Ayo Netizen

Tantangan Mekanisasi dan Program Penyuluhan untuk Petani Muda

Oleh: Totok Siswantara
Ilustrasi para petani muda dan calon pelaku usaha pertanian sedang menyusuri pematang sawah di pedesaan Kabupaten Garut. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)

Baru saja bangsa kita memperingati Hari Krida Pertanian pada tanggal 21 Juni. Perayaan ini merupakan momen nasional untuk mengapresiasi dan menghargai dedikasi para petani, peternak, pekebun, serta pelaku sektor pertanian atas kontribusi mereka dalam menjaga ketahanan pangan dan menggerakkan ekonomi nasional. 

Tantangan berat pertanian adalah masalah mekanisasi usaha pertanian, dari masalah teknologi irigasi, mesin pengolah tanah, sampai kepada mesin pasca panen. Ternyata semuanya masih tertinggal jauh dibanding dengan negara lain yang mana produktivitasnya sudah tinggi. Hari Krida Pertanian merupakan peringatan untuk menggiatkan inovasi mekanisasi pertanian demi menggenjot produktivitas. Peningkatan produktivitas dihadang oleh kekeringan dan masalah usangnya mekanisasi pertanian. Antisipasi kekeringan mesti diantisipasi dengan cara  menggencarkan sistem pompanisasi demi mencegah kekeringan yang diprediksi terjadi di bulan Juli hingga Oktober. 

Ilustrasi generasi muda yang memiliki kepedulian untuk memajukan pertanian (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)

Menggalakkan Teknologi Tepat Guna

Beberapa daerah mulai kesulitan mendapatkan air untuk irigasi pertanian. Masalah kekeringan bisa diatasi dengan mekanisasi pertanian. Dengan solusi langsung berupa pembagian alat mesin pertanian (alsintan) seperti pompa air ke berbagai daerah yang dilanda kekeringan. Selain bantuan peralatan perlu membenahi manajemen air.

Kita mestinya mencontoh manajemen air tanah di luar negeri yang  tidak mudah menyerah untuk terus berinovasi mengupayakan teknologi baru agar dapat memenuhi kebutuhan air yang bersumber dari air tanah. Di negara maju, pengelolaan air tanah yang hanya berbasis sumur produksi (seperti saat ini di Indonesia) telah lama ditinggalkan bergeser ke paradigma baru yaitu pengelolaan secara terintegrasi air tanah dan cekungannya dengan tajuk groundwater basin management.

Ilustrasi generasi muda yang sedang mengamati kegaiatan pasca panen di pedesaan kabupaten Garut (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)

Saatnya menggalakkan teknologi tepat guna untuk mengeksploitasi dan mendistribusikan sumber daya air untuk kebutuhan pertanian. Teknologi itu bersifat ramah lingkungan, murah dan hemat energi. Seperti misalnya kincir angin, yakni alat yang mengubah energi angin menjadi energi kinetik rotasi. Kincir angin telah digunakan di berbagai negara, namun di Indonesia penggunaan kincir angin belum optimal. Dan belum digunakan secara massal dengan berbagai proses inovasi teknologi.  

Inovasi kincir angin mesti dilakukan terus menerus sesuai penggunaan dan karakteristik tempatnya. Untuk daerah yang bertiup angin kecepatan rendah lebih cocok dikembangkan kincir angin untuk pompanisasi untuk irigasi tanaman palawija.

Selama ini mekanisasi pertanian yang dikembangkan di pedesaan berorientasi untuk pengolahan tanah. Belum diintegrasikan dengan teknologi mekanisasi untuk pra tanam, perawatan, dan pascapanen. Kondisi tersebut mengakibatkan produktivitas dan efek nilai tambah penerapan teknologi mekanisasi belum bisa optimal.

Perlu mendefinisikan kembali sistem mekanisasi pertanian dan kegiatan inovasi di pedesaan sebagai sistem agribisnis yang relevan dengan pasar komoditas. Yakni sistem yang terpadu dari hulu ke hilir, mulai dari penyediaan sarana produksi, proses budidaya, aktivitas pasca panen, hingga pemasaran yang efektif dalam sistem informasi online dengan pasar komoditas dan pasar induk.

Program peningkatan produktivitas pertanian berbasis inovasi mekanisasi pertanian merupakan jawaban untuk mengatasi masalah impor produk pangan. Mekanisasi juga menyangkut komoditas perkebunan dan dibidang peternakan terutama untuk pengolahan pakan ternak dan ikan. Untuk komoditas hortikultura, mekanisasi mulai dari irigasi sampai dengan peralatan dan mesin pasca panen seperti mesin grader buah, penggoreng vakum, perajang dan pengering.

Inovasi mekanisasi pertanian juga menyangkut sistem irigasi suplemen untuk tanaman, yakni teknologi yang diperlukan sebagai pelengkap apabila curah hujan tidak mencukupi untuk mengkompensasikan kehilangan air tanaman yang disebabkan oleh evapotranspirasi. Irigasi suplemen bertujuan untuk memberikan air yang dibutuhkan tanaman pada waktu, volume dan interval yang tepat.

Alat dan mesin pertanian (Alsintan) sangat penting untuk pengolahan tanah, pengendalian hama, panen dan perontokan khususnya di daerah intensifikasi. Namun demikian, hingga kini jumlah alsintan  masih sangat sedikit dibanding dengan luas lahan yang ada. Ditinjau dari jumlah alat dan mesin yang digunakan, level atau indeks mekanisasi pertanian di negeri masih sekitar 30 persen. Celakanya, utilitas atau pemakaiannya juga belum bisa optimal karena masalah perawatan dan biaya operasional.

