Time Travel Seru bareng Cerita Bunda: Menguak Sejarah dan Thrifting Perangko di Museum Pos Bandung!

6 menit baca
Maya Maulyda
Ditulis oleh Maya Maulyda diterbitkan
Foto 1 Peserta Komunitas Cerita Bunda Sedang Thrifting Perangko dan Postcard. (Sumber: Pribadi | Foto: Pribadi)
Foto 1 Peserta Komunitas Cerita Bunda Sedang Thrifting Perangko dan Postcard. (Sumber: Pribadi | Foto: Pribadi)

Kemarin, hari Sabtu tanggal 18 Juli 2026, saya bareng 20 orang teman-teman dari komunitas Cerita Bunda, geng yang hobi banget jalan-jalan, wisata sejarah, plus kuliner, baru saja main ke Museum Pos Indonesia.

Buat yang mau mampir, lokasinya ada di Jl. Cilaki No.73, Citarum, Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, persis di sayap kanan bawah kompleks Gedung Sate. Menariknya, untuk masuk ke museum ini sama sekali tidak dipungut biaya alias gratis! Pengunjung hanya diminta untuk mengisi buku tamu saja di meja registrasi.

Pengunjung antusias berburu perangko, kartu pos, dan benda filateli langka dalam bursa yang mempertemukan kolektor lintas generasi. (Foto: Maya Maulyda)
Pengunjung antusias berburu perangko, kartu pos, dan benda filateli langka dalam bursa yang mempertemukan kolektor lintas generasi. (Foto: Maya Maulyda)

Kebetulan, agenda komunitas Cerita Bunda kemarin adalah melakukan kegiatan Museum to Museum untuk berburu cap stempel khusus. Nah, Museum Pos Indonesia ini menjadi salah satu destinasi wajib karena mereka menyediakan fasilitas cap stempel resmi bagi para stamp hunter.

Sambil melengkapi koleksi cap stempel di buku kami, kami sekalian memanfaatkan momen ini untuk berburu perangko langka serta melihat berbagai koleksi bersejarah lainnya yang ada di dalam museum.

Kemegahan Gedung Sate menjadi penanda kawasan bersejarah yang juga menaungi Museum Pos Indonesia, salah satu saksi perkembangan layanan pos di Tanah Air. (Foto: Maya Maulyda)
Kemegahan Gedung Sate menjadi penanda kawasan bersejarah yang juga menaungi Museum Pos Indonesia, salah satu saksi perkembangan layanan pos di Tanah Air. (Foto: Maya Maulyda)

Saksi Bisu Arsitektur Renaissance Zaman Kolonial dan Realitas Hari Ini

Sambil menyusuri koridornya, kami tidak cuma sekadar jalan, tapi juga mengagumi sejarah bangunan ini. Ternyata, gedung megah ini mulai dibangun pada 27 Juli 1920, barengan banget sama pembangunan Gedung Sate! Dirancang oleh arsitek Belanda bernama Ir. J. Berger, bangunan ini mengusung gaya arsitektur khas Italia pada masa Renaissance yang kokoh dan estetik.

Dulu di zaman Hindia Belanda, gedung ini dipakai sebagai kantor pusat Post, Telegraaf, en Telefoondienst (PTT). Nah, area museumnya sendiri resmi dibuka untuk umum pada tahun 1931. Pas Perang Dunia II, gedung ini sempat diambil alih tentara Jepang dan koleksinya terbengkalai, sampai akhirnya direnovasi total dan diresmikan kembali sebagai museum pos yang modern.

Jujur, kalau bicara soal isi, koleksi di sini sebenarnya juara banget. Rombongan Cerita Bunda bisa melihat berbagai koleksi benda bersejarah yang juara dan bikin mata melek, kayak:

  • Surat-Surat Emas: Surat asli bertinta emas tulisan raja-raja Nusantara kuno buat jenderal Belanda.
  • Diorama Transportasi: Sepeda ontel kuno, motor lawas pengantar surat, sampai replika gerobak pos zaman dulu.
  • Alat Pos Klasik: Timbangan surat besi raksasa yang kuno, mesin cetak perangko lama, sampai bis surat (briefbus) peninggalan Belanda.
  • Ruang Filateli Dunia: Lorong yang menyimpan jutaan perangko dari berbagai negara, termasuk replika perangko pertama di dunia, Penny Black.

Sayangnya, potensi sebesar itu rasanya belum digarap maksimal. Menurut saya, museum ini masih kurang interaktif, sepi pengunjung, dan kesan suramnya masih terasa kuat. Sangat kontras dengan arsitektur luarnya yang megah.

