Ayo Netizen

Manik Maya, Ibu Bumi dan Bapak Langit

Oleh: Malia Nur Alifa
Saya (penulis) bersama kawan-kawan pecinta budaya Lembang dalam acara ngertakeun bumi lamba 2026. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Malia Nur Alifa)

Acara Ngertakeun Bumi Lamba 2026 yang telah diselenggarakan pada Minggu, 21 Juni 2026, mengusung tema “Manik Maya, Ibu Bumi dan Ayah Langit”. Acara Ngertakeun Bumi Lamba sendiri adalah sebuah ritual sakral yang diselenggarakan di Hutan Tangkuban Parahu. Ritual ini adalah wujud rasa syukur dan untuk menjaga keseimbangan alam semesta dengan hadir dalam filosofi “Ibu Bumi dan Bapak Langit”.

Tradisi ini dijalankan untuk memuliakan gunung sebagai paku alam dan wujud rasa syukur atas bumi yang bukan hanya merupakan sekedar tempat lahir, tinggal dan mati, melainkan sebuah titipan leluhur yang wajib kita jaga. Ngertakeun Bumi Lamba ini didasarkan pada amanat leluhur pada zaman Pakuan Pajajaran hingga petuah masyarakat Badui dan Kasundaan. Tahun ini adalah ke-18 kalinya penyelenggaraan Ngertakeun Bumi Lamba. Awalnya lahir pada 2008 yang bermula pada perjalanan beberapa tokoh Sunda yang berkunjung ke suku Baduy untuk meminta bimbingan, hingga akhirnya lahirlah Festival Tangkuban Parahu yang kemudian menjadi Ngertakeun Bumi Lamba.

Bila berbicara tentang Sunda saya selalu dibuat merinding oleh sebuah tinjauan sejarah dalam pidato pengukuhan jabatan guru besar dalam ilmu sejarah pada Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran 16 Desember 1995, yang ditulis oleh bapak Edi S. Ekadjati. Yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Universitas Padjadjaran, Bandung 1995. Dalam pidato tersebut diulas dengan sangat rinci mengenai Sunda. Isi dari pidatonya saya kutip kurang lebih seperti ini;

Ditinjau dari segi Historis, Sunda, Nusantara dan Indonesia adalah istilah atau nama yang mengandung pengertian geografis, kelompok sosial, politik dan kebudayaan. Pengertian-pengertian tersebut kadang-kadang tampak kentara secara terpisah, kadang-kadang terkandung bersama-sama sekaligus. Untuk membedakan biasanya dibubuhi sebuah kata depan yang menjelaskan makna yang dikandungnya, misalnya tatar Sunda, urang Sunda, sastra Nusantara, wawasan Nusantara, Republik Indonesia, bahasa Indonesia.

Menurut Rouffaer, seorang pustakawan Belanda, kata Sunda berasal dari pinjaman kata asing berkebudayaan Hindu, seperti juga kata-kata Sumatra, Madura, Bali, Sumbawa, yang semuanya merujuk pada nama suatu tempat. Kata Sunda sendiri kemungkinan besar berakar dari kata Sund atau kata Suddah dalam bahasa Sanskerta yang mengandung pengertian bersinar, terang dan putih. Dalam bahasa Jawa Kuna (Kawi) dan bahasa Bali pun terdapat kata Sunda, dengan pengertian bersih, suci, murni, tak bercela, air, tumpukan, pangkat, waspada.

Secara historis, Ptolemaeus, ahli ilmu bumi bangsa Yunani, merupakan orang pertama yang menyebut Sunda sebagai nama tempat. Dalam buku karangannya yang dituliskan sekitar tahun 150 masehi ia menyebutkan bahwa ada tiga buah pulau yang dinamai Sunda yang terletak di sebelah timur India. Kiranya berdasarkan informasi tersebut inilah, ahli-ahli bumi Eropa kemudian menggunakan kata Sunda untuk menamai wilayah dan beberapa pulau di timur India.

