Ayo Netizen

Bagaimana Ojek Online Cetak Laba Pertama Dikomunikasikan lewat Website, Instagram, dan Media Online

Oleh: Shalsabila Ratu
Salah satu driver ojol menunggu orderan di pinggir jalan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)

Kabar bersejarah GoTo yang akhirnya mencetak laba bersih pertama sebesar Rp171 miliar pada kuartal I 2026 dikemas dalam tiga cara yang berbeda oleh tiga platform yang berbeda. Website resmi gotocompany.com tampil sebagai dokumen korporat sarat data dan terminologi finansial, Instagram GoTo memilih pendekatan emosional dan visual untuk merangkul audiens yang lebih luas, sementara Tribun Jabar sebagai media online eksternal berupaya menyederhanakan informasi teknis tanpa kehilangan substansinya.

Ketiganya membawa pesan inti yang sama, namun pilihan kata kunci, teknik penulisan, dan konsistensi penyajian yang berbeda justru mencerminkan bagaimana setiap platform mendefinisikan pembacanya secara berbeda dan menurut hemat saya, perbedaan itu bukan sekadar soal gaya komunikasi, melainkan cerminan strategi yang perlu dibaca secara kritis jika kita ingin memahami bagaimana narasi korporat dibentuk dan disebarluaskan di era ekosistem media yang terfragmentasi.

Website resmi GoTo secara konsisten menggunakan kata kunci teknis seperti "EBITDA yang disesuaikan," "GTV inti," "arus kas bebas disesuaikan," dan "Annual Transacting Users (ATU)" yang jelas menargetkan pembaca dari kalangan investor dan analis pasar modal. Pilihan kata kunci yang sangat spesifik ini memang tepat untuk menjaga kredibilitas rilis pers korporat, namun secara tidak langsung membangun jarak dengan pembaca awam yang justru paling banyak berinteraksi dengan layanan GoTo sehari-hari.

Instagram GoTo memilih kata kunci yang jauh lebih populis dan emosional, seperti "pertama kali," "sejarah baru," dan "laba bersih" tanpa disertai akronim atau angka yang rumit, menciptakan narasi pencapaian yang mudah dicerna oleh pengguna umum platform. Pendekatan tersebut cerdas karena mampu mengubah laporan keuangan yang kering menjadi momen perayaan yang bisa dibagikan ulang, meskipun konsekuensinya adalah hilangnya nuansa dan detail penting dari informasi aslinya.

Tribun Jabar memadukan kata kunci dari kedua dunia dengan menggunakan istilah seperti "laba bersih," "rugi bersih," "YoY," dan "GTV" namun tetap menempatkan angka nominal di depan sebagai jangkar berita yang mudah dipahami. Menurut saya, strategi ini adalah yang paling seimbang di antara ketiganya karena berusaha menjembatani pembaca awam dan pembaca berpengetahuan finansial sekaligus, walau kadang terasa kurang mendalam jika dibandingkan dengan kedalaman terminologi yang dipakai sumber primernya.

Website resmi menggunakan teknik penulisan press release korporat dengan struktur piramida data: diawali pernyataan ringkas tentang laba bersih, dilanjutkan dengan sederetan angka performa per segmen bisnis secara sistematis, dan ditutup dengan kutipan direktur utama yang memperkuat narasi optimisme. Saya berpendapat bahwa teknik ini sangat efektif untuk keperluan dokumentasi resmi dan kepercayaan investor, tetapi terasa dingin secara emosional karena hampir tidak ada narasi human interest yang menjelaskan dampak pencapaian ini bagi jutaan pengguna dan mitra driver di lapangan.

Instagram GoTo mengandalkan teknik storytelling singkat berformat caption dengan penekanan pada momen historis, didukung elemen visual seperti desain grafis bermerek yang membuat informasi lebih mudah diingat dan disebarkan. Teknik ini sangat mahir dalam menciptakan engagement, namun kelemahan mendasarnya adalah ketidakmampuan platform ini menyampaikan konteks dan nuansa yang dibutuhkan untuk memahami makna sesungguhnya dari angka Rp171 miliar dalam lanskap bisnis teknologi Indonesia yang lebih besar.

Tribun Jabar menggunakan teknik penulisan berita straight news dengan lead langsung yang menempatkan fakta terpenting di paragraf pertama, diikuti penjelasan kontekstual dan kutipan narasumber yang dipilih secara selektif dari siaran pers resmi. Menurut opini saya, teknik ini adalah yang paling jujur secara jurnalistik karena memberi pembaca informasi esensial tanpa distorsi berlebihan, meski penggunaan ulang kutipan dari sumber yang sama tanpa reportase tambahan menunjukkan keterbatasan yang lazim ditemui dalam pemberitaan media online berbasis siaran pers.

Website resmi GoTo menunjukkan konsistensi yang paling kuat dalam hal terminologi, angka, dan pesan karena seluruh konten bersumber dari satu tim komunikasi korporat yang terkontrol, sehingga tidak ada inkonsistensi antara angka laba, persentase pertumbuhan, maupun klaim strategis di seluruh dokumen. Konsistensi ini adalah standar minimum yang wajib dipenuhi oleh sebuah rilis pers resmi perusahaan publik yang terdaftar di bursa efek, karena ketidakakuratan sekecil apapun berpotensi menimbulkan implikasi hukum dan merusak kepercayaan pasar.

Instagram GoTo mempertahankan konsistensi pesan utama yaitu pencapaian bersejarah laba pertama, namun secara inheren tidak konsisten dengan detail teknis karena format media sosial memang tidak dirancang untuk menyajikan data lengkap, sehingga audiens hanya mendapatkan fragmen informasi yang dipilih secara kuratorial. Saya berargumen bahwa inkonsistensi ini sebenarnya adalah fitur, bukan bug, dari komunikasi media sosial korporat yang lebih mementingkan dampak emosional dan jangkauan viral daripada akurasi dan kelengkapan data yang komprehensif.

Perbedaan karakteristik setiap platform digital memang secara inheren mendorong penyesuaian pesan yang dapat mengurangi kedalaman informasi dari sumber aslinya. Mahmudah dan Rahayu (2020) dalam penelitian pengelolaan konten media sosial korporat menemukan bahwa konten yang dibagikan di media sosial menyesuaikan dengan karakteristik dari masing-masing khalayak pengguna media sosial tersebut, sehingga pesan teknis dari rilis resmi korporat pun harus disederhanakan agar sesuai dengan logika platform tersebut.

Dengan demikian, website, Instagram, dan Media Online GoTo masing-masing menyesuaikan teknik penulisan dan juga pesan dengan karakteristik masing-masing pengguna nya agar tersampaikan dengan benar. Sehingga masing-masing kalimat yang dikomunikasikan memang berbeda, akan tetapi pesan dan kata kunci nya tetap tersampaikan dengan baik dan sesuai. (*)

Reporter Shalsabila Ratu
Editor Aris Abdulsalam