, Malik Fadjar memandang persoalan bangsa bukan hanya rendahnya minat baca, tetapi melemahnya tradisi berpikir. Parahnya, keberadaan buku kerap direduksi sekadar pelengkap pendidikan formal.
“Bagi Pak Malik, bangsa yang tidak akrab dengan buku akan mudah kehilangan arah, gampang diprovokasi, dan lemah daya nalarnya. Karena itu, Hari Buku Nasional yang beliau gagas bukan sekadar hari peringatan, tetapi alarm kebudayaan agar bangsa kembali membangun tradisi membaca sebagai fondasi kemajuan"
Keputusan Malik Fadjar mencetuskan Hari Buku Nasional pada 2002 merupakan bentuk rekayasa budaya yang disengaja. Momentum 17 Mei dipilih untuk menghubungkan buku dengan gerakan bersama yang menyadarkan public, literasi merupakan pilar kebangsaan.
“Sebagai pencetus, beliau melihat buku sebagai alat pembebasan berpikir. Dalam pemikiran Prof Malik, masyarakat yang rajin membaca akan tumbuh menjadi insan yang kritis, toleran, dan rasional. Literasi benar-benar menjadi fondasi kokoh bagi demokrasi"
Kesadaran akan bahaya krisis nalar itu pula yang mendorong Malik Fadjar mendirikan Rumah Baca Cerdas (RBC) di pusat Kota Malang. Demi menjaga ekosistem literasi tetap hidup di Kota Pendidikan, tokoh Muhammadiyah itu menghibahkan ribuan buku koleksi pribadinya agar dapat diakses publik secara luas.
“Agar budaya baca tidak hilang tertelan hiruk-pikuk zaman, Prof Malik rela memindahkan koleksi pribadinya untuk memenuhi rak-rak perpustakaan RBC. Beliau ingin ekosistem literasi ini terus terjaga dan menjadi nyala semangat yang tidak boleh ditinggalkan generasi muda"
Kini, semangat itu diteruskan RBC A. Malik Fadjar Institute yang bertransformasi menjadi laboratorium pemikiran dan pusat pembentukan nalar publik. Ikhtiar ini diwujudkan dalam bentuk empat program unggulan. Ruang gagasan, riset pengembangan mutu pendidikan, pendampingan pengembangan lembaga pendidikan, serta perpustakaan keliling mobil bakti untuk bangsa.
Perjalanan panjang dan keteladanan Malik Fadjar meninggalkan pesan mendalam bagi lintas generasi. Merawat tradisi membaca di era post-truth bukan sekadar hobi, melainkan benteng pertahanan terakhir dari kebodohan. Memperingati Hari Buku Nasional sejatinya menjadi momentum memperbarui komitmen kolektif untuk menghidupkan budaya ilmu dan merawat akal sehat bangsa demi meneruskan api perjuangan Malik Fadjar. (www.klikmu.co)

Bukan Sekadar Perayaan Biasa
Hari Buku Nasional Indonesia (Harbuknas) merupakan peringatan tahunan yang bertujuan meningkatkan kesadaran dan minat masyarakat terhadap budaya membaca buku. Perayaan Harbuknas bertepatan dengan berdirinya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia yaitu pada 17 Mei 1980. Harbuknas pertama kali digagas oleh Menteri Pendidikan, Abdul Mailik Fadjar yang menjabat di era Kabinet Gotong-Royong (2001-2004).
Harbuknas pertama kali diperingati pada 2002 oleh Abdul Malik Fadjar. Peringatan Harbuknas dilatarbelakangi oleh rendahnya angka melek huruf dan penjualan buku Indonesia saat itu.
Data UNESCO tahun 2002, angka melek huruf orang Indonesia dewasa, penduduk berusia 15 tahun ke atas hanya 87,9 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia (88,7 persen), Vietnam (90,3 persen) dan Thailand (92,6 persen). Indonesia hanya mampu mencetak rata-rata 18.000 buku per tahun, jauh di bawah Jepang (40.000 judul) dan Cina (140.000 judul).
Abdul Malik Fadjar mengetahui membaca buku adalah salah satu cara untuk memperluas pengetahuan seseorang dan tetap up to date dengan perkembangan dunia modern.
Caranya dengan mengajak masyarakat Indonesia untuk lebih memikirkan membaca buku dan mengembangkan literasi sebagai modal dasar pembangunan negara. Harapannya Hari Buku Nasional dapat memberikan dorongan untuk merevitalisasi industri buku nasional yang saat itu tertinggal. (Tempo 17 Mei 2024 | 17.23 WIB).

Tinggi (IPLM) Koleksi, Gagap (Budaya) Literasi
Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi, Suharyanto, menjelaskan pada saat menjadi narasumber Seminar Bermartabat dengan Buku dalam rangka Festival Hari Buku Nasional 2026, Selasa, (19/5/2026).
Koleksi Perpusnas itu meliputi 2.299.888 judul atau 4.012.561 eksemplar koleksi deposit, serta 1.326.273 judul atau 5.857.488 eksemplar koleksi layanan.
"Perpusnas menjaga 3,6 juta judul koleksi. Dari jumlah itu, 61,1% atau 2,2 juta judul adalah koleksi fisik, dan 33,3% atau 1,2 juta judul adalah koleksi digital. Hingga Maret 2026, enam dari sepuluh koleksi Perpusnas masih berwujud fisik"
Seminar bertema 'Menguatkan Literasi di Era Digital, dari Membaca, Memahami, hingga Bertindak' itu, Suharyanto memaparkan perkembangan layanan ISBN nasional. Selama 40 tahun, sejak 1986 hingga 2026, tercatat sebanyak 1.249.049 judul yang telah terdaftar dengan total 1.374.206 ISBN dan jumlah anggota ISBN sebanyak 26.329 penerbit.
Perpusnas mencatat jumlah kunjungan pemustaka pada periode Januari hingga Maret 2026 mencapai 3.409.741 kunjungan atau rata-rata 38.786 orang per hari. Dari jumlah ini, dominasi layanan digital terlihat sangat kuat. Data menunjukkan kunjungan melalui layanan digital mencapai 37.338 orang per hari, setara 96,27% dari total kunjungan. Untuk kunjungan langsung ke gedung perpustakaan tercatat 1.448 orang per hari atau 3,73%.
"Angka ini menegaskan pergeseran pola akses masyarakat terhadap layanan perpustakaan di era digital. Layanan daring saat ini menjadi pintu utama masyarakat dalam mengakses koleksi, meski layanan tatap muka tetap berjalan"
Pada momentum peringatan HUT ke-46 Perpusnas tahun ini, terdapat kebijakan terkait pemutihan suspend bagi anggota Perpusnas yang terlambat mengembalikan pinjaman koleksi selama periode bulan Mei 2026.
Sejauh ini, telah tercapai 141 orang yang telah memanfaatkan kebijakan. Sebanyak 332 judul buku telah kembali dan jumlah keterlambatan paling banyak adalah 895 hari atau 2 tahun 4 bulan. Dengan kebijakan pemutihan ini diharapkan dapat menguatkan kembali semangat literasi masyarakat demi menuju bangsa yang lebih bermartabat. (www.perpusnas.go.id).

Kendati Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) mencatat jumlah koleksi, hingga Maret 2026 sebanyak 3.626.161 judul (9.870.049 eksemplar). Rupanya, Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) yang menjadi cerminan dalam melihat kualitas intelektual SDM di suatu daerah sangat beragam.
Padahal, angka yang menggambarkan tingkat usaha yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah (tingkat provinsi dan kabupaten/kota) dalam membina dan mengembangkan perpustakaan sebagai wahana belajar sepanjang hayat untuk mencapai budaya literasi masyarakat.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat untuk sepuluh provinsi dengan IPLM tertinggi pada tahun 2025 ada Jawa Timur menempati posisi puncak dengan skor yang cukup signifikan (56,29), menjadikannya satu-satunya provinsi yang berhasil meraih skor di atas 50. Posisi selanjutnya diikuti oleh Banten (48,59), DI Yogyakarta (48,05), Sulawesi Selatan (47,74), Aceh (45,29), Nusa Tenggara Timur (40,56), Sumatra Barat, (43,36), Sumatra Utara (40,54).
Rentang skor antara peringkat pertama dan peringkat kesepuluh menunjukkan adanya variasi tingkat capaian pengembangan literasi antarwilayah unggulan.
Sebelumnya, instrumen yang dinilai dalam IPLM ini mencakup tujuh bagian yang disebut Unsur Pembangunan Literasi Masyarakat (UPLM). Komponennya terdiri dari pemerataan layanan perpustakaan, ketercukupan koleksi, ketercukupan tenaga perpustakaan, tingkat kunjungan masyarakat per hari, jumlah perpustakaan ber-SNP, keterlibatan masyarakat dalam kegiatan sosialisasi, dan anggota perpustakaan. (www.goodstats.id).

Rumah manjadi garda terdepan aktivitas literasi dalam menemukan maknanya yang paling sederhana dan penting. Ya bukan semata hadir di gedung perpustakaan besar, deretan rak penuh koleksi pengetahuan, justru tumbuh subur dari kebiasaan membaca bersama di pagi, sore, malam hari, cerita pengantar tidur, keluarga yang menjadikan buku sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Walhasil, dari rumah-rumah kecil itulah budaya literasi lahir, tumbuh, dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di ruang keluarga (tegas, ruang tengah, kamar) itu anak menunggu dongeng sebelum tidur terlelap, kakaknya membuka buku pelajaran untuk meraih cita-cita, orang tua terus berusaha menjaga harapan dalam halaman yang dibaca.
Dengan demikian, buku menjadi jendela dunia yang pertama kali dikenalkan dari rumah, sebelum anak mengenal ruang belajar yang lebih luas, baik di sekolah maupun di tengah masyarakat. Keluarga menjadi pondasi utama dalam membangun budaya literasi yang hidup, hangat, dan bersahaja. Sebab bangsa yang bermartabat selalu berawal dari rumah yang masih percaya pada dahsyatnya kekuatan buku. (*)