Ayo Netizen

Urgensi Sekolah Ramah, Aman dan Nyaman

Oleh: Muhamad Hafiatul Annur
Suasana MPLS di sekolah. (Sumber: Kemendikdasmen.go.id | Foto: Kemendikdasmen)

Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun 2026 telah dilaksanakan di berbagai daerah, sebagai tanda masuknya tahun ajaran baru, masa yang wajib diikuti oleh murid baru di berbagai jenjang pendidikan selalu memberikan ceritanya tersendiri.

Yang mungkin masih melekat, MPLS yang dulu dikenal dengan istilah Masa Orientasi Siswa (MOS) kadangkala masih menyajikan persoalan adanya kasus kekerasan, perpeloncoan bagi murid baru. Dengan dalih senioritas bimbingan, khususnya di tingkat menengah, masa awal belajar justru berubah menjadi aktivitas yang kurang mendidik.

Kini, dalam upaya mencegah hal negatif demikian, sekaligus merekonstruksi penyelenggaraannya, MPLS Ramah 2026 diluncurkan Kementerian Pendidikan Mendasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI , lebih konkret, Peraturan Mendikdasmen Nomor 12 2026 tentang MPLS pun hadir sebagai landasan hukumnya. Tak hanya itu, demi menjangkau pengaturannya yang lebih luas, penerbitan Surat Edaran Mendiksasmen No 17 2026 tentang MPLS lingkungan sekolah informal dan non formal juga dilakukan.

Melengkapi upaya tersebut, Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman untuk Anak (Gernas RANA) juga resmi diluncurkan pemerintah melalui kerja sama lintas kementerian. Dilihat dari tujuannya secara umum, peluncuran ini merupakan bukti komitmen pemerintah dalam penyediaan ruang perlindungan yang nyata bagi seluruh anak di Indonesia. Yang menarik, rangkaian momentum peluncurannya, di mana waktu penyelenggaraan MPLS di sekolah mulai dilaksanakan tentu memberikan satu padu upaya komprehensif.

Namun dalam praktiknya, apakah MPLS Ramah dan Gernas RANA mampu memberikan efek yang sistemik?, Pencegahan?, Edukatif? Atau formalitas belaka?. Utamanya bagi pribadi murid baru yang seringkali menjadi korban di masa awal belajarnya?. Beberapa uraian analisis, berangkat dari perspektif psikologi dan coba penulis sajikan.

Safe Challenge bagi Murid

Lingkungan sekolah yang aman dan nyaman tentu akan memberikan daya dukung psikologi yang positif. karena lingkungan yang aman dan nyaman inilah, masa transisi yang dilalui oleh murid baru yang seringkali kali memunculkan kecemasan bisa diminimalisir. Dalam transisi ini, ketidakmampuan memahami situasi dengan cepat tentu menjadi tantangan tersendiri bagi setiap murid baru. Maka dengan proses yang berorientasi pada nihilnya perploncoan, intimidatif dan keramahtamahan tentu akan mengubah persepsi masa awal belajar murid menjadi 'tantangan' yang kian aman (safe challenge).

Nancy Schossberg (1989) dalam teorinya menyebutkan, bahwa keberhasilan individu dalam menghadapi tantangan transisi bergantung pada beberapa aspek seperti situasi (situation), diri sendiri (self), dukungan eksternal (support), dan strategi (strategies).

Baik MPLS Ramah dan Gernas RANA, benang merah keduanya tersimpul pada upaya menciptakan ekosistem di mana murid baru mampu memahami masa awal belajar penuh percaya diri, semangat baru, kehangatan dan menyenangkan. Research dalam Journal of Adolescence menunjukkan bahwa transisi sekolah yang penuh stres tanpa dukungan emosional berkorelasi kuat dengan penurunan kesehatan mental dan peningkatan depresi pada remaja. Sebaliknya, orientasi yang berfokus pada adaptasi sosial menurunkan tingkat hormon kortisol (stres).

Dukungan Sosial

Sebagai pendidik, peran penting dalam mendukung dan mendampingi tumbuh kembang keterampilan sosial dan emosional remaja di lingkungan sekolah yang inklusif tentu perlu terus kerjakan. Lingkungan yang memberikan interkoneksi sehat melalui interaksi yang baik antara sesama murid dan tenaga kependidikan nantinya mampu membangun rasa aman dan meningkatkan keterlibatan akademik yang baik pula. (Anderson, 2021).

Anggota Komunitas Badut Necis (Badut Nyentrik Bandung Cimahi Sauyunan) MPLS di SD Negeri Cibeber. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Penciptaan lingkungan belajar yang berfokus pada daya dukung psikologis dan keterampilan sosial juga mampu dipenuhi praktik implementasi kerjasama dan empati terbukti efektif mampu meningkatkan kemapuan adaptasi sosial remaja di dalam maupun diluar lingkungan sekolah (Henderson, 2020).

Pemenuhan Kebutuhan Dasar

Selanjutnya, MPLS Ramah & Gernas RANA juga sejalan dengan usaha pemenuhan kebutuhan dasar psikologis (basic psychology needs) murid baru, lingkungan yang aman dan nyaman nyaman bagi anak yang menyajikan kesempatan pengenalan awal belajar penuh dengan interaksi hangat antar individu penuh kehangatan tentu akan mampu memenuhi kebutuhan dasar psikologisya sehingga berdampak pada optimalnya pertumbuhan fungsi mental remajanya.

Self Determination Theory (SDT) oleh Edward L. Deci an Richard M. Ryan (1985) menguraikan, manusia pada dasarnya memiliki 3 kebutuhan yakni, otonomi, kompetensi an keterhubungan. MPLS Ramah an Gernas RANA yang inklusif menyediakan stimulasi murid baru kebebasan murid baru melewati masa pengenalan non intimidatif, penuh substantif dan keterhubungan yang baik antara kaka kelas, pendidikan dan lainnya.

Meningkatkan Efikasi Diri

Lingkungan yang aman dan nyaman juga memberikan kesempatan murid baru untuk meningkatkan manajemen efikasi diri (Self-Efficacy) di mana karena melalui materi MPLS yang edukatif dan daya dukung lingkungannya yang tidak menyediakan kesempatan praktik-praktik yang menjatuhkan mental seperti aktivitas kekerasan dan lain sebagainya. Misalnya dengan memberikan edukasi literasi digital, pengenalan ekskul dan persepsi atas spiritualitas bertumbuh (growth mindset).

Dari sini, murid baru terus terjaga stimulasinya atas kemampuan dan kepercayaan diri dalam mengarungi berbagai tantang pendidikan barunya. Albert Bandura (1986) dalam teori kognitif sosial (Sosial Cognitive Teory) mengelaborasi, bahwa manusia belajar dari pengamatan, peniruan dan pemodelan perilaku yang didapatinya. Pemodelan sosial dan daya dukung sosialis yang dilakukan MPLS Ramah an Gernas RANA yang muncul akibat hadirnya ekosistem non diskriminasi, penuh tanggung jawab dan moralitas nantinya akan berpengaruh langsung pada efikasi diri setiap murid baru.

Pada akhirnya, kesadaran atas kerja sama semua pihak, dalam mewujudkan lingkungan yang aman dan nyaman belajar adalah kunci utama yang tak boleh terlewat. Semoga setiap murid kita, sebagai generasi bangsa masa depan mampu mewujudkan setiap mimpinya, Aamiin. (*)

Reporter Muhamad Hafiatul Annur
Editor Aris Abdulsalam