Memutar ingatan ke masa lalu, transportasi becak cukup menjadi pilihan masyarakat untuk melakukan aktivitas untuk pergi ke sekolah, pergi ke pasar hingga mengantar banyak barang sebelum ada aplikasi bernama gojek. Terakhir yang saya ingat menggunakan becak saat belanja dari minimarket menjelang hari raya sebelum pandemi. Sudah enam tahun berlalu tapi tukang becak masih eksis hingga hari ini meski peminatnya semakin sedikit.
Dunia termasuk juga Bandung kian hari terus berjalan dengan dinamis. Banyak menyisakkan perubahan baru yang kadang tidak selalu bisa diterima semua orang dan tidak selamanya bisa dipahami. Perubahan pada umumnya memang memberikan banyak keuntungan bagi masyarakat. Misalnya akses untuk memiliki kendaraan pribadi dengan mudah, akses jalan yang semakin terbuka antar daerah, infrastruktur yang dibangun untuk membuka akses pekerjaan bagi masyarakat. Namun tidak dipungkiri perubahan juga terkadang menyisakkan banyak dampak bagi sebuah kota atau masyarakatnya. Macet, banjir, gunungan sampah menjadi bukti perkembangan zaman. Masyarakat makin banyak mengeluhkan kesehatan mental karena tekanan gaya hidup di media sosial juga tekanan ekonomi yang kian hari makin mencekik.
Di tengah perubahan Kota Bandung yang masif tersisa beberapa profesi yang mulai hilang di masyarakat tapi hebatnya mereka masih tetap berjuang dan bertahan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya. Perjuangannya sunyi tapi mereka tidak pernah berhenti. Sesekali terlihat membawa barang ibu-ibu yang habis belanja dari pasar tradisional. Membawa paket elektronik dan kadang kayu-kayu ke rumah konsumen yang menggunakan jasanya. Namun terkadang mereka juga melamun memikirkan banyak hal yang tentu tidak bisa dengan mudah dimengerti oleh orang sekitarnya. Wajahnya penuh harap menawarkan ke setiap orang yang melewati becak di depannya. Realitasnya tentu banyak dari mereka yang menolak karena memilih menggunakan angkot atau transportasi online.
Dilansir dari kompas.com bahwa pada tahun 2022 tukang becak hanya mendapatkan pendapatan kotor Rp.50.000/ hari. Bisa kita bayangkan ketika zaman terus maju-- pilihan transportasi makin beragam, bisa saja pendapatan mereka turun beradu dengan kebutuhan pokok yang semakin tinggi. Mereka adalah korban kemiskinan struktural negara ini. Bagaimana sistem ekonomi, hukum juga politik sangat mempengaruhi kehidupan mereka.
Menurut saya fenomena yang satu ini bisa dikatakan sebagai kemiskinan struktural. Pertama faktor yang menyebabkan mereka menjadi tukang becak bisa saja ketika mereka kecil akses pendidikan tidak merata sehingga sistem mengeluarkan mereka karena tidak adanya ijazah yang sesuai dengan klasifikasi perusahaan. Mirisnya juga sistem ekonomi kita memang belum merata. Ibaratnya ketimpangannya sangat tinggi, yang kaya makin kaya dan yang miskin juga sebaliknya. Lagi dan lagi hal ini karena sistem negara kita juga masih pandang bulu. Masyarakat yang merangkak menjadi pengusaha UMKM, ketika usahanya berangsur membaik seharusnya mereka bisa menaikan taraf hidup layak keluarganya dan membuka lapangan kerja seluas-luasnya. Namun yang terjadi terkadang pajak justru merenggut mereka untuk naik ke kelas menengah atas dalam ruang lingkup sosial.

Saya paham mereka tidak pernah minta dikasihani oleh siapapun. Hal tersebut sangat tercermin dari mereka yang masih memilih menjadi tukang becak dibandingkan minta-minta di jalanan. Meski kadang dunia tidak selalu berjalan sesuai kehendak mereka. Kerennya mereka tetap bertahan demi harga diri mereka sebagai laki-laki, demi tanggung jawabnya untuk keluarga dan demi pelanggan setianya yang masih membutuhkan jasa mereka.
Diantara riuhnya manusia yang hidup, saling merebutkan oksigen untuk bernapas. Masih tersisa serpinahan nafas dari mereka yang lelah tapi tak pernah bersuara dan menyerah. Mereka yang selalu menjaga harga diri meski tak selalu dihargai. (*)