Semula, segalanya berawal dari sungai. Ketika penduduk di suatu tempat ingin melakukan perjalanan untuk mencari bahan pangan atau mengambil getah, kulit kayu, atau rotan, penduduk akan memanfaatkan aliran sungai untuk menuju lokasi tujuan agar berjalan di darat tidak terlalu jauh. Maka, diciptakanlah rakit dari bambu, sehingga hasil bumi dan penduduk dapat mengalun sesuai tujuan, tanpa harus dipikul terlalu jauh. Tumbuhlah perkampungan di pinggir sungai, di tempat-tempat rakit dapat merapat dengan mudah. Perkembangan dari rakit menjadi perahu kayu, seperti jukung, kelotok, ketinting, dll, menjadikan daya jelajah penduduk dapat lebih jauh lagi.
Setiap musim penghujan, pada satu periode bah atau banjir, air bah itu mengirimkan lumpur yang subur. Lumpur subur itu diendapkan di kiri-kanan sungai, di daerah limpasan banjir. Endapan banjir berupa tanah halus yang subur itu, tidak perlu diolah, dibersihkan, dan dicangkul terlebih dahulu. Benih dapat langsung ditanam di sana. Setelah sekian bulan dibiarkan tumbuh, akan menghasilkan sumber pangan untuk kehidupannya. Inilah awal budaya bersawah. Kata sawah pun berasal dari kata sa – bah, satu kali periode bah dalam musim tanam tahun itu. Perubahan dari bah menjadi wah, sudah lazim dalam berbahasa, seperti kata waringin menjadi baringin, kemudian beringin. Akhirnya kata sa-bah berubah menjadi sa-wah, kemudian menjadi sawah, namun maknanya bergeser. Yang semula lebih bermakna musim tanam ketika bah datang, kini menjadi tempat untuk menanam padi.
Sungai membawa kesejahteraan bagi penduduknya. Dari sempadan sungai dipanen bahan pangan, di sungai terdapat ikan, dan sungai menjadi tempat untuk berlalulintas. Dari sungai yang telah menyejahterakan, lahirlah kata lohjinawi, yang berasal dari kata loh dan jinawi. Loh bermakna sungai, dan jinawi bermakna kesuburan lahan, kemakmuran hasil bumi, dan serba berkecukupan dari hasil buminya. Lohjinawi bermakna sungai yang memakmurkan. Sekarang maknanya menjadi tanah subur yang makmur.
Di Jawa Barat, ada ragam kata dalam menyebut sungai, seperti ci (Ci Manuk, Ci Tarum, Ci Genter). Kali (Kali Deres, Kali Malang). Loh (Loh Sarang, Loh Bener). Ada juga istilah lain untuk sungai, tapi tidak menjadi toponim, yaitu walungan dan wahangan.
Di Kabupaten Indramayu, ada toponim Kecamatan Losarang dan Kecamatan Lohbener. Semula, toponim dua kecamatan ini adalah toponim sungai yang mengalir melintasi Indramayu, yaitu Loh Sarang (Sungai Sarang) dan Loh Bener (Sungai Bener).
Loh berarti sungai, dan sarang atau sarangan berarti suci (Prof Drs S Wojowasito, 1977. Kamus Kawi - Indonesia). Loh Sarang berarti sungai suci, tempat membersihkan raga, sebelum membersihkan hati, dengan melaksanakan ritual.
Toponim yang memakai kata sarangan hanya satu tempat di Di Jawa Barat, yaitu Ci Pasarangan di Garut Selatan. Di luar Jawa Barat terdapat empat nama geografis Sarangan, seperti di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, ada dua, yaitu Telaga Sarangan di tenggara Gunung Lawu, dan Desa Sarangan di Kecamatan Plaosan. Sedangkan di Jawa Tengah ada dua toponim yang memakai kata sarangan, pertama Sarangan di Desa Banyurojo, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang. Dan kedua Sarangan di Desa Campurejo, Kecamatan Tretep, Kabupaten Temanggung. Di pinggir Loh Sarang banyak berdiri permukiman, lalu dinamai sesuai nama sungainya Lohsarang. Dalam perkembangannya, toponim Lohsarang diucapkan menjadi Losarang.

Sedangkan Loh Bener, loh artinya sungai, dan bener artinya benar atau lurus. Jadi, Loh Bener berarti sungai yang lurus. Dalam perkembangannya, di pinggir sungai itu ada yang berkembang menjadi hunian, nama tempat itu menggunakan nama sungai, yaitu Lohbener.
Di Kabupaten Cirebon ada toponim Kecamatan Losari. Demikian juga Di Kabupaten Brebes, ada toponim Kecamatan Losari. Semula, toponim kecamatan ini adalah nama sungai, yaitu Loh Sari. Loh berarti sungai, dan sari berarti utama dan indah. Loh Sari berarti sungai yang utama dan indah. Kemudian menjadi toponim Kecamatan Losari, bermakna sebagai tempat utama yang indah.
Di Kabupaten Kebumen, ada toponim Desa Logedé di Kecamatan Pejagoan. Seperti toponim Losari dan Losarang, Logedé pun semula berasal dari kata Loh dan gedé. Loh berati sungai, dan gedé berarti luas atau besar. Loh Gedé berarti sungai yang besar. Lebar sungai melebihi lebar sungai yang umum di kawasan itu. Yang semula nama sungai kemudian menjadi nama tempat dengan menghilangkan huruf h, menjadi Logedé. (*)