Ayo Netizen

Kembang Tanpa Dedaunan

Oleh: bram herdiana
The Rollies (1972). (Sumber: Wikimedia Commons)

Panas nian kemarau ini
Rumput-rumput pun merintih sedih
Rebah, tak berdaya di terik sang surya
Bagaikan dalam neraka

Curah hujan yang dinanti-nanti
Tiada juga datang menitik
Kering dan gersang menerpa bumi
Yang panas bagai dalam neraka

Mengapa (mengapa), mengapa hutanku hilang
Dan tak pernah tumbuh lagi ?
Mengapa (mengapa), mengapa hutanku hilang
Dan tak pernah tumbuh lagi ?...

Kemarau, The Rollies Band, 1979

Lirik lagu dari band legendaris Kota Bandung Rollies tersebut tidak hanya sekadar ungkapan puitis tentang musim kemarau. Di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, kalimat itu terasa semakin nyata. Suhu udara yang semakin panas, musim kemarau yang lebih lama, kekeringan yang meluas, berkurangnya kawasan rimba yang otomatis kehilangan aneka sumber daya hayati, menjadi gambaran yang kita jumpai saat ini. Alam semesta ibaratnya sedang berpesan bahwa keseimbangan alam yang sebelumnya terjaga dengan utuh kini mulai terganggu sehingga perlu menjaganya lebih sempurna.

Hari Lingkungan Hidup Sedunia 5 Juni 2026 digelar untuk menjawab situasi saat ini Triple Planetary Crisis yaitu tiga tantangan yang saling berhubungan dan mengancam eksistensi bumi saat ini. Tiga tantangan tersebut meliputi perubahan iklim, kehilangan keanekaragaman hayati, dan polusi. Krisis sistemik ini memerlukan percepatan kerja bersama seluruh dunia dan mobilisasi aksi nyata yang massif.

Adapun perayaan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 mengusung tema global “Inspired by Nature. For Climate. For Our Future” dengan menggunakan hashtag #NowForClimate. Dalam memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Menteri Lingkungan Hidup RI juga menyusun tema dan kegiatan khusus untuk menjawab masalah-masalah lingkungan hidup. Mengacu Surat Edaran Nomor 9 tahun 2026 tentang peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, menjunjung tema SAATNYA BEKERJA UNTUK IKLIM.

Tema nasional ini direkayasa sebagai alat penggerak untuk mentransformasikan pandangan masyarakat. Melalui tema ini, masyarakat diharapkan tidak hanya memiliki pengetahuan dan kesadaran tentang pentingnya menjaga lingkungan hidup dan bumi, namun juga turut menjadi aksi nyata yang berdampak langsung pada perubahan lingkungan hidup yang lebih asri.

Organisasi PBB memperingatkan salah satu tantangan terbesar yang dihadapi umat manusia saat ini adalah perubahan iklim. Para ilmuwan dunia telah mengingatkan bahwa kenaikan suhu rata-rata global harus dijaga agar tidak melebihi 1,5 derajat Celsius dibandingkan masa pra-industri. Angka tersebut merupakan batas penting untuk menghindari dampak perubahan iklim yang semakin parah. Jika suhu melewati batas ini dalam jangka panjang, risiko cuaca ekstrem, kelangkaan pangan, dan kerusakan ekosistem akan meningkat drastis.

Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat semakin sering merasakan cuaca ekstrem. Musim kemarau terasa lebih panas, sementara musim hujan sering datang dengan curah hujan yang sangat tinggi dan menimbulkan banjir. Kekeringan bukan hanya menyebabkan kesulitan memperoleh air bersih. Sektor pertanian juga terkena dampaknya. Sawah mengalami kekurangan air, hasil panen menurun, dan petani menghadapi ketidakpastian musim tanam.

Di berbagai daerah, kebakaran hutan dan lahan semakin mudah terjadi ketika cuaca sangat kering. Perubahan iklim membuat kejadian-kejadian tersebut semakin sering dan semakin intens. Akibatnya, bukan hanya lingkungan yang terdampak, tetapi juga kesehatan, ekonomi, dan kehidupan sosial masyarakat.

