Ayo Netizen

Menyuarakan Kesantunan Digital pada Pendidikan

Oleh: Muh Husen Arifin
Sejumlah siswa saat beraktivitas di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 8 Cimahi, Jalan Kerkof, Kota Cimahi, Kamis 18 Juni 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Hadirnya teknologi di dunia pendidikan baru dirasakan akhir-akhir ini. Terutama berhubungan dengan kecerdasan buatan. Profesi guru sering disebut akan menjadi profesi yang terdisrupsi kehadiran AI.

Kemudahan menggunakan AI ini, para tenaga pendidik merasa mudah melakukan pekerjaannya. Tidak menghabiskan banyak aktivitas berpikir karena AI ini memberikan jalan keluarnya. Pendidik tidak lagi bersinggungan dengan proses belajar yang lama, sebab AI tidak pernah tanpa solusi.

Permasalahan kemudian muncul ke permukaan di ranah pendidikan. Benarkah menggunakan AI akan membuat pendidik tergantikan perannya? Apakah pendidik tidak lagi berkreasi dengan baik jika tanpa AI?

Benar kiranya jika pendidik tidak mengejar ketertinggalannya dalam mengoperasikan teknologi dalam pembelajaran sebab teknologi hadir dengan membawa identitas dalam pembelajaran sebaik-baiknya.

Sebaliknya teknologi tidak akan mudah dioperasikan manakala pendidik tidak tahu memaksimalkannya. Dengan teknologi dalam pembelajaran pendidik bisa memangkas setiap kesulitan dalam pembelajaran.

Lebih dari satu tugas, pendidik bisa menyelesaikan tugas kedua dan seterusnya misalnya mencari referensi di dalam pembelajaran sains, mudahnya pendidik menggunakan prompt untuk AI.

Kejujuran dalam Berteknologi

Pendidikan tidak bisa menghindari kecerdasan buatan. Pendidikan tidak hanya sekadar mengingatkan kita untuk berteknologi, tetapi pendidikan melatih kejujuran dalam menggunakan teknologi, kita tahu bahwa pendidikan adalah proses belajar yang tidak instan, tetapi sepanjang hayat. Muskil kiranya kita melepaskan teknologi untuk kemudahan di dalamnya. Pemilihan perangkat teknologi di dalam pendidikan harus diamanahkan ke dalam kejujuran. Yang pastinya, jujur adalah modal utama pendidik untuk berbagi informasi tentang pendidikan. Seharusnya jika pendidik tidak jujur, maka nestapa kemudian hari.

Kejujuran dalam berselancar di dunia teknologi tidak ubahnya sebagai suatu keharusan. Tindakan yang tidak bisa dilepaskan. Tindakan yang wajib dimaknai sebagai keimanan. Belum lama kita sering mendengar jika perangkat teknologi dimanfaatkan kepada hal negatif, sementara ruang digital bagi pendidikan seyogyanya dimanfaatkan sebagai sebuah sistem yang digunakan dalam kemaslahatan pembelajaran. Dengan kata lainnya, diperlukan kesalehan berteknologi.

Pendidik tidak lagi bersinggungan dengan menggunakan teknologi semata, tetapi hati dan pikiran bersungguh-sungguh untuk membantu pelajar dalam pembelajaran.

Pendidik Tidak Tergantikan

Ketidakterbatasan dalam berteknologi bukan berarti seenaknya sehingga pendidik melupakan cara membelajarkan materi kepada murid. Digitalisasi pendidikan harus dihadirkan penuh kesantuan. Pendidik tidak bisa melihat satu sisi, tetapi multi sisi. Pendidik berkreasi dalam pembelajaran memanfaatkan teknologi dalam papan digital seakan pembelajaran menyusun rencana belajar yang terstruktur dan terbaik.

Bukan kembali kepada sistem yang tidak tersusun melainkan pendidik menyusun sistem pembelajaran yang efektif dengan waktu yang tepat. Kurikulum pendidikan akan tercerahkan dan mudah dipahami dengan cara sederhana. Setiap materi pembelajaran sudah bisa diakses di manapun dan kapanpun. Maka sebaiknya pendidik tidak kaku, pendidik tidak saja mengandalkan teknologi tetapi menjadikan pembelajaran berteknologi dan berkesan.

Ilustrasi siswa sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Airlangga Jati)

Platform digital di dunia pendidikan bukan hal terbaru tetapi dengan menggunakan platform digital pendidik diarahkan untuk memahami konsepnya. Konsep pembelajaran yang terlibat dalam digitalisasi wajib santun dan berkesan di setiap tatap maya dan tatap muka.

Maka pendidik memosisikan diri sebagai fasilitator dan pendidik tidak akan pernah tergantikan oleh teknologi. Justru pendidik harus memahami kebutuhan keilmuan bagi pendidikan. Murid tidak akan pernah bilang jika pendidik tergantikan. Kemudahan akses ini, pendidik tetap berperan secara keseluruhan.

Jika memandang sekilas, kecerdasan buatan hanya bersifat sementara tetapi hati pendidik tetap kekal menyentuh jiwa murid selamanya. Tidak ada mantan guru atau mantan murid. Sebab belajar selamanya sepanjang kehidupan.

Akun Pendidik Terverifikasi

Kebijakan pemerintah seharusnya mengedepankan kepada akun pendidik untuk diverifikasi atau centang biru. Jadi setiap pendidik diberikan akun terverifikasi sehingga pendidik bertanggung jawab terhadap isi konten digitalnya. Untuk ke depannya pendidik bisa memberikan manfaat kepada seluruh murid di Indonesia, mulai dari pendidik di tingkat pendidikan dasar, menengah dan sampai pendidikan tinggi.

Pendidik yang belum terverifikasi harus dilakukan skrining dan disosialisasikan serentak dan difasilitasi dengan baik mulai dari awal semester. Peran pemerintah ini wajib diberi kesempatan untuk melakukan verifikasi secepatnya.

Risikonya adalah pendidik tidak bisa seenaknya dalam menggunakan konten di akunnya. Kesiapan digital bagi pendidikan menjadi salah satu pilihan agar pendidik tahu bahwa konten digitalnya semua untuk belajar bagi siapapun.

Ketentuan ini akan senantiasa mengedepankan kepentingan bagi pendidikan yang santun dan sopan. Menjunjung kesantunan dan kesopanan bukan hal sulit. Tetapi hadirnya karakter sopan dan santun harus diajarkan dan dimulai dari pendidikan, pendidikan di rumah sampai ke sekolah.

Jika kebiasaan kesantunan digital ini terealisasi dan menjadi budaya terbaik maka akan hilang secara keseluruhan kebiasaan perundungan dan sikap yang tidak terpuji.

Ruang pendidikan diolah dari pendidik untuk murid yang berkembang dan menjadi murid yang berkarisma. Digitalisasi pendidikan membentuk suatu keharusan untuk selalu bersikap santun dan sopan bagi kesejatian pendidik dan murid-muridnya. (*)

Reporter Muh Husen Arifin
Editor Aris Abdulsalam