Ahli geologi Belanda van Bemmelen menjelaskan bahwa Sunda adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menamai suatu daratan bagian barat laut India timur, sedangkan dataran bagian tenggaranya dinamai Sahul. Dataran Sunda dikelilingi oleh sistem Gunung Sunda yang melingkar dan panjangnya sekitar 7000 kilometer. Dataran Sunda itu terdiri atas dua bagian utama, yaitu bagian utara yang meliputi kepulauan Filipina dan pulau-pulau di sepanjang Lautan Pasifik bagian barat serta bagian selatan yang terbentang dari barat hingga timur dari lembah Brahmaputra di India hingga Maluku di selatan.

Dataran Sunda itu bersambung dengan kawasan sistem gunung Himalaya di barat dan dataran Shul di timur. Selanjutnya sebuah pulau yang kemudian terbentuk di dalam dataran Sunda diberi nama dengan menggunakan istilah Sunda juga, yakni Kepulauan Sunda Besar dan Kepulauan Sunda Kecil. Yang dimaksud dengan kepulauan Sunda Besar ialah himpunan pulau yang berukuran besar yang terdiri dari pulau Sumatra, Jawa, Madura dan Kalimantan. Adapun kepulauan Sunda Kecil merupakan gugusan pulau Bali, Lombok, Sumbawa, Flores dan Timor. Namun kemudian istilah Sunda Besar dan Sunda Kecil ini tidak dipakai lagi dalam ilmu bumi di Indonesia.

Menurut Jan Gonda, seorang peneliti dan indologi ternama asal Belanda, ia dikenal dengan penelitiannya mengenai sastra Sanskerta, sastra Jawa dan bahasa Indo-Eropa. Menurutnya pada mulanya kata Suddha dalam bahasa Sanskerta diterapkan pada nama sebuah gunung yang menjulang tinggi di bagian barat pulau Jawa, gunung tersebut tampak putih dan bercahaya di kejauhan, karena tertutup oleh abu yang berasal dari letusan gunung raksasa tersebut yaitu Gunung Sunda.

Kemudian nama Sunda tidak hanya dilabeli untuk nama gunung saja, namun untuk melabeli nama masyarakat yang mendiaminya. Mungkin sekali pemberian nama Sunda bagi wilayah barat pulau Jawa itu diinspirasi oleh nama sebuah kota dan atau kerajaan di bagian bagian pesisir barat India antara lain kota pelabuhan Goa dan Karwar. Selanjutnya, Sunda dijadikan nama kerajaan yang berada di bagian barat Jawa yang beribu kota di Pakuan Pajajaran, sekitar kota Bogor sekarang. Kerajaan Sunda ini telah diketahui berdiri pada abad 7 masehi dan berakhir pada 1579 Masehi.

Suara Sunda pada masa itu tercermin dalam sajak di bawah:

Duh Ibu anu sajati
Indonesia anu mulya
Na kuring sangsara bae
Iraha Ibu Merdika
Iraha kuring rek Mulya
Sapertos Ibu kapungkur
Kawasa marentah sorangan
Duh Ibu kumaha kuring
Bet jadi ra’yat sangsara
Kana merdika geus sono
Geus hanyang geura gok tepang
Aduh Gusti abdi tobat
Mugi enggal hasil maksud
Merdika Indonesia

Terjemahan:

Oh Ibu yang sejati
Indonesia yang mulia
Kenapa hamba sengsara terus
Kapan ibu merdeka
Kapan hamba akan mulia
Seperti ibu dahulu
Berdaulat memerintah sendiri
Oh Ibu bagaimana hamba
Kok jadi rakyat sengsara
Merdeka telah hamba dambakan
Telah ingin segera berjumpa
Oh Tuhan hamba mohon ampunan
Semoga lekas tercapai cita
Merdeka Indonesia

(Sajak dalam Sora Ra’yat Merdika, 20 Agustus 1931)

Sudah saatnya kita ingat dan sadar, kita adalah bangsa besar yang makmur, selalu menjunjung tinggi nilai luhur dan jujur. Kita telah tertidur cukup lama, menderita karena kehilangan jati diri yang dimainkan tangan-tangan kapitalis. Mari saudara-saudaraku, kita pulih dengan kesadaran penuh, mulai menata kembali jalan yang telah hancur, mari jemput pulang Ibu kembali ke pangkuan. (*)

Reporter Malia Nur Alifa
Editor Aris Abdulsalam