Ayo Netizen

Inspirasi Pajajaran sebagai Warisan yang Menunggu Diingat Kembali

Oleh: Vito Prasetyo
Kirab budaya di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Selasa 19 Agustus 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Di setiap peradaban yang besar, selalu ada satu pertanyaan yang tidak pernah benar-benar selesai dijawab: apakah sebuah kerajaan berakhir ketika istananya runtuh, atau ketika generasi penerusnya berhenti mengingat?

Kerajaan Pajajaran mungkin telah lama lenyap dari peta politik Nusantara. Hutan menelan bekas jalannya, batu-batu tua kehilangan suara, dan nama-nama para leluhurnya perlahan hanya tersisa di dalam naskah kuno yang semakin jarang disentuh. Namun, sesungguhnya yang paling mengkhawatirkan bukanlah hilangnya bangunan, melainkan pudarnya ingatan kolektif tentang nilai-nilai yang pernah menjadi fondasi sebuah peradaban.

Di ruang-ruang pendidikan modern, sejarah Pajajaran sering kali hanya muncul sebagai catatan singkat: kerajaan Sunda yang berpusat di Pakuan, dipimpin oleh Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi, lalu berakhir pada abad ke-16. Kisah itu selesai begitu saja, seolah-olah perjalanan sebuah bangsa dapat diringkas hanya dalam beberapa paragraf buku pelajaran.

Padahal, di balik nama Pajajaran tersimpan pandangan hidup yang jauh lebih luas daripada sekadar kisah peperangan atau pergantian kekuasaan.

Masyarakat Sunda sejak masa Pajajaran memandang alam bukan sebagai benda mati yang dapat dieksploitasi sesuka hati. Gunung diperlakukan sebagai penjaga kehidupan, hutan sebagai ruang keseimbangan, dan sungai sebagai urat nadi yang harus dijaga kesuciannya. Cara pandang demikian melahirkan hubungan yang harmonis antara manusia dan lingkungannya. Mereka memahami bahwa merusak alam sama artinya dengan mengurangi martabat manusia itu sendiri.

Filosofi tersebut terasa sangat relevan pada masa kini ketika berbagai kawasan pegunungan mengalami alih fungsi lahan, sungai dipenuhi limbah, dan hutan kehilangan pepohonannya. Seandainya nilai-nilai Pajajaran tetap diajarkan secara mendalam, mungkin generasi sekarang akan melihat lingkungan bukan sekadar sumber ekonomi, melainkan bagian dari identitas budaya.

Inspirasi lain yang jarang dibicarakan ialah bagaimana kerajaan ini membangun kekuasaan melalui kebijaksanaan, bukan semata-mata kekuatan militer. Dalam berbagai tradisi lisan Sunda, Prabu Siliwangi dikenang bukan hanya sebagai raja yang disegani, tetapi juga sebagai pemimpin yang menjadikan keadilan sebagai dasar pemerintahan. Terlepas dari percampuran antara fakta sejarah dan legenda, sosoknya hidup sebagai simbol pemimpin yang dekat dengan rakyat serta menghargai ilmu pengetahuan dan etika.

Di sinilah sejarah bertemu dengan sastra. Sebab masyarakat tidak selalu mengingat tokoh melalui angka tahun, melainkan melalui nilai yang diwariskan. Legenda menjadi jembatan agar kebijaksanaan tetap hidup ketika dokumen-dokumen mulai hilang dimakan usia.

Budaya Sunda sendiri menyimpan kekayaan filosofi yang lahir dari semangat Pajajaran. Kesederhanaan, kelembutan dalam bertutur, penghormatan kepada orang tua, musyawarah, dan keseimbangan dengan alam bukanlah kebiasaan yang muncul tanpa akar. Semua itu tumbuh dari perjalanan sejarah panjang yang membentuk watak masyarakat.

Acara Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda di Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Sabtu 16 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Sayangnya, modernisasi sering kali membuat sejarah diperlakukan sebagai hafalan, bukan sebagai cermin kehidupan. Anak-anak mengenal tokoh-tokoh dunia melalui media digital, tetapi semakin sedikit yang memahami kisah kerajaan-kerajaan di tanah kelahirannya sendiri. Akibatnya, identitas budaya perlahan mengalami pengikisan yang hampir tidak disadari.

Padahal, sejarah bukanlah kumpulan masa lalu yang telah mati. Ia adalah percakapan panjang antara leluhur dan generasi yang akan datang. Ketika satu mata rantai putus, maka kebijaksanaan yang terkandung di dalamnya ikut menghilang.

Pajajaran mengajarkan bahwa kejayaan bukan hanya diukur oleh luas wilayah atau tingginya benteng pertahanan. Kejayaan sejati lahir ketika sebuah masyarakat mampu hidup selaras dengan alam, menghormati ilmu, menjaga martabat sesama manusia, serta mewariskan kebajikan kepada generasi berikutnya.

Dalam kebudayaan Sunda dikenal semangat silih asih, silih asah, dan silih asuh—saling mengasihi, saling mencerdaskan, dan saling membimbing. Nilai-nilai ini merupakan fondasi sosial yang tetap relevan di tengah dunia modern yang sering terjebak dalam individualisme. Di tengah kemajuan teknologi, manusia justru membutuhkan kembali kebijaksanaan untuk membangun hubungan yang lebih manusiawi.

Barangkali itulah sebabnya kisah Pajajaran tidak boleh berhenti sebagai romantisme masa silam. Ia perlu dibaca ulang sebagai sumber inspirasi peradaban. Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang hanya membangun gedung-gedung tinggi, melainkan bangsa yang mampu menjaga ingatan kolektifnya.

Ketika sejarah dilupakan, sebuah bangsa kehilangan arah. Namun ketika sejarah dirawat, masa depan memperoleh akar yang kokoh untuk terus bertumbuh. Dan, yang perlu diingat: sejarah masa kini tidak serta-merta ada, tanpa perjalanan panjang sejarah masa lalu.

Pajajaran mungkin telah lama runtuh sebagai kerajaan, tetapi nilai-nilainya tidak seharusnya ikut terkubur bersama reruntuhan zaman. Selama masih ada orang yang mau membaca naskah-naskah lama, merawat tradisi, menghormati budaya, dan mengajarkan sejarah kepada anak-anaknya, sesungguhnya Pajajaran masih hidup—bukan sebagai istana yang berdiri megah, melainkan sebagai cahaya kebijaksanaan yang terus menerangi perjalanan bangsa.

Dan mungkin, pada akhirnya, warisan terbesar sebuah kerajaan bukanlah mahkota emas yang pernah dikenakan rajanya, melainkan cara berpikir yang tetap membuat manusia mencintai tanahnya, menghormati budayanya, dan menjaga alam sebagai rumah bersama. (*)

Reporter Vito Prasetyo
Editor Aris Abdulsalam