Ayo Netizen

Wayang Wong: Kesenian Unik yang Mengganti Peran Boneka Menggunakan Manusia

Oleh: SITI KHOLIFAH DWI RAMDANI Senin 15 Jun 2026, 15:54 WIB
Wayang Wong Ramayana. (Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia)

Dimbil dari sumber Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat 2021, dijelaskan bahwa Wayang wong merupakan salah satu pertunjukkan kesenian teater tradisional dari Jawa, berasal dari gabungan antara seni drama yang berkembang di Barat dengan pertunjukkan wayang yang tumbuh dan berkembang di Jawa. Berbeda dengan wayang kulit yang menggunakan boneka untuk pertunjukannya, wayang wong menggunakan manusia untuk pertunjukannya. Wayang wong merupakan kesenian unik yang di mana pertunjukkannya tidak terlepas dari elemen penting seperti gerakan tari klasik, iringan gamelan yang harmonis, tembang, serta dialog yang dramatis dan penuh dengan penghayatan.

Cerita yang dipentaskan oleh wayang wong dan wayang kulit diambil dari cerita Mahabharata, Ramayana, Arjunasasrabau, serta mitologi Jawa seperti lakon Murwakala dan Sri Temurun yang banyak mengandung pesan moral. Cerita-cerita yang dibawakan dikemas dengan menarik. Wayang wong juga memiliki beberapa versi, contohnya seperti wayang wong gaya Surakarta, wayang wong Priangan, wayang wong Bali, dan wayang wong gaya Yogyakarta. Setiap wayang wong memiliki ciri khas nya masing masing, seperti wayang wong gaya Yogyakarta memiliki ciri khas dengan dialog antar tokoh mirip dengan pertunjukkan drama biasa, tetapi memiliki intonasi yang khas yang membedakannya dengan pertunjukkan wayang wong yang lain.

Dijelaskan pula oleh Indonesia Kaya 2020, Wayang wong tercantum dengan istilah “wayang wwang” yang dimana wayang memiliki arti bayangan, dan wwang berarti manusia seperti yang tercantum pada Prasasti Wimalasmara pada 930 Masehi dan Prasasti Balitung 907 Masehi. Ini merupakan bukti bahwa kesenian wayang wong sudah ada sejak zaman Mataram Kuno. Kesenian ini sempat terlupakan, akan tetapi ketika kerajaan Mataram Islam dibagi menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta pada tahun 1755, wayang wong kembali dilestarikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I (1755–1792) bersama dengan Mangkunegara I dari Pura Mangkunegara Surakarta merupakan tokoh yang berperan dalam mengubah dan menciptakan ulang kesenian tersebut (Soedarsono, 1989/1990; Kuswarsantyo, 2018).

Kesenian wayang wong pertama diselenggarakan pada abad ke-18 di lingkungan keraton Yogyakarta, dan hanya dipentaskan untuk acara ritual keraton seperti ulang tahun penobatan serta pernikahan anak sultan, pertunjukan wayang wong ini hanya dapat dinikmati oleh para bangsawan. Pertunjukkan pertama wayang wong mengangkat lakon Gandawardaya, sebuah cabang cerita dari kisah Mahabharata dengan menggunakan pola pertunjukkan seperti wayang kulit. wayang wong mulai mengalami banyak perubahan serta perkembangan, dari yang sebelumnya hanya digelar di dalam keraton untuk para bangsawan, kini menjadi pertunjukkan yang sudah dapat dinikmati masyarakat luas termasuk para wisatawan.

Dalam perspektif pariwisata menurut (Agustina, 2018) wayang wong gaya Yogyakarta memiliki peluang karena pertunjukannya memiliki ciri khas yang mencerminkan keluhuran budaya Jawa yang berasal dari keraton. Di sisi lain, kajian budaya masyarakat juga memanfaatkan wayang wong gaya Yogyakarta ini menjadi sebuah atraksi budaya. Masyarakat dalam penelitiannya adalah sekelompok atau sebuah paguyuban tari yang mengajarkan tarian-tarian klasik. Para pemain wayang wong adalah penari karakter yang memiliki kemahiran tinggi dalam memainkan tarian klasik dan menguasai dialog-dialog prosa liris dalam bahasa Jawa.

