Di Bukit Plangon, monyet ekor panjang hidup bebas di antara pepohonan dan makam tua. Bagi sebagian orang, pemandangan ini mungkin terlihat biasa. Namun, di balik itu, tersimpan kisah menarik tentang bagaimana kepercayaan lokal turut menjaga kelestarian lingkungan.
Bukit Plangon yang terletak di Desa Babakan, Cirebon, dikenal sebagai kawasan hutan yang masih relatif alami. Monyet ekor panjang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat sekitar sekaligus daya tarik bagi pengunjung. Kehadiran mereka mencerminkan hubungan yang khas antara manusia dan alam di kawasan tersebut.

Kawasan ini juga memiliki nilai historis yang kuat. Dalam tradisi lokal, Bukit Plangon dikaitkan dengan tokoh-tokoh penyebar Islam di Cirebon pada abad ke-15, seperti Pangeran Panjunan (Sayyid Abdul Rahman) dan Pangeran Kejaksan (Sayyid Abdul Rahim). Keduanya dikenal memiliki pengaruh besar dalam proses dakwah di wilayah Cirebon, sebagaimana tercatat dalam sumber tradisional seperti Babad Cirebon. Keberadaan makam yang dihormati oleh masyarakat di kawasan ini semakin memperkuat nilai spiritualnya.
Nama “Plangon” sendiri memiliki beberapa penafsiran. Ada yang mengaitkannya dengan istilah “Tegal Klangenan”, yang berarti tempat untuk menenangkan diri, serta “Pelangonan” yang bermakna tempat peristirahatan. Dalam tradisi lokal, nama ini juga dikaitkan dengan kisah Pangeran Panjunan dan Pangeran Kejaksan yang menjadikan kawasan tersebut sebagai tempat singgah atau kontemplasi (uzlah). Hal ini menunjukkan bahwa sejak lama Bukit Plangon dipandang sebagai ruang yang memiliki nilai spiritual.

Yang menarik, kesakralan tersebut membentuk cara masyarakat memperlakukan lingkungan. Monyet-monyet di Bukit Plangon tidak hanya dianggap sebagai hewan liar, tetapi juga sebagai penjaga simbolik kawasan makam. Dari kepercayaan ini, lahir norma tidak tertulis, seperti larangan merusak vegetasi atau mengganggu keberadaan monyet.
Secara tidak langsung, kepercayaan tersebut berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Mitos yang sering dianggap sebagai cerita turun-temurun justru menjadi bentuk kearifan lokal yang berdampak nyata terhadap pelestarian lingkungan.
Bukit Plangon pada akhirnya bukan hanya tentang tempat, tetapi juga tentang cara pandang. Ia menunjukkan bahwa hubungan antara sejarah, spiritualitas, serta penghormatan terhadap leluhur dapat menjadi kunci untuk menjaga alam tetap lestari, bahkan di tengah tantangan lingkungan. (*)
REFERENSI:
Wafa Amatullah. 2023. Asal-usul Plangon Cirebon, Wisata Keramat dan Kerajaan Monyet. iNews Cirebon.
Bima Bagaskara. 2026. Bukit Plangon Cirebon dan Legenda 99 Monyet Penjaga Kawasan Hijau. Detik Jabar.
Miratul Hayati Assalam. 2024. Pesona Hutan Plangon Cirebon, Tempat Berjumpa dengan Kera Liar. Cirebon Jawapos.