Ayo Netizen

Gaya Hidup Demi 'Eksposur': Puncak Komedi Finansial dan Cara Waras biar Gak Tekor

Oleh: Deden Ibn Suja Jumat 22 Mei 2026, 18:07 WIB
Kini, media sosial menjadi panggung global, tempat siapa pun bisa menampilkan diri, membentuk citra, dan menarik perhatian. (Sumber: Pexels/RDNE Stock project)

Zaman sekarang, definisi "kaya" sudah bergeser jauh. Dulu, orang kaya itu yang punya tanah berhektar-hektar tapi penampilannya cuma pakai kaos kutang dan sandal jepit di pasar. Sekarang? Belum dianggap kaya kalau belum bikin konten unboxing barang mewah, pamer saldo ATM, atau nongkrong di kafe estetik yang harga kopinya setara uang makan mahasiswa kosan selama tiga hari.

Katanya, hemat pangkal kaya. Tapi realitanya, zaman sekarang "gaya hidup adalah keinginan, dan eksposur adalah pangkal keborosan." Kita seringkali membeli barang yang tidak kita butuhkan, dengan uang yang belum tentu kita punya, demi memukau orang-orang yang sebenarnya tidak kita sukai di media sosial. Sebuah puncak komedi finansial, bukan?

Mari kita bedah fenomena ini dari sudut pandang yang agak serius, tapi tetap santai.

Ketika "Isi Dompet" Kalah Telak Sama "Isi Feed Instagram"

Kenapa sih kita hobi banget boros demi gaya hidup? Jawabannya satu: Eksposur.

Eksposur adalah candu baru. Kita rela bayar mahal bukan karena fungsi barangnya, tapi karena social validation (pengakuan sosial). Beli sepatu mahal bukan biar kaki nyaman, tapi biar pas difoto, logonya kelihatan jelas.

Padahal, rumus matematika finansial itu sederhana: kalau pengeluaran lebih besar dari pendapatan, itu bukan gaya hidup, tapi gaya-gayaan yang berujung maut. Hemat itu bukan berarti pelit, melainkan tahu rem. Tapi di era digital, rem itu sering blong karena silau melihat kehidupan orang lain yang tampak sempurna di layar HP.

Pandangan Filsuf Barat: Jangan Jadi Budak Persepsi Orang Lain

Jika kita membawa masalah "gaya hidup demi eksposur" ini ke meja kopi para filsuf Barat, mereka pasti akan geleng-geleng kepala.

Filsuf Yunani Kuno, Diogenes dari Sinope (tokoh aliran Sinisme), mungkin akan menertawakan kita paling keras. Diogenes adalah filsuf yang memilih tinggal di dalam tong kayu dan hanya memiliki satu jubah dan mangkuk. Ketika dia melihat seorang anak kecil minum langsung dengan tangannya, Diogenes membuang mangkuknya dan berkata, "Anak ini mengalahkanku dalam hal kesederhanaan."

Bagi filsuf Barat seperti Diogenes, atau bahkan Jean Baudrillard (filsuf modern Prancis), manusia modern itu terjebak dalam apa yang disebut Simulakra. Kita tidak lagi membeli barang karena nilai gunanya, melainkan karena "tanda" atau status yang melekat pada barang tersebut.

Pandangan Islam: Hemat itu Keren, Boros itu Sahabat Setan

Dalam pandangan Islam, konsep finansial itu sangat tegas namun indah. Islam tidak melarang umatnya menjadi kaya. Justru kaya itu bagus agar bisa banyak bersedekah. Yang dilarang keras adalah perilaku Tabzir(hambur-hambur uang untuk hal yang sia-sia) dan Israf (berlebih-lebihan).

Di dalam Al-Qur'an (QS. Al-Isra: 27), Allah secara blak-blakan menyebutkan:

Islam menawarkan konsep Qana'ah (merasa cukup dengan apa yang ada) dan Zuhud (tidak meletakkan dunia di dalam hati). Menariknya, Islam mengajarkan bahwa hemat adalah kunci kemandirian. Sahabat Nabi, Umar bin Khattab, pernah menegur orang yang membeli daging hanya karena dia sedang "ingin" makan daging, seraya berkata: "Apakah setiap kali kamu menginginkan sesuatu, kamu langsung membelinya?"

Hemat pangkal kaya itu mutlak, tapi di zaman sekarang, hemat itu butuh mental baja karena harus siap disebut "nggak asik" atau "kurang eksposur".

Ingat, eksposur di media sosial tidak bisa dipakai untuk bayar tagihan listrik atau biaya rumah sakit. Jadi, daripada sibuk memoles gaya hidup biar kelihatan high class padahal aslinya ngos-ngosan, mending pakai rumus hidup yang aman: Hiduplah sesuai kemampuan, bukan sesuai tuntutan netizen.

Lagipula, tidur nyenyak tanpa dikejar-kejar tagihan paylater itu jauh lebih mewah daripada dapet 10.000 likes di Instagram tapi sarapan tiap akhir bulan cuma pakai promag. Yuk, waras bareng-bareng! (*)

Reporter Deden Ibn Suja
Editor Aris Abdulsalam