Ayo Netizen

Mandi Kembang sebagai Cara Perempuan Masa Kini Mengapresiasi Tubuh

Oleh: Nahla Lisana Jumat 12 Jun 2026, 13:21 WIB
Ilustrasi mandi kembang. (Sumber: "Spa in DVN" by Dennis Wong)

Dunia kecantikan di media sosial sering kali berputar pada produk-produk mutakhir yang terus berkembang. Namun, belakangan ini dunia kecantikan mulai melakukan modernisasi praktik yang sebelumnya dianggap mistis atau kolot. Amanda Zahra, influencer yang kerap disebut ‘Mamah’ ini melahirkan tren baru yang dikenal dengan amandazahraism.

Berawal dari aplikasi X, sosok ini mulai dikenal karena rangkaian self-care yang ia lakukan, termasuk cara merawat kesehatan dan kecantikan kulit. Setiap unggahannya sering kali memicu diskusi hangat mengenai bagaimana seorang perempuan masa kini mengapresiasi tubuh sebagai bentuk feminisme. Salah satu step khas yang sering disorot adalah mandi dengan air kembang atau air susu. Tindakan sederhana ini ternyata kembali membangkitkan tradisi lama yang dikenal dengan mandi kembang di berbagai wilayah Nusantara.

Akar Historis

Dilansir dari pojoktravel.net, mandi kembang berawal dari kepercayaan animisme dan dinamisme. Suatu keyakinan bahwa semua makhluk hidup, termasuk tumbuhan dan benda mati, memiliki roh atau energi halus yang memengaruhi keberadaan manusia. Masyarakat Melayu sejak lama meyakini bahwa roh ini dapat memberikan kemakmuran, keberuntungan, dan rezeki.

Paham Hindu-Buddha memperkenalkan kepercayaan bahwa air dapat digunakan untuk menebus dosa, mengusir nasib buruk, dan menjadi sarana untuk mencapai keselamatan. Misalnya, kebiasaan masyarakat Hindu berenang atau mandi di Sungai Gangga dipercaya dapat menghapus dosa-dosa. Praktik mandi kembang dengan kembang-kembang harum adalah contoh nyata kepercayaan Hindu bahwa wewangian yang menyenangkan dapat menangkal kejahatan dan mendatangkan kebaikan.

Di Nusantara sendiri, kembang dan air sudah digunakan dalam upacara keagamaan sebagai simbol kesucian. Misalnya, ritual melukat di Bali yang masih berlangsung hingga kini, di mana air dan kembang digunakan sebagai sarana penyucian diri. Dalam budaya Jawa juga terdapat tradisi ruwatan yang bertujuan untuk membersihkan diri dari energi negatif atau nasib sial. Di Kalimantan, mandi kembang bahkan dipercaya dapat mendatangkan jodoh. Adapun masyarakat Melayu mengenal mandi kembang sebagai ritual perempuan untuk menjaga kesucian dan kehormatan, terutama menjelang pernikahan.

Islamisasi Nusantara

Setelah terjadinya Islamisasi, praktik mandi kembang tetap bertahan sebagai tradisi budaya. Alih-alih ditinggalkan, kebiasaan ini diakulturasikan agar lebih sesuai dengan hukum syariat Islam. Jampi-jampi diganti dengan bacaan-bacaan doa, basmalah, surah al-Fatihah, salawat, dan syahadat. Selain itu, orang yang mandi kembang sering disarankan untuk menghadap kiblat dengan niat yang baik. Beberapa bahkan melakukannya bersamaan dengan waktu azan.

Penelitian yang diterbitkan di Jurnal Comparativa menyebutkan tentang ritual mandiu pasili (mandi kembang) di Parigi Moutong, Sulawesi Utara. Prosesi ritual ini mengintegrasikan nilai Islam dengan mengawali ritual melalui ucapan basmalah dan salam, serta menutupnya dengan doa bersama kepada Allah Swt.

Penyesuaian Zaman

Air dan kembang dianggap sebagai media sakral yang menghubungkan manusia dengan alam. Namun, dalam konteks modern mandi kembang bergeser menjadi bagian dari praktik self-care. Praktik ini bermanfaat untuk relaksasi mental, mengurangi stres, dan menenangkan pikiran melalui aroma bunga seperti melati atau lavendel . Selain itu, mandi bunga juga bermanfaat bagi tubuh. Air hangat yang bercampur dengan kembang membantu melancarkan sirkulasi darah, meredakan ketegangan otot, dan kandungan alami bunga berfungsi melembapkan serta menyegarkan kulit.

Adanya modernisasi juga mengembangkan praktik yang dulunya hanya menggunakan air dan kembang, kini menambahkan produk untuk menunjang estetika. Dalam unggahan media sosialnya, Amanda Zahra terlihat menambahkan essential oil maupun bath bomb yang kemudian diikuti oleh para pengikutnya. Sosok tersebut kini sudah menjadi kiblat kecantikan perempuan Indonesia.

Fenomena ini memperlihatkan bagaimana praktik sederhana seperti mandi kembang bisa kembali bangkit sebagai bagian dari self-care modern. Bermula dari animisme, Hindu-Buddha, hingga adanya akulturasi dengan Islam, tradisi ini membuktikan bahwa budaya Nusantara mampu beradaptasi tanpa kehilangan maknanya. Amandazahraism berhasil mengemasnya sebagai simbol feminisme dan bentuk apresiasi diri, sekaligus membuka ruang bagi pelestarian budaya di era globalisasi.

Tradisi lama saja bisa dilestarikan dengan cara yang segar dan bermanfaat. Mengapa kita tidak mencoba merawat diri sambil merawat budaya juga? Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. (*)

Reporter Nahla Lisana
Editor Aris Abdulsalam