Ayo Netizen

Nama Geografis yang Bersumber dari Alat dan Cara Memasak

Oleh: T Bachtiar Rabu 17 Jun 2026, 06:34 WIB
Gentong untuk menampung air bersih masih terus dibuat oleh para pembuat gerabah. (Sumber: Istimewa)

Alat memasak berkembang bersamaan dengan keragaman sumber makanan dan cara memasaknya. Diawali dengan memakan secara langsung apa yang tersedia di alam, seperti buah-buahan, umbi-umbian, dan daging binatang. Namun, ketika api mulai mulai digunakan, telah mengubah cara memasak sumber makanan, alat memasak, dan cara memakannya. Api yang penas, dapat mematangkan daging, umbi-umbian, dengan cara dipanggang, diasap, dipepes di dalam abu panas, atau memasak di dalam ruas bambu, yang disebut dileumeung, hasilnya leumeung. Tempat membuat leumeung, abadi dalam toponim Legokleumeung, di Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor. 

Ketika alat memasak dari tanah liat yang dibakar ditemukan, maka cara memasak bertambah, yaitu dengan cara dikukus dan direbus. Namun, cara memasak itu tidak serta-merta menghilangkan kebiasaan lamanya, yaitu memasak dengan cara dipanggang atau dipepes. 

Setidaknya, ketika masyarakat mulai menetap, yaitu sejak zaman Neolitikum, sekitar 2.000 tahun sampai 1.500 tahun Sebelum Masehi (SM), memasak dengan menggunakan alat itu mulai berkembang. Mereka mengolah tanah menjadi peralatan memasak yang dibutuhkan, lalu dibakar agar lebih awet dan dapat menampung air. 

Dibuatlah berbagai bentuk perlengkapan hidup yang dapat mendukung dan memudahkan dalam kehidupannya, seperti pada saat memasak. Dibuatlah periuk belanga, kuali, tempayan, genting, pendil, genuk, sehingga dapat memasak dengan cara direbus.

Nama alat-alat masak dari tanah liat yang dibakar itu berkembang sesuai dengan bahasa yang dipakai oleh masyarakatnya. Misalnya, ketika masyarakat menyebut jadi untuk alat masak yang popular kemudian bernama pariuk, maka kawasan yang ronabuminya cekung menyerupai periuk, dinamailah kawasan itu Sukajadi di Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung. Kawasan yang cekung seperti penampang periuk, yang sangat indah-permai menyenangkan. Desa Sukajadi di Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung. Sukajadi di Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. 

Ketika nama alat masak jadi namanya tidak populer lagi, kemudian berganti nama menjadi pariuk, tapi jejak nama geografis itu abadi. Alat memasak dari tanah liat yang dibakar dengan nama jadi atau pariuk itu ukurannya beragam, sesuai dengan kebutuhan pemakainya. Periuk berukuran kecil, diameternya antara 16 cm – 22 cm, yang berukuran sedang antara 24 cm – 30 cm, dan yang besar, sama atau lebih besar dari 30 cm. 

Ketika nama alat masak pariuk popular di masyarakat, maka nama kawasan yang ronabuminya cekung menyerupai periuk, dinamailah kawasan itu Kampung Pariuk, seperti yang ada di Sukamekarsari, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Di Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung ada Kampung Cipariuk yang masuk ke Desa Sukajaya. Di Desa Caringin, Kecamatan Gegerbitung, Kabupaten Sukabumi, ada Kampung Cipariuk. Di Kabupaten Bandung terdapat toponim Kampung Mariuk di Desa Girimukti, Kecamatan Saguling, dan di Desa Bojongsalam, Kecamatan Rancaekek. Sesuai Bahasa daerahnya, di Jakarta Utara ada toponim Tanjungpriok. 

Alat memasak yang dasarnya cekung, namun ada juga yang rata, namanya kawali, kuali, atau wajan. Ukuran kuali kecil antara 16 cm – 18 cm, yang sedang antara 24 cm – 28 cm, dan yang besar antara 30 cm – 33 cm. Kuali banyak digunakan untuk menumis, mengukus, dan merebus. Kawasan dengan ronabumi seperti kawali, cekung, dinamailah Kawali, seperti yang ada di Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis, dan Cikawali di Kecamatan Subang, Kabupaten Subang.

Wadah yang menyerupai periuk berpenutup, namanya kendil. Ukuran kendil kecil antara 10 cm – 15 cm, kendil sedang antara 16 cm – 20 cm, dan kendil besar antara 2 liter – 10 liter. Gunanya seperti periuk. Tapi, kendil berukuran kecil banyak digunakan menjadi wadah ari-ari atau plasenta yang akan dikubur. Bagaimana masyarakat menghormati jasa ari-ari dalam kehidupan bayi pada saat di dalam kandungan ibu. Ari-ari itu sebagai penghubung antara ibu dengan bayi, seperti menjadi penyalur nutrisi dan oksigen dari ibu ke bayi, dan menjadi saluran pembuang kotoran sisa metabolisme dari bayi ke sistem peredaran darah ibu untuk dibuang. Ari-ari memberikan perlindungan terhadap janin dari berbagai infeksi bakteri. Penghormatan pada ari-ari, ada yang menyamakan sebagai saudara kembar bayi.

Bentangalam yang menyerupai bentuk kendil, dinamailah kawasan itu Gunung Kendil di Kecamatan Bringin, Semarang, Jawa Tengah, dan Gunung Sikendil di Kecamatan Candiroto, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

Wadah yang bentuknya menyerupai priuk, tapi ukurannya sangat besar, namanya gentong. Ukurannya, gentong kecil dapat menampung air sebanyak 120 liter, ukuran sedang sebanyak 150 liter, dan yang berukuran besar, sama atau lebih dari 250 liter. Gunanya untuk menyimpan air, arak, cuka, tempat peragian, dan tempat menyimpan bahan makanan, dan tempat menyimpan makanan. 

Kawasan berronabumi cekung dengan ukuran yang besar menyerupai penampang gentong, dinamailah kawasan itu Gentong, seperti Tanjakan Gentong di Kecamatan Kadipaten, Kabupaten Tasikmalaya. 

Gentong, tempayan, di beberapa daerah seperti di Pulau Sumatra, Pulau Jawa, dan di Gilimanuk, Pulau Bali masa lalu, ada yang digunakan sebagai tempayan kubur. Tradisi kubur dalam tempayan, seperti janin dalam rahim ibu, yang mengantarkan arwah ke kehidupan baru. 

Ada juga wadah yang fungsinya sama dengan gentong, tapi bentuknya sedikit berbeda, namanya genuk. Bedanya dengan gentong, genuk itu tingginya sekitar 60 cm, dan bagian tengahnya berbentuk cembung yang melebar, antara 50 cm sampai 60 cm. Kegunaan genuk sama seperti gentong. Kawasan dengan rona bumi seperti penampang genuk, dinamai Genuk, seperti yang terdapat di Kota Semarang, Jawa Tengah, Genukkemiri di Pati, Genukwatu di Jombang, dan Genungharjo di Wonogiri. 

Toponim telah mengabadikan kata yang produktif digunakan di suatu daerah, pada saat nama geografis itu diberikan. Di Kota Bandung ada toponim Kelurahan Panjunan di Kecamatan Astanaanyar. Di Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon ada toponim Kampung Panjunan. Panjunan, pa-anjun-an, berarti tempat membuat, menjual, tukang, pengrajin gerabah dari tanah liat, seperti periuk belanga.    

Ketika logam mulai digunakan, bunyi palu menempa logam menimbulkan bunyi dangdang… dinamailah wadah itu dangdang, dandang. Di Baduy, Banten, ada toponim yang cekung seperti dandang, yaitu Dano Dangdang. Tempat pembuatan dandang dinamai Paledang. 

Walau peralatan sudah serba maju, namun tradisi makan dan alat memasak yang dibuat dari tanah, masih gunakan sampai saat ini. Ada masakan dengan proses dibakar, dikukus, dibungkus daun pisang kemudian dimasukan ke dalam abu panas, dan ada juga yang dimasak di dalam ruas bambu. (*)

Reporter T Bachtiar
Editor Aris Abdulsalam