Ayo Netizen

Diskursus Intelektual dalam Pendidikan Bernuansa Islami

Oleh: Vito Prasetyo
Anak-anak beragama Islam sedang mengaji di masjid. (Sumber: Pexels/Hera hendrayana)

Dalam dunia pendidikan kini, paradigma ilmu pengetahuan seakan saling berkaitan dengan kemajuan teknologi. Satu sama lainnya, seperti kedua sisi mata uang yang setara. Bahkan, era modern telah mengubah pintu keilmuan yang acap kali dianggap sebagai revolusi logika, menjadi stigma pemikiran moderat. Salah satu dampak yang dirasakan, adanya fenomena pergeseran nilai-nilai budaya.

Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun peradaban. Kualitas suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh kemajuan ekonomi dan teknologi, tetapi juga oleh kualitas manusia yang dihasilkan melalui sistem pendidikannya. Dalam konteks Indonesia, pendidikan memiliki tugas yang lebih luas daripada sekadar transfer ilmu pengetahuan. Pendidikan harus mampu membentuk manusia yang beriman, berakhlak mulia, cerdas, kreatif, mandiri, serta bertanggung jawab terhadap kehidupan sosial dan kebangsaan.

Dalam tradisi Islam, pendidikan tidak pernah dipahami semata-mata sebagai proses penguasaan ilmu pengetahuan. Pendidikan merupakan sarana pembentukan insan kamil, yaitu manusia yang utuh secara intelektual, spiritual, moral, dan sosial. Namun, perkembangan pendidikan modern yang banyak dipengaruhi oleh paradigma positivisme, industrialisasi, dan kebutuhan pasar kerja telah melahirkan sejumlah kontradiksi dengan nilai-nilai pendidikan Islami.

Diskursus mengenai hubungan antara pendidikan Islami dan pendidikan modern menjadi semakin relevan ketika berbagai persoalan muncul dalam dunia pendidikan, seperti krisis moral, pragmatisme akademik, komersialisasi pendidikan, serta melemahnya karakter peserta didik. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: bagaimana pendidikan dapat tetap relevan dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan dimensi spiritual dan kemanusiaannya?

Konsep pendidikan dalam Islam berakar pada tiga pilar utama, yaitu tarbiyah, ta’lim, dan ta’dib. Ketiga konsep tersebut menunjukkan bahwa pendidikan bukan hanya proses pengajaran ilmu, tetapi juga pembinaan kepribadian dan penanaman adab.

Tokoh pendidikan Islam seperti Syed Muhammad Naquib al-Attas menegaskan bahwa tujuan utama pendidikan adalah menghasilkan manusia yang beradab (good man), bukan sekadar warga negara yang produktif. Menurut Al-Attas, krisis terbesar dunia modern bukanlah kekurangan ilmu, melainkan hilangnya adab dalam penggunaan ilmu.

Sementara itu, Ismail Raji al-Faruqi mengemukakan gagasan Islamisasi ilmu pengetahuan. Ia berpendapat bahwa ilmu tidak boleh dipisahkan dari nilai-nilai ketuhanan karena ilmu yang bebas nilai berpotensi melahirkan penyalahgunaan teknologi dan kekuasaan.

Pemikiran pendidikan Islam juga banyak dipengaruhi oleh Al-Ghazali yang menekankan keseimbangan antara ilmu duniawi dan ukhrawi. Menurutnya, ilmu harus membawa manusia semakin dekat kepada Tuhan sekaligus memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat.

Dalam perspektif ini, pendidikan tidak hanya berorientasi pada kompetensi kerja, tetapi juga pembentukan kesadaran moral, tanggung jawab sosial, dan kedekatan spiritual. Pendidikan modern lahir dari perkembangan ilmu pengetahuan barat pasca-renaisans dan revolusi industri. Fokus utamanya adalah rasionalitas, efisiensi, spesialisasi ilmu, serta kemampuan manusia menguasai alam melalui teknologi.

Pemikiran John Dewey menempatkan pendidikan sebagai proses pengalaman yang berpusat pada peserta didik. Pendidikan harus membantu individu beradaptasi dengan perubahan sosial dan memecahkan persoalan kehidupan secara praktis.

Di sisi lain, pendekatan pendidikan modern sering kali dipengaruhi oleh kebutuhan ekonomi dan pasar tenaga kerja. Sekolah dipandang sebagai institusi yang menghasilkan sumber daya manusia kompetitif untuk mendukung pembangunan ekonomi.

Kemajuan teknologi digital, kecerdasan buatan, dan globalisasi semakin memperkuat orientasi pendidikan pada keterampilan teknis (hard skills) dan kompetensi profesional. Akibatnya, dimensi moral dan spiritual sering kali berada di posisi sekunder. Meskipun pendidikan modern berhasil mendorong kemajuan sains dan teknologi, berbagai kritik muncul karena dianggap terlalu menekankan aspek materialistik dan utilitarian.

Dalam pendidikan Islami, tujuan utama adalah pembentukan manusia beriman dan berakhlak mulia. Kesuksesan tidak hanya diukur dari pencapaian akademik, tetapi juga kualitas moral dan spiritual. Sebaliknya, pendidikan modern sering mengukur keberhasilan melalui indikator kuantitatif seperti nilai ujian, indeks prestasi, sertifikasi, dan peluang kerja.

