*Ditulis oleh Sindi Gustini dan Lutfiah Bella Nur Maulana Putri
Peristiwa Pasunda Bubat kerap menjadi perdebatan di kalangan sejarawan, terutama terkait dengan dugaan adanya campur tangan Belanda dalam penulisan peristiwa tersebut, alhasil peristiwa ini hanya dianggap sebagai mitos belaka. Adanya anggapan ini dikarenakan pada saat itu sumber-sumber tentang pasunda bubat diterjemahkan dan disebarkan oleh orang belanda, tujuannya untuk memecah belah sunda dan jawa. Menurut Carita Parahyangan dan prasasti Kebantenan(1580, dalam Nina Herlina, 2024) Prabu Wastu dikenal sebagai Rahyang Niskala Wastu-kancana. Dikisahkan bahwa ayahanda Prabu Wastu, Prabu Maharaja Lingga Buana gugur di Bubat pada tahun 1357, ketika mengantarkan putrinya, Dyah Pitaloka, yang akan dinikahkan dengan Prabu Hayam Wuruk, Raja Majapahit.
Dalam ingatan kolektif masyarakat hal tersebut menjadi kenangan buruk yang dikisahkan secara turun temurun, tragedi ini juga menjadi awal mula sebuah sentimen negatif orang sunda terhadap orang jawa. Bahkan karena adanya tragedi ini, ada larangan orang sunda pantang menikahi orang jawa karena dianggap membawa nasib sial. hal tersebutlah yang akhirnya menimbulkan dua pertanyaan bagi penulis, tentang bagaimana pasunda bubat terjadi dan apa sebenarnya peran kolonial dalam penulisan ulang peristiwa tersebut.
Peristiwa Pasunda Bubat bermula dari lamaran yang ditawarkan Kerajaan Majapahit kepada Kerajaan Galuh untuk meminang Dyah Pitaloka, putri dari Kerajaan Galuh. Melalui Patih Madhu, Hayam Wuruk mengirimkan lamarannya kepada Kerajaan Galuh, lamaran itu disambut dengan baik oleh Lingga Buana dan rakyat Kerajaan Galuh. Pada hari pernikahan, rombongan Kerajaan Galuh datang ke wilayah Majapahit untuk mengantarkan pengantin wanita, Mereka berkemah di daerah Bubat yang merupakan wilayah Majapahit.

Melihat keadaan yang sepi tanpa sambutan, Lingga Buana mengutus seorang Patih pergi ke Trowulan, untuk meminta Hayam Wuruk agar menyambut rombongan kerajaan Galuh. Namun, utusan itu ditolak oleh Gajah Mada, karena ia menginginkan Putri Dyah Pitaloka diserahkan sebagai upeti bukan sebagai permaisuri. Lalu patih menyampaikan hal tersebut pada Lingga Buana, mendengar hal itu Lingga Buana serta rombongannya tidak terima dan memilih berjuang demi harga diri mereka. Maka terjadilah peristiwa Pasunda Bubat tersebut, antara pasukan Gajah Mada dan rombongan kerajaan Sunda.
Dalam pertarungan tersebut pasukan gajah Mada berhasil mengalahkan rombongan Kerajaan Galuh. Melihat Ayah dan rombonganya telah gugur Putri Dyah Pitaloka melakukan bela pati sebagai bentuk mempertahankan kehormatan diri dan Kerajaan nya.

Dampak dari peristiwa Pasunda Bubat tersebut mengakibatkan Sunda menutup diri dari daerah luar untuk membangun kembali struktur tatanan kerajaan, karena wafatnya raja mereka serta penerus tahta masih sangat muda. Sementara dari pihak Majapahit masih fokus dalam perluasan wilayah ke arah timur Nusantara dan tidak melakukan invasi ke arah barat agar tidak menyinggung perasaan Galuh. Namun Galuh kembali mendapatkan luka pada masa kekuasaan Prabu Dewa Niskala pada tahun 1450-1457. Dewa Niskala yang merupakan cucu dari Lingga Buana melanggar larangan dengan menikahi wanita Jawa, dan berakhir mangkat dari tahtanya. Hal tersebut yang membuat masyarakat Sunda menganggap bahwa pernikahan Sunda dan Jawa selalu bernasib sial ataupun berakhir dengan pengkhianatan.
Kisah peristiwa pasunda bubat dapat diketahui fakta sejarahnya melalui sumber-sumber yang diterjemahkan oleh Belanda. Sumber-sumber yang diterjemahkan adalah Carita Parahiyangan yang diteliti oleh K.F Hole pada tahun 1881, Pararaton oleh J.L.A Brandes pada 1897, terakhir kidung sunda dan kidung sundayana oleh C.C Berg pada tahun 1927-1928. Penelitian dan penerjemahan tersebut digunakan untuk memecah belah sunda dan jawa, Edi Sedyawati pernah menyampaikan (dalam Heri Purwanto,2023) bahwa Belanda menjadikan kidung sunda sebagai bahan ajar untuk Algemeene Middlebare School (AMS), hal ini menjadi suatu kecurigaan yang mungkin berkaitan dengan peristiwa Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928, sebagai usaha Belanda untuk memecah belah kedua daerah tersebut. Akibatnya menimbulkan sentimen negatif satu sama lain antara sunda dan jawa, sehingga memunculkan kembali tabu larangan orang sunda dan jawa dilarang menikah.
Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa Pasunda Bubat bukanlah cerita fiktif, karena sumber tidak hanya dari salah satu pihak. Hal Ini bisa dibuktikan dengan kedua sumber, baik buatan jawa; Pararaton, Kidung Sunda, dan Kidung Sundayana. Serta sumber Sunda yaitu Carita parahyangan, sumber-sumber ini ditemukan di tempat yang berbeda dan pada kurun waktu yang berbeda pula. Selanjutnya, bisa disimpulkan pula peristiwa Pasunda Bubat ini bukan lah bentuk rekayasa Belanda, melainkan sebagai alat adu domba yang ditanamkan oleh Belanda untuk memecah belah persatuan di Nusantara. Dari sini bisa kita pelajari bahwa sejarah bukan hanya cerita masa lalu, tetapi bisa menjadi sebuah senjata yang memecah belah sebuah bangsa. (*)
Daftar Pustaka
- Avirista Midaada. (2023, October 18). Kisah Raja Dewa Niskala Langgar Aturan setelah Perang Bubat. SINDOnews Daerah; SINDOnews.com. https://daerah.sindonews.com/read/1229541/29/kisah-raja-dewa-niskala-langgar-aturan-setelah-perang-bubat-1697670653
- Cr, O. S., & Mulyono, U. (2018). Pararaton: Kitab para raja; menguak jejak genealogi sejarah Wangsa Jawa dari Tarumanegara hingga Majapahit. Nusa Media.
- Fery Taufiq El-Jaquene. (2020). HITAM PUTIH PAJAJARAN Dari Kejayaan Hingga Keruntuhan Kerajaan Pajajaran. Araska Publisher.
- Heri Purwanto. (2023). Pararaton. Javanica.
- Herlina, N. (2024). REKONSTRUKSI SEJARAH KERAJAAN SUNDA. KABUYUTAN, 3(3), 167–171. https://doi.org/10.61296/kabuyutan.v3i3.276
- Herlina, N. (2025). KERAJAAN KUNINGAN. KABUYUTAN, 4(1), 43–49. https://doi.org/10.61296/kabuyutan.v4i1.312