Bus surat peninggalan era Hindia Belanda menjadi salah satu koleksi ikonik yang menggambarkan sejarah distribusi surat sebelum hadirnya teknologi digital. (Foto: Maya Maulyda)
Bus surat peninggalan era Hindia Belanda menjadi salah satu koleksi ikonik yang menggambarkan sejarah distribusi surat sebelum hadirnya teknologi digital. (Foto: Maya Maulyda)

Mengenal Makna Filateli Lebih Dalam

Melihat tumpukan koleksi di dalam museum membuat saya merenungkan kembali apa sebenarnya arti dari kegemaran ini. Mengenai hal tersebut, Armaidi Tanjung dalam bukunya yang diterbitkan pada tahun 1995 yang berjudul "Filateli Dari Hobi Sampai Bisnis" menjelaskan secara menarik:

"Filateli, sebagai salah satu hobi dapat menawarkan diri untuk memenuhi hasrat seseorang akan sesuatu yang langka dan berharga, punya karakteristik yang unik dan nilai yang menjulang tinggi. Filateli, yang berasal dari Philos, yang berarti teman dan ateleia yang berarti pembebasan, yang diartikan sebagai kegemaran akan benda-benda kecil sebagai bukti pembebasan, dalam hal ini adalah bukti pembebasan ongkos kirim surat atau lebih dikenal dengan prangko. Dalam arti luas filateli dapat diartikan sebagai suatu hobi untuk mengumpulkan dan mempelajari prangko dan benda-benda pos filateli lainnya, pelakunya disebut sebagai filatelis."

Kutipan ini seolah menegaskan bahwa setiap lembar perangko kecil yang disimpan para kolektor bukan sekadar kertas biasa, melainkan sebuah simbol "pembebasan" jarak dan waktu dalam sejarah komunikasi manusia.

Koleksi perangko jadul dari berbagai era sebagai jejak perjalanan sejarah komunikasi yang kini menjadi buruan para filatelis. (Foto: Maya Maulyda)
Koleksi perangko jadul dari berbagai era sebagai jejak perjalanan sejarah komunikasi yang kini menjadi buruan para filatelis. (Foto: Maya Maulyda)

Hebohnya Berburu di Bursa Perangko 1 Hari

Untungnya, pas kami datang kemarin, suasana agak terbantu karena lagi ada acara Bursa dan Lelang Perangko yang cuma diadakan satu hari. Suasananya mendadak pecah dan ramai! Seru rasanya melihat para filatelis dari yang senior sampai anak-anak muda Gen Z Bandung melebur jadi satu, sibuk berburu "harta karun" kertas.

Rombongan Cerita Bunda langsung menyebar di antara lapak-lapak yang super lengkap. Tidak cuma jual perangko, tapi ada juga Sampul Hari Pertama (SHP), postcard (kartu pos) jadul dan modern, kartu telepon magnetik era 90-an, barang antik, koin numismatik, sampai buku-buku lama.

Harganya juga variatif tergantung kelangkaannya:

  • Ada yang murah meriah cuma Rp1.000 per pcs.
  • Seri koleksi seri standar di harga Rp5.000, Rp10.000, Rp15.000, sampai Rp50.000.
  • Buat yang bener-bener langka, harganya bahkan bisa menembus Rp300.000!

Judul buku di atas tadi benar-benar memantik rasa penasaran saya. "Dari Hobi Sampai Bisnis". Ternyata, filateli bukan sekadar ruang nostalgia pengisi waktu luang. Di balik ukurannya yang mini, tersimpan potensi ekonomi yang luar biasa besar. Fleksibilitas hobi ini nyatanya mampu bertransformasi menjadi sumber mata pencaharian utama yang menjanjikan.

Meskipun pasarnya kini tergolong tersegmentasi dan berada di kalangan terbatas, ekosistem bisnis ini tetap hidup dan menghidupi. Pada kegiatan bursa kemarin, saya mengobrol dan melihat langsung bagaimana beberapa penjual yang hadir di sana menggantungkan hidup dan menyandarkan seluruh mata pencahariannya pada bisnis filateli ini. Selama nilai sejarah dan kelangkaan itu terus dirawat, lembaran-lembaran kertas kuno ini akan tetap menjadi aset berharga yang bernilai ekonomi tinggi.

Melihat perangko yang berjejer rapi, saya langsung flashback ke zaman SD dulu. Saya sebetulnya sempat ikutan hobi koleksi perangko ini. Tapi nasibnya apes. Waktu itu ada razia barang non-pelajaran di sekolah, dan album perangko kesayangan saya disita guru.

