Bulan Juni temperatur udara semakin panas pertanda fenomena El Nino kian nyata. Panas terik semakin membuat tubuh kita dahaga dan ingin selalu minum air segar. Saat ini air minum dalam kemasan telah menjadi persoalan pelik terkait dengan sampah plastik dan harga bahan baku kemasan plastik yang melonjak sehingga berpengaruh terhadap harga air kemasan yang nuansanya sangat kapitalistik. Harga air minum kemasan terasa mahal bagi masyarakat.
Padahal budaya leluhur kita memiliki filosofi atau cara yang sangat manusiawi dan peka sosial terkait dengan kebutuhan air minum. Kendi adalah ikon sosialisme air minum pada zamannya. Di depan rumah dan di tempat umum tersedia kendi yang merupakan tempat air minum yang boleh digunakan oleh siapapun yang merasa butuh minum alias kehausan.
Tanah air dijunjung tinggi itulah hakikat kendi. Karena Kendi merupakan alat untuk minum terbuat dari tanah liat atau gerabah. Bentuknya khas memiliki lubang pancuran dan memiliki bagian leher yang bisa dicengkeram oleh orang yang akan minum. Minum pakai air kendi yang rasanya segar itu perlu kebiasaan agar tenggorokan kita sesuai dengan volume air yang mengalir dari lubang pancuran agar kita tidak tersedak. Minum air kendi tidak boleh ”dicucup” bidang pancurannya oleh bibir kita. Bidang itu tidak boleh menempel bibir kita agar tetap higienis.
Pada prinsipnya kendi merupakan tumbler pada masanya. Bisa dibawa kemana-mana, khususnya saat menggarap sawah atau kebun. Lubang pengisian dan pancuran kendi biasanya ditutup dengan daun pisang atau daun sirih agar tidak kotor atau higienis. Kendi dibawa kemana-mana biasanya digendong pake kain jarik atau dimasukkan dalam rinjing atau keranjang yang terbuat dari bambu.
Utilitas kendi pada prinsipnya adalah tumbler warisan budaya negeri ini. Dibutuhkan kreativitas dan inovasi agar desain produk kendi bisa menyerupai templer kekinian. Berat kendi bisa disesuaikan dengan kondisi terkini. Kendi perlu dilengkapi dengan ransel dari kain atau bahan alami agar nyaman dibawa kemana-mana. Sehingga desain produk kendi sebagai tumbler kekinian tidak kalah dengan tumbler stainless Stanley Quencher yang populer.

Menggalakkan tumbler bisa sukses jika memakai filosofi kendi, yakni diikuti oleh adanya dispenser atau mesin air minum gratis di tempat umum seperti di stasiun, sekolah, tempat ibadah dan tempat public lainnya. Tumbler tanpa mesin air gratis ibarat senjata tanpa peluru. Punya tumbler bagus kalau isi ulangnya harus beli air minum kemasan di supermarket sama saja dengan bohong. Karena hal itu tidak hemat dan program untuk mengurangi sampah plastic tidak tercapai.
Kementerian Lingkungan Hidup mencatat bahwa mesin air plus seribu pemakai tumbler mengurangi 700 ribu botol air kemasan per tahun. Sampah plastik 17 persen dari total sampah nasional. Botol dan cup minuman merupakan penyumbang terbesar nomor dua setelah kantong plastik.

Perlu Memperbanyak Mesin Air Minum Gratis
Saatnya pemerintah mengelola sumber air mineral agar tidak jatuh ke tangan bisnis kapitalis air minum. Sumber-sumber air mineral yang banyak terdapat di pelosok tersebut untuk mengisi mesin-mesin air minum gratis.
Beberapa tempat di Kota Bandung telah dilengkapi dengan mesin air siap minum secara gratis yang disediakan untuk public demi Kesehatan dan pengurangan sampah plastik. Keberadaan mesin air siap minum yang memenuhi standar Kesehatan sangat tepat untuk mengurangi sampah plastik dari botol air minum dalam kemasan.
Keberadaan mesin air siap minum yang diperuntukkan untuk publik perlu diperbanyak jumlah mesinnya maupun kapasitas volume air yang dibagikan. Sehingga masyarakat yang tengah dalam perjalanan maupun yang sedang mengunjungi fasilitas umum bisa menikmati air tersebut.
Saya melihat fasilitas drinking water station di dalam kawasan PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 2 Bandung, yakni di Stasiun KA Bandung dan Stasiun Kiaracondong cukup ideal. Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya manajemen PT KAI dalam mendukung pengurangan penggunaan botol plastik sebagai langkah menuju pencapaian net zero emission (NZE).
Selain di stasiun KA, mesin air siap minum juga ada di Masjid Raya Al Jabbar. Mesin ini atas inisiatif bank bjb syariah bekerja sama dengan Wakaf Salman. Telah membuat enam unit Mesin Air Siap Minum Maslahah (water station) secara gratis di beberapa titik di Masjid Raya Al Jabbar.
Kualitas air baku untuk minum saat ini masih banyak yang bermasalah. Apalagi saat musim kemarau pada saat ini. Cuaca panas yang menyengat membuat tubuh kita ingin terus minum air putih. Bencana kekeringan yang menimpa sebagian kawasan juga membutuhkan pasokan air minum. Sekolah dan lembaga pendidikan perlu diberikan fasilitas mesin air siap minum, agar siswa tidak perlu lagi membeli minuman dalam kemasan. Setiap siswa sebaiknya selalu membawa tumbler yang merupakan kelengkapan pramuka untuk selalu diisi dengan air minum. Dengan demikian sampah plastik di sekolah volumenya bisa berkurang.
Kualitas air minum pada fasilitas drinking water station diusahakan telah memenuhi seluruh parameter yang berjumlah 20 item sebagai standar baku mutu yang diuji berdasarkan pengujian oleh Coway Water Quality Laboratory. Selain itu, fasilitas air minum tersebut juga telah mendapatkan sertifikat halal dari MUI.
Pengoperasian mesin air siap minum mendorong proses produksi air minum isi ulang agar sesuai dengan standar. Pemerintah daerah mesti menggencarkan program pembinaan depot air isi ulang supaya memenuhi standar. Seringkali kita menemukan air minum isi ulang yang tersedia di depot-depot pinggir jalan. Nyatanya, produk air minum isi ulang hanya melewati proses yang sekedarnya.

Oleh sebab itu perlu kesadaran masyarakat untuk membeli air isi ulang yang sudah sesuai dengan standar yang berlaku, yakni SNI. Produk air yang tidak sesuai standar. Kemungkinan besar terdapat kandungan kontaminasi kuman bakteri atau berbahaya. Dampaknya, udara akan menyebabkan sederet masalah kesehatan.
Banyak yang merasa air minum isi ulang cenderung memiliki rasa yang aneh. Hal itu karena terjadi masalah mengenai kebersihan dan tingkat keasaman (pH) yang kurang terpantau dengan baik. (*)