Akibatnya, muncul fenomena peserta didik yang cerdas secara akademik tetapi lemah dalam integritas dan empati sosial. Kasus korupsi, manipulasi data, dan penyalahgunaan teknologi menunjukkan bahwa kecerdasan intelektual tidak selalu sejalan dengan kematangan moral.

Dalam Islam, ilmu merupakan amanah yang harus digunakan untuk kemaslahatan umat. Tidak ada pemisahan mutlak antara ilmu agama dan ilmu umum. Namun, pendidikan modern cenderung mengembangkan spesialisasi yang sangat ketat sehingga ilmu dipisahkan dari dimensi etika dan spiritual. Seseorang dapat menjadi ahli teknologi tinggi tanpa pernah mempertimbangkan dampak moral dari inovasi yang diciptakannya.

Kondisi ini melahirkan apa yang disebut banyak pemikir sebagai “krisis makna”, yaitu situasi ketika manusia memiliki pengetahuan yang luas tetapi kehilangan orientasi hidup. Tradisi pendidikan Islam menempatkan guru sebagai teladan moral sekaligus pembimbing intelektual. Hubungan guru dan murid bersifat transformatif dan penuh penghormatan.

Sejumlah siswa saat beraktivitas di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 8 Cimahi, Jalan Kerkof, Kota Cimahi, Kamis 18 Juni 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Sebaliknya, pendidikan modern cenderung menempatkan guru sebagai fasilitator pembelajaran semata. Meskipun pendekatan ini memiliki kelebihan dalam mendorong kreativitas siswa, hubungan emosional dan pembinaan karakter terkadang menjadi berkurang.

Pendidikan Islami memandang kehidupan sebagai perpaduan antara tanggung jawab dunia dan akhirat. Nilai keberhasilan tidak hanya bersifat material tetapi juga spiritual. Pendidikan modern yang dipengaruhi logika kapitalisme sering kali mengarahkan peserta didik untuk mengejar prestasi ekonomi sebagai ukuran utama kesuksesan.

Pakar pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara menekankan bahwa pendidikan bertujuan menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya sebagai manusia dan anggota masyarakat. Pandangan ini sebenarnya memiliki titik temu dengan pendidikan Islam karena sama-sama menempatkan manusia sebagai pusat pengembangan yang utuh.

Sementara itu, Paulo Freire mengkritik model pendidikan yang hanya menjadikan peserta didik sebagai “wadah kosong” untuk diisi pengetahuan. Pendidikan harus membebaskan manusia dari berbagai bentuk penindasan dan ketidakadilan sosial.

Dalam konteks Islam, gagasan Freire dapat dipadukan dengan konsep amar ma’ruf nahi munkar, yaitu pendidikan yang membangun kesadaran kritis sekaligus tanggung jawab moral terhadap lingkungan sosial.

Pakar pendidikan kontemporer juga menekankan pentingnya pendidikan karakter. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan seseorang dalam kehidupan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual, tetapi juga kecerdasan emosional, sosial, dan moral.

Kontradiksi antara pendidikan Islami dan pendidikan modern sebenarnya tidak harus dipahami sebagai pertentangan mutlak. Keduanya memiliki kelebihan yang dapat saling melengkapi.

Pendidikan Islami menawarkan fondasi moral, spiritual, dan etika yang kuat. Pendidikan modern menawarkan metode ilmiah, inovasi teknologi, dan kemampuan adaptasi terhadap perubahan zaman.

Persoalan muncul ketika salah satu aspek mendominasi secara berlebihan. Pendidikan yang hanya berorientasi spiritual tanpa penguasaan ilmu pengetahuan akan tertinggal dalam kompetisi global. Sebaliknya, pendidikan yang hanya mengejar kemajuan teknologi tanpa landasan moral dapat melahirkan krisis kemanusiaan.

Tantangan terbesar pendidikan Indonesia saat ini adalah menciptakan sintesis yang mampu mengintegrasikan keduanya. Pendidikan harus menghasilkan manusia yang religius sekaligus ilmiah, berakhlak sekaligus inovatif, serta berorientasi lokal namun mampu bersaing secara global.

Sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, tujuan pendidikan adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, kreatif, mandiri, demokratis, dan bertanggung jawab.

Pendidikan perlu menempatkan manusia sebagai tujuan utama, bukan sekadar instrumen ekonomi. Keberhasilan pendidikan harus diukur dari kemampuan menghasilkan warga negara yang bermartabat, peduli terhadap sesama, serta berkontribusi bagi kemajuan bangsa.

Diskursus intelektual dalam pendidikan berbasis pemikiran Islami menunjukkan bahwa pendidikan sejatinya merupakan proses pembentukan manusia secara utuh, mencakup aspek intelektual, moral, spiritual, dan sosial. Sementara itu, pendidikan modern memberikan kontribusi besar dalam pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kemampuan adaptasi terhadap perubahan global.

Oleh karena itu, masa depan pendidikan Indonesia memerlukan pendekatan integratif yang memadukan nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan kemajuan ilmu pengetahuan. Dengan mengharmoniskan dimensi spiritual dan intelektual, pendidikan dapat menjadi sarana membangun generasi yang tidak hanya cerdas dan kompeten, tetapi juga berakhlak mulia, berkeadaban, serta mampu mewujudkan cita-cita besar pendidikan nasional dan kemajuan peradaban bangsa. (*)

Reporter Vito Prasetyo
Editor Aris Abdulsalam