Katanya boleh diambil asal orang tua yang datang. Karena waktu itu saya penakut banget, saya tidak berani lapor ke bokap-nyokap sampai lulus sekolah. Alhasil? Album perangko saya hangus deh di ruang guru, terkubur bersama waktu di ruang guru. Sebuah penyesalan kecil yang mendadak terasa perih saat melihat para filatelis merawat koleksinya dengan penuh kasih sayang hari ini. Sedih banget kalau diingat-ingat lagi sekarang.

Ironi Hari Ini dan Ide Pembenahan untuk Masa Depan

Kadang memang agak miris sih kalau melihat realitas sekarang yang serba digital. Mau kirim kabar tinggal lewat WhatsApp saja, tidak usah repot-repot ke kantor pos. Malah hobi kayak gini sering dianggap aneh atau tidak penting. Saya pernah beberapa kali di tempat wisata bertanya ke penjual, "Ada jual kartu pos ga?" Eh, malah dibalikkin, "Memang hari gini masih ada ya yang koleksi kartu pos?" Jleb banget rasanya.

Melihat kondisi ini, harapan saya besar banget agar pengelola Museum Pos Indonesia mau berbenah total biar tidak terkesan seram lagi. Contohnya bisa meniru tetangganya, Museum Gedung Sate, yang sekarang sudah lebih kekinian.

Kedepannya, ada beberapa ide segar yang bisa diterapkan di museum ini:

1.   Ruangan Imersif & Media Interaktif: Seru banget kalau ditambah immersive room yang menjelaskan sejarah filateli lewat visual 360 derajat atau teknologi digital kekinian biar lebih atraktif buat Gen Z.

2.   Ruang Permanen untuk Komunitas & Penjual: Pihak museum bisa menyediakan satu area atau space khusus bagi para penjual barang filateli secara permanen (bukan cuma pas ada acara sesekali). Dengan begitu, para penggemar bisa lebih mudah mengakses koleksi, transaksi jual-beli berjalan rutin, dan ruang ini bisa jadi basecamp buat membentuk komunitas baru.

Selembar kartu pos atau perangko yang kelihatan sepele sekarang, bakal jadi kenangan sejarah yang bernilai tinggi banget di masa depan. Yuk, hidupkan kembali sejarah kita! (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Maya Maulyda
Tentang Maya Maulyda
Penikmat wisata sejarah dan walking tour

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Sep 2026, 20:26

Warisan Gunung Sunda Purba, dari Purwakarta, Subang, sampai Bandung Barat

Menjelajah warisan Gunung Sunda Purba melalui kemegahan Gunung Burangrang. Sisi Utara membentang di Purwakarta dan Subang, sementara sisi Selatan megah berdiri di Bandung Barat.

Keadaan ronabumi seperti inilah yang dilihat oleh masyarakat, bukan Gunung Sunda yang menjulang  tinggi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 18:26

Transformasi Perpustakaan Meningkatkan Kunjungan Masyarakat

Setiap perpustakaan memang mengidentifikasi problematika yang sama, salah satunya berkaitan dengan kunjungan masyarakat yang minim.

Ilustrasi perpustakaan. (Sumber: Pexels | Foto: Tima Miroshnichenko)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 18:00

ASN Gen Z dan Tantangan Mengubah Kepastian Menjadi Kinerja

Artikel ini mengkaji persepsi ASN Gen Z terhadap kecocokan karier, kompetensi, dan kebutuhan pengembangan dalam birokrasi.

Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 17:01

Polemik Desil dalam Indikator Kesejahteraan Ekonomi

Apakah desil bisa dijadikan indikator dalam menentukan strata kesejahteraan masyarakat kini? Desil hanya sebuah istilah dalam algoritma statistik. Jangan memaksa manusia menjadi angka dalam database.

Bantuan pangan cadangan beras pemerintah alokasi Juni dan Juli wilayah Kota Bandung di Kantor Kelurahan Cihapit, Jalan Sabang, Kota Bandung, Jumat 18 Juli 2025. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 16:37

Remy Sylado: Jejak Sang Maestro di Bandung

Jejak Remy Sylado di Bandung kembali ditelusuri melalui buku, arsip, dan kesaksian orang-orang terdekat yang menghidupkan kembali sosok maestro multidisipliner tersebut.