Ilustrasi pentingnya proses regenerasi petani di Indonesia (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)

Untuk komoditas perkebunan, mekanisasi telah digunakan terutama untuk pengolahannya. Sekitar 65 % komoditas hasil perkebunan masih kesulitan dalam pengolahan. Hal ini merupakan peluang pengembangan produk dan desain alsintan. Begitu juga dengan sektor peternakan terutama untuk pengolahan pakan, penyediaan bibit dan pengolahan produk, namun jumlahnya masih jauh dari kebutuhannya.

Kondisi industri dalam negeri alsintan yang sering stagnan perlu insentif dan bantuan teknis. Impor alistan harus dikurangi secara signifikan dengan mengembangkan secara progresif industri dalam negeri. Salah satunya adalah industri traktor yang sudah penuh menggunakan komponen lokal. Kapasitas terpasang dari industri traktor lokal sebenarnya bisa mencukupi kebutuhan dalam negeri. Namun kebijakan makro dan bunga bank belum mendukung bagi industri maupun pengguna alsintan.

Dibutuhkan strategi baru pengembangan alsintan untuk tanaman pangan seperti hand traktor, transplanter, weeder, pompa air, hand sprayer, reaper (pemanen), thresher dryer dan mesin penggilingan padi. Untuk komoditas hortikultura, pengembangan mekanisasi sebaiknya diarahkan untuk mesin grader dan pemeras jeruk, perajang multiguna dan penggoreng vakum untuk pisang serta traktor dan pompa air untuk tanaman bawang merah. Sedangkan untuk tanaman perkebunan diarahkan pada pengembangan mesin untuk pengolahan. Pengolahan pakan ternak, baik untuk unggas maupun ruminansia sebaiknya juga menjadi prioritas.

Pentingnya kapasitas inovasi daerah yang menekankan desain dan produksi alat dan mesin pertanian. Beberapa jenis alsintan yang antara lain untuk penyiapan lahan, pemupukan, pengairan, dan pasca-panen perlu diterapkan dengan teknologi yang lebih baik. Pusat desain dan produksi alsintan di daerah juga berperan mengevaluasi kinerja dan mutu alsintan yang telah dioperasikan di berbagai kondisi lapangan. Sehingga bisa dilakukan penyempurnaan desain dan efektivitas produksi secara berkelanjutan. 

Ilustrasi generasi muda yang sedang mengamati program intensifikasi pertanian (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)

Penyuluhan untuk Mendorong Petani Muda

Transformasi penyuluh pertanian adalah keniscayaan dengan sasaran para petani muda dan calon pelaku usaha pertanian. Penyuluh  membutuhkan bermacam keahlian dan keterampilan untuk mewujudkan pertanian presisi melalui teknologi digital, seperti aplikasi rekomendasi pemupukan untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas petani. 

Transformasi penyuluh pertanian juga terkait dengan mobil uji tanah memiliki fungsi dan cara kerja yang kian efektif. Diawali dengan teknisi mengambil sampel tanah dari lahan petani untuk diuji menggunakan alat uji tanah khusus. Kemudian dibuat rekomendasi pemupukan berdasarkan hasil analisis. Hasil akhirnya para petani muda memperoleh rekomendasi jenis dan dosis pupuk yang sesuai untuk kebutuhan tanah mereka.

Perlu solusi untuk mengatasi krisis petani muda yang ditandai dengan kecilnya minat anak-anak petani untuk menggeluti profesi pertanian.Penyebab terjadinya krisis petani muda sangat kompleks dan multidimensional.

Krisis petani muda tergambar dalam survei yang pernah dilakukan oleh LIPI ( kini BRIN) dimana hanya 4 persen anak petani berusia 15-35 tahun yang bersedia menggeluti profesi petani. Yang lebih menyedihkan lagi angkatan kerja sektor pertanian saat ini semakin menua dan renta, 65 persen telah berusia di atas 45 tahun. Kondisi diatas tentunya akan memperburuk produktivitas pertanian.

Padahal, angka produktivitas di negara maju dengan negara berkembang hingga kini sangat timpang. Sistem atau pola pertanian yang ada di dunia ini dapat dibagi menjadi dua pola yang berbeda yaitu; pertama, pola pertanian di negara-negara maju yang memiliki tingkat efisiensi tinggi, dengan kapasitas produksi dan rasio output per tenaga kerja yang juga tinggi.

Kedua, pola pertanian yang tidak atau kurang berkembang yang terjadi di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Tingkat produktivitasnya masih rendah sehingga hasil yang diperoleh acapkali tidak dapat memenuhi kebutuhan para petaninya sendiri. Sehingga antara negara maju dan negara berkembang muncul suatu kesenjangan yang disebut sebagai kesenjangan produktivitas. Kesenjangan produktivitas tersebut berkisar 50 dibanding satu.

Salah satu solusi untuk mengatasi krisis petani muda adalah lewat program komunikasi dan motivasi yang relevan dengan perkembangan teknologi. Program penyuluhan pertanian yang selama ini dilakukan perlu transformasi sehingga sesuai dengan semangat zaman dan animo kaum milenial.

Keniscayaan regenerasi petani perlu manajemen inovasi yang relevan agar usahanya lebih efektif dan berdaya saing. Manajemen inovasi merupakan disiplin yang berkaitan dengan pengelolaan inovasi dalam proses produk dan pelayanan, organisasi, hingga pelanggan dan pasar. (*)         

Reporter Totok Siswantara
Editor Aris Abdulsalam