Wayang Wong Ramayana (Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia)

Pada pertunjukkan wayang wong, para pemeran memakai kostum serta riasan wajah yang khas seperti wayang kulit. Seperti yang dijelaskan pada Kompas.com (2024), kostum serta riasan wajah yang dipakai oleh para pemeran juga disesuaikan dengan karakter yang mereka mainkan, masing-masing memiliki ciri khasnya mulai dari bentuk mahkota, aksesoris, senjata, hingga riasan mata dan elemen lainnya. Wayang wong bukan hanya pertunjukkan kesenian biasa, di dalam pertunjukannya wayang wong juga mencerminkan nilai-nilai tata krama, etika, dan sopan santun.

Dalam menjaga daya tariknya di era modern, wayang wong terus mengalami inovasi dan modernisasi. Proses ini bertujuan untuk menarik minat generasi muda dan para audiens untuk mempertahankan esensi dan nilai-nilai budayanya. Wayang wong merupakan pertunjukan unik, yang memiliki banyak sekali nilai budayanya, maka dari itu kita harus terus selalu menjaga kelestariannya agar kesenian ini tidak hilang termakan zaman dan dapat dinikmati oleh generasi-generasi penerus selanjutnya.

Wayang wong bukan hanya sekadar pertunjukkan seni tradisional saja, tetapi juga mencerminkan perubahan sosial dan dan budaya di kalangan Masyarakat Jawa. Dulu, kesenian ini hanya dapat dinikmati oleh kalangan keraton saja, tetapi sekarang pertunjukkan ini sudah dapat dinikmati oleh Masyarakat umum. Perubahan ini menunjukkan bahwa budaya mulai lebih terbuka dan tidak terbatas lagi untuk kelompok tertentu saja.

Selain itu, perembangan wayang wong juga dipengaruhi oleh dunia pariwisata. Pertunjukkan ini sekarang sering dijadikan sebagai hiburan untuk menarik para wisatawan. Di sisi lain, ada risiko nilai-nilai asli yang terkandung di dalamnya jadi berkurang karena menyesuaikan dengan selera penonton.

Di zaman sekarang, inovasi juga memang penting agar pertunjukka tradisional seperti wayang wong ini tetap menarik, terutama bagi generasi-generasi muda. Namun, perubahan tersebut juga perlu diperhatikan dengan baik agar tidak menghilangkan ciri khas dan makna budaya yang ada di dalamnya. Jadi, ada tantang untuk menjaga keseimbangan antara mempertahankan tradisi dengan mengikuti perkembangan zaman.

Wayang wong merupakan pertunjukkan seni tradisional unik, sebuah pertunjukkan teater klasik yang berasal dari Jawa yang terus berkembang dari waktu ke waktu. Sebuah pertunjukkan yang awalnya hanya dapat dipentaskan di lingkungan keraton hingga sekarang sudah dapat dinikmati oleh masyarakat luas. Perubahan ini menunjukkan bahwa budaya bisa beradaprasi dengan perkembangan zaman. Dari pembahasan, terlihat bahwa wayang wong membawa dua dampak.

Di sisi lain kesenian ini menjadi lebih dikenal dan tetap dapat hidup karena adanya sebuah inovasi. Tapi di sisi lain, ada tantangan juga untuk menjaga nilai-nilai tradisionalnya agar tidak hilang. Masalah yang terletak pada wayang wong adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara melestarikan budaya dengan mengikuti perkembangan zaman. Oleh karena itu, pelestarian wayang wong tidak hanya soal mempertahankan pertunjukkannya saja, tetapi juga menjaga makna dan nilai yang ada di dalamnya supaya tetap dapat dipahami oleh generasi berikutnya. (*)

Reporter SITI KHOLIFAH DWI RAMDANI
Editor Aris Abdulsalam