Penyebab utama pemanasan global adalah meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer. Gas-gas seperti karbon dioksida, metana, dan dinitrogen oksida menahan panas matahari sehingga suhu bumi terus meningkat. Aktivitas manusia menjadi faktor terbesar penyebab peningkatan gas rumah kaca tersebut. Pembakaran bahan bakar fosil untuk transportasi, industri, dan pembangkit listrik menghasilkan emisi karbon dalam jumlah besar. Selain itu, pembukaan hutan untuk berbagai kepentingan juga menjadi penyebab bumi makin panas.

The Rollies. (Sumber: Wikimedia Commons)

Bagaimana dengan kondisi cuaca atau hawa di Kota Bandung? ternyata sekarang banyak masyarakat Bandung yang menyatakan bahwa Kota Bandung sering panas sehingga masyarakat sering merasakan hareudang alias merasa kepanasan berbeda dengan cuaca di bawah tahun 1990-an yang terasa sejuk, masih berkabut ditimpali kicau burung. Pepohonan di jalanan juga masih banyak berdiri dengan kokoh menjalankan proses alamiahnya bagi kelayakan hidup manusia yang selaras dengan lingkungan alam.

Sejak lama orang merasakan hawa udara Kota Bandung yang sejuk. Letaknya di dataran tinggi membuat suhu Kota Bandung lebih segar dibandingkan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, banyak warga mulai merasakan bahwa hawa Bandung tidak lagi sesejuk dan sesegar dahulu.

Beberapa penyebabnya antara lain adalah berkurangnya pepohonan dipinggir jalan. Dahulu, banyak ruas jalan di Bandung memiliki kanopi pohon yang rindang sehingga mampu memberikan keteduhan dan menurunkan suhu udara. Pohon tidak hanya menghasilkan oksigen, tetapi juga berfungsi sebagai pendingin alami melalui proses evaporasi atau penguapan air serta transpirasi atau pelepasan uap air melalui daun. Ketika jumlah pohon berkurang akibat pembangunan, pelebaran jalan, atau alih fungsi lahan, kemampuan kota untuk menahan panas jadi melandai. Penelitian menunjukkan bahwa berkurangnya vegetasi berhubungan erat dengan meningkatnya suhu permukaan kota.

penyebab lainnya adalah volume penggunaan kendaraan bermotor di Bandung terus meningkat baik hari biasa juga saat akhir pekan dengan banyak para wisatawan luar kota. Kendaraan menghasilkan panas dari mesin dan gas buang, serta mendorong pembangunan jalan dan area parkir yang didominasi aspal dan beton. Material tersebut menyerap panas matahari pada siang hari dan melepaskannya kembali pada malam hari, sehingga udara kota tetap terasa hangat. Penelitian mengenai Bandung menunjukkan bahwa peningkatan jumlah kendaraan bermotor merupakan salah satu faktor yang berkontribusi terhadap melambungnya suhuh panas kota.

Akibat kombinasi antara berkurangnya pepohonan dan meningkatnya volume penggunaan kendaraan, suhu di beberapa kawasan Bandung cenderung mengalami kenaikan. Bahkan sejumlah penelitian mencatat adanya peningkatan suhu permukaan yang cukup signifikan dalam beberapa dekade terakhir. sehingga masyarakat Bandung harus gegeber hihid biar tidak merasa kepanasan.

Berpijak pada kondisi di atas maka Kota Bandung berisiko luntur ikoniknya sebagai kota sejuk. Maka penambahan ruang terbuka hijau, penanaman pohon peneduh di sepanjang jalan, pengembangan transportasi umum, serta pengurangan ketergantungan pada kendaraan pribadi mampu dijadikan prioritas penting untuk menjaga kualitas lingkungan kota. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa taman kota dan kawasan hijau mampu membantu menurunkan suhu udara di lingkungan sekitarnya.

Hawa udara Bandung yang semakin panas bukan hanya disebabkan oleh perubahan iklim global, tetapi juga oleh perubahan tata ruang Kota Bandung sendiri. Semakin sedikit pohon di Bandung tetapi jumlah kendaraan bermotor semakin banyak, maka akan besar pula panas yang terperangkap di lingkungan perkotaan. Kalau Bandung ingin tetap nyaman dihuni, keseimbangan antara pembangunan, transportasi, dan ruang hijau harus menjadi perhatian utama. (*)

Reporter bram herdiana
Editor Aris Abdulsalam