Ayo Netizen

Gunung Pangradinan: Ketika Pendakian Singkat Menjadi Perjalanan yang Berkesan

Oleh: siffa nurfauziah
Potret kebersamaan yang diambil saat berada di puncak Gunung Pangradinan (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Sifa Nurfauziah)

Gunung Pangradinan di Kabupaten Bandung bukan hanya menawarkan jalur pendakian yang ramah bagi pemula. Di balik perjalanan singkat menuju sabananya, tersimpan cerita tentang bagaimana alam masih mampu mempertemukan orang-orang yang sebelumnya tak saling mengenal.

Pukul empat pagi, saya berangkat dari Cimahi bersama saudara menuju Gunung Pangradinan, Kecamatan Cikancung, Kabupaten Bandung. Perjalanan dimulai dengan kereta menuju Stasiun Cicalengka, lalu dilanjutkan menggunakan Grab menuju basecamp. Rencana kami sederhana: mendaki secara tektok, menikmati suasana pagi, lalu pulang di hari yang sama. Tidak ada target mengejar matahari terbit, apalagi menaklukkan gunung yang tinggi.

Perjalanan justru berubah sejak tiba di stasiun. Tiga perempuan yang juga hendak menuju Pangradinan mengajak kami berbagi biaya Grab. Ajakan sederhana itu kami iyakan. Awalnya, kami mengira kebersamaan hanya berlangsung selama perjalanan menuju basecamp. Nyatanya, langkah yang dimulai dari sebuah kebetulan itu terus berlanjut hingga pendakian dimulai.

Sekitar pukul tujuh pagi, kami mulai menyusuri jalur yang masih lembap oleh embun. Percakapan yang awalnya canggung perlahan mencair di setiap tanjakan. Kami saling menunggu ketika ada yang tertinggal, saling menyemangati saat napas mulai tersengal, bahkan tanpa sadar sudah berjalan seperti teman lama yang telah berkali-kali mendaki bersama.

Kurang lebih satu jam kemudian, hamparan sabana Pangradinan menyambut kami. Padang rumput yang luas dengan latar perbukitan hijau membuat gunung berketinggian sekitar 1.236 meter di atas permukaan laut ini kerap dijuluki "Merbabu-nya Bandung". Namun, bagi saya, daya tarik Pangradinan hari itu bukan semata pemandangannya.

Di sudut sabana, kami berhenti di warung kecil yang menjual semangkuk cuanki hangat. Di tengah udara pegunungan yang sejuk, semangkuk kuah panas terasa menjadi pelengkap perjalanan yang sederhana. Obrolan mengalir tanpa dibuat-buat. Kami saling bertukar cerita tentang pekerjaan, kuliah, hingga alasan masing-masing memilih menghabiskan akhir pekan di gunung. Setelah itu, kami mengabadikan beberapa foto dan membuat konten bersama. Sulit rasanya percaya bahwa beberapa jam sebelumnya kami bahkan belum saling mengenal.

Pangradinan memang dikenal sebagai gunung yang ramah bagi pendaki pemula. Jalur menuju sabana dapat ditempuh sekitar 30–60 menit sehingga banyak dipilih sebagai destinasi pendakian singkat. Fenomena ini sejalan dengan kajian peneliti Universitas Padjadjaran dan Universitas Pendidikan Indonesia pada 2026 yang menunjukkan bahwa motivasi mendaki kini tidak lagi semata didorong oleh tantangan fisik. Bagi banyak orang, alam menjadi ruang untuk mencari ketenangan, melepas penat, dan memberi jeda dari rutinitas yang padat.

Namun, perjalanan hari itu mengajarkan sesuatu yang tidak saya temukan dalam data. Gunung ternyata tidak hanya menawarkan pemandangan, tetapi juga mempertemukan manusia. Di kota, kita sering berpapasan tanpa sempat saling menyapa. Di jalur pendakian, orang-orang yang bahkan belum mengetahui nama satu sama lain justru saling menunggu, saling menyemangati, dan memastikan semua tiba di tujuan dengan selamat.

Menjelang siang, kami kembali menuruni Pangradinan. Jalur yang tadi ramai mulai lengang, tetapi obrolan masih terus mengiringi langkah hingga kembali ke basecamp. Perjalanan yang awalnya direncanakan hanya untuk menikmati alam berubah menjadi cerita tentang pertemuan yang tidak pernah direncanakan.

Barangkali, itulah hadiah paling indah dari sebuah pendakian. Bukan semata sabana yang luas atau semangkuk cuanki hangat di atas gunung, melainkan keyakinan bahwa di tengah dunia yang sering membuat orang saling menjauh, alam masih menyimpan ruang bagi orang-orang asing untuk saling menguatkan. Sebab, seperti halnya mendaki, hidup tidak selalu membutuhkan orang yang berjalan paling cepat. Kadang, yang paling kita perlukan hanyalah seseorang yang bersedia berkata, "Ayo, sedikit lagi sampai."

Reporter siffa nurfauziah
Editor Aris Abdulsalam