Silaturahmi menyambut terbitnya buku Remy Sylado dan Dua Brouwer yang dihadiri budayawan, pegiat seni, serta sahabat dekat Remy Sylado, di Perpustakaan Ajip Rosidi, Jalan Garut No. 2, Kota Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 15:11

KDM, Jawa Barat, dan Temtasi 2029

KDM membutuhkan policy dashboard, bukan sekadar social-media dashboard.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam sebuah acara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 10 Sep 2026, 10:57

Kampung Sate, Ketika Bambu Bisa Diubah Menjadi Rupiah Oleh Warga Satu Kampung

Kampung Randukurung Kutawaringin dikenal sebagai sentra tusuk sate. Warga mengolah bambu secara tradisional menjadi sumber penghasilan.

Di Kampung Randukurung, bambu gombong diolah menjadi ribuan tusuk sate dengan tangan dan peralatan tradisional. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 10:44

Stok Masker mulai Langka dan Harganya Melambung Kembali

Permintaan pasar yang tinggi seringkali membuat harga pun ikut naik begitu juga dengan kondisi yang terjadi pada masker.

Maskter kesehatan. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 08:58

Strategi Kuliah Luar Negeri Tembus Ivy League dan Program Pre-College

Sejak didirikan pada tahun 2003, Euro Management Indonesia mengembangkan pola pendampingan studi ke luar negeri secara terpadu dan terintegrasi.

Suasana belajar di Euro Management Indonesia, Menteng Jakarta. (Foto: Humas Euro MI)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 21:13

Rekam Jejak Euro Management Indonesia Siapkan SDM Indonesia Go Global

Program Academic Writing diarahkan untuk memperkuat kemampuan pegawai dalam menyusun tulisan akademik secara sistematis dan sesuai dengan standar internasional.

Keberangkatan siswa Euro Management Indonesia kuliah di  Jerman (Foto: Humas Euro Manajemen Indonesia)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 19:25

Art Zine SMPN 1 Kasokandel

Setiap karya harus diapresiasi karena kita percaya bahwa setiap anak memiliki kodratnya yang unik

 (Foto: Penulis)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 13:27

Sekolah, Gerbang Perlindungan Anak di Ruang Digital

Perlindungan anak di ruang digital tidak cukup berhenti pada literasi digital. Sekolah harus memiliki kapasitas dan mekanisme nyata untuk mendeteksi, merespons, dan merujuk.

Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 11:00

Siapa yang ‘Membunuh’ Radio Bandung?

Angkasa Bandung makin tiiseun. Perlahan, satu demi satu, stasiun radio mulai pamit dari udara Bandung.

Taman Radio mengukuhkan Bandung sebagai Kota Radio. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Herman Simabur)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 08:22

Belajar dari Viralitas Produk: Memotret Pentingnya Pelayanan bagi Konsumen

Terdapat beberapa peristiwa yang mengusik perhatian masyarakat, viralnya antara konsumen dan produk tertentu, maraknya kejadian viral ini mesti jadi perhatian bersama.

Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 20:59

Eksplorasi Bandrek: Simbol Kehangatan dan Diplomasi Rempah Tatar Sunda

Dalam khazanah kuliner Nusantara, bandrek bukan sekadar minuman penghangat raga, melainkan manifestasi filosofis dari nilai kanyaah.

Bandrek, minuman penghangat tubuh khas Tatar Sunda yang cocok diseruput di tengah sejuknya dataran tinggi Priangan. (Sumber: IG: daoendjati.smg)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 17:52

Hari Aksara Internasional dan Darurat Membaca Indonesia

Hari Aksara Internasional seyogianya bukan hanya sekadar slogan tentang huruf tapi juga manusia.

Ilustrasi huruf. (Sumber: Pexels/Brett Jordan)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 13:11

Jangan Bangun Teras Cihampelas untuk Instagram

Yang perlu dibangun pemerintah di Cihampelas bukan latar belakang foto, melainkan alasan-alasan bagi orang-orang untuk datang, tinggal, dan kembali.

Teras Cihampelas (Sumber: ayobandung.com | Foto: Dok. Pemkot Bandung via ayobandung.com)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 11:25

Abu Vulkanik, Polusi Udara dan Potensi Bandung sebagai Produsen Full Face Respirator

Perlu mitigasi agar tidak terjebak dalam situasi buruk terkait kesehatan mata dan organ

Ilustrasi APD antidebu sekaligus masker dalam satu kesatuan sistem yang disebut Full Face Respirator. (Sumber: dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 10:55

Abu Vulkanik, Masker, dan MBG

Bila masker mengajarkan kewaspadaan. Sekolah belajar arti pentingnya adaptasi. MBG menegaskan pemenuhan gizi anak harus tetap berjalan dan abu vulkanik mengingatkan kita segala kebijakan yang baik

Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)