Bagi saya kereta api adalah transportasi jarak jauh yang memberikan banyak kenyamanan bagi penggunanya. Harganya yang terjangkau dan bonus menikmati pemandangan alam menjadi suatu yang menarik dari berbagai macam transportasi umum yang ada.
Kereta bagi saya adalah tempat refleksi paling nyata tentang dinamika kehidupan termasuk bagaimana segala hal yang terjadi di luar jendela merepresentasikan kenyataan sosial yang terjadi di Indonesia. Rumah kumuh dipinggir rel, anak-anak yang bermain bola dilapangan yang terbatas, persawahan yang membentang luas, orang-orang putus asa yang berniat mengakhiri hidupnya dengan menabrakan diri ke kereta dan banyak kondisi lainnya yang secara jujur bisa ditangkap oleh mereka yang memiliki kepekaan sosial.
Bahkan buku dan film Harry Potter lahir dari sebuah perjalanan penulisnya ketika menggunakan kereta api. Kereta api memang inspirasi paling nyata bagi cerita atau mencari makna hidup didalamnya. Kita bisa melihat banyak manusia dengan pikiran beragam didalamnya, latar belakang dengan status sosial yang berbeda hingga interaksi manusia yang terkadang haru-sedih-lucu dan ada sedikit kemarahan saat melihatnya.
Seperti pisau bermata dua, pada satu sisi kereta api banyak memberikan kebermanfaatan tapi pada sisi lain seringkali terluka dan dianggap berbahaya karena sering meninggalkan kasus kecelakaan. Di Bandung sendiri beberapa kasus kecelakaan kereta terjadi di sekitaran perlintasan palang pintu stasiun Cimindi. Bahkan bukan saja sering terjadi kecelakaan tapi kerap kali juga terjadi aksi mengakhiri hidup tepat di flyover perlintasan kereta api.
Kecelakaan kereta kerap terjadi karena banyak hal misalnya ketidaksabaran manusia dalam menunggu, menantang adrenalin hingga yang paling klasik alasannya adalah karena saat melintas manusia tersebut di tutupi telinganya oleh setan budeg. Narasi ini makin meyakinkan masyarakat ketika diadaptasi menjadi sebuah film horor. Meski ditakuti kadang penjualan film horor justru yang paling banyak terjual.
Lucu memang negara kita, setan ditakuti keberadaannya, hidupnya selalu jadi kambing hitam bagi manusia. Orang yang membunuh, orang yang melecehkan, manusia yang mengakhiri kehidupannya pasti kerap dikaitkan dengan setan. Padahal ketika kita selami lebih dalam maka yang lebih menakutkan dari setan adalah manusia itu sendiri.
Setan budeg menjadi metafora yang secara tidak langsung merefleksikan sifat bebal manusia. Manusia yang tidak pernah mau mendengar jika fungsi palang kereta api bukan untuk diterobos tapi jarak aman antara hidup dan kematian. Manusia tidak memilih jalan instan dengan melewati palang pintu ilegal yang diurus oleh para preman. Manusia bebal karena memiliki tingkat kesadaran yang rendah. Suatu sikap yang menunjukkan bagaimana sikap kebekuan mental, kemalasan berpikir dan sikap keras kepala karena mempertahankan keyakinan yang salah.

Manusia bebal kadang tidak memperhitungkan bagaimana dirinya dalam membuat keputusan akan sangat mempengaruhi kehidupan orang lain. Kejadian yang baru saja terjadi di Stasiun Bekasi Timur tidak hanya menyebabkan kerugian tapi telah menghilangkan nyawa orang-orang tidak bersalah. Ada seorang ibu pekerja yang meninggalkan bayinya karena terjepit dan tidak selamat, ada perempuan yang baru saja menyelesaikan studi S2nya yang mungkin saja bisa menjadi harapan baru bagi Indonesia. Tapi gugur sudah dalam medan pertempuran.
Dua sampai lima menit saja menunggu sangat penting bagi kehidupan masa depan orang lain. Jangan renggut yang bukan menjadi kewenangan kita sebagai manusia. Hidup dan mati ada ditangan sang maha kuasa jadi jangan sampai menjadi penyebab kekonyolan orang lain menghilang dari dunia ini.