Ayo Netizen

Strategi Penyampaian Pesan dalam Publikasi Film melalui Website dan Media Sosial

Oleh: nikita edgina zalika
Ilustrasi menonton film. (Sumber: Pexels | Foto: Pavel Danilyuk)

Disney memanfaatkan website resmi dan Instagram sebagai media publikasi trailer pertama live-action Moana kepada audiens global. Website resmi menyajikan informasi yang lebih lengkap mengenai film, pemeran, dan jadwal penayangannya.

Sementara itu, Instagram menampilkan visual trailer dan caption singkat yang lebih emosional serta menarik perhatian pengguna. Perbedaan tersebut menunjukkan adanya penyesuaian teknik penulisan sesuai karakteristik media yang digunakan.

Saya melihat website resmi Disney langsung menjelaskan inti informasi mengenai trailer, pemeran utama, dan jadwal penayangan film sejak paragraf pertama artikel dipublikasikan kepada publik. Sedangkan Instagram menggunakan caption singkat “The ocean chose her for a reason” agar audiens langsung memahami nuansa emosional campaign live-action Moana tersebut.

(Foto: Nikita edgina zalika)

Menurut pendapat saya, teknik penulisan pada website resmi Disney terasa lebih formal karena menggunakan gaya artikel berita perusahaan yang rinci dan informatif kepada pembaca global. Sebaliknya, Instagram memakai gaya penulisan lebih santai, singkat, dan emosional agar cocok dengan kebiasaan pengguna media sosial masa sekarang.

Saya merasa Disney cukup pintar membedakan cara penulisan berdasarkan karakteristik platform publikasi tanpa menghilangkan identitas utama campaign live-action Moana tersebut kepada audiens global mereka. Website resmi digunakan sebagai sumber informasi utama perusahaan, sedangkan Instagram dipakai untuk menarik perhatian publik secara cepat melalui visual dan caption pendek.

Dalam analisis kata kunci, saya melihat website resmi dan Instagram sama-sama menggunakan kata “ocean”, “journey”, dan “Moana” untuk memperkuat identitas campaign film tersebut kepada audiens. Menurut saya, penggunaan kata-kata tersebut membuat publik lebih mudah mengenali tema petualangan laut dan perjalanan emosional yang dimiliki karakter utama film Moana.

Website resmi Disney menggunakan penjelasan panjang mengenai budaya Polynesia, karakter film, dan proses produksi live-action Moana secara detail kepada para pembaca global perusahaan tersebut. Sebaliknya, Instagram lebih mengutamakan kekuatan visual trailer dan caption singkat karena audiens media sosial biasanya lebih menyukai informasi yang cepat dan praktis.

Menurut saya, teknik penulisan website resmi Disney menggunakan pola piramida terbalik karena informasi paling penting langsung dijelaskan sebelum detail tambahan dijelaskan kepada pembaca lebih lanjut. Instagram juga menggunakan pola serupa, tetapi bentuk penyampaiannya jauh lebih sederhana karena hanya memakai satu caption pendek untuk menyampaikan inti campaign.

Saya melihat konsistensi gaya komunikasi Disney tetap terlihat kuat meskipun website resmi dan Instagram menggunakan teknik penulisan yang berbeda dalam menyampaikan informasi kepada audiens global mereka. Kedua platform sama-sama mempertahankan nuansa petualangan laut, budaya Polynesia, dan perjalanan Moana sebagai identitas utama campaign live-action tersebut.

Menurut pendapat saya, visual berwarna laut biru, kapal tradisional, dan karakter Moana membuat campaign Disney terlihat lebih konsisten dan mudah dikenali oleh masyarakat luas saat ini. Selain itu, penggunaan hashtag “#Moana” pada Instagram membantu meningkatkan jangkauan publikasi dan mempermudah audiens menemukan konten terkait film tersebut secara digital.

(Abdurrahman, 2026) menjelaskan bahwa kemampuan menulis dalam digital public relations perlu menyesuaikan karakteristik media dan kebutuhan audiens. Penyesuaian tersebut membantu penyampaian pesan secara lebih efektif kepada publik. Setiap platform memiliki karakteristik komunikasi yang berbeda. Oleh karena itu, gaya penulisan perlu disesuaikan dengan media yang digunakan.

Hal ini sesuai dengan hasil analisis yang menunjukkan bahwa website resmi Disney menggunakan gaya penulisan yang lebih formal dan rinci dibandingkan Instagram. Website berfungsi sebagai sumber informasi utama yang lebih lengkap bagi audiens. Sebaliknya, Instagram menggunakan gaya bahasa yang lebih singkat dan emosional. Perbedaan tersebut menunjukkan adanya penyesuaian teknik penulisan berdasarkan karakteristik media.

Maka dari itu, perbedaan teknik penulisan pada website dan media sosial menunjukkan bahwa setiap platform memiliki karakteristik yang berbeda dalam menyampaikan informasi. Penyesuaian gaya penulisan membantu pesan diterima dengan lebih efektif oleh audiens. Dengan demikian,pemilihan teknik penulisan yang sesuai menjadi salah satu faktor penting dalam kegiatan public relations.

Refrensi:

  • Abdurrahman, M. S. (2026). Digital Public Relations Writing: Relevansi Kemampuan Menulis di Era AI. Simbiosa Rekatama Media.
Reporter nikita edgina zalika
Editor Aris